My Different Wife

My Different Wife
Kebenaran Yang Tersembunyi



Venus pulang dari kampus sesegera mungkin. Rasanya dia malu sekali berjumpa dengan Victor, dia bisa terkena serangan jantung jika hal tadi siang terjadi lagi bukan?


Venus menaiki taksi dan menuju ke rumah. Di perjalanan Venus melihat mobil yang tak asing tengah terparkir di sebuah cafe kecil yang tak jauh dari taksinya kini melintas.


Di saat itu juga keluarlah Steve dengan Lisa dari mobil Steve. Steve merangkul bahu Lisa singkat dan menepuknya pelan, seperti suatu percakapan telah terjadi di antara mereka dan berakhir pada Lisa memeluk Steve dengan erat.


Mata Venus sungguh tak kuasa melihat kejadian itu dan segera memalingkan wajahnya.


'Steve takkan pernah bisa mencintai siapapun kecuali Lisa. Dan pilihanku untuk menjauhinya adalah tepat.' Batin Venus.


***


Sesampainya di rumah Venus segera merapikan barang barang yang di bawanya serta langsung menunju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah segar Venus beranjak ke dapur dan menyiapkan makan malam.


Bi Minah yang melewati dapur menunduk hormat, "Malam non."


Venus menoleh kemudian tersenyum, "Malam bi."


Sebenarnya bisa saja Steve menyiapkan banyak asisten rumah tangga selain bi Minah yang mencuci pakaian. Namun Venus tak ingin dirinya semakin manja dengan adanya asisten rumah tangga, makannya dia meminta Steve hanya menyewa asisten rumah tangga khusus mencuci pakaian saja, tidak lebih dan bahkan bisa pulang setelah melakukan tugasnya.


"Semua pakaian sudah beres non. Apakah ada yang lain non?" Tanya bibi.


Venus menggeleng, "Ah tidak ada Bi. Jika selesai bibi boleh pulang. Eh, tapi makan malam saja sekalian di sini Bi! Saya akan siapkan makanannya."


Bi Minah menggeleng dan tersenyum, "Ah tidak usah non. Bibi juga sudah di tunggu anak dan suami di rumah. Takutnya jadi kemalaman non."


Venus mengangguk, "Baiklah Bi. Hati hati di jalan."


Bi Minah tersenyum dan mengangguk, "Baik non. Terimakasih non."


"Iya bi."


Tepat di saat bibi pulang Venus melihat Steve yang baru datang dengan bertegur sapa dengan Bi Minah didepan pintu rumah.


Kemudian Steve masuk dan melihat ke arah Venus.


Steve tersenyum dan meletakkan tasnya di meja makan, kemudian beralih pada Venus yang ada di dapur, "Mau masak apa?" Tanya Steve penasaran.


"Gak tau. Baru juga mau masak." Jawab Venus ala kadarnya.


Steve mengangguk, "Hm."


"Venus," panggil Steve membuat Venus menoleh, "Kenapa?" Tanya Venus.


"Aku tadi jumpa Lisa. Sedikit menghibur dia yang sedang kemalangan karena ibunya meninggal, jadi ajak dia makan di cafe tadi." Jelas Steve dengan menatap Venus dengan tatapan minta maaf.


Venus sedikit terkejut mendengar bahwa ternyata Lisa sedang kemalangan. "Apa dia baik baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Venus.


"Dia baik baik saja. Dia hanya sedikit bingung harus bagaimana menjadi peran kepala rumah tangga dan sekaligus juga menjadi kakak bagi adiknya yang sekarang tengah berkuliah." Jelas Steve. "Banyak peran yang harus di pikulnya sendiri."


Venus mengangguk, "Lisa adalah wanita yang kuat. Aku salut sama dia."


Steve tersenyum  kecil melihat Venus yang kini tidak seperti anak anak lagi, tidak cemburu atau merengek ketika mendengar nama Lisa di sebutkan. "Aku bahkan lebih salut sama kamu sekarang karena jadi lebih dewasa." Steve menggenggam tangan Venus.


Steve menghembuskan nafas berat, "Aku minta kamu jangan marah sama aku."


