
Jangan lupa di like komen dan vote yaaa
thanks
------------------------------------------------------------------------
Melodi melihat ke arah Victor yang baru saja keluar dari kantornya. Di jam pulang ini Melodi ingin mengajak Victor ke Mall, bukan untuk belanja, tapi untuk mendekatkan Victor dengan temannya. Mana tau taktik ini berhasil.
"Ngapain ke sini?" Tanya Victor.
Melodi mendongak melihat Victor yang lebih tinggi darinya, "Aku mau jalan jalan ke Mall. Bosan."
Victor memicingkan matanya, "Kau sangat mencurigakan."
Melodi tersenyum kecil. "Kau terlalu berlebihan."
"Victor, aku sudah berjanji padamu akan membuatmu bahagia bukan? Makanya ikuti saja perkataanku." Melodi membuka pintu mobilnya, "Masuk."
Victor pasrah saja. Toh bagaimana pun juga Melodi takkan bisa melakukannya,
Melodi pun masuk dan mengendarai mobilnya menuju Mall.
"Oh ya. Kita makan siang dulu ya." Saran Melodi.
Victor berdehem.
Setelah sampai Mall, Melodi memarkir mobilnya dan kemudian mereka berjalan menuju resto yang ada di dalam Mall.
Melodi tersenyum melihat seseorang di sana dan segera menarik tangan Victor agar mempercepat langkahnya, "Hai Rain."
Seseorang yang di panggil itu segera bangkit berdiri dan menyalam Melodi, "Hai."
Melodi melihat ke arah Victor kemudian kembali ke arah Rain, "Rain kenalin ini Victor. Teman aku yang aku ceritakan ke kamu." Kata Melodi memperkenalkan Victor.
Victor menatap datar Rain dan segera Rain mengulurkan tangannya, "Salam kenal aku Rain."
Victor membalas uluran tangan Rain, "Victor."
Jujur saja Rain sangat senang di kenalkan Melodi dengan Victor, sudah tampan, kaya raya dan sangat menawan. Dewi Fortuna mungkin ada di pihaknya sekarang.
Melodi mengangguk, "Baiklah, kalian saling berbincang saja. Aku akan kembali." Pamit Melodi.
Victor menahan tangan Melodi, "Siapa yang boleh kan kau pergi. Tetap sini." Ucapnya dengan penekanan.
Melodi melepaskan tangan Victor dan berbisik di telinganya, "Cobalah membuka hati dengannya. Berbicara santai saja dulu. Lama lama juga nyaman. Aku bukan mioh sembarang wanita, dia mahasiswa terpintar di kampusku dulu dan bahkan sangat modern. Kau takkan menyesal mengenalnya."
Victor tersenyum miring, "Oh ya?"
Melodi mengangguk bersemangat. "Iya. Tentu."
Victor segera memasang wajah datar. "Bukannya sudah ku bilang aku tak mau dengan wanita lain. Cukup kau yang bahagiakan aku. Kau melanggar janjinya. Kalau gitu kau kalah."
"Ya gak gitu juga. Maksudnya, kau bisa sekedar berkenalan saja. Mana tau cocok. Aku tetap akan berusaha membuatmu bahagia kok. Tenang aja."
Victor menggeleng. "Melodi ku tersayang. Jangan banyak bicara. Aku lagi malas untuk berhubungan dengan siapapun, bahkan dengan ku saja aku terpaksa. Jadi jangan paksa aku untuk mendekati siapapun." Kata Victor tanpa bantahan.
Melodi memutar kepalanya sambil memegang tengkuknya. Rasanya pegal sekali berdebat dengan Victor.
"Vic. Please ikutin aja. Paham?"
Victor menggeleng, "Intinya aku gak mau tau."
Melodi menghembuskan nafas berat, "Vic, ayolah, jangan kaya anak kecil. Kamu cobalah. Setidaknya bicara saja."
Victor menggaruk alisnya yang tak gatal, "Aku gak suka di paksa."
"Ini gak maksa Vic. Cuma perkenalan doang."
"Ini namanya pemaksaan."
Melodi menutup matanya menahan emosi, "Vic. Please. Okey okey. Kau tunggu sebentar saja di sini, aku mau pesan makanan untuk kita. Kalau kau gak mau kenalan Juga gak masalah." Kata Melodi mengakhiri kalimatnya.
Victor mengangguk, "Awas saja kalau kau lama, apa lagi kabur. Aku akan membunuhmu." Ancam Victor.
