My Different Wife

My Different Wife
Gelap Mata



Catatan Penulis:


Jangan lupa dukungannya ya guysss.... Like, comment dan Gift yaaa


Paling tidak like kamu itu loh...


Oke deh. Happy reading guys 🤗✌️


Steve duduk makan malam bersama Venus yang kini tampak lebih canggung dari biasanya. Sedikit menyesal karena mengatakan hal yang barusan. Dia spontan saja mengatakan itu takut kalau Venus akan salah sangka padanya, dia sama sekali tak bermaksud untuk menyinggung Venus.


"Venus." Panggil Steve.


Venus menoleh ke sebelahnya melihat Steve,


"Jangan diam seperti ini. Aku tak tau harus berkata apa nantinya." Ujar Steve.


Venus menunduk, "Aku minta maaf ya belum bisa jadi istri terbaik untuk kamu." Jelas Venus.


Steve menatap Venus, "Tidak. Kamu sudah menjadi yang terbaik untuk aku. Jangan pernah salahkan dirimu sendiri. Kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun."


Venus semakin merasa bersalah, "Tidak Steve. Aku sudah melakukan kesalahan. Aku-"


"Ah, sepertinya jusnya ini terlihat segar!" Steve meneguk jus jeruk buatan Venus untuk mengalihkan pembicaraan Venus. Dia akan semakin terlihat bersalah nantinya. Steve tak mau ada kecanggungan.


Steve tersenyum, "Wah. Memang segar."


Venus menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya.


Steve memegang dagu Venus dan tersenyum, "Jangan buat ekspresi begitu. Aku suka jika kamu tersenyum, aku akan merasa lebih baik saat melihatnya."


"Oh ya Venus. Bukankah kamu suka novel romans. Aku membelikan suatu buku yang bagus ku pikir." Steve meninggalkan Venus beberapa saat kemudian memberikan dia satu novel.


"Ini novel yang kata orang bagus. Aku tak pernah membacanya, tapi karena banyak peminatnya aku belikan untukmu." Kelas Steve sambil memberikan buku itu pada Venus.


Venus melihat novel itu dan tersenyum, novel yang sedang di minati para kaum pembaca sekarang.


"Terimakasih." Ucap Venus.


Steve mengangguk, "Sama sama. Dan... Sekarang makan dulu. Kamu takkan punya banyak tenaga untuk bergadang bacanya nanti malam." Ledek Steve mengingat kebiasaan istrinya ini selalu maraton baca novel maupun nonton drama.


Venus terkekeh singkat, "Dasar menyebalkan."


Steve tersenyum kecil, dia senang jika melihat Venus bisa tersenyum lepas seperti ini. Dia ingin terus melihat senyuman ini walaupun itu bukan untuknya. Tak masalah, Steve akan tetap bahagia untuk Venus.


***


Pagi hari ini Venus terlihat lebih cerah walaupun kantung matanya tampak menghitam di sana.


"Bergadang?" Tanya Steve.


Venus terkekeh, "Hehe, soalnya cerita novelnya tanggung tau kalau ngak di baca sampe habis. Bisa ngak tidur nyenyak aku."


Steve menggeleng, "Cari penyakit saja. Lain kali gak boleh gitu."


Venus mengangguk pasrah, "Iya iya.."


"Hari ini aku antar kamu ke kampus. Dan juga pulangnya." Jelas Steve sambil berjalan ke pintu depan. Kemudian Steve berhenti, Venus akan risih jika di atur bukan? "Em, kalau kamu ada acara lainnya dan ingin aku tak perlu menjemput kamu juga tak apa. Aku takkan memaksakan kamu."


Venus mengangguk, "Hm. Aku pulang sama kamu juga." Kata Venus membuat Steve menoleh ke arah Venus tak percaya bercampur senang.


"Sungguh?" Tanya Steve tak percaya.


Venus mengangguk, "Iya. Tentu."


Steve tersenyum sumringah dan mengangguk, "Baiklah. Aku akan menjemputmu."


Steve dan Venus pun pergi bersama.


***


Critt


Mobil menepikan dan memberhentikan mobilnya di depan pintu gerbang kampus, "Sudah sampai."


Venus mengangguk, "Makasih." Venus hendak membuka pintu mobil.


Tep


Tangan Venus di tahan oleh Steve, "Venus."


Venus kembali melihat ke arah Steve.


Steve mengusap rambut Venus dan kemudian pipinya, "Semangat belajarnya ya sayang. Aku mencintaimu."


Deg!


Jantung Venus berdegup kencang seketika itu juga. Sentuhan hangat itu sangat lembut menyentuhnya dengan kasih.


Venus mengangguk dan tersenyum, "Hm. Makasih ya."


Steve terkekeh, "Makasih doang?Sayangnya mana?"


Tingkah Steve semakin membuat hatinya porak poranda. Seperti senang dan juga berdebar. Astaga... Apa dia akan serangan jantung sekarang?!


Steve tersenyum kecil. Gemas melihat Venus.


Drebb


Steve memeluk Venus dan mengacak rambutnya pelan, "I love you."


Wajah Venus rasanya semakin panas dan malu. Bahkan Venus jadi merutuki jantungan yang berdetak kencang tak bisa di kontrol dengan normal.


