
Catatan penulis:
Maaf ya bab ini aku sedikit nulisnya. Soalnya kemarin bergadang dan sekarang jadi ngantuk ngantuk ngerjainnya. Maaf banget ya... Aku usahakan besok up ceritanya yang panjang ya... Jangan lupa dukungannya... Makin banyak dukungan akan semakin menaikkan semangat author. Thanks ya... Love you...
Setelah segalanya sudah teratur dengan baik dan lancar. Venus sendiri jadi parno-an. Dia takut bercampur berdebar, dia bingung dan juga panik. Semua menjadi satu dalam hatinya dan pikirannya.
"Kenapa?" Tanya Victor yang tiba tiba duduk di sebelah Venus yang sedang duduk di kursi baca perpustakaan.
Venus menunjuk dirinya, "A-aku? Ah gak apa." Kata Venus dengan tersenyum kikuk dan kemudian kembali melihat ke arah buku novel yang di bacanya,
"Bohong." Kata Victor dengan tatapan dingin.
Venus menggeleng, "Gak kenapa kenapa kok. Beneran."
Victor menunjuk wajah Venus, "Kenapa wajahnya pucat gitu?"
Venus memegang wajahnya, "Anu, aku tadi gak sarapan. Jadi laper." Kata Venus mengalihkan pandangannya.
"Kamu gak mau baca buku ini?" Kata Venus dengan senyuman kecil mengalihkan dirinya.
Victor memeluk Venus dari sebelah dan meletakkan dagunya pada bahu Venus dengan pandangan searah dengan kedepan sama seperti Venus, "Venus aku sayang banget tau sama kamu. Tapi kenapa kamu masih aja gak mau jadi pacar aku."
Venus sedikit menggeser tubuh Victor, tapi Victor malah mengeratkan pelukannya, "Kalau aku langsung nikah sama kamu, kamu gak boleh nolak ya."
Venus membolangkan matanya mendengar kalimat Victor dan menoleh ke arahnya.
"Aku sayang banget sama kamu, sayang banget." Kata Victor tulus.
Venus menggeleng, "Aku gak bisa bersama denganmu Victor. Aku nyaman bersamamu tapi bukan perasaan nyaman yang sama denganmu. Aku nyaman menjadi seorang terdekat mu, sebagai adik dan teman. Itu yang aku rasakan." Jelas Venus.
Victor menunduk, "Tapi aku ingin kita lebih dari itu."
Venus menggeleng, "Maaf."
Perlahan pelukan Victor melemah dan terlepas.
Ponsel Venus bergetar, ada tulisan Steve di sana. Venus mengambilnya namun tangan Victor lebih dulu mengambil itu.
Victor menatap tajam Venus dengan memicingkan matanya dan kembali pada ponsel Venus.
Victor mengangkatnya,
"Venus, besok kita mengambil percetakan undangan pernikahan kita ya. Jangan kemana mana aku akan menjemputmu." Kata Steve singkat.
Victor mematikan ponselnya, "Pernikahan? Katakan siapa yang menikah?" Kini Victor menatap dengan penuh ancaman ke arah Venus.
Venus menunduk, "Orang tua kami-"
"Kenapa tidak menolak? Venus jangan jadikan mereka alasan. Kamu punya bibir kan untuk bicara, kenapa diam? Jawab Venus." Victor menatap terus Venus dan memegang bahunya.
"Aku gak punya pilihan, kamu harus men-"
"Oh, jadi ini alasan kamu menjauhiku. Karena dia memiliki keluarga yang lebih baik pastinya. Dia bukan terlahir di keluarga pecah belah kaya aku. Tentu saja aku kalah saing." Kata Victor tersenyum miring.
"Victor apa yang kamu katakan? Aku-"
"Sudahlah Venus, aku tau itu kejadian seutuhnya." Victor memiliki pemikiran sendiri.
Venus segera di tinggalkan Victor.
Ingin mengejar lelaki ini namun dia tak dapat lakukan itu karena dia juga tak bisa menenangkan Victor nantinya. Dia juga tak memiliki kata kata lain untuk menyenangkan hati Victor.
Venus tak ingin keluarganya menjadi kacau dan terjadi kehancuran. Dia lebih baik diam saja.
***
Victor memukul meja dengan keras, "Steve! Kau tampaknya sedang ingin bermain dengan seekor macan huh?" Ungkap Victor bermonolog.
Victor kemudian tersenyum miring, "Lihat saja aku akan membalasmu Steve. Lihat saja"