My Different Wife

My Different Wife
Hal yang tak terduga



Victor menatap langit langit kamarnya. Senyuman Victor bahkan tak kunjung pudar terlebih saat bersama Melodi tadi. Dia sungguh merasa bahagia.


Victor terkekeh singkat, wanita itu sungguh luar biasa merubahnya menjadi sadar akan suatu hal yang lebih berharga dari pada Venus. Yaitu kebahagiaannya sendiri.


Akhirnya dia dapat merasakan apa itu hidup dan terasa lebih ringan.


"Thanks," kata Victor pada Melodi pada angin seakan akan dapat di dengarkan wanita itu.


Victor menutup matanya dan mulai terlelap dalam alam mimpi.


***


Victor terbangun dan melihat ke arah jam, masih pukul 5 pagi. Dan saatnya di berberes beres untuk segera bekerja.


Victor ke lantai bawah untuk sekedar mengambil segelas air putih dan meneguk minuman itu melancarkan kerongkongannya yang kering.


Victor sebenarnya ingin kembali ke kamarnya untuk duduk di meja kerjanya melihat apa yang perlu dia kerjakan sebelum dia mandi dan berangkat ke kantor.


Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat pintu rumahnya. Ada keinginan dirinya untuk sesekali berolahraga di luar rumah, ya... Setidaknya hanya berjalan jalan santai saja.


Sang asisten rumah tangga yang melihat tuannya yang pergi ke luar rumah merasa bingung, jarang sekali tuannya keluar rumah pagi pagi. Pikiran sang asisten mungkin sang Tuan ingin berolahraga, tapi kembali bertanya lagi dalam hatinya, sejak kapan tuannya itu berolah raga di luar rumah? Biasanya juga di dalam, karena memang di dalam rumah Victor juga punya ruangan jim mini pribadi.


Victor segera keluar dan berjalan jalan. Kembali ada keinginan untuknya berlari sampai ke taman kota, toh juga ini masih jam 5 pagi bukan?


Victor pun berlari menuju ke taman kota.


Karena lumayan kelelahan Victor menundukkan kepalanya dan memelankan langkahnya menjadi berjalan.


Brukk


Seseorang menabarak lelaki itu membuat Victor segera melihat siapa gerangan yang menabraknya.


"Maaf. Tak sengaja," kata wanita itu terlebih dahulu dan segera mendongakkan kepalanya,


Victor yang melihat wajah wanita itu jadi tersenyum. Padahal tadinya dia mau marah. "Mel!" Kata Victor sambil memeluk Melodi.


Melodi melepaskan pelukannya, "Apaan sih. Kaya teletabis aja," ungkap Melodi membuat Victor terkekeh.


"Tumben olah raga di sini. Bisanya juga ngak pernah, " Melodi mengingat selama dua berolah raga dia sama sekali tak pernah berjumpa dengan Victor.


Victor mengangguk, "Memang baru kali ini."


Melodi mengangguk.


"Ya udah aku luan," tanpa menunggu jawaban Victor.


Victor segera mengejar Melodi dan berjalan di sebelahnya, "Mel, udah sarapan?"


Melodi menoleh singkat dan kembali melihat ke depan, "Belum. Kenapa?"


"Sarapan bareng. Aku yang traktir," ajak Victor.


Melodi tersenyum miring, "Kenapa hm?"


Victor terkekeh singkat, "Ya gak apa, itung itung makin mempererat pertemanan."


Melodi menggeleng lucu, "Teman? Sejak kapan kau menganggapku teman?"


"Sejak tadi."


Melodi menghentikan langkahnya, "Ya udah, aku mau makan bubur kacang hijau."


"Hm. Boleh, di mana?"


Melodi menunjuk ke arah seberang yang tak jauh dari tempat mereka, "Di situ."


Victor mengangguk, "Ayo."


Mereka pun melangkahkan kaki ke sana dan sarapan bubur kacang hijau yang hangat dengan nikmat.


"Mel, makasih banyak ya," kata Victor memecahkan keheningan di tengah tengah aktivitas sarapan mereka.


"Buat apa?"


"Buat semuanya, kau buat aku tersadar dari kebodohanku dulu."


Melodi yang telah menyelesaikan makanannya meletakkan sendoknya ke dalam mangkuk dan kembali menatap Victor dengan tatapan datar, "Gak perlu berterimakasih padaku, berterimakasih lah pada dirimu sendiri mau bekerja sama untuk membuka diri."


Telepon Melodi bergetar membuat pembicaraan mereka terhenti.


