
"Whuaahh.." Venus menguap di tengah malam. Dia sungguh belajar dengan baik malam ini untuk mempersiapkan dirinya berkuliah besok.
"Venus. Besok harus bisa menjadi lebih baik dari pada hari kemarin. Kau pasti bisa hadapi ini semua. Yosh! Pasti bisa!"
Venus menutup bukunya mengakhiri pembelajarannya. Dia merenggangkan badannya sebelum bangkit dari meja belajarnya dan tidur di ranjangnya.
Venus berbaring di atas ranjang dengan nyaman dan memperhatikan langit langit sebelum menutup matanya, "Ternyata cape juga mau jadi anak ambis." Venus terkekeh singkat.
Kantuk sudah mulai menyelimuti dirinya dan membuat dia terbuai dalam alunan mimpi.
***
Venus terbangun dari tidurnya. Pukul menunjukkan pukul 5 pagi.
Hm.. Bangun lebih awal di pagi yang baru.
Venus memiliki feeling yang baik untuk hari ini.
Venus bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Setelah mandi Venus berpakaian rapi dan simpel dengan baju kemeja lengan panjang dan rok hitam di bawah lutut.
Pakaian yang menurutnya cukup nyaman. Venus menenteng tasnya yang berisikan buku tulis dan juga kotak pensil berisikan pulpen, pensil, stipo, penghapus dan rol kecil.
Semua telah tersusun rapi dan saat nya untuk sarapan.
Venus menuruni tangga dan melihat seorang asisten rumah tangga tengah memasak sarapan mereka.
"Pagi bi," Sapa Venus sambil tersenyum dan berjalan duduk di meja makan.
Bibi itu terlonjak kaget. Apa dia tak salah dengar? Venus menyapanya?
Venus mengerutkan keningnya, "Kok gak di sapa balik sih bi." Ucap Venus dengan wajah cemberut.
"Eh i-iya non. Selamat pagi." Sapa sang bibi dengan kakunya.
Venus tersenyum dan kemudian menuangkan air putih untuk melegakan tenggorokannya.
"Pagi ini kita sarapan apa bi?" Tanya Venus penasaran.
Sarapan? Bukannya Venus biasanya tak akan mau sarapan di rumah ya? Biasanya hanya kedua orang tua Venus yang makan sarapan di rumah. Ini sangat aneh.
'Apa bener apa kata orang tua nona Venus yak? Nona muda rada berbeda setelah sembuh dari sakit demam tinggi kemarin.' batin sang Bibi penasaran.
"Ih Bibi, di tanya malah melamun. Udah laper nih bi.." Rengek Venus.
Sang asisten rumah tangga itu terkaget lagi. "Ah. Iya iya non. Sarapan rendang daging dan sayur lodeh non."
Venus mengangguk. "Oo.. Udah masak apa belum bi?"
"Udah non."
"Okey, kalau gitu siapin satu piring untuk Venus ya Bi." Ucap Venus. Dengan senyuman ramah.
Bibi tersenyum mengangguk cepat dan segera menyiapkan untuk Venus. "Ini non. Silahkan di makan."
Venus melihat ke arah masakan tersebut, tampaknya lezat, "Makasih ya Bi."
Deg!
Lagi lagi Venus membuat jantung sang wanita tua renta ini hampir copot. Suatu keajaiban Venus tau berterimakasih pada seseorang. Biasanya Venus hanya melakukan hal hal yang tak sopan dan bahkan menghina. Namun kini? Venus malah berterimakasih?
Sang Bibi mengangguk kaku, "I-iya non."
Venus melahap makanannya dengan nikmat tanpa menyadari kedua orang tuanya kini berjalan ke arahnya.
"Venus?" Panggil Mamanya namun terdengar seperti tanda tanya memastikan bahwa yang dia panggil tidak salah orang.
"Eh. Mama. Papa juga ada di sini ternyata. Pagii..." Sapa Venus.
"Pagi sayang." Sahut kedua orang tuanya.
Mereka melihat Venus dari atas sampai bawah, ini sungguh anak mereka. Tapi bagaimana bisa Venus bisa ada di sini? Jelas jelas Venus biasanya akan bangun kesiangan dan tak akan pernah mau sarapan di rumah.
Venus yang sedari tadi di perhatikan jadi bingung, "Kenapa sih ma? Pa?" Tanya Venus dengan mulut yang masih penuh dengan sarapan.
"Kamu... Udah bangun?" Tanya sang Mama konyol. Sungguh dia masih tak percaya.
Venus terkekeh, "Ya iyalah Ma. Atau ngak siapa yang sedari tadi ngobrol sama kalian. Gimana sih."
Mama dan Papa Venus duduk di sebelah Venus membuat Venus berada di antara sang suami istri itu.
"Kamu udah rapi begini. Mau langsung kuliah?" Tanya sang Papa.
"Iya dong pa. Venus mau cepet cepet berangkat ke kampus. Ngak sabar kuliah."
Deg!
Sungguh membangongkan. Seorang Venus?
Venus juga sudah mengatakan ini sebelumnya kepada kedua orang tuanya saat di rumah sakit. Hanya saja orang tua Venus menganggap itu hanyalah semangat singkat Venus saja setelah sembuh dari sakitnya. Namun kini mereka sungguh terkejut melihat Venus bangun pagi pagi untuk kuliah. Apakah Venus sungguh sungguh ingin belajar? Kenapa ini tampaknya sangat tidak mungkin?
Mama Venus mengelus kepala Venus, "Jika kamu masih merasa pusing atau tidak enak badan, jangan di paksakan nak." Kata Mama Venus yang berfikir ini semua pasti karena Venus masih masih sakit.
