
Flashback
Steve memperhatikan Venus yang bermain di taman. Wanita itu tampak sangat polos namun menjengkelkan, dia mulai merasa tak nyaman dengan keberadaan Venus.
Steve membuka lembaran bukunya dan membaca bukunya tahap demi tahap.
Ntah apa kelebihan anak kecil itu hingga orang tuanya sangat memperhatikan anak itu terlebih dirinya.
"AWW." Venus menjerit kala dia terjatuh dari ayunan.
Steve tak perduli dan masih membaca bukunya.
"Steve... Tolongin Enuss," rengek Venus sambil menangis.
Steve menatap datar Venus, "Rasain. Siapa suruh main di sana. Sekarang kita seimbang." Kata Steve dingin.
Venus mengerucutkan bibirnya, "Enus ga ngelti."
Steve membuang nafas panjang, "Gara gara kau datang hariku jadi buruk. Gara gara kau aku di tampar sama Papa."
Venus menggeleng, "Ga! Itu salah Step yang ga copan."
Steve menatap tajam Venus. "Aku. Tak sopan?! Tak sopan dimananya?! Gara gara kau yang ngak membiarkan kami meninggalkan mu beberapa detik untuk mengobrol, aku jadi di pikir gak sopan!"
Steve menunjuk Venus, "Gara gara kau datang aku jadi harus mengurusku dan meninggalkan kegiatan sekolah yang paling ku sukai! Itu semua gara gara kau!"
Venus diam saja mendengarkan celotehan Steve.
Namun dia tetap merasa tak bersalah, "Venus mau celalu cama Step. Main baleng."
"Main aja sana sama teman temanmu yang lain. Kenapa harus di sini?!"
Venus menundukkan kepalanya. Mendengar kalimat Steve membuat dia kembali sedih, dia tak memiliki teman bukan?
Dan di tambah setelah bertemu Steve rasanya dia tak lagi perlu teman lainnya. Hanya Steve saja sudah sangat cukup.
"Enus cuma mau cama Step!"
"Tapi aku ngak mau samamu!" Kesal Steve.
Venus menggeleng tegas dan berjalan ke arah Steve dengan kaki terpincang-pincang, "Intinya Enus mau cama Step!"
Steve memutar bola matanya gusar.
"STEVE!!"
Teriakan yang menggelegar itu membuat Steve dan Venus terlonjak kaget dan langsung spontan melihat ke arah suara.
Thomas dengan tatapan berapi-api berjalan ke arah Steve membuat Steve ketakutan.
Tep
Lengan Steve ditarik dengan cengkraman yang kuat membuat Steve meringis. "Pa..."
"Apa yang kamu lakukan pada Venus?!" Teriak Thomas.
Steve menggeleng, "Steve ngak lakuin apa apa, dia yang terjatuh sendiri dan malah teriak teriak sama Steve!"
Tangan Thomas semakin mencengkram lengannya dan terasa sungguh menyakitkan. "Papa, sakit.."
"Apa kamu tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Venus?! Tidak bisakah kamu lebih dewasa Steve! Dia masih sangat kecil!" Thomas masih terus menyalahkan Steve.
"Tapi pa.."
"Tidak ada tapi tapi. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Venus Papa akan menghukummu lebih dari sini!" Tekan Thomas membuat mata Steve terbelalak.
Hari makin hari kedua orang tua Steve semakin berubah. Steve semakin terus dipersalahkan dan Venus selalu di benarkan dengan apapun kesalahan yang di lakukan Venus.
Apa yang terjadi?! Kenapa atmosfer keluarganya menjadi berubah di saat kedatangan Venus?!
Terutama saat mendapatkan pembelaan dari kedua orang tua Steve, Venus jadi bertindak seenaknya dan semakin menguasai dirinya tanpa perduli apa yang di rasakan Steve.
***
"Step, beliin Enus ec clim.. Enus mau laca coklat.." pinta anak kecil tak tau diri ini.
Steve sudah bosan menjadi babu bocah ini dan memilih meninggalkan Venus.
Venus yang melihat Steve meninggalkannya menjadi sangat kesal. "Steppp.."
Steve menutup telinganya dan tetap meninggalkan Venus,
"Kalau Step tinggalin Enus, Enus akan bilang ke Om Tante kalau Step jahatin Enus!!" Kesal Venus hingga pipinya memerah.
