My Different Wife

My Different Wife
Bukan Sembarang Victor



Melodi melihat ke arah hpnya yang bergetar. Siapa yang menelponnya malam malam seperti ini?


"Victor?" Melodi membaca kontak nama di sana, Melodi mengerutkan keningnya.


Melodi sedikit menepi dari keramaian dan mengangkat telponnya, "Kenapa?"


"Aku sakit. Cepatlah kemari," jawab Victor dengan suara sayup.


"Gak bisa, aku lagi ada acara, kan tadi siang aku sudah katakan padamu."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menelpon Venus saja. Dia pasti akan datang merawatku, dan-" ungkap Victor.


"Aku ke sana!" Melodi segera mematikan hpnya. Victor memang sungguh membuat Melodi naik darah saja, sangking kesalnya Melodi hampir saja melempar hpnya. Namun di urungkannya menyadari hpnya memiliki file yang berharga.


Melodi kembali ke sisi Andreas, "Aku izin pulang, aku tak enak badan."


Andreas mengangguk tanpa banyak bicara. Mendapatkan persetujuan Andreas Melodi pun pergi meninggalkan lelaki itu dengan kegiatannya bersama temannya.


Andreas melihat kepergian Melodi kecewa. Rasanya dia semuanya sudah cukup, sekarang dia tersadar bahwa Melodi tak memiliki sesuatu yang ingin dia miliki.


"Andreas," tangan lembut dan lentik menyentuh pipinya memuat Andreas menoleh.


Raya, seorang wanita yang selama ini mengidam idamkan Andreas kini mendapatkan kesempatan emas untuk merebut Andreas. Raya tersenyum miring, dia mengetahui apa yang terjadi antara Melodi dan Andreas di tempat sepi tadi. Melodi menolak Andreas dan pasti sangat kecewa, terlihat sekali dari wajah Andreas yang tampak lesu.


"Aku akan memberikanmu lebih dari wanitamu itu sayang," wanita itu menggoda Andreas dengan bisikan dan sentuhan tangannya di dada Andreas.


Andreas tak menampik, dia juga rindu sentuhan lembut seorang wanita. Namun dia ragu, dalam hatinya dia juga masih mengharapkan Melodi menjadi wanitanya walaupun gadis itu terus terlihat dingin terhadapnya.


"Kita bisa bermain di belakangnya. Dan kau akan tau bercinta denganku akan lebih memuaskan di bandingkan dengannya." Goda wanita itu.


Sudut bibir Andreas tertarik dan menatap Raya lapar. Tentu dia takkan menolak jika ada wanita yang memberikan diri bukan? Lagi pun dia sedang sangat ingin meluapkan gairahnya yang sempat tertunda karena Melodi menolaknya.


Raya menarik tangan Andreas dan mulai melakukan berbagai cara untuk membuat Andreas terus menatapnya.


Melodi yang terburu-buru menuju rumah Victor sekarang telah sampai di depan pagar rumah Victor. Melodi mengatur nafasnya dan menelpon Victor, "Aku sudah sampai."


"Ngapain kau datang?" kata Victor terdengar sambil mengunyah makanan.


"Kau kan yang nelpon aku untuk melihat keadaanmu," Sambung Melodi dengan penuh tekanan.


"Oh. Udah sembuh. Tadi aku mau nelpon lagi, tapi pulsaku habis, kau pulang aja. Gak ada masalah apapun." Victor meneguk minuman setelah selesai makan.


Melodi melotot emosi. Pasalnya dia sudah capek capek datang malah mendapat jawaban tak tau diri dari Victor, "Kau-"


"Apa sih Mel. Jangan galak galak. Nanti cepat tua," Victor menahan tawanya. Dia merasa menang hari ini.


Melodi mematikan ponselnya dan menendang pagar Victor. Sepertinya kecurigaan Melodi tenang Victor Benai adanya, Victor mengerjainya dengan terus membuatnya kesal.


Victor yang ada di dalam rumah tertawa terbahak bahak, "Astaga. Asik sekali mengerjainya. Hahahah.."


Victor berjalan ke dalam kamar dan membuka jendelanya, dia melihat dari balkon apakan Melodi masih ada disana. Mana tau melihat dia emosi bisa secara langsung dapat membuat Victor semakin terhibur.