Venus menggeleng, "Gak ah. Venus udah sangat sehat tau Ma. Masa sehat sehat gini di kira sakit."
Venus mengangguk, "Iya Ma, Pa. Venus udah mendingan kok."
Karena sudah menyelesaikan makanannya Venus terlebih dahulu Venus bangkit berdiri dan menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya.
"Ini untuk Papa, ini untuk Mama." Ucap Venus sambil memberikan dua porsi sarapan yang sudah di siapkannya kepada orang tuanya.
Kedua orang tua Venus saling bersitatap dan kemudian kembali melihat ke arah Venus, "M-Makasih sayang." Jawab mereka dengan masih bingung.
"Ya udah kalau gitu. Venus mau berangkat dulu," Kata Venus sambil menyalim kedua orang tuanya.
"Eh. Venus. Steve kan belum datang sayang, kamu tunggu aja dulu ya," panggil Mama Venus.
Venus menggeleng. "Gak ma, Venus mau naik mobil sendiri aja." Venus kembali membalikkan badan hendak melanjutkan langkahnya.
"Venus, kamu kan ngak bisa naik mobil!" Panggil Mama Venus lagi mengingatkan membuat langkah kakinya terhenti. Dia menepuk jidatnya,
"Aduh. Bener juga." Gumam Venus. Bisa bisanya dia tak sadar akan hal itu.
Venus menggeleng. Dia harus bisa mandiri.
Ah! Ojek online kan ada? Kenapa harus repot ya kan?
Venus sedikit menoleh, "Tenang Ma. Venus pesan ojek online aja. Semua bisa di atur. "Venus pergi dulu!" Venus menunjukkan deretan gigi rapinya dan segera berjalan keluar rumah.
Bukk
Kepala Venus terjedud oleh sesuatu yang besar di depannya membuat dia sedikit mundur ke belakang sambil memegang jidadnya uang sakit. Venus mendongak ke atas dan melihat sosok yang paling ingin di jauhinya detik di mana dia bisa bernafas lagi.
Steve!
Venus membuang wajah malas, "Aku mau berangkat sendiri. Pulang aja sana. Gak usah maksa untuk berangkat bareng. Karena aku gak suka."
Steve menatap datar gadis yang ada di hadapannya ini. Dasar wanita tak berguna, bukannya dia yang selalu memaksanya untuk mengantarkan dia ke kampus. Dan sekarang dengan seenak jidatnya malah mengusirnya. Dia pikir waktu perjalanan ke rumahnya ini tak membuang tenaganya huh?!
Steve kembali melihat ke arah depan mengarahkan pandangan matanya pada orang tua Venus, "Om Tante. Kami berangkat."
Orang tua Venus mengangguk dan menyetujui apa yang di katakan Steve. Mereka juga tak percaya jika Venus berangkat seorang diri.
"Udah aku bil-"
"Ikuti saja. Ada yang mau ku katakan." Steve menatap Venus tanpa ekspresi.
Tatapan yang sama, tatapan kebencian.
Venus menghela nafasnya dan mengikuti Steve ke luar rumah.
"Masuk," Steve membukakan pintu mobil pada Venus dan dengan terpaksa Venus masuk ke dalam mobil. Setelah itu barulah Steve masuk dan melakukan mobilnya.
Terjadi keheningan.
"Berhentikan mobilnya. Tadi kau mau bilang apa. Katakan saja. Aku malas satu mobil denganmu." Venus melihat Steve yang kemudian menghentikan mobilnya.
"Hebat ya sandiwaramu ini. Biar apa kau menyuruhku untuk pulang? Agar kau dapat mengadukan hal ini pada kedua orang tua kita huh? Sengaja membuatku semakin di marahi?"
Steve menatap tajam Venus dengan begitu mematikan.
Wanita ini selalu menyusahkannya. Sehari saja berbuat baik apakah tidak bisa di lakukannya?
Bukk
Venus memukul bagian depan mobil Steve, "Jadi kau pikir aku bersandiwara? Kau pikir aku sedang mencari gara gara denganmu?!"
Steve berdecih merendahkan, "Tentu. Itu yang selalu kau lakukan. Kau takkan bisa berubah. Kau bukanlah seorang manusia."
Venus bernafas dengan menggebu gebu. Apakah lelaki ini tak sadar dia berusaha untuk berubah?!
Venus membuang wajahnya. Berdebat dengan Steve hanya menghabiskan waktu saja dan akan membuat dia semakin naik darah.
Cletak
Pintu mobil Steve di buka oleh Venus. Dia tak suka berlama lama di dekat Steve. "Aku berangkat sendiri. Kau pergi aja sana. Mulai besok dan seterusnya tak perlu mengantarku."
Bukk
Steve kembali menutup pintu Venus, "Dan melaporkan pada ortuku bahwa aku meninggalkanmu di jalan? Kau pikir aku bodoh-"
"Diam!" Venus mengarahkan pandangan seutuhnya pada Steve dengan menggebu gebu. "Aku tidak akan bilang pada siapapun. Dan kau akan hidup tenang!"
Steve tersenyum miring, "Mempercayai penipu sama saja menikam diri sendiri."
Oh God! Kenapa dia begitu keras kepala!
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya!"
Steve kembali melihat kearah depan dan melajukan mobilnya. Sampai kapanpun Venus akan tetap seperti itu. Dan sia sia saja berdebat dengannya. Lebih baik dia tak mengatakan apapun lagi karena jika di lanjutkan akan menghabiskan waktu berharganya saja.
Venus mengumpat dalam hati.
Sungguh membuat paginya menjadi sangat buruk!