Melodi pun pergi setelah perdebatannya dengan Victor.
Victor segera duduk dan di ikuti Rain.
"Kamu satu tempat kerja dengan Melodi ya?" Tanya Rain basa basi. Padahal sebelumnya dia sudah mengetahui tentang Victor dari cerita Melodi kemarin. Hanya saja tidak mungkin kan mereka hanya diam diaman saja?
Victor menatap Rain dan menselonjorkan dirinya di kursi sambil melipat kedua tangannya di dada, "Aku bukan petugas medis. Pengusaha."
Rain mengangguk. Benar saja, lelaki ini sungguh tampan, di lihat begini oleh Victor saja membuat ketar ketir.
Melihat gelagat Rain yang mengalihkan pandangannya dengan kikuk segera membuat Victor paham kalau wanita ini pasti menyukainya.
Ck. Membosankan.
Victor mengeluarkan ponselnya dari saku dan memainkannya.
Rain sebenarnya ingin bicara hal lainnya lagi, tapi karena Victor sudah memutuskan bermain hp dan tampak tak menyukai keberadaannya membuat Rain kicep.
Melodi yang sedari tadi menjadi pengawas jadi kesal sendiri.
Ya, Melodi sedari tadi menjadi mengintai kemajuan pembicaraan mereka. Dan lihatlah bagaimana Victor mengacuhkan Rain membuat Melodi geram.
"Ck. Victor... Bekerjasamalah." Keluh Melodi memprotes perilaku Victor yang hanya diam di sana.
"Biarkan saja," Melodi beranjak hendak pergi sengaja agar membiarkan mereka berdua untuk saling mengenal.
Baru beberapa langkah hp Melodi bergetar, "Victor." Melodi membaca nama kontak yang menelponnya.
Melodi mengangkat hpnya,
"Kau masih lama, huh? Jangan sampai aku menjemputmu." Omel Victor.
"Sabar. Antrian panjang. Tunggulah beberapa saat lagi." Balas Melodi mencari alasan.
Segera Victor memutuskan sambungan telponnya.
Melodi mencari cara. Apa yang sebaiknya dia lakukan di kondisi seperti ini?
Lama berfikir Melodi mendapatkan ide.
Melodi pun segera memesan makanan. Porsi yang di pesannya hanya 2, satu untuk Victor satu untuk Rain. Melodi mengetik pesan kepada Victor, "Vic, aku udah pesanin makanan untuk kalian. Tapi aku sakit perut makannya sekarang aku ada di kamar mandi."
Hp Victor bergetar dan segera di lihat olehnya. Ada pesan dari Melodi yang bilang kalau dia sakit. Victor berdecak, ini pasti akal akalan Melodi.
"Aku ke sana!" Ketik Victor membuat Melodi yang membaca itu jadi gelagapan.
"Aku di kamar mandi wanita. Kau mau di gebukin wanita di sini huh?"
Jawab Melodi lagi.
Victor tak menjawab pesan Melodi dan bahkan tak membacanya, tanpa menunggu lama Victor segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Melodi yang melihat itu segera bangkit berdiri dan segera bersembunyi. Ketika melihat Victor sudah masuk barulah Melodi dengan cepat kilat menuju meja Victor dan Rain.
"Kau kemana Mel?" Tanya Rain sedangkan yang di tanya masih mengatur nafasnya yang memburu karena berlari.
"Kaya di kejar setan aja." Rain menggelengkan kepala melihat tingkah laku Melodi yang tak biasa.
Setelah di rasa Melodi nafasnya mulai teratur Melodi pun menjawab, "Tadi aku habis dari kamar mandi." Melodi melipat kedua tangannya di depan dada jengkel.
Sedangkan Victor. Dia tau apa yang Melodi perbuat, Melodi pasti dari tadi mencari cara untuk mendekatkannya dengan temannya itu. Sangat mudah di tebak.
Victor yang tadi hanya seakan akan masuk ke dalam kamar mandi segera berbalik dan berjalan ke arah meja nya kembali.
Victor tersenyum miring dan duduk di hadapan Melodi, "Bukankah kau sakit perut?"
"Udah baikan." Sambung Melodi cepat. Dia malas harus memperpanjang urusan perbincangan dengan Victor.
Victor menggelengkan kepalanya sambil tersenyum merendahkan. "Lihat saja, aku akan membalasmu." Batin Victor.