
Victor melihat ke arah Venus yang berdiri di hadapannya. Mereka tengah berada di halaman parkir, "Kenapa nunduk terus." Victor menatap Venus.
"Makanya kita gak usah pacaran. Aneh banget tau gak. Gak ada cocok cocoknya." Kesal Venus.
Victor tersenyum miring melihat Venus. Ntah apa itu, dia suka saja melihat wanita ini. Sungguh berbeda, biasanya wanita lain akan mengejarnya dan wanita ini malah terus menolaknya.
"Venus." Panggil Victor.
Venus mendongak, "Apa?"
"Jangan pernah bilang seperti itu lagi. Kalau tidak aku akan sangat marah padamu." Ucap Victor singkat.
Venus mengerutkan keningnya kesal, "Aku tak perduli kau marah atau tidak. Aku tak mau jadi pacar siapapun! Aku mau jomblo sampai mati! Titik."
Victor tak suka mendengar kalimat itu. Dia tak suka saat Venus tak menganggabnya sebagai seorang pacar.
Tiba tiba ada belakang di bahu Victor karena memang halaman parkir berada di ruangan outdoor dan berdekatan dengan pohon yang ditanam berjejer.
Venus menutup mulutnya. Dia sungguh jijik serangga,
Victor melihat arah pandangan Venus dan melihat serangga ada di bahunya. Dengan santainya Victor membuang serangga itu ke sembarang arah.
Venus mengusap usap tangan dan bahunya, "Iuh jijik banget liat itu!"
Victor yang tadinya ingin melanjutkan marahnya jadi tersenyum miring memikirkan suatu ide.
"Di kepala kamu juga ada dua tuh." Kata Victor menjahili Venus.
Venus membolangkan matanya dan merengek, "AaaA... Gak mau!"
Victor menjauhkan badannya sedikit demi sedikit, "Besar banget belalangnya. Is, malah gendut lagi." Victor melebih lebihkan.
Venus menahan baju Victor, "Heh jangan gitu! Ambilin!"
Victor tersenyum miring, kena perangkap juga Venus.
Victor menggeleng, "Aku bukan siapa siapamu bukan? Untuk apa aku menolongmu? Menyusahkan."
Venus menutup matanya takut, "Sebagai sesama manusia harus saling membantu! Tolongin!" Kesal Venus.
Rasanya Victor ingin tertawa.
"Tidak akan. Aku juga punya banyak kerjaan," Victor berpura pura akan pergi.
Venus langsung memeluk Victor membuat Victor tertegun, "Ambilin!" Perintah Venus.
Jantungnya berdegup kencang, apa yang terjadi pada Victor?
Victor mengebaskan pucuk kepala Venus. Venus bernafas lega dan membuka matanya, "Makasih."
Victor menaikkan sudut bibirnya ke atas, "Hanya itu?" Victor menyelipkan sedikit sebelah rambut Venus ke belakang telinganya, dia menarik tengkuk Venus,
Victor menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya sambil menutup mata, "Cium." Kata Victor sambil merundukkan kepalanya dan mendekatkannya pada Venus.
Venus geram. Kenapa lelaki ini sangat mesum!
Kduk!
Venus menjitak kepala Victor.
"Aw!" Ringis Victor kesakitan.
Venus melipat kedua tangannya, "Aw, aw, aw, aw. Emang enak? Makanya jangan ngeselin! Cuci tu otak biar bersih!" Kesal Venus.
Victor tergelitik. Wanita ini sungguh berbeda.
Victor tersenyum dan memeluk Venus erat, "Panggil aku sayang. Titik."
"Apaan! Gak ada!" Ucap Venus tak terima.
"Jika tidak aku akan menciummu." Ancam Victor dengan wajah datar dan dingin seketika.
"Victor-"
Cup
Seketika mata Venus terbelalak.
Lelaki ini sungguh mencium pipinya.
"KAU!-"
Cup
Venus menjauhkan wajahnya cepat membuat Victor sedikit kecewa, padahal dia mau mengecup terus pipi Venus dan mungkin akan mencium bibirnya
Wajah Venus sungguh memerah. Dalam hatinya dia terus mengumpat. Apa yang di lakukan pria ini sungguh luar akal!
Itu ciuman pertama Victor. Dan dia sangat ingin melakukannya lagi. Apakah ini yang selama ini di rasakan semua orang saat berpacaran? Dia termakan kata katanya sendiri menghina orang yang mencium pacarnya yang dulu di anggabnya menjijikan.
Kenapa Venus tak menyukainya sedangkan Menurut Victor itu bahkan sangat menyenangkan.
Venus menatap tajam Victor, "Jika kau melakukannya lagi aku akan sangat membencimu seumur hidup." Tekan Venus membuat Victor terdiam.
Kenapa kata kata Venus mampu langsung menusuk hatinya.
"Maaf." Ucap Victor membuat Venus kaget. Secepat itu lelaki ini meminta maaf?