Venus menoleh melihat ke arah Steve yang kini sudah menundukkan kepalanya, Steve mengelus tangan Venus, "A-aku tadi rangkul dia. Dan pelukan. T-tapi gak lama kok, langsung aku lepas. Maafin aku. Aku memang yang salah. Maaf.." Kata Steve semakin menunduk takut.


"Kenapa minta maaf? Kan ngak masalah kan? Untuk apa juga aku harus marah?"


Steve menarik tangan Venus dan membuat Venus berbalik padanya dan saling berhadapan dengan Steve. Steve memegang kedua bahu Venus, "Aku akan ceritakan semua yang aku lakukan dan apa saja yang ku perbuat di luar sana. Aku gak akan tutupi apapun darimu. Aku ingin kamu tetap percaya sama aku, dan aku akan janji untuk mengatakan sebenar benarnya. Gak ada yang ku tutupi dari kamu."


Deg!


Tutupi?


Kenapa rasanya Venus merasa tertampar sendiri dengan kata kata Steve itu? Dia bahkan tidak pernah terbuka pada Steve seperti Steve terbuka padanya.


Steve medekatkan wajahnya pada Venus, "Mengenai hal itu kamu gak marah kan Venus? Ku mohon maafkan aku kalau aku salah. Lain kali aku ngak akan ulangi. Janji!"


Venus menggeleng dan menundukkan kepalanya, "Aku gak marah Steve."


Steve tersenyum lega dan kemudian mengangguk, "Baiklah. Aku akan segera mandi. Dan setelah itu kita makan malam bersama. Tunggu aku ya."


Venus mengangguk tanpa melihat Steve.


Steve pun pergi dan mengambil tasnya dan berjalan menuju kamarnya.


Venus melihat kepergian Steve. Dia merasa menjadi seorang penipu sekarang. Bukankah yang di lakukan sekarang juga seperti kejahatan?


Ini sama saja dengan kejahatannya yang dulu namun dalam konteks yang berbeda. Intinya sama sama kejahatan!


Venus mengusap wajahnya dan segera meneguk air minum. "Bukan kamu yang harusnya minta maaf Steve. Tapi aku." Kata Venus dengan sedih dan kembali mengusap wajahnya gusar.


***


Steve menutup pintu kamarnya dan kemudian bersender pada pintu itu.


Srett


Dia tersuruk jatuh ke bawah dan terduduk lunglai di lantai. Hatinya sangat sesak dan nafasnya seakan tercekat.


Dia pun melihat kejadian tadi siang.


Venus berciuman dengan Victor!


Betapa terkejutnya dia melihat kejadian itu dan bahkan bumi ini seakan tak bisa di pijaknya.


Steve yang hendak mengantarkan Venus makan siang sebagai ucapan terimakasihnya yang tulus karena telah merawatnya kemarin kini berdiri kaku melihat Venus berciuman mesra dengan Victor.


Jantungnya bahkan seperti tak berdetak hingga nafasnya terhenti saat bersamaan dia menjatuhkan ponselnya yang tadinya ingin menelpon Venus untuk berjumpa.


Steve mengalihkan pandangannya segera berharap yang di lihatnya bukan Venus. Namun dia kembali melihat ke arah yang sama dan mengungkapkan bahwa yang di lihatnya bukanlah mimpi.


Steve berjalan mundur dan membalikkan badannya.


Steve memukul mukul dadanya memastikan darah tetap mengaliri jantungnya dan terus berdegup. Steve berjalan lemah meninggalkan tempat kejadian.


Dia tak percaya dengan apa yang terjadi. Sungguh dia tak percaya!


Apa sebenci Itukah Venus padanya hingga menyakiti dia sedalam ini? Tidak bisakah dia mendapatkan cinta Venus kembali?


Mata Steve sudah membendung air mata namun tetap di tahannya. Dia harus bisa menghadapi bahwa Venus tidak mencintainya, namun Venus adalah istrinya yang harus di pertahankan.


Steve masuk ke dalam mobil dan mengisap wajahnya, "Dia sungguh tak mencintaiku."


Steve menarik nafasnya dan membuangnya dan kembali meneteskan air mata, "Tak apa, asal Venus bahagia."