
Catatan penulis:
Hai Hai... Cuma mau kasih tau info nih...
Siapa yang mau crazy up nih?... hehe
Di akhir bulan aku akan Crazy up! Tapi,... Kalau kalian makin banyak berikan aku dukungan di setiap part ya... baik like, komen, maupun vote/gift!
Jangan hanya jadi pembaca gelap doang dong guys... beri aku semangat gitu kek π₯Ίπ...
Soalnya aku lihat statistik pembaca makin banyak tapi dukungannya cuma segitu segitu doang... kan aku jadi meng-sedih ππ...
Jadi aku harap kalian makin banyak dukung juga ya guyss... buat aku jadi semakin semangat update cerita guysss... πππ
Oke deh. Cuma itu doang curahan hati sang author... Thanks yaa...
Happy reading my readers β¨πβοΈ
Β
Victor meneguk minuman beralkohol dengan kepala tertunduk sambil mendengarkan dentuman musik keras. Bibirnya yang basah dan matanya yang sayu menandakan dia tengah mabuk berat.
Seorang wanita datang menghampirinya sambil membawa beberapa gelas kosong.
"Brengsek! Dia pikir aku j*al*ang apa?! Udah tua! Gak tau diri!" Umpat wanita berbaju pelayan itu.
Kemudian mata mereka bertemu.
"Ni lagi. Apa kau tak ada kerjaan menguntitku? Apa kau tak ada kerjaan?" Hina wanita itu membuat Victor menaikkan salah satu alisnya.
"Aku? Menguntitmu? Cih. Melihat badanmu saja tidak membuatku bern*afsu mendekatimu." Hina Victor sinis.
Wanita itu memutar bola matanya malas, kemudian hendak pergi.
Victor menarik tangan wanita itu. Bagaimana pun dia butuh hiburan bukan?
Duk
Melodi terduduk di atas paha Victor, dan Victor mengunci pergerakannya sambil tersenyum miring,
Melodi menatap datar Victor dingin. Tatapan yang membingungkan setiap orang termaksud Victor. Tak tau apa yang di pikirkan wanita ini.
"Kenapa hm? Mulai tertarik padaku?" Ucap Victor sambil mendekatkan wajahnya untuk mendaratkan bibirnya pada Melodi.
Melodi menggeserkan kepalanya dan berbisik di telinga Victor, "Aku bisa mematahkan tulang belakangmu jika kau mau."
Victor terdiam dan kemudian tertawa, "Bodoh! Kau pikir aku lemah- akh!"
Seketika badan wanita itu bangkit berdiri dan membanting Victor ke lantai.
Melodi memiting leher Victor dan menjambak rambutnya lalu berbisik, "Tolol."
Buk
Melodi membanting Victor ke lantai dan meninggalkan dia.
"F*uck!" Umpat Victor.
Melodi melepaskan dasinya dan mencampakkan ke lantai. Beralih melihat sang manajer yang berlari ke arahnya dan hendak membentak wanita itu.
"Aku berhenti! Pekerjaan ini sangat membuatku muak." Kata Melodi dengan melipat kedua tangannya di dada menghadap atasnya.
Melodi keluar namun di tahan oleh algojo, wanita ini hendak di jadikan bulan bulanan mereka karena bertindak kurang ajar.
Melodi terkekeh sebelum kemudian membantai satu persatu algojo dengan tendangan bebas dan bahkan sampai tepat mengenai kepala hingga algojo itu terbanting ke belakang.
"Cih. Otot doang yang gede." Hina Melodi kemudian tertawa keras.
Melodi meninggalkan tempat itu.
Baru bekerja sehari sudah membuatnya geram. Dia juga memaki dirinya, kenapa juga mau bekerja part time di sini. Memang gajinya besar tapi sudah dua kali dia mendapatkan pelanggan yang hendak menidurinya. Kan bangsat!
Melodi pulang ke panti asuhan tempat tinggalnya.
Terlihat seorang wanita paruh baya tengah berdiri menunggunya.
"Melodi astaga... Kamu kemana nak? Sudah ibu bilang jangan kerja sampai malam malam." Kata wanita pengurus panti panik.
Melodi tersenyum kecil dan menyalam wanita itu yang membuat dia bisa merasakan kehadiran kedua orang tua sesungguhnya, "Melodi udah besar buk. Melodi harus cari pekerjaan untuk bisa melanjutkan hidup, dan juga untuk keluarga panti kita, Melodi gak mungkin jadi beban ibu terus."
