
Angkasa masuk ke dalam kelasnya dengan santai. Dia pasti yang pertama datang pagi ini, karena memang selalu begitu bukan?
Langkah kaki Angkasa terhenti saat melihat seorang anak kecil, maksudnya seorang siswi yang baru kemarin dia berjumpa.
Dia membenci wanita ini, ntah kenapa dia harus duduk di sebelah Angkasa padahal seharusnya dia itu duduk di belakang. "Kau kenapa duduk di sebelahku? Pergi sana!"
Langit menatap Angkasa dengan datar, dasar lelaki tak berguna.
Kemarin setelah pulang sekolah Langit bicara dengan wali kelas untuk memindahkan tempat duduknya di depan dengan alasan mata rabun dan wali kelas itu menyetujuinya. Langit juga sudah hilang ke Angkasa namun lelaki itu tetap saja tak terima.
Well, Langit sebenarnya bukan mau sebangku dengan Angkasa, tapi dia ingin duduk di depan karena ingin mendapatkan pelajaran lebih baik dan juga jelas. Sekaligus dia sangat ber-ambis untuk mendapatkan juara umum bahkan lebih.
"Kau gila? Aku tak percaya dengan ucapanmu." Angkasa meletakkan tasnya di atas meja dengan kasar, "Ini adalah kursi khusus untuk ku tanpa ada seorang pun yang dapat duduk di samping ku. Paham?"
Langit tak perduli dan memilih diam sambil mengeluarkan hpnya sambil menghidupkan musik dengan headset.
Angkasa kesal sekali melihat anak pendek satu ini. Bisa bisanya dia mengacangi dirinya. Kurang ajar, "Heh! Kau pikir kau siapa huh?!" Kesal Angkasa.
Angkasa segera mengambil tas Langit dengan paksa dan meletakkannya di belakang sesuai dengan bangkunya kemarin.
Tentu saja itu membuat Langit menatapnya dengan sengit. Anak ini mula mencari gara gara dengannya.
Angkasa duduk di sebelah Langit dan menatap anak itu dengan penuh amarah, "Pergi ke belakang sekarang."
"Bukan urusanmu," sambung Langit membuat Angkasa membelalakkan matanya. Baru kali ini ada yang menentangnya.
"Heh kau kerdil! Kau keras kepala ya? Berani macam macam denganku huh?"
Langit memutar bola matanya malas. Orang bilang kalau Angkasa adalah lelaki primadona di sekolah, lelaki dengan ketampanan dan kepintaran yang melebihi batas. Tapi sekarang yang dilihat Langit hanyalah seorang yang bodoh dan juga angkuh. Sayang sekali orang tuanya membesarkan anak seperti Angkasa. Cih, menyusahkan.
"Kenapa dengan ekspresimu huh?" Angkasa tak terima dengan mimik wajah Langit yang terkesan sangat merendahkannya itu.
Langit tak mau ambil pusing, dia kembali mengambil tasnya dan kembali duduk di sebelah Angkasa.
"Kau!"
"Apa? Kau mau melaporkan ku? Silahkan. Intinya sudah aku katakan ini adalah keputusan wali kelas juga, jika kau mau lawan, lawan saja."
Sungguh sangat tak dapat di terima. Lihat saja, setelah ini dia akan melaporkan ketidak nyamanan ini pada wali kelas yang akan masuk nanti.
Satu setengah jam berlalu dan akhirnya wali kelas pun masuk berserta buku Fisikanya karena memang wali kelas mereka kebetulan adalah seorang guru Fisika.
Angkasa mengangkat tangan, "Iya Angkasa." Sahut sang guru.
"Bu saya tidak terima! Kenapa dia duduk di sebelah saya Bu?" Kesal Angkasa yang membuat suasana kelas menjadi semakin menegang di pagi hari.
Sang wali kelas yang terkenal akan kejudesannya pun menatap Angkasa dengan tatapan menusuk, "Memangnya ini sekolah milik bapak kamu? Yang ngatur ini saya atau kamu. Udah gantian profesi kita?" Sindir ibu galak itu.
Semua orang menutup mulut. Sungguh kata kata yang tajam.
Ya, walaupun Angkasa banyak di senangi guru karena pintar tapi khusus guru Fisika ini berbeda, wanita ini bahkan tak memandang apakah dia pintar atau tidak. Intinya adalah attitude.
Angkasa mendesis geram. Dasar wanita tua menyebalkan. Pikir Angkasa.
Langit tersenyum miring, akhirnya lelaki ini di persalahkahkan juga. Langit tadi sengaja memancing Angkasa agar lelaki itu di marahi dan akan berefek pada nilainya nanti. Sungguh wanita yang licik.
Angkasa menoleh ke arah Langit, Angkasa mempunyai firasat kalau Langit mempunyai sifat ular.
