My Different Wife

My Different Wife
Hampir Saja



"Cepat sembuh Bu." Akhir Melodi memberi semangat pada ibu yang mengalami fraktur pada tulang metakarpalnya karena kecelakaan yang terjadi beberapa hari silam dengan tukang becak pengkolan.


Sang ibu mengangguk, "Terimakasih banyak Bu dokter." Sang ibu sangat berterimakasih pada Melodi karena terus merawatnya tanpa memandang latarbelakangnya sendiri sebagai penjual kaki lima. Dia terharu dengan ketulusan Melodi sebagai dokter yang melakukan pelayanan.


Sang ibu menangis, "Maaf ya dok saya tidak bisa memberikan banyak uang pada dokter."


Melodi rasanya sangat sedih mendengar kalimat sang ibu yang jadi merendahkan dirinya sendiri, "Ibu jangan katakan hal seperti itu Bu. Yang penting ibu sehat dalam pemulihan, jangan terlalu di pikirkan Bu."


Sang ibu tersenyum haru melihat Melodi, "Ibu doakan ibu dokter selalu sukses ya Bu. Di mudahkan segala rezekinya."


"Amin Bu..."


Setelah berpamitan pada Melodi sang pasien keluar ruangan. Bersamaan dengan dengan pasien keluar Victor masuk tanpa izin dan duduk di hadapan Melodi.


"Ada apa?" Tanya Melodi.


"Makan siang bersama." Jelas Victor dengan angkuh sambil melipat tangan di depan dada.


Melodi menelisik perilaku Victor. Apakah Victor sudah mulai merasakan kehidupan baru? Sudahkah dia melupakan Venus dan merasa lebih nyaman dengan dirinya sekarang?


"Boleh. Mau makan di mana?" Tanya Melodi tanpa menolak tawaran Victor. Barang kali Victor akan lebih baik setelahnya.


"Di sini saja, pesan makanan online." Kata Victor singkat.


Melodi yang tak menaruh curiga mengangguk menyetujui Victor.


Victor tersenyum miring tanpa di sadari Melodi dan akan memulai rencananya.


"Mau makan apa?" Tanya Victor.


"Terserahmu." Kata Melodi sambil merapikan mejanya untuk tempat mereka makan nantinya dan juga setelah itu mencuci tangan.


"Baiklah."


Victor susah menduga pasti Melodi akan mengatakan ter-se-rah sama seperti semua wanita di muka bumi ini, makanya sekarang Victor hendak mengerjai Melodi dengan makan makanan yang sangat manis.


Setelah mengetahui kalau Melodi membenci makanan yang terlalu manis dari beberapa rekan kerja Melodi. Khusus hari ini Victor akan melakukan dan memberikan semua hal yang tak di sukai Melodi.


"Sudah." Kata Victor setelah menyudai memesan makanan.


Melodi duduk di hadapan Victor. "Tumben ke sini." Papar Melodi melihat hal yang tidak biasa.


"Tau... Gabut mungkin," asal Victor tanpa berfikir.


Melodi kembali menilai Victor. Tampaknya ada rencana terselubung di balik perilaku Victor.


Victor bangkit berdiri dan melihat lihat ruangan. Ruangan Melodi memang terlihat selalu rapi setiap kali Victor datang.


Victor tersenyum jahil, pokoknya mulai hari ini dia harus lebih getol untuk membuat Melodi jera, "Wah ini apa?" Heboh Victor sambil membuka bak instrumen yang berisikan peralatan steril Melodi.


Melodi segera bangkit berdiri, "Jangan di sentuh! Itu udah steril!"


Victor memasang wajah lugu, "Maaf..." Victor kembali melangkahkan kaki kembali ke meja Melodi. Victor duduk di hadapan Melodi dengan bosan, "Ruangan mu membuatku sakit kepala."


"Kenapa?"


"Membosankan."


Melodi memutar bola matanya. Dasar aneh.


"Kau tau-" Hp Victor tiba tiba bergetar membuat dia menghentikan kalimatnya. "Pesanan kita sudah sampai. Aku ambil pesanan dulu." Kata Victor dan segera mengambil pesanannya.


Victor kembali dan meletakkan makam siang mereka dimeja Melodi, "Kenapa diam aja? Ya ambil lah. Ngak ada pembantu." Tutur Victor karena melihat Melodi yang diam saja.


Tentu saja Melodi terdiam melihat makanan yang di bawa Victor, ini strawberry cheesecake dan choco cake. Dia membenci makanan manis.


Victor tersenyum miring mendapatkan ekspresi Melodi yang tak menikmati makanan yang di bawanya.


"Baiklah kalau begitu aku yang hidangkan di hadapan Tuan Putri... Ini dia." Kata Victor sambil memberikan strawberry cheesecake pada Melodi dan choco cake untuknya.


(Gambar: strawberry cheesecake)


(Gambar: choco cake)


Victor duduk manis di hadapan Melodi dengan senyuman mengembang, "Silahkan di makan..." Ajak Victor.


