My Different Wife

My Different Wife
Hal Yang Mulai Tak Masuk Akal



Flashback


Seiring Steve berteman dengan Venus, Steve merasa orang tuanya jadi lebih mengekangnya. Terutama saat berteman.


"Steve, pulang sekolah kamu tidak perlu mengikuti ekskul. Keluarga Venus mau datang dan kamu harus menjaga Venus dengan baik baik." Ucap Thomas dengan suara baritonnya.


Steve bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa belakang ini orang tuanya sering mendekatkan dia dengan Venus. Terutama menyuruh dia untuk menghentikan kegiatan ekstra kurikuler yang paling di minatinya, "Gak bisa pa. Steve ada lomba debat lusa, jadi Steve harus persiapkan diri lebih baik lagi."


Sorot mata Thomas semakin menajam, "Kamu berani melawan Papa?"


Tentu melihat tatapan sang Papa membuat anak remaja itu menunduk takut, "Tidak pa."


"Kalau begitu laksanakan apa yang papa bilang." Ucap Thomas pada akhirnya.


Steve mengangguk pasrah.


Steve berangkat ke sekolah. Sungguh harinya ntah mengapa menjadi semakin buruk saat bersama Venus.


Saat di sekolah Steve mengikuti segala pembelajaran dengan baik, semua berjalan lancar sampai tiba saatnya pulang sekolah.


Saat Steve hendak izin pada pembimbing ekskul bahwasanya dia tak dapat latihan, Steve melihat musuhnya di sana tengah berlatih bersama rekannya.


Untuk apa Reno di sana? Bukannya dia sudah gugur dan yang terpilih mengikuti lomba adalah Steve?


Steve berjalan masuk, namun sebelum masuk ke dalam ruangan guru Steve yang melihat Steve segera berdiri dan berjalan ke arah Steve, "Nak, jika kamu tak dapat mengikuti lomba kenapa dari awal tidak mengatakannya saja. Kami jadi mengulang latihan dari awal kembali bersama Reno."


Seketika ruangan menjadi hening dan memperhatikan perbincangan antara Steve dan Gurunya.


"Maksud bapak apa ya pak?" Steve tak mengerti. Kenapa tiba tiba sang guru mengatakan kalimat seakan akan dia akan keluar dari perlombaan?


"Orang tua kamu sudah datang ke sini. Mereka mengatakan bahwa kaku tidak bisa ikut lomba karena memfokuskan diri lebih untuk ujian nasional." Pak Hardi menganguk mengerti, "Tak apa nak jika kamu tak bisa mengikuti lomba karena fokus untuk ujian nanti. Namun setidaknya beritahukanlah lebih awal mengenai hal ini pada kami, sehingga kami dapat mengkoordinasikan lebih baik lagi kedepannya. Jangan hanya diam saja. Diam tidak akan memecahkan masalah." Jelas sang guru membuat Steve membelalakkan matanya.


"Apa sungguh orang tua saya yang mengatakan itu pak?" Steve tak percaya.


Sang guru mengangguk, "Tentu nak. Untuk apa bapak berbohong."


Deg!


Hal ini membuat Steve sungguh sangat marah. Apa yang terjadi hari ini sudah keterlaluan. Kenapa orang tuannya malah melarangnya melakukan hal yang dia sukai? Sejak kapan orang tuanya menjadi bertindak seenaknya seperti ini?


Steve sangat panas.


Sudah jelas sebelum mengikuti ekskul Steve juga sudah mengatakan kegiatannya itu pada kedua orang tuanya, mereka bahkan sangat setuju dan mendukung Steve. Namun apa yang terjadi sekarang? Kenapa mereka seakan akan sangat membenci kegiatan Steve? Kegiatan ini juga bukanlah kegiatan kriminal ataupun hal buruk, ini ekskul yang memacu prestasi dirinya, kenapa malah di halangi?!


Steve mencoba mengontrol emosinya dengan menarik nafas. Kemudian Steve melihat sang guru datar, dia juga tak mau merendahkan kedua orang tuanya yang bertindak semena-mena terhadap dirinya. Steve mengangguk, "Baiklah pak. Terimakasih atas pengertiannya."