Steve menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Venus tajam, "Oh. Sekarang kau ingin mengancamku huh?"
Venus mengangguk dengan garang. Dia sudah tau apa yang merupakan kelemahan Steve. Sungguh anak yang licik dan jahat.
"Coba saja! Aku tak perduli!"
Kalimat itu membuat Venus sangat marah. Dia segera berlari ke suatu tempat dan kemudian membawa Agatha bersamanya, "Tante! Steve jahatin Enus!"
Steve tak perduli. Dia tak ada melakukan kesalahan bukan? Anak kecil ini berbohong!
"Dia bohong ma!"
Agatha mendekati Steve dengan marah dan kemudian mencekal tangan anaknya, "Steve! Kau sangat mengecewakan Mama! Cepat minta maaf ke Venus!"
Steve menggeleng tak percaya. Papa dan Mamanya sungguh tak mempercayainya bahkan tanpa menanyakan kepadanya apa alasan yang sebenarnya terjadi.
"Steve ngak akan minta maaf! Steve gak salah!" Steve mulai membangkang. Dia tak suka di persalahkan lagi. Cukup. Dia juga perlu pembelaan.
Tangan Agatha semakin mencengkram lengan Steve kuat, "Jangan membuat Mama marah Steve! Ikuti perkataan Mama. Se-Ka-Rang." Tekan Mama Steve.
"Steve gak mau."
Plakk
Tamparan?
Wajah Steve tertampar hingga spontan terhempas ke kanan. Sakit dan perih kembali di rasakan Steve pada pipi dan ujung bibirnya.
"Cepat minta maaf kalau tidak Mama akan beritahu Papa soal ini dan kamu akan di hukum lebih berat!"
Deg!
Sungguh bukan seperti keluarganya lagi. Kedua orang tua Steve tak memperdulikan anaknya sendiri dan lebih memperhatikan Venus.
Semua hal ini membuat Steve geram dan membuatnya semakin membenci Venus dari hari ke hari.
Dan mulai saat itu, hari demi hari Steve di haruskan untuk menjaga Venus, menemani dan menyayangi Venus dengan sangat terpaksa.
Anehnya setiap kali Steve menjaga Venus orang tua Steve tiba tiba sangat baik padanya seakan akan sangat bangga akan putranya itu. Saat menjaga Steve orang tuanya menjadi sangat perhatian padanya. Mamun ketika Steve tak memperdulikan Venus karena kesal dengan tingkah lakunya yang begitu mengesalkan dan selalu mengancamnya, Steve malah di hukum dengan keras oleh kedua orang tuanya.
Steve merasa sangat tersiksa dengan itu.
Terutama Venus akan selalu mencari gara gara agar Steve selalu memperhatikannya dan tak melepaskan dirinya dari pandangan Steve.
Sungguh anak yang licik.
Karena kehidupannya ini membuat Steve menjadi lebih pendiam dan tak suka untuk berinteraksi dengan orang lain, karena itu akan menimbulkan permasalahan baru lagi di saat Venus akan mengomporinya mengenai pertemanan Steve dan mengakibatkan Steve di hukum berat.
Dan pada akhirnya Steve berjumpa dengan seseorang yang paling mengerti dirinya saat dia menginjak bangku perkuliahan.
Venus yang mengetahui itu sangat kesal dan marah. Namun untuk hal ini Venus tak memberitahukan kepada kedua orang tua Steve, bagaimana pun juga kadang dia merasa kasian jika Steve terus di hukum karena ulahnya. Lagipun jika masalah wanita yang mendekati Steve itu hanyalah hal kecil yang dapat di tangani Venus sendiri. Dengan membayar orang untuk meneror wanita itu, dia yakin wanita itu akan kapok. Well, sikap iblis Venus tak akan diam begitu saja bukan jika ada seseorang yang mengaggu kekasihnya?
Intinya, setiap orang yang berurusan dengan Steve berurusan dengan Venus. Jika ada wanita yang mencoba mendekati Steve, Venus tak akan segan segan melakukan kekerasan terhadap siapapun dia. Tak perduli dengan trauma yang akan mereka alami jika Venus merasa senang dia akan menghalalkan segala caranya.