My Different Wife

My Different Wife
O ow..



Catatan penulis: Jangan lupa like dan komen yang membangun yaaa... thanks ✨


Victor terbangun.


"Akh!" Kepala Victor rasanya ingin pecah dan berdenyut.


Kemudian Victor mencoba bangkit duduk dan mengusap wajahnya.


Victor menggaruk lehernya dan kemudian terkejut merasakan tubuhnya seperti tak tertutup apapun.


Victor melihat dia tidak mengenakan sehelai benang apapun. Kemudian dia membuka selimut yang menutupinya. Matanya terbelalak bukan main melihat ternyata dia pun tak mengenakan celana sama sekali.


Victor berusaha mencerna apa yang semalam terjadi. Dia mengingat dimana Melodi marah marah padanya di Club dan membawanya ke rumah. Dan setelah itu adegan berpelukan dengan Melodi yang jujur membuat dia tertantang pada malam itu. Setelahnya Victor tak mengingat apapun.


"Apa jangan jangan?!"


Segera Victor bangkit berdiri dan mengenakan handuk kimono. Victor duduk di tepi ranjangnya mencoba mengingat lagi.


Nihil! Dia tak mengingat semuanya!


"Apa aku telpon Melodi aja ya?"


Victor menggeleng. "Gak!" Victor merasa deg degan sendiri. Padahal dia sudah sering melakukan hal seperti ini di luar negeri. Tapi kenapa kali ini dia jadi panik.


Ini di luar dugaannya. Sungguh!


Dia sama sekali tak berniat melakukannya bersama Melodi. Astaga!!!


Victor mengusap wajahnya.


***


Victor sama sekali tak dapat konsentrasi dalam kantornya. Dia terus memikirkan kejadian kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi?!


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Dan terlihat nama Andreas yang menelponnya. Mata Victor spontan membelalak.


Apa yang harus di katakannya?!


"Dia mau marahi aku karena meniduri wanitanya?" Victor kalang kabut sendiri.


Hp itu terus berdering namun rasanya tangan Victor sangat kaku dan beku untuk di gerakkan.


"Oh astaga!!" Amuk Victor.


Victor tak kunjung mengangkat telponnya bahkan sampai berapa kali Andreas menelponnya.


Dan untuk kali ini telinga Victor sudah sangat sakit mendengar deringan telpon itu. Membuat dia mengangkat teleponnya. "Ada-"


"APA KAU TULI?! SUDAH BERAPA KALI AKU MENELPON KU HUH?! DIMANA KAU!!" Jerit Andreas membuat Victor terlonjak kaget.


"A-aku.."


"ADA HAL PENTING YANG MAU KU SAMPAIKAN, TAPI KAU... KAUU!!!"


Dan di saat bersamaan terdengar suara lain bersama keberadaan Andreas. "Sakit banget Andreas... Sakit banget..." Ringis suara wanita di seberang sana.


Mata Victor membelalak. Itu terdengar seperti suara Melodi.


"Itu Melodi?" Tanya Victor panik.


"Ck. KAU DIAMLAH! AKU AKAN URUS KAU NANTI!!" bentak Andreas dan segera mematikan ponselnya.


Victor menjatuhkan hpnya. Astaga dia sungguh melakukannya dengan Melodi!


"Pulang nanti aku harus ke rumah Melodi untuk membahas semuanya."


***


Di tengah perjalanan jantung Victor berdegup kencang. Dia tak pernah bayangkan kalau akhirnya dia melakukannya bersama Melodi, wanita yang paling dingin dan keras kepala itu.


"Apakah dia akan minta pertanggungjawaban untuk menikahinya?" Victor mengusap wajahnya.


Victor memberanikan diri untuk menelpon Melodi. "H-halo?"


"Ck. Kau lagi! Apa! Jangan pernah hubungi aku lagi!"


"Mel dengerin dulu.."


"Diam! Aku mau minum obat dan semuanya akan lebih baik! Jadi jangan pernah urusi apa yang ku kerjakan!" Kesal Melodi sambil menahan sakit di perutnya.


"Mel! Mel... Halo? Mel!" Panggil Victor saat sambungan terputus.


"Obat katanya?" Victor coba mencerna kalimat rancu itu.


Mata Victor terbelalak, "Dia mau gugurkan kandungan?! Sumpah?! Apa dia gila?!" Jerit Victor.


Victor segera menancapkan gas untuk ke rumah Melodi sekarang juga.


Semua harus di bicarakan matang matang dulu.


Ntah apa yang di pikirkan Victor sekarang. Kenapa Victor panik dia juga tak tau, biasanya juga dia takkan pernah perduli dengan wanita yang sudah pernah di pakainya. Tapi kali ini hatinya sungguh tergerak karena belas kasih. Dia takkan sanggup melihat Melodi nantinya mati karena ulahnya.


"Mel! Mel! Kau mana?! Jangan buat aku semakin marah!! Mel!!" Jerit Victor.


Jeritan Victor tak kunjung mendapatkan balasan. Apakah Melodi sungguh sudah mati sekarang?


"Melodi!!!!!  Melll!!! Jawab Melll!!!" Panggil Victor dengan suara keras.


Bukk


Sebuah bantal tepat mendarat di wajah Victor dengan keras.