Wanita paruh baya itu yang bernama Anandi memeluk Melodi, "Siapa yang mengganggap begitu nak?"
Melodi tersenyum dan membalas pelukan Anandi, "Ibu, Melodi harus berjuang untuk beberapa hal agar bisa terus merasa hidup. Satu untuk Melodi dua untuk keluarga panti." Jelas melodi.
Jelas saja Anandi terharu dan bangga terhadap anak asuhnya ini. Anak ini sejak dulu selalu membuatnya merasakan kebahagiaan, anak yang pintar namun di sia siakan kedua orang tuanya. Kalau saja Anandi tidak menyelamatkan Melodi dari penjualan anak di bawah umur buang di lakukan kedua orang tuanya pasti Melodi sungguh akan lebih menderita dan hancur saat dia sudah dewasa dan mengerti semuanya.
Karena kebaikan wanita ini membuat Melodi selalu menyayangi dan berusaha menjadi seseorang yang berharga dan bernilai di mata Anandi.
Namun tak semua bisa di lakukan tanpa uang bukan? Kadang
***
Steve dan Venus tengah berada di kursi taman sambil memandangi keindahan sinar malam yang begitu indah taman yang ramai.
Sangat romantis.
"Sayang, sebenarnya enakkan di rumah tau." Kata Steve sambil menggandeng tangan Venus.
Venus menoleh ke arah Steve, "Rumah? Apanya yang enak. Bosan tau. Gak berubah juga suasana rumah." Ledek Venus.
Venus terkekeh.
Steve mengerucutkan bibirnya dan memeluk Venus, "Sayang..."
"Hm?"
"Kamu marah gak kalau aku cium di depan umum?" Tanya Steve dengan polosnya.
Venus membelalakkan matanya dan segera mencubit Steve, "Ih. Awas aja kalau beneran kamu cium. Aku bakal marah."
Steve terkekeh geli dan semakin mengeratkan pelukannya, "Makanya ayo pulang... Aku pingin cium... Mu mu mu..." Rengek Steve manja.
Venus terkekeh, "Dasar mesum. Gak ah. Aku mau makan kotoprak dulu, abis itu kita beli gulali dan..-"
Steve kembali merengek, "Ah sayang... Jangan gitu ah... Ayuk pulang..."
Steve mendengus dan kemudian mengangguk, "Oke."
Mereka pun berjalan ke arah jualan ketoprak kaki lima.
"Pak. Ketoprak dua ya." Kata Venus memesannya.
"Siap mbak!" Jawab sang bapak dengan semangat.
Venus dan Steve duduk menunggu pesanan. Namun beberapa saat kemudian Steve ingin buang air kecil, "Sayang. Aku sebentar ke kamar mandi ya, mau pipis," bisik Steve di akhir kalimatnya.
Venus mengangguk, "Baiklah. Cepetan ya, nanti kalau lama aku malah betah di sini." Ancam Venus bercanda.
Steve menggeleng, "Gak akan lama. Cepet pasti!" ucap Steve membuat Venus terkekeh.
Steve pun pergi ke kamar mandi yang jaraknya agak jauh memang dari tempat jualan ketoprak tadi.
Setelah BAK Steve membayar uang untuk jasa WC. You know lah, toilet umum memang harus bayar :)
"Hei... Temenin Abang dong sayang..." Desah seorang lelaki tua pada seorang wanita membuat Steve memicingkan matanya. Apa lelaki itu tak tau diri?
Jelas, setelah Steve sudah menikah Steve menjadi tidak sekejam dulu. Rasa keprimanusiaannya lebih besar sekarang.
Well... Berkat dari cinta pernikahan mungkin.
Wanita itu tak berekspresi dan terus saja berjalan tak perduli.
Steve mengangguk, 'Bagus,' batin Steve salut dengan keberanian wanita itu. Tidak penakut.
Lelaki kedua menahan tangan wanita itu dan lainnya memeluk dia dari belakang.
Deg!
Steve segera berlari ke arah mereka dan menendang salah satu dari preman yang menahan tangan wanita itu.
"Lepaskan dia." Kata Steve dengan tatapan datar ke seseorang yang memeluk wanita itu dari belakang.