Sang guru mengangguk dan menepuk pundak Steve, "Semangat ya nak. Bapak yakin kamu pasti bisa mendapatkan nilai ujian yang terbaik. Kamu adalah murid yang pintar."


"Baik pak. Terimakasih pak."


Steve menyalam sang guru dan kemudian berangkat pulang.


***


Steve pulang dengan lesu. Dia ingin mendengar penjelasan terhadap dirinya dari orang tuanya sekarang. Steve sungguh tak terima dengan hal ini. Dia sudah bersusah payah dengan berbagai latihan yang ada dan sekarang malah di putuskan secara sepihak oleh kedua orang tuanya.


Deg!


Steve terdiam saat melihat kedua orang tuanya memeluk Venus dengan penuh kehangatan. Sangat baik dan bahagia.


Tangan Steve mengepal erat, antara cemburu dengan geram pada Venus. Steve menarik nafasnya dalam dalam sebelum dia mulai masuk ke dalam rumah.


Steve melangkahkan kaki ke dalam rumah dan menghadap ke pada kedua orang tuanya, "Ma Pa, Steve mau bicara pribadi." Ucap Steve dengan menatap ke arah Venus tak senang.


Kedua orang tua Steve melihat ke arah Steve singkat kemudian kembali melihat ke arah Venus, "Katakan saja di sini sayang. Tak perlu ada yang di tutup tutupi."


Steve mendengus, "But this is privacy," Steve menekan kalimatnya.


Agatha melihat ke arah anaknya itu, "Baiklah."


"Venus, kami tinggal bentar dulu ya. Steve mau bicara sesuatu." Ucap sang Mama dengan lembut pada Venus.


Steve memutar bola matanya malas,


Venus menggeleng, "Gak. Bicala di sini aja Tante, Enus ngak cuka cendili."


Agatha menganguk kemudian melihat ke arah Steve, "Kita tidak mungkin meninggalkan Venus sendiri nak. Katakan saja sekarang."


Sungguh membuat Steve sangat marah. "Baiklah kalau begitu. Mama dan Papa kenapa mengatakan bahwa Steve tak mau untuk melanjutkan lomba Debat lagi? Padahal Steve sudah latihan keras untuk itu. Lihatlah, sekarang Steve sudah di gantikan. Kalian tak tau betapa kecewanya Steve sekarang."


Kedua orang tua Steve melihat Steve tanpa merasa bersalah, "Sayang. Ekskul kamu itu tak terlalu penting. Lebih baik kamu fokus belajar di sekolah saja." Tutur Agatha.


Steve menggeleng, "Gak. Ini sama pentingnya sama sekolah. Dan bukannya Mama sama Papa juga sudah setuju sebelumnya mengenai ekskul ini. Kenapa tiba tiba malah memutuskan untuk melarang Steve? Kenapa semua terjadi begitu tak adil." Steve menatap tajam kedua orang tuanya.


"Steve! Apa Papa tak pernah mengajarkan kamu sopan santun?!" Suara bariton sang Ayah menggelegar membuat suasana makin mencekam.


"Dimananya Steve melawan pa? Steve hanya bertanya kenapa hal ini seakan akan terjadi begitu tak adil." Jelas Steve mengingatkan bahwa dirinya sedari tadi mencoba untuk tetap menjaga kesopanannya pada kedua orang tuanya.


Plakk


Satu tamparan tepat mendarat di pipi Steve membuat semua terdiam. Ini untuk pertama kalinya Steve di tampar oleh ayahnya sendiri.


Dan ini tanpa sebab yang jelas.


"Anak kurang ajar! Pergi ke kamarmu sekarang!" Amarah sang Ayah.


Mata Steve berarir. Pipinya terasa pedih dan ujung bibirnya mengeluarkan darah. Sungguh bukan seperti orang tuanya yang dulu.


Steve segera pergi ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


Steve remaja menangis sendu di dalam kamar.


Apa yang terjadi?


Kenapa orang tuanya menjadi sangat kasar?


Apa salahnya? Dia hanya bertanya mengenai kejelasan persekolahannya. Dan apa yang dia dapat? Sebuah tamparan?


Steve mengelap air matanya dan menahan tangannya di dada. Dia harus bisa semangat, walaupun ini terjadi dia akan tetap ingin ikut perlombaan, ada atau tidak dukungan kedua orang tuanya!