
Catatan penulis:
Done ya... dah nempatin janji loh ini crazy up... hehe...
Btw jangan lupa dukungannya ya guyss...
jangan jadi pembaca gelap...
thanks....
happy reading guys 🥰
Venus melihat ke arah jam dinding setelah makan siang. Yap, makan siang untuk dirinya sendiri pastinya karena Steve pulang sekitar jam 5.
Rasanya bosan juga di rumah mulu. Ngak ada yang bisa di kerjakan selain makan, dia akan menjadi gendut pasti. Semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan dan hal yang paling menyenangkan hanyalah menonton film. Bosan juga kan?
Venus memainkan hpnya dan membuka media sosial. Venus iseng melihat media sosial milik suaminya.
Matanya membulat sempurna. Bagaimana bisa lelaki yang di anggap suaminya ini bahkan tak memiliki pertemanan sama sekali dan bahkan hanya mengikuti satu, yaitu hanya dirinya.
Lebih parahnya tidak ada photo profil dan tidak ada postingan dan memiliki lebih dari 200K pengikut.
Wah parah sih ini.
Kemudian Venus terkekeh, bisa bisanya suaminya tertutup begini ya?
Karena bosan Venus mencoba menelpon suaminya,
Memanggil...
Lama menunggu sepertinya Steve sedang sangat sibuk hingga tak dapat menjawab teleponnya.
It's okey. Venus tak terlalu mempermasalahkan itu.
Venus bangkit dari duduknya dan hendak berjalan jalan keluar rumah sebentar, hanya berkeliling kompleks tak masalah bukan?
"Pak, saya jalan jalan sore sebentar ya. Hirup udara segar.." Izin Venus pada sang satpam.
Sang satpam berat menjawab iya, dia takut sang bos akan memarahinya saat tak mendapatkan istrinya di rumah. "Tapi Bu.."
"Tak apa, saya akan pulang sebelum dia pulang. Jam 3 teng, saya akan langsung pulang. Dan saya membawa telepon untuk jaga jaga, Bapak tenang saja." Ucap Venus dan langsung melenggang pergi.
Venus berjalan mengelilingi kompleks, melihat banyak keluarga yang berjalan sore juga di taman.
Brukk
Karena asik melihat kanan kiri Venus sampai tak melihat ke hadapan depannya, dia menabrak seseorang hingga kepalanya sedikit sakit menghantam dada bidang lelaki itu.
"Venus?"
Deg!
Venus melihat Victor ada di hadapannya.
Mampus!
Venus hendak pergi tapi tangannya di tahan oleh Victor, "Aku takkan melakukan apapun terhadap kamu Venus." Kata Victor dan kemudian melepaskan tangannya,
Venus merasa aneh dan membalikkan badannya melihat Victor.
"Kalau kamu mau jalan di taman ya silahkan saja. Aku tak melarangnya. Dan aku bahkan akan pergi jika aku menggangumu." Ucap Victor.
Melihat ekspresi wajah Venus yang merasa tak nyaman Victor mengangguk, "Baiklah aku akan pergi." Victor pergi begitu saja tanpa memperdulikan jawaban Venus yang pasti juga takkan menjawabnya.
Venus kembali heran melihat Victor. Tapi ya sudahlah, dia juga tak mau mencari gara gara. Dan satu hal yang perlu di lakukan oleh Venus sekarang adalah dia harus kembali ke rumahnya sekarang dari pada tiba tiba Victor malah melakukan hal buruk terhadapnya.
Venus segera pulang ke rumahnya dan sekarang bisa bernafas lega.
Sang satpam yang melihat Venus bingung, "Ada apa Bu? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Satpam panik.
Venus dengan nafas memburu mencoba mengatur sirkulasi respirasinya dan kemudian mengangguk, "Tak apa, hanya ingin berlari ke rumah saja."
Sang satpam panik, "Ya ampun Bu... Jangan sering lari lari, nanti terjadi hal buruk pada kondisi ibu Bu.."
Venus menganguk, ada benarnya juga yang di katakan Pak Sudianto, akan sangat berbahaya untuk janinnya juga nanti. "Baik pak. Maafkan keteledoran saya. Saya akan lebih berhati hati. Terimakasih atas perhatiannya." Ucap Venus.
Sang satpam mengangguk, "Iya Bu."