Melodi membuka menghidupkan hpnya dan terlihat lah foto Melodi dan Andreas berdua sebagai wallpaper.


Victor tersenyum kecut, beruntung sekali Andreas memiliki Melodi. Andreas harus banyak banyak bersyukur untuk itu, Melodi adalah wanita yang sangat istimewa.


"Halo Dis, kenapa?"


"Mel, udah sarapan gak? Kalau belum biar aku beliin sekaligus berangkat."


Tawar temannya itu.


"Gak usah, udah sarapan. Kau langsung aja berangkat."


"Oh, oke, bye,"


"Bye,"


Melodi mematikan teleponnya.


"Siapa?" Tanya Victor.


"Teman aku."


Victor mengangguk,


"Aku luan ya, aku harus segera berangkat," Kata Melodi kemudian bangkit berdiri di ikuti Victor yang juga bangkit berdiri.


Sebenarnya Victor mau bicara banyak lagi dengan Melodi. Apapun itu ingin dia ceritakan padanya, karena Victor tau Melodi pasti akan mendengarkan dan akhirnya jadi punya waktu berdua dengannya. Ntahlah, Victor rasanya ingin berdua saja dengan Melodi. Rasanya setiap bersama Melodi seakan akan harinya jadi lebih berarti.


"Aku antar?" Ajak Victor.


Melodi malah terkekeh, "Ngapain anter. Mau naik apa hm?" Kata Melodi membuat Victor jadi teringat kalau dia tadi juga tak menggunakan kendaraan apapun.


"Oh iya, lupa," kata Victor cengengesan.


Melodi menggeleng, "Dasar.. Ya udah ya aku luan. Bye."


Victor mengangguk dan melambaikan tangan kala Melodi pergi.


Victor pun kembali pulang dengan berlari tak sekencang tadi memang, karena jujur itu lumayan melelahkan.


Victor melihat lingkungan sekitar sampai ada suatu pandangan yang membuat langkahnya terhenti.


Victor melihat Andreas dengan wanita lain. Kalau tadi Andreas hanya berbicara dan bercengkrama dengan wanita itu santai mungkin Victor tak mempersalahkan perilaku itu. Tapi yang di lihatnya adalah pemandangan yang sangat mengusiknya, Andreas terlihat begitu menerima pelukan dan sentuhan wanita itu yang terkesan intim.


Pikiran Victor kembali pada Melodi. Bagaimana jika ini terlihat oleh Melodi. Apa yang akan terjadi nanti, pastinya Melodi akan sangat tersakiti.


Saat Victor hendak berjalan ke arah Andreas, ada banyak sekali orang beramai ramai berjalan di hadapannya. Ada kumpulan orang gerak jalan di sini.


Victor mengambil inisiatif untuk memfoto kejadian itu. Dan setelahnya Victor kembali membelah lautan manusia itu dan menghampiri Andreas, "Apa yang kau lakukan? Siapa dia? Apa kau melupakan sesuatu huh?" Victor bertanya pada Andreas dengan bertubi tubi.


"Vic, kau di sini?" Andreas terkejut dengan keberadaan Victor.


"Jawab saja pertanyaan ku," tekan Victor.


"Wow, santai. Aku hanya menjalankan bisnis. Dia hanya rekan bisnis ku," Jawab Andreas santai.


"Bisnis? Bisnis seperti apa? Kenapa malah bermesraan?"


Andreas memutar bola matanya, "Kau tak perlu ikut campur. Biarkan aku yang mengurus kehidupanku. Okey, jangan mengusikku Vic, kau tau sikapku."


Rasanya ada bara apa di dadanya saat mendengar jawaban Andreas yang terkesan tak mengingat Melodi yang mencintainya dengan tulus.


"Hei, kenapa kau marah hm? Kau juga sering melakukan ini dulu bukan? Sewaktu kau di luar negeri kau bahkan lebih banyak melakukan hal seperti ini. Jangan menasehati ku Vic," Sambung Andreas dengan senyuman miring.


Ayolah, dia dan Victor memiliki banyak kesamaan terutama dalam bercinta dengan wanita.


Tapi beda, ini sangat berbeda jika di sangkut paut kan dengan Melodi. Dia tak pantas untuk di sakiti.


"Dre, Melodi itu wanita yang baik. Jangan pernah lakukan hal yang meyakinkannya,"


"Remember Vic, we're same so don't judge me. ngaca." Andreas menarik wanita itu dan menjauh dari Victor dan meninggalkan lelaki itu sendiri.