Steve melepaskan pelukannya, "Maafkan aku menyita waktumu beberapa menit tadi ya. Aku sangat senang tadi."


"Iya gak apa. Em, aku masuk dulu. Bye," Kata Venus tanpa melihat wajah Steve. Dia sungguh malu dan juga grogi sekarang.


Steve mengangguk dan Venus pun keluar mobil. Steve melajukan mobilnya saat Venus telah keluar dan menutup pintu.


Venus menutup wajahnya, "Astaga... Kenapa jadi kaya ABG baru pubertas gini sih! Buat malu banget!" Gumam Venus sedikit menekik.


"Ini juga cuaca. Kenapa pagi pagi udah panas gini?! Astaga..." Venus mengipas ngipas badannya.


Ntah cuaca yang panas atau sebenarnya karena hormonnya saja yang sedang meningkat. Dia pun tak tau dan memilih untuk tidak memusingkan apa yang terjadi.


Venus beranjak menuju kelasnya.


Victor melihat kejadian tadi, tangannya mengepal melihat ekspresi Venus yang tampak sangat senang dan menikmati berangkat bersama Steve.


Apa yang terjadi pada Venus? Kenapa malah bersama pria sialan itu?! Bahkan Venus tak pernah malu malu seperti itu saat bersamanya!


Cih! Sialan!


Lelaki itu selalu saja merusak segalanya! Hubungannya dengan Venus kini semakin terancam terutama kejadian yang semalam. Ah sial!


Victor emosi sekali.


Victor datang menghampiri Venus dan manahan tangan Venus membuat Venus berhenti dan membalikkan badannya melihat siapa orang itu, "Venus ada apa? Kenapa kamu malah berangkat bareng Steve?"


Victor mengusap wajah, "Venus dari kemarin aku menelponmu kenapa kamu tidak angkat?"


Venus melepaskan tangan Victor dan menunduk dalam, "Aku takut sama kamu."


Deg!


Takut? Hanya karena ciuman kemarin?


Venus segera meninggalkan Victor ketakutan dan berlari memasuki kelasnya.


Victor mengepalkan tangannya kuat, kenapa harus seperti ini?


Victor mengejar Venus dan segera menarik tangan Venus dan memeluknya, "Sudah aku katakan, aku minta maaf yang kemarin okey. Jamgan pernah menjauhiku Venus, kamu tau aku tak bisa melakukan apapun tanpamu."


Venus mendorong tubuh Victor, "Lepaskan aku."


"Venus apa ini. Kenapa-" Victor sungguh tak terima.


"Victor jangan semakin membuatku takut. Ku mohon tinggalkan aku sendiri, aku ingin sendiri." Kata Venus dengan suara gemetar sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah. Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikanmu waktu untuk itu, tapi aku akan tetap selalu ada untukmu." Kata Victor mengalah.


Venus tak menjawab dan memilih bungkam dan segera meninggalkan Victor sendiri.


***


Victor sangat kacau sekarang, kini dia berada dalam Bar milik sahabat lamanya Hamdan.


Hamdan terkekeh melihat sahabatnya ini terlihat kacau, "Tumben ke bar, udah bosan ke perpus dan ingin bermain sekarang huh?" Ledek Hamdan.


Victor kembali meneguk botol wine brutal dan menatap temannya ini tajam, "Dasar Brengsek!"


Hamdan tertawa melihat kejadian yang sangat langka ini, "Ada dua hal yang membuat lelaki itu menjadi kacau." Hamdan menegakkan jari telunjuknya, "Satu harta," kemudian menambahkan satu jari tengah, "Dua wanita." Kemudian Hamdan tersenyum miring, "Dan yang paling beracun adalah.." Hamdan melipat kembali telunjuknya dan hanya menyisahkan jari tengahnya saja, "Wa.ni.ta." Eja Hamdan membuat Victor meringis kesal dan kembali meneguk minuman kerasnya.


"Diamlah." Kesal Victor.


Kemudian datanglah seorang wanita dengan pakaian ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya melintasi mereka berdua. Hendak menggoda mereka.


Victor menarik wanita itu dengan kasar dan meletakkannya di atas pahanya. Dalam fantasi Victor dia membayangkan bukan wanita seksi menggoda lah yang di pangkuannya, melainkan Venus.


Hamdan tak mau mengganggu dan mengangkat tangannya sambil tersenyum miring, "Oke, I'm done. Have fun and do it what do you want to do. I have some works to do."


Hamdan pergi dan membiarkan sahabatnya itu menghibur dirinya dengan wanita.


Victor dengan brutal mencium bibir wanita itu rakus hingga wanita itu kelimpungan namun sangat menikmatinya.


Bagaimana bisa dia menolak lelaki tampan dengan segala pesona ini menciumnya? Tentu takkan dia lepaskan.


Victor mengerang saat dengan lancangnya ****** itu mengelus miliknya yang sudah menegang. Victor melihat wanita itu, namun wajah Venus lah yang tampak.


Wajah wanita yang di idam idamkan tampak bern*fsu dan sangat liar.


Victor tersenyum miring dan menarik pinggul wanita itu hingga mereka sangat dekat, "Aku akan menyiksamu hingga kamu takkan melupakannya."


Wanita itu mendesah, "Aku milikmu dan siksa aku semaumu."