
Dalam perjalanan terjadi keheningan membuat siapa saja akan mengantuk karena bosan. Tapi mengingat kata kata Steve kemarin yang melarangnya tidur karena tak ingin ada ences di tempat duduknya membuat dia sangat kesal.
"Bisa cepetan gak. Ngantuk nih!" Venus meronta kesal.
"Awas aja kalau kau tertidur, aku akan meninggalkanmu di tengah jalan." Kata Steve tanpa melihat ke arah Venus.
"Ish! Makanya dari awal tadi gak udah sok sok-an ngantrin! Ish!"
Steve hanya diam tak menjawab. Mengacangi Venus yang terus bergerak tak tenang.
Rasanya kesal sekali. Kenapa dia harus hidup berdampingan dengan makhluk yang super duper gak punya hati nurani dan empati seperti Steve. Dan kenapa juga dulu bisa bisanya dia sangat mencintai Steve?! Sungguh bodoh!
Citt
Mobil berhenti tepat saat Venus ingin mencekik Steve sangking kesalnya,
"Sampai." Steve membuka seat belt Venus singkat dan kemudian membuka pintu Venus dengan wajah datar tanpa melihat sedikit pun ke arah Venus. Namun tetap saja jaraknya begitu dekat membuat Venus menahan nafasnya panik.
Setelah Steve menjauhkan dirinya barulah Venus menghembuskan nafasnya.
Fuh...
Hampir saja jantungnya copot.
Venus segera keluar mobil dan begitu Venus keluar Steve menutup pintunya.
Syuttt
Pintu kaca mobil terbuka menampakkan wajah Steve yang mendongakkan kepalanya, "Oh ya. Nanti malam ada acara keluarga. Kau pakai bagi warna apa?" Tanya Steve dengan ekspresi dingin.
"Lah. Ngapain nanya? Kepo!" Kesal Venus.
Steve memutar bola matanya malas, " Bukankah ini kebiasaanmu. Selalu memaksa untuk bisa baju samaan." Ucap Steve singkat membuat Veusn tertohok. Bener juga, itu adalah kebiasaan Venus.
Ingin sekali Venus memukul kepalanya, 'Bisa bisanya aku besar kepala gini!! Bego!!" Batin Venus.
Venus sedikit batuk untuk menormalkan keadaan malunya sebelum dia mulai berbicara dengan gaya cool. "Gak usah samaan."
Steve menaikkan salah satu alisnya, "Baguslah. Memang couplelan samamu itu sangat bodoh. Akhirnya kau sadar." Ucap Steve membuat spaning Venus naik emosi.
"Dan perlu di ingat aku akan menjemputmu jam 5 sore nanti, sesuai dengan jadwal pulang kuliahmu. Tunggu di sini juga." Steve mengingatkan dan langsung menutup kaca mobil dan pergi begitu saja.
Venus menarik sebelah sepatunya dan kemudian melemparkannya ke udara se arah dengan jalur mobil Steve berlalu pergi. "Dasar setan!!!!" Umpat Venus kesal. Dadanya naik turun emosi.
Venus menarik nafasnya dan mengeluarkannya panjang. Venus melakukan berkali-kali. "Sabar Ven. Sabar... Nanti cantikmu hilang. Mending kau tenangkan diri aja. Dan intinya, kau pulang sendiri aja nanti, Gak usah mau sama dia. Biar aja dia mencari cari mu hingga dia jadi kesal. Biar gantian kesalnya!" Ucap Venus dengan garang. Biar saja. Biar dia tau betapa memuakkannya dia.
Venus mendengus kesal sambil berjalan masuk ke dalam kampus.
Menjalani masuk ke dalam koridor dengan marah membuat dia tersadar tiba tiba dia sudah setengah perjalanan menuju kelasnya,
Di lorong yang sepi...
Venus melihat ke arah jam tangannya, "Pukul setengah 6!" Pekik Venus tersadar.
Anjir. Ya iyalah sepi. Orang masih jam segini!
Venus kembali memutar otak.
Dari pada dia berada di kelas seorang diri nantinya mending dia tunggu di perpus aja kali ya, soalnya biasanya penjaga perpus yaitu kak Gya cepat datang cepat jadi dia memiliki teman di perpus setidaknya.
Venus berjalan ke arah perpustakaan kampus.
Damn!
Masih tertutup. Ck. Ini tandanya kakak itu pasti belum sampai ke sini kan? Venus sendirian dong?!