"Maaf aku terlalu naif berpacaran Venus. Ini hal baru untukku." Victor menatap mata Venus dengan sungguh dalam.
Deg!
Kenapa wajah lelaki ini tampak sangat tampan saat sedekat ini? Kenapa Venus baru menyadarinya? Venus menggeleng, apa yang dia pikirkan?! Dasar bodoh!
Victor menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Venus dan semakin mengeratkan pelukannya, "Sayang, aku mencintaimu. Kamu Venusnya aku, hm. Hanya aku dan cuma aku yang bisa memilikimu." Victor kembali melihat wajah Venus dan menatap matanya lekat.
Victor merasakan sesuatu yang aneh. Detak jantung Venus berdegup sangat kencang bahkan Victor dapat merasakannya.
Victor tersenyum kecil, "I love you."
Damn! Apa lelaki ini mempermainkannya?! Arh.. Sadar Venus, itu hanyalah gombal semata lelaki ini. Kau pasti bukan wanita pertamanya, jangan mempercayainya!
"Ehem." Terdengar suara orang terbatuk dengan sengaja membuat Venus dan Victor menoleh.
Mata Venus terbelalak melihat Steve tengah berdiri di sebelahnya.
Venus mendorong Victor, "Di-dia bukan siapa siapa. A-aku.."
Steve berjalan mendekat dan menarik Venus dari pelukan Victor ke belakangnya.
Dan saat ini juga antara Steve dan Victor saling tatap bengis.
"Dia pacarku." Ucap Victor dengan senyuman miring.
"Dan pacarmu adalah tunanganku." Jelas Steve membuat senyum Victor berubah menjadi geram.
Victor mencengkram kerah Steve dan hendak meninjunya. Membuat Venus dengan segera menahan tangan Victor, "Hentikan! Kau sudah sangat keterlaluan Victor!" Bentak Venus pada Victor.
Victor menatap Venus. Tatapan yang tak dapat di artikan oleh Venus. Seketika Victor melepaskan tangannya dan kemudian membuang wajahnya.
Dia kecewa.
Victor pergi meninggalkan Steve dan Venus. Sudah bertahun-tahun dia melupakan kejadian yang menyayat hatinya dulu. Dan kini dengan kehadiran Steve membuat luka yang dulu kembali meradang.
Steve menarik tangan Venus dan membawanya masuk ke dalam mobilnya dengan paksa tanpa memperdulikan Venus yang meringis.
Steve menutup pintu sesaat setelah dia masuk di dalam mobil. "Oh. Jadi begini caramu hm? Kau pikir dengan mendekati pria lain dan akan memamerkannya nanti ke hadapan orang tua kita kau akan menang hm? Kau ingin membuat aku di persalahkan di sini dan membuat orang tuaku murka atasku hm? Sungguh licik caramu Venus!"
Ungkapan Steve membuat Venus terdiam dengan segala gemuruh di dadanya. Apa yang di pikirkan lelaki ini sangat luar biasa melenceng.
"Steve kau!-"
"Diamlah! Aku sangat tau kau adalah wanita terlicik yang pernah ada Venus. Kau sangat picik!" Bentak Steve.
"Kau gila! Aku bahkan tak pernah sekalipun berfikir seperti itu! Kenapa kau selalu menilaimu dengan pikiranmu sendiri!"
Steve tersenyum sinis, "Karena itu kenyataannya. Kau bukanlah manusia Venus, kau iblis!"
Venus menggenggam tangannya erat. Lelaki ini membuat hatinya sangat sakit saat dia berusaha untuk mengobatinya sendiri. Apakah dia tak cukup layak untuk berubah?
Dengan menahan air mata Venus mendorong Steve, "Baiklah jika itu maumu. Jika kau ingin aku menjadi wanita licik aku akan lakukan tepat seperti apa yang kau mau! Aku akan buktikan!"
Venus membuka pintu namun segera di tahan Steve. "Kau mau kemana?"
"Terserah aku!"
"Jangan membuatku marah Venus. Jangan menjadi anak kecil! Kau-"
"Apa?!" Venus menoleh ke arah Steve. Air matanya tak lagi dapat dibendung. "Kau mau apa?! Jika kau tak mempercayaiku kenapa kau malah mengekang ku! Hentikan semuanya! Aku muak denganmu! Aku membencimu Steve aku membenci mu!"
Deg!
Steve terdiam.
Baru kali ini dia melihat Venus seperti ini.
Venus mengusap wajahnya terutama di daerah matanya dengan cepat, "Aku sudah cukup denganmu Steve! Sudah cukup!"
Venus tersisak, "Aku membencimu... Hu hu hu..." Venus menangis tak karuan.
"Venus aku," ntah apa yang ada di rasakan Steve sekarang, apa dia keterlaluan?
Venus mengusap langsung menepis tangan Steve, "Jangan sentuh aku! Lihat saja Steve, aku akan pegang kataku kalau aku sungguh membencimu!"
Venus keluar dari mobil Steve dan berlari jauh dari Steve.
"Venus!"