Angkasa kembali melihat ke arah ibu tersebut, "Maaf Bu."
Sang ibu mengangguk, "Ya, tak apa. Lain kali jangan minta yang aneh aneh."
"Baik bu."
Mata pelajaran pun di mulai setelah setiap murid di siapkan.
Lihatlah Langit, dia bahkan terus mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan sang guru hingga dia tak dapat kebagian menjawab.
"Baiklah Langit, harus ganti gantian dengan teman kamu ya," kata sang ibu dengan lembut.
Langit tersenyum kecil dan mengangguk dengan wajahnya yang memang terkesan sangat polos dan santun. Membuat siapa saja akan luluh di buatnya, kecuali Angkasa.
Angkasa mengangkat tangannya dan mulai menjawab. Seperti biasa dia menjawab dengan benar. Angkasa tersenyum bangga karena mulai bisa menjawab pertanyaan guru tanpa di potong oleh Langit.
Setelah mata pelajaran selesai Langit segera berinisiatif untuk membantu ibu tersebut untuk membawa tas dan juga buku buku latihan yang tadi di kumpul.
Hari ini cukup membuat hati Angkasa sangat panas dan gerah karena kelakukan Langit.
Angkasa segera menarik tanganĀ Langit setelah mengantarkan buku untuk duduk di sebelahnya dengan kasar, "Kau jangan main main. Jangan sok asik karena kau sama sekali tak asik. Cukup. Jangan bermuka dua"
Langit memutar bola matanya malas, "Siapa? aku?"
"Ya iyalah. Siapa lagi?"
Langit menggaruk lehernya malas, "Kau sungguh iri dengan ku? sangat kasihan."
Wah, sungguh membuat emosi saja.
Angkasa menunjuk Langit dengan emosi, "Kau..."
"Selamat pagi anak anak," guru mata pelajaran lain pun masuk membuat Angkasa menghentikan ucapannya dan beralih memandang ke depan dengan gusar.
*** Bel istirahat pun berbunyi
Angkasa bangkit berdiri untuk pergi ke kantin.
Tep
Angkasa menoleh ke arah Langit yang memegang tangannya, "Apa?"
Langit melepaskan tangannya, "Dimana UKS?"
Angkasa menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa? Kau bisa cari sendiri kan?"
Langit mengalihkan pandangannya, dan pergi meninggalkan Angkasa. Angkasa menyerngitkan dahinya, "Dasar aneh."
Angkasa yang tak suka kepo dengan orang lain memilih untuk melanjutkan langkahnya pergi ke kantin. Sedangkan Langit hanya memperhatikan Angkasa yang melewatinya dengan wajah datar.
Setelah jam istirahat Angkasa segera masuk ke dalam kelas, Langit sudah ada di sana masih dengan wajah datarnya yang membaca buku novel.
Novel? Dia suka novel juga?
Angkasa duduk di sebelah Langit dan membuka buku mata pelajaran selanjutnya sesekali melihat kegiatan Langit, kadang dia juga merasa aneh dengan Langit, tangannya seperti tremor.
"Kenapa?"
Langit menoleh kearah Angkasa, "Apa?"
"Tanganmu."
Langit melihat ke arah tangannya dengan wajah datar. "Bukan urusanmu."
Angkasa memutar bola matanya malas, udah bagus dia perhatikan. Memang dasarnya Langit tak tau diri.
Langit menutup novelnya, dan memasukkannya dalam tas dengan diamnya.
Bruk!
Meja mereka di tabrak oleh seorang membuat mereka berdua menoleh, "Hai Langit. Kenalkan aku Angga, senang berjumpa denganmu. Kemarin aku ngak datang sekolah jadi baru bertemu kamu hari ini." Kata lelaki itu dengan semangat.
Angga, lelaki ini begitu tertarik dengan Langit, gadis ini sangat imut dan cantik tentu saja akan menjadi incarannya.
Angkasa yang sudah mengetahui seluk buluk playboy Angga diam saja. Malas juga menanggapinya.
Langit hanya menatap datar dan mengalihkan pandangannya kembali melihat ke arah bukunya yang baru dia keluarkan.
Angga tersenyum, sungguh sangat menarik. Angga memunculkan wajahnya di depan Langit, "Kamu cantik."
Langit memutar bola matanya malas. "Aku alergi dengan orang bodoh."
Angkasa hampir saja tertawa, tapi dia tahan namun segera di tatap datar oleh Langit, "Termasuk juga kau."
Tawa Angga pecah menggantikan wajah muramnya karena baru saja di ejek, selama ini dia juga ingin meledek sang primadona kelas itu, tapi kali ini terbalaskan sudah.
Tawa itu menyakiti telinga Langit dan langsung di tatap tajam Langit.
Angga merangkum pipi Langit dengan tangannya, "Ayo pacaran!"