Victor menoleh dan melihat siapa pelakunya, dan itu adalah Melodi yang tengah kesakitan memegangi perutnya.


Victor mendekati Melodi perlahan. Di lihatnya wajah Melodi yang tampak sangat pucat. "Mel, kita bahas dulu pelan pelan. Jangan gegabah kaya gini."


Melodi mengerutkan keningnya. "Mending kau pergi dari sini. Aku gak mau jumpa dengan mu. Jangan menyusahkanku!"


Victor tetap terus berjalan ke arah Melodi dan menunduk melihat Melodi, "Itu juga anak aku. Aku berhak atasnya. Jangan ambil keputusan sendiri mel." Ucap Victor dengan penuh keseriusan.


Melodi mengerutkan keningnya semakin bingung. "Anak siapa? Apa sih?"


"Ya.. ya kau. Kau hamil anak aku kan? Kau jangan gegabah gitu mau gugurin. Kau pikir obat itu baik untukmu. Kalau kau mati juga aku yang susah! Aku bakalan kau gentayangi dan parahnya kau bakalan gentayangi aku sampai aku jadi lelaki perjaka seumur hidup! Sadar Mel!! Jangan nyusahin!!!"


Melodi memiringkan kepalanya dan mengerutkan keningnya. "Apa sih bodoh! Aku- akh! Sakit.." Melodi memegangi perutnya saat hendak melanjutkan kalimatnya.


Victor segera membopong Melodi. "Lihat kan!! Apa aku bilang!! Pasti nyusahin!!"


Melodi rasanya ingin menimpuk kepala Victor di dinding. Tapi tak mungkin Melodi lakukan sekarang karena terlalu sakit dia rasakan sekarang.


Melodi di tuntun Victor untuk duduk di atas sofa dan Victor di sebelahnya, "Berhenti minum obat penggugur!! Aku bakal tanggung jawab biayain kehidupannya!!" Ucap Victor pada Melodi.


Melodi sungguh merasakan sakit perut yang amat sangat. Dia tak konsen lagi apa yang di ucapkan Victor. "Cepetan ambilkan aku minuman itu!!! Cepat!!!"


Victor melihat ke arah apa yang Melodi tunjuk. Minuman berwarna kuning itu terlihat menyeramkan, "Apaan! Gak ada! Sadar Mel!"


Melodi mencubit perut Victor, "Ambilin cepat!! Jangan buat emosi!!!"


Victor menggeleng, "Gak! Aku ngak akan biarin kau gugurin anak aku!"


Melodi menyerngitkan dahinya. Gugurin? Hamil aja belum. Gila kali ya? Melodi segera mengangguk. Mungkin karena pengaruh minum minuman keras kemarin kepalanya jadi stress, pikirnya


Damn! Apa yang ada di otak Victor? Apa itu sebuah pengakuan? Tapi sejak kapan Victor mau mengaku benih dari perbuatan bejatnya?


INTINYA SEJAK KAPAN LELAKI BEJAT MALAH MAKSA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB?!


Victor mengacak rambutnya. "Aku bakalan di sini! Jangan macam macam!"


"Apa sih?! Aku cuma minta kau ambilkan minuman itu! Aku gak-"


"DIAM!" Bentak Victor.


Melodi menggeleng dan segera bangkit berdiri. Dari pada menyuruh Victor mengambil jamu anti nyeri haidnya lebih baik dia ambil sendiri.


Victor menarik tangan Melodi hingga dia terduduk di pangkuannya, "Keras kepala ya?" Victor membelalakkan matanya.


"Apa sih! Aku gak hamil!!"


"Jangan bohong! Aku tau semuanya! Kau seharusnya bersyukur aku mau tanggung jawab! Kalau saja lelaki lain pasti takkan perduli!"


Melodi menghembuskan nafas jengah. "Aku gak hamil dasar gila!"


"Jangan bohong! Kita sudah melakukannya kemarin."


Melodi makin pusing mendengar jawaban Victor.


"Siapa bilang?! Kita gak lakukan apa apa kemarin! Jangan mengada ada!"


"Bohong!"


Melodi berdecak, "Ngapain bohong bego. Dengar ya, sekalipun kalau kemarin kau coba macam macam denganku aku akan menendang mu. Kau tau kan aku bisa bela diri? Think smart!" Tekan Melodi.


Victor memiringkan kepalanya, "Sungguh?"


"Iya! Kalau gak percaya tes perawan aja. Aku gak takut. Intinya aku masih suci." Kata Melodi.


Victor menunjuk perut Melodi, "Terus. Kenapa itu sakit?"


"Aku mens! Sakit banget rasanya. Ini namanya asam gugut. Paham?" Jelas Melodi.


"Terus kenapa aku malah telanjang di atas ranjang kemarin?"


Melodi memutar bola matanya, "Ya mana aku tau. Intinya kau kemarin tiba tiba pingsan. Aku membawamu ke kamar dan setalah itu mengenai pakaian mu yang terbuka aku tak tau kenapa."


Victor bernafas lega, "Ah syukurlah..."


Melodi mendorong tubuh Victor dan bangkit berdiri, "Kalau gak bisa membantuku sesuatu, pulanglah sana. Buat semak aja."


Melodi pergi meninggalkan Victor untuk mengambil minumannya,


Dasar cowo gak berguna. Batin Melodi.