Victor kembali tertawa namun segera dia menutup mulut agar tak ketahuan oleh Melodi yang ada di bawah sana.


Melodi menghentak hentakkan kakinya kesal dan meluapkan amarahnya. Hari ini cukup membuatnya gusar.


Melodi pulang dengan berjalan kaki dan


Bruk


Melodi terjatuh karena tak seimbang berjalan di tanah yang berlubang. Cahaya kecil di sini meminumkan arah pandangan hingga Melodi tak dapat jelas melihat ada lubang di hadapannya.


Melodi memekik tertahan saat lututnya tergores oleh aspal. Melodi kembali berdiri dan meninggalkan rumah Victor. "Sialan!" Umpat Melodi.


Victor terus saja terhibur dengan penampakan tadi, "Dasar bodoh."


Victor kembali masuk ke dalam kamar, "Besok aku ada rencana lainnya mel. Kau akan menyerah."


Melodi masuk ke dalam mobilnya, membersihkan diri dan kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur.


Drrettt


Hp Melodi kembali bergetar. Dan terlihat nama Victor di sana.


Malas menjawab panggilan darinya Melodi pun mencoba menutup matanya dan menenangkan diri untuk tidur.


Victor terus terusan menelpon membuat Melodi menjadi muak sendiri. Melodi menjawab telpon dan Victor, "Diamlah! Aku cape!"


"Mel... Aku gak bisa tidur," Adu Victor.


Melodi menutup mata geram dan membantu ekspresi, "Kau sedari tadi mengerjaiku ya. Kau-"


"Mel, gak bisa tidur. Tolongin... Cepet." Rengek Victor. Victor tersenyum miring setelahnya.


"Ya udah. Banyak minum aja. Setelahnya berdoa." Jelas Melodi. Dia tak mau ada pertengkaran malam ini. Dia sudah cape untuk berdebat dan berkelahi.


"Udah minum, tapi gak ngantuk. Gimana? Aduh.. aku harus tidur malam ini, kalau tidak rapatku akan berantakan besok. Cepet, apa yang harus ku lakukan... Mel. Mel. MEL!"


Melodi menutup telinganya kembali mendekatkan hpnya, "Bisa diem gak?! Dari tadi nyusahin mulu! Aku udah sabar ya!"


"Mel tolongin dong! Please! Atau apa perlu aku kerumah Venus? Mana tau dia tau solusinya?"


Melodi mengusap wajahnya geram, "Bisa gak sih gak usah nyusahin!"


"Makanya tolongin!"


Melodi mengacak rambutnya, emosi sendiri jadinya,


"Nyanyi dong. Mana tau aku bisa tidur," pinta Victor dengan memelas.


"Gak bisa. Suara aku gak-"


"Memang, aku tau suaramu cempreng. Bagusan suara Venus memang, makanya aku cinta banget sama dia. Hu... Jadi rindu."


Melodi menahan nafasnya sambil mencekik gulingnya geram membayangkan kalau Victor lah yang di cekiknya sampai mati.


"Ya udah diem! Aku nyanyi!"


"Gak mau ah. Udah ngak mood lagi,"


Demi apapun Victor sangat super duper menyebalkan hari ini, "Jadi maunya apa?"


"Mau sama Venus,"


Percayalah Victor sedari tadi sungguh menahan tawanya hingga perutnya terasa sakit sekarang.


Melodi mendengus, "Baiklah aku tau solusinya."


Victor berhenti dari tahan tawanya dan menaikkan salah satu alisnya, "Apa?"


"Hm. Sepertinya kau perlu makan obat aminoglikosida dan sefalosporin masing masing tiga butir saja," Melodi memberi anjuran.


Victor mengerutkan keningnya, "Itu obat apa?"


"Antibiotik."


"Kenapa harus makan itu? Banyak lagi."


"Iya. Biar kau langsung tidur dan besok ngak bangun lagi," akhir Melodi dan menutup saluran teleponnya.


Victor terkekeh. Lucu sekali mengerjai manusia setengah kutub itu. Kalau emosi langsung saranin yang sesat gitu.


Victor merebahkan dirinya terlentang, "Mel, ini baru satu hari. Besok aku akan lakukan lagi. Dan aku yakin, tidak sampai seminggu kau akan langsung menyerah. I will win this game," Victor tersenyum devil sambil menutup bola matanya.