Sungguh rasanya jika sudah di dalam rumah itu sangat nyaman dan aman.
"Lain kali aku gak akan mau keluar rumah kalau ngak ada Steve. Itu akan berbahaya bukan?" Gumam Venus.
"Lain kali? Apa kamu keluar rumah tadi?" Tanya seseorang dari belakang Venus membuat mata Venus terbelalak.
Venus segera membalikkan badannya, "A-anu. Aku hanya-"
"Sayang.. apa yang ku katakan padamu. Jangan pergi dari rumah kan, aku sangat kuatir padamu sayang..." Ucap Steve panik saat baru sampai rumah.
"Baiklah, aku akan memarahi satpam. Kenapa dia malah membiarkan kamu keluar?! Apa maksudnya?!"
Venus segera menarik tangan suaminya dan memeluknya, "Sayang... Maaf... Tadi aku cuma jalan di depan doang. Ngak jauh sayang... Jangan marah ku mohon..." Venus menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya pertanda kata Janji.
"Aku janji gak ulangi. Aku bakalan tetap di rumah. Serius... Beneran..." Janji seorang Venus.
Steve masih kesal melihat Venus yang malah terlihat bercanda.
"Sayang... Aku serius...." Venus bergelayut manja pada Steve untuk menenangkan singa yang sedang mengamuk sekarang.
Venus melingkarkan tangannya di leher dan mengelus pipinya, "Maafin ya..."
Steve luluh dan membalas memeluk Venus, "Aku takut kamu kenapa kenapa. Itu doang.. please jangan buat aku serangan jantung karena kamu terus lakukan seperti ini."
Venus menganguk dan mencium singkat bibir Steve, "Iyaa... Maaf ya... Gak lagi kok."
Steve mengangguk. "Hm."
Steve menggendong Venus di depannya dan membawanya ke kamar. Memeluk wanita itu di atas ranjang dan mencium bibirnya perlahan, "I Miss You.."
Venus tersenyum kecil dan mengelus rambut lelaki yang kini sudah menjabat menjadi suaminya dalam dua bulan ini. "Me too..."
Steve tersenyum kecil dan kembali mencium sang istri dan memperdalam ciumannya. Candu sekali bagi Steve.
Venus tak menolak dan bahkan membiarkan tangan suaminya menjelajahi tubuhnya sesukanya.
Ntahlah, Venus juga menyukainya.
Kring kring kring
Hp Steve berbunyi menandakan ada yang sedang mencoba menghubunginya.
Steve tak perduli dan malah mencampakkan hpnya. Steve memperdalam ciumannya yang dirasanya sangat nikmat untuk di lanjutkan.
Hp terus berbunyi berkali kali membuat kesal saja bagi Steve.
Venus melepaskan ciuman Steve dan melihat lelaki itu yang tengah memandangnya kecewa, "Angkat dulu gih. Siapa tau penting."
Steve berdecak kesal dan mengambil hpnya, "Ha apa?!" Kata Steve dengan nada marah.
"A-anu bos. Mengenai kontrak dengan pihak perusahaan tadi siang sudah saja selesaikan dan besok bisa di serahkan. Semuanya tidak ada masalah bos." Kata seseorang dari seberang sana membuat Steve mengeraskan rahangnya,
"Kau cuma mau bilang itu? Apa tidak ada lagi kata kata yang lebih penting dari itu sampai kau menelponku?!" Bentak Steve.
"A-anu bos, tadi kan bos yang bilang harus segera kabari bos kalau sudah ada perkembangan jadi saya..."
"Iya iya... Okey... Udah siap kan? Saya banyak urusan."
"Baik-"
Tut Tut Tut
Telepon tadi segera di matikan Steve sepihak. Rasanya kesal sekali kenapa di saat enak seperti ini malah di ganggu. Untung masih di awal awal.
Steve menonaktifkan hpnya dengan kesal dan kemudian mencampakkannya sembarang tempat.
Steve kembali memeluk Venus, "Sampai di mana tadi kita sayang..."
Venus terkekeh, "Besok kamu banyak kerjaan, kamu istirahat sana. Besok saja di lanjut."
Steve mengerucutkan bibirnya, "By.... Kok gitu..."
Venus tersenyum dan mencubit pipi suaminya gemas. "Ya udah. Sok di lanjut.."
Steve tersenyum riang dan kemudian melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.