What?!
Venus segera membalikkan badan dan berjalan ke arah luar kampus. Masa iya dia berani masuk ke dalam.
Ting
"Song: Fur Elise - by: Ludwig van Beethoven"
Terdengar suara tuts piano menyeramkan itu. Kau tau bukan lagi Fur Elise? Lagu yang sering terdengar seperti lagu hantu menurut Venus sendiri.
Well, sebenarnya itu bukanlah lagu hantu. Tapi terdengar sangat seram saja. Apalagi di tempat sepi. Ditambah lagi... UNTUK APA LAGI YANG SEPERTI INI TIBA TIBA NONGOL?! SIAPA YANG MELAKUKAN?! EMANGNYA ADA PIANO DI DEKAT SINI?!
WHAT THEE.....
Venus segera ngicir ke luar dengan terburu-buru dan sangat ketakutan. Kenapa jadi horor begini?!
Berlari hingga Venus akhirnya mendapati pintu keluar kampus dan Venus pun berlari lebih kencang untuk menyelamatkan nyawanya dari seorang hantu yang mungkin tengah mengejarnya.
Nafasnya memburu dengan tak beraturan. Sedikit cengap menarik oksigen saat dia sudah sampai di luar kampus dan menghentikan larinya.
"Demi apa aku nyesal banget datang cepat!" Rutuk Venus.
Bisa bisanya ini terjadi.
Lagipun kenapa bisa suara begituan muncul sendiri?
Aih... Venus bahkan tak tau apakah itu manusia atau bukan. Tapi percayalah, mana ada manusia yang hidupkan lagu begitu di tempat sepi? Arh... Mengerakkan!
Venus menelpon sahabat karibnya Dini, "Cepet angkat..." Harap Venus.
Telepon pun di angkat oleh pihak di telepon. "Ha? Kenapa?" Terdengar suara kantuk dari Dini.
"Kau baru bangun?!" Kesal Venus pada Dini.
Dini terkekeh, "Yoi. Emang napa sih? Masih pagi juga." Dini menguap di akhir kalimatnya.
Venus menggelengkan kepalanya, "Buset.. kau ya. Ini udah jam berapa Oneng. Cepettan mandi dan kempus sekarang!"
Dini menjauhkan ponselnya dari telinganya mendengar suara oktaf tinggi Venus kemudian kembali mendekatkannya lagi, "Aduh... Males banget bangun pagi... Lagi pula jam berapa ini Venus... Ah kau mah aneh aneh waee."
Dini membelalakkan matanya, "Wait. Kau udah di kampus?!"
"Iya Sukijah!!! Aku udah di kampus! Makanya cepat datang!"
Dini bangkit dari tempat tidurnya, "Wo wo woww.... Pagi pagi gini di kampus? Cari apa kau? Mau nambah ilmu pengetahuan atau ilmu kesaktian bareng gundoruwo kampus kau? Wkwk" ledek Dini.
Namun ledekan itu tak tepat waktu. Sungguh baru saja dia mengalami hal mistis malahan dibercandai mengenai Gundoruwo, "Gak lucu!"
Dini masih sedikit terkekeh, "Sapa yang ngekedekin? Sensitif amat pagi pagi neng."
Venus berdecak malas, "Udah. Cepetan datang ke sini."
Dini kembali merebahkan tubuhnya di ranjangnya, "Malas. Ngapain ke sana. Asal kau tau aja ya Ven, kata orang sekitar kampus, kalau dari tengah malam sampe jam 6 pagi hantu kampus masih suka gentayangan."
Deg!
"J-jangan main main." Venus ketakutan sambil matanya berkeliling melihat keadaan sekitar yang sepi.
"Hooh, menurut kabar nih ye. Ada hantu uang suka setel lagi dan lagunya rada absurd.
Deg deg!!! Deg deg!!!
Venus kembali berfikir. Apa jangan jangan lagu tadi karena hantu?
Gak ngak! Dini pasti boong.
"Hati hati aja ya besti. Aku doain kau bisa pulang ke rumah dengan selamat. Tapi... Aku gak pasti juga ya."
Deg!
"Hei! Jangan bilang gitu! Ck. Udahlah ngomong sama mu buat kepala jadi sakit. Aku matikan ya."
"Onghey" Dini pun kembali tidur.
Sedangkan Venus.. menunggu hingga ketakutan.