Melodi tak mungkin menolak bukan?


"Hm." Kata Melodi dan mulai melahap satu sendok ke dalam mulutnya.


Ahk... Dia benci rasa manis.


Victor bahagia sekali melihat wajah Melodi yang tersiksa. Victor melahap kuenya dengan sangat nikmat terutama melihat ekspresi Melodi yang menderita.


Melodi segera mengambil tempat minumnya dan meneguk dengan rakus. 


"Kenapa?" Victor menatap Melodi dengan wajah bertanya-tanya menahan tawanya.


Melodi menggeleng, "Maaf aku sambung nanti saja."


"Lah. Jangan dong. Aku sengaja tau meluangkan waktu untuk makan siang bersamamu. Masa gitu." Kata Victor tak terima.


Melodi mengembuskan napas panjang. Dia tak mungkin bilang kalau dia tak suka makanan pesanan Victor bukan? Victor bisa saja sakit hati dan rencana untuk membahagiakan lelaki itu jadi sirna.


"Aku ngak terlalu lapar. Dan sebentar lagi pasienku juga mau datang, dia kami sudah punya janji sebentar lagi."


Jelas Melodi.


Victor memasang wajah sedih, "Bilang saja kau tak suka dengan makanannya."


Melodi menggeleng, "Bukan. Kuenya enak. Pasti nanti aku makan,"


Rasanya senang sekali melihat Melodi tersiksa sungguh. Dia mengucap syukur setiap detiknya bahkan.


Victor mengambil sesendok penuh kue Melodi dan menyodorkannya pada Melodi, "Makan dulu yang ini," desak Victor.


"Aku-"


"Kan bener kau gak suka sama makanan yang ku beli," lagi Victor memasang wajah menyedihkan.


Melodi segera memasukkan kue itu ke dalam mulutnya, "Em. Udah kan?"


Victor tersenyum dan mengangguk, "Oke."


Victor bersorak dalam hatinya, "Mampus." batinnya.


Melodi segera mengambil minumnya dan meneguk minuman setelah menelan makanan itu bulat bulat. Sial.


"Nanti malam aku jemput. Kita akan makan malam," ajak Victor. Dia berencana untuk mengerjai Melodi lagi.


"Maaf aku gak bisa. Nanti malam aku dan Andreas sudah ada janji," tolak Melodi sopan.


Gagal sudah rencana Victor. Padahal rencananya sudah di atur sedemikian rupa.


"Maaf banget," ulang Melodi.


Victor kembali mendapatkan ide dan tersenyum samar segera mengatur ekspresinya datar, "Ya udah gak apa."


Melodi menggangguk, "Makasih."


"Ya udah aku mau balik dulu," pamit Victor.


Melodi mengangguk, "Hati hati."


Victor pun keluar ruangan Melodi dan mengendarai mobilnya kembali ke kantornya, "Kau takkan tenang mulai hari ini mel." Monolog Victor. Tentu saja dia sudah sangat amat sangat ingin Melodi segera kalah. Dia bosan dengan drama ini.


***


Melodi tengah berada di tengah pertemuan rekan kerja Andreas bersama dengan Andreas tentunya.


Andreas melihat Melodi yang tampak cantik membuat dia sangat terpukau, Andreas berbisik, "Kamu cantik." Bisik Andreas tanpa menjauhkan wajahnya setelah berbisik.


Melodi tersenyum singkat dan menoleh, "Kamu juga tampan."


Andreas menarik sudut bibirnya dan menarik tangan Melodi menjauh dari kerumunan orang. Kini mereka berdua di tempat sepi, Andreas merangkul pinggang Melodi dan mendekatkan wajahnya berbisik, "Kamu tau, cuma kamu yang bisa membuat aku jadi hilang akal seperti ini Mel. Ku mohon jangan menolakku kali ini." Andreas menatap manik mata Melodi begitu dalam. Ada sengatan listrik baginya untuk terus semakin mendekat dengan Melodi.


Andreas menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Melodi dan mencium leher jenjang itu. Dia menginginkan Melodi lebih dari pada saling menggenggam tangan.


Melodi mendorong tubuh Andreas, "Apa maksudmu?" Melodi meminta kejelasan dari kalimat ambigu Andreas.


Merasa di tolak dan mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat Andreas jadi gelagapan. Dia hampir saja kehilangan akal sehatnya dan terbawa suasana.


"Maafkan aku. Tadi aku..."


"Jangan lakukan itu lagi. Aku tidak menyukainya." Kata Melodi membuat suatu peringatan.


Andreas menganguk pasrah, "Maaf."


Terjadi keheningan di antara mereka sebelum Andreas kembali memulai pembicaraan, "Kita lebih baik kembali." Kata lelaki itu.


Melodi mengangguk dan mereka pun pergi dari tempat itu.


Sungguh kacau, padahal Andreas sangat menginginkan hal lebih tadi, sungguh. Melodi sangat membosankan.