My Different Wife

My Different Wife
Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri



"Venus!" Panggil Steve marah namun Venus tak mengentikan langkahnya dan terus berjalan kaki dengan sedikit berlari meninggalkan Steve.


Dengan langkah kaki cepat dan juga karena kaki lelaki itu panjang dia dapat mengejar Venus.


Venus berjalan ke arah seseorang yang mengemudikan kereta besar dan helm full face melekat pada orang itu. Steve sangat yakin itu adalah Victor, terlihat dari sudut manapun dia yakin itu adalah lelaki kurang ajar itu.


Ingat Steve sangat kuat bukan?


Steve segera menarik Venus saat sudah di sebelah kereta Victor.


"Apa sih? Aku mau balik ke kampus!" Kesal Venus.


"Balik? Bukan mau jalan jalan dengan lelaki ini?" Tekan Steve kesal.


Ck. Venus gemes sekali. Kenapa Steve selalu tak percaya kalau dia benar benar mau kembali ke kampus sih?! Kan dia bener bener mau belajar!


"Tidak. Kamu balik bersamaku." Kata Steve dengan penuh tekanan.


Victor turun dari keretanya dan membuka Helmnya. Dia berdiri di hadapan Steve, "Dia ingin bersamaku, bukan denganmu." Victor menarik tangan Venus.


Venus mengangguk dan mencoba melepaskan tangan Steve.


"Venus!" Steve membolangkan matanya.


Tatapan Steve sangat menakutkan membuat Venus menunduk.


Steve mendekatkan wajahnya pada Venus membuat Venus semakin menunduk takut, "Venus kamu ikut aku, jangan membuatku semakin marah. Kamu mau Mama sama Papa makin marah, hm? Sengaja memojokkan ku lagi?"


Steve langsung memegang dagunya, "Ah, mungkin kamu sudah mengaku kalah karena tetap mencari masalah dan membuatku jadi sasaran kedua orang tuaku."


Venus membelalakkan matanya, "Siapa bilang aku kalah? Tidak!"


Steve tersenyum miring singkat, tentu saja Venus akan langsung perangkapnya.


Steve membalik badannya, "Ah sudahlah, kamu sudah kala-"


"Aku ikut kamu!" Kata Venus cepat.


Venus menoleh ke arah Victor, "Masalahnya aku gak boleh kalah Victor. Nanti dia malah mikir kalau aku mencari masalah sama keluarga ku karena caper sama dia, padahal mah enggak."


Victor kesal mendengarkan kalimat Venus. Tapi kemudian dia tersenyum, jika dia tampak marah Steve akan senang melihat itu dan menganggapnya berhasil.


Victor menarik tangan Venus dan memeluk Venus, "Iya sayang gak apa. Intinya aku sayang kamu." Victor memanasi Steve.


Mata Steve yang melihat itu sangat panas. Sialan kau Victor.


Tangan Venus segera di tarik Steve membuat Venus tertarik dengan paksa.


Ck. Steve kenapa lagi sih?!


***


Di perjalanan Venus hanya diam. Dan menata jalanan.


Mereka hendak pulang ke rumah.


Steve sungguh menyusahkan sejak tadi siang. Setelah mengantarkan Venus ke kampus ternyata Steve tak langsung pulang dan malah menunggunya hingga kelas Venus selesai dan sekarang mengantarkannya pulang.


Ck. Kenapa lagi sih tiba tiba gini?


Setelah sampai di rumah Steve tak langsung pulang.


"Aku akan tetap di sini sampai orang tuamu pulang dari pekerjaan mereka. Mereka menitipkan mu padaku. Dan aku akan pulang saat mereka kembali."


"Ish, pulang aja sana. Aku ngak akan bilang juga." Usir Venus.


Steve memutar bola matanya, "Terus membiarkanmu sendiri dan akhirnya memasukkan si Victor ini ke dalam rumah di malam hari seperti ini? Kau mau membunuhku karena di hajar sama orang tuaku nanti."


Venus menghentakkan kakinya kesal. Menjengkelkan.


"Ya udah duduk di sini!" Suruh Venus.


Steve melipat kedua tangannya di dada, "Hm,"


Steve duduk di ruang tamu dan membuka hpnya.


Venus segera pergi ke kamarnya dan membersihkan dirinya,


Setelah selesai mandi Venus mengusap usap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Segar sekali..."


Dep


Tiba tiba lampu mati membuat Venus panik. Dia sangat takut gelap.


"STEVE!!!!!!" Jerit Venus.


Steve yang awalnya sedikit kaget karena lampu mati membelalakkan matanya segera saat mendengar suara Venus.


Dengan senter Hpnya Steve memerangi kamar Venus, "Venus?"


Dreb


Venus segera melompat ke arah Steve dan melingkarkan tangannya di leher Steve memeluknya, "Hu..." Tangis Venus.


Deg!


Jantung Steve berdegup kencang. Seutas senyuman terlukis di wajahnya, "Ada aku."


"Aku benci kau."


Steve menahan tawanya, bisa bisanya Venus masih sombong padahal dia membutuhkan Steve sekarang. Kemudian lelaki ini diam, dia merasakan suatu hal yang membuatnya kembali tersenyum, dia merindukan wanita ini memeluknya seperti ini sama seperti dulu.


Dulu Steve malah mendorong dan melepaskan pelukan Venus karena merasa risih. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda?


Steve membalas pelukan Venus dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Venus.


Dia rindu kehangatan Venus, aromanya dan sayangnya. Dia merindukan semuanya.


Perubahan Venus membuat Steve merasa sesuatu hilang dari padanya. Dia sungguh rindu.


Apa yang di rasakan Steve itu juga yang di rasakan Venus. Dia merindukan lelaki ini, namun apa dayanya karena dia merasa Steve bukanlah miliknya.


Steve membawa Venus duduk di tepi ranjang. Dan semakin menikmati pelukan Venus, Steve mendongakkan kepalanya mengarahkan wajahnya menatap Venus, Venus menatap lelaki Steve.


Hawa dingin menjadi terasa hangat dan seakan ada tarikan membuat Steve ingin melakukan sesuatu.


Ciuman, dia ingin mencium wanita ini.


Venus rasanya ingin memