
Victor memakan masakan Melodi. Enak sekali rasanya sampai lelaki itu tambah dua kali, "Mel, tinggal aja di rumahku, biar setiap hari kamu yang masakin." Victor terkekeh sambil terus makan.
Melodi memutar bola matanya, "Aku bukan pembantu."
Victor kembali terkekeh singkat dan melihat ke arah Melodi, "Kamu gak makan?"
Melodi menggeleng, "Aku mau langsung pulang."
"Makan dululah,"
Victor duduk di sebelah Melodi dan mengambil nasi dan juga lauk, menyuapkan sesendok nasi dan mengarahkannya pada Melodi, "Makan ini. Kamu udah gak bertenaga dari kemarin."
Melodi menatap mata Victor dengan tatapan yang tak dapat di mengerti Victor, Melodi memakan sulangan Victor dan tersenyum kecil, "Makasih."
Melodi mengambil sendok yang ada di tangan Victor dan mulai memakan sarapannya sendiri.
Victor tersenyum dan melanjutkan juga makannya.
Setelah makan Melodi segera bangkit berdiri, "Aku pulang. Makasih tumpangannya."
Tangan Melodi di tahan Victor, "Aku yang antar kamu."
"Gak usah, aku bisa sendiri."
Victor bangkit berdiri dan memegang bahu Melodi, "Pokoknya aku yang antar kamu. Kamu mandi dulu sana, aku juga mau siap siap. Nanti kita langsung berangkat."
Melodi menghembuskan nafas, "Aku gak ada baju. Mending langsung antar aku pulang aja."
Oh ya, Victor lupa memikirkan itu, baju. Tadinya Victor sengaja memperlama Melodi karena Victor ingin Melodi tinggal di rumahnya setidaknya sampai siang. Ntahlah, dia suka saja berlama lama dengan Melodi.
"Aku mau pulang Vic," kata Melodi lagi membuat Victor mencari ide lagi.
"Iya aku antar, tapi mandi dulu gih, pakai baju aku aja. Kamu tunggu di sini sebentar." Kata Victor kemudian pergi meninggalkan Melodi dan kemudian kembali membawa baju putih kemeja dan celana pendek berwarna hitam.
"Ini pakai,"
Melodi mengangguk, dia juga butuh bersih bersih.
Melodi mengambil baju Victor dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai Melodi mengikat rambutnya ekor kuda dan keluar kamar menemui Victor.
Victor masih di dalam kamarnya, terpaksa Melodi menunggu di ruang tamu sambil bermain hpnya.
Terdengar pintu kamar Victor terbuka dan segera Victor berjalan ke arah Melodi yang tampaknya sudah menunggunya.
Melodi menoleh ke belakang melihat Victor sudah berjalan ke arahnya. Melodi bangkit berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.
Mata Victor sungguh terpukau oleh penampilan Melodi. Astaga, bagaimana wanita ini tampak cantik dan juga seksi hanya memakai baju seperti itu.
Melodi yang melihat Victor menghentikan langkahnya membuat dirinya jadi kesal sendiri. Lama.
Melodi pun berjalan ke arah Victor dan berdiri di hadapannya, "Vic, ayo pulang."
Victor tersadar tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuknya sambil mengarahkan pandangan ke arah lain, "Oh iya, ayo."
Melodi berjalan deluan meninggalkan Victor sambil membawa tas dan bajunya kemarin.
Setelah sampai di depan pintu mobil Victor membuat pintu itu untuk Melodi setelahnya dia memutar untuk duduk di kursi mengemudi.
Victor kembali melihat Melodi.
Cantik banget, batin Victor.
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Melodi melihat Victor yang kembali melihatnya.
Victor menggeleng, "Gak."
Victor melanjutkan perjalanan dan mengantarkan Melodi sampai ke depan rumahnya.
"Sudah sampai," kata Victor setelah sampai di rumah Melodi.
Melodi mengangguk, Melodi menoleh melihat Victor. Dia seharusnya banyak mengatakan terimakasih pada Victor buat yang kemarin. Tak tau apa yang akan terjadi jika dia tak ada di sana kemarin.
Tapi setelah ini pun akan ada masalah besar yang akan dia hadapi, dan dia tak akan mungkin bisa meminta bantuan siapapun bahkan Victor, dia tak mau menyusahkan orang lain lebih banyak lagi.
"Vic, aku boleh minta sesuatu?"
Kata Melodi langsung di jawab anggukan oleh Victor sembari melepaskan sabuk pengamannya.
"Apa?"
"Kau harus tetap semangat jalani hidup. Ingat hidup harus berjalan ke depan," kata Melodi dengan intonasi dan ekspresi yang berat. Seperti ada tekanan di sana.