Dan gila saja, wanita itu hanya diam dan menatap Steve datar. Dalam benak Steve pastilah wanita itu kini menyembunyikan rasa paniknya dengan wajah datar.
Sang preman mengacungkan pisau lipat ke depannya dan kemudian di arahkan pada leher wanita itu, "Jika kau mau aku melepaskan j*al*ang ini kau harus membayar kami."
******?
Steve memicingkan mata pada wanita itu yang masih saja dengan wajah datar.
Steve tak perduli dan menepis dengan cekatan pisau itu dari leher wanita yang di hadapannya itu.
Steve menarik wanita itu dan membawanya ke tempat yang jauh dari mereka berada tadi, "Kau harus lebih berwaspada. Kenapa kau diam? Dan pulanglah segera."
"Kau tak perlu membantuku tadi. Aku bisa menangani mereka dengan tanganku sendiri." Jelas wanita itu. "Namun aku berterima kasih untuk itu." Ujarnya datar.
Steve melihat tubuh wanita ini yang bahkan lebih kecil dari istrinya, "Kau? menangani mereka sendiri? Jangan bercanda. Dan aku yakin kau pasti masih anak sekolah. Sudah sana cepat pulang. Mereka akan mengejarmu lagi nanti."
Melodi tersenyum miring.
Lelaki ini mengubah mainset Melodi tentang pria yang di anggapnya adalah sebuah kesusahan lagi menjijikan menjadi lebih baik sekarang.
Ternyata ada lelaki yang setidaknya memiliki otak di dunia ini bukan?
Kemudian terdengar suara langkah kaki bergerombol berlari ke arah mereka.
Ya beberapa preman yang mencoba melakukan hal kotor bersama beberapa temannya datang dengan senjata tajam.
Steve membelalakkan matanya, "S*hit!"
Melodi hanya menatap mereka dengan datar.
Steve segera menarik tangan Melodi untuk pergi dari tempat ini.
Melodi tak bergeming dan menatap Steve, "Aku bisa mengatasinya dan juga menyelamatkanmu. Ya... Hitung hitung balas budi." Kata Melodi santai.
"Apa kau gila?!"
Melodi meletekkan jari jarinya dan bersiap siap melawan. Bagaimana dia bisa seberani itu karena tadi melodi melihat cara mereka melawan Steve begitu lemah, dari situ sua dapat kesimpulan dia pasti bisa melawan mereka semua.
"Hei kau!" Jerit mereka.
Dan mereka maju bersamaan.
Steve tak dapat menolak melakukan perlawanan sekarang, mereka sudah sangat dekat dan tak mungkin kabur sekarang.
Steve segera mendapatkan lawan satu orang dan segera Steve lumpuhkan dengan beberapa pukulan dan tendangan.
Dan saat berbalik ingin membantu Melodi Steve ternganga.
3 preman sudah terbujur di rerumputan taman dengan hidung dan mata yang mengeluarkan darah.
"Jangan pernah ganggu aku maupun dia. Jika tidak aku akan memanggil kawanku dan akan menghabisi nyawa kalian. Paham?" Ucap melodi dengan tatapan dingin dan menusuk pada para preman.
Dengan tertatih tatih mereka bangkit berdiri dan mengangguk lalu berlari pergi.
Steve bertepuk tangan, "Hebat juga. Belajar dari siapa kau?"
Melodi tersenyum kecil, "Otodidak."
Steve mengangguk, "Baiklah. Sekarang aku tak akan takut lagi kau akan mati di tangan orang jahat seperti mereka." Steve mengelus kepala Melodi. "Aku balik. Dan kau pulanglah."
Melodi tersenyum. Untuk kedua kalinya.
Apakah ini suatu keajaiban?
Melodi sangat jarang tersenyum dengan tulus pada orang asing, apalagi terhadap seorang lelaki.
"Hm." Melodi mengangguk.
Steve segera pergi meninggalkan Melodi dan menjumpai sang istri yang sudah menunggu dari tadi.
Steve tersenyum dan segera duduk di sebelah Venus, "Maafkan aku. Tadi ada hal lain yang ku kerjakan."
Venus menganguk, "Hal seperti apa?"
"Akan ku ceritakan nanti di rumah. Mari kita pulang.. aku lelah." Steve memeluk Venus manja.
Venus terkekeh dan mengangguk, "Baiklah."