Melodi menutup mulutnya dengan jari telunjuk, "Bukan apa apa. Aku hanya ingin bilang itu saja."
Melodi melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk Victor dan semakin lama semakin erat.
Jujur dia takut. Tapi takut pun tak ada gunanya, dia harus bisa hadapi semua kehidupannya sendiri.
Saat Melodi ingin melepaskan pelukannya Victor menahan pelukannya itu dan menatap Melodi dekat, "Mel, ada apa?"
Melodi tersenyum namun tak ada kebahagiaan dari tarikan senyuman itu, "Aku tak ada masalah apapun Vic."
Victor enggan melepaskan pelukannya, dia rasa seperti Melodi menyembunyikan sesuatu, "Mel.. katakan saja."
Melodi terkekeh singkat dan terdengar garing, "Tidak ada apa apa, Vic. Sudahlah aku mau masuk ke dalam rumah."
Jujur Victor terlanjur nyaman dengan pelukan ini, dia sama sekali tak pernah memeluk Melodi seintens ini saat terutama saat dia sadar, biasanya Melodi akan langsung memukulnya.
Melodi melepaskan pelukannya dengan sedikit mendorong tubuh Victor dan mengambil seluruh barangnya, "Aku luan. Makasih."
Victor menatap kepergian Melodi dengan sedih. Dia masih ingin berlama lama dengan Melodi.
Tapi ya mau gimana lagi, Melodinya udah mau pergi gitu aja.
Victor pun melanjukan mobilnya ke arah kantornya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ini sangat aneh, karena perkataan Melodi pikiran Victor jadi tak menentu. Kalimat Melodi itu seperti kode rahasia yang hanya di mengerti untuk hal hal tertutup lainnya dari masalah Melodi.
Victor melihat ke arah hpnya, Victor membuka blokir nomor Melodi yang sebelumnya dia blok. Tangannya menekan tombol panggil untuk menelpon Melodi.
Telpon Itu tak di jawab. Victor bingung, kemudian mengangguk, "Ah mungkin lagi sibuk."
Victor menunda menelpon Melodi. Nanti saja setelah pulang kerja.
Setelah pulang kerja Victor menelpon Melodi dan masih tak di jawab, "Melodi kok ngak bisa di hubungi?"
Victor tak mau menunggu lama, dia langsung saja ke tempat kerja Melodi.
Ruangan Melodi tertutup. Membuat Victor makin panik, Victor berjalan menuju tempat administrasi, "Dokter Melodi sudah pulang?"
"Maaf pak sebelumnya. Dokter tidak masuk sejak tadi pagi. Sedang tak enak badan katanya." Jelas suster yang ada di sana.
Victor dengan cepat pergi dan melajukan mobilnya ke rumah Melodi. Jangan jangan Melodi akan pergi jauh makanya bilang seperti itu tadi pagi.
Victor menekan tombol bel rumah Melodi yang ada di depan pagar berkali kali. Rasanya dia sangat takut Melodi pergi, dia tak mau. Sungguh!
"Mel!! Mel!! Ish, Keluar Mel!!" Jerit Victor karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Melodi.
Sangking nekatnya Victor mau memanjat pagar tapi kemudian pagar berdecit dan terbuka menampakkan sosok Melodi yang tengah menggunakan pyama coklat terkejut melihat Victor.
"Kenapa?" Tanya Melodi.
Victor segera memeluk Melodi, "Kamu buat takut aja, aku pikir kamu kabur dari kota dan ninggalin aku." Ucap Victor dengan geram.
Melodi tak menjawab.
Victor melihat Melodi dengan lekat, "Kamu beneran lagi sakit?"
Melodi mengangguk.
"Kenapa ngak bilang? Sini biar aku rawat." Victor menarik tangan Melodi masuk ke dalam rumah, tapi Melodi menahannya.
"Kau pulang saja. Aku tak apa."
"Tak apa gimana? Wajahmu pucat," Victor menunjuk wajah Melodi.
"Vic sudahlah. Aku tak-"
Brumm
Terdengar mobil yang berhenti di depan rumah Melodi. Mobil yang terparkir didepan pagar itu terlihat sangat mengganggu di mata Melodi.
Kemudian keluarlah sosok beberapa lelaki dan algojonya yang berbadan tegap. Lelaki itu berjalan ke depan Melodi dan sang algojo pun menyingkirkan tubuh Victor dari hadapan mereka.
Lelaki tua itu tersenyum sumringah, "Mari kita menikah."
Deg!
Kalimat itu membuat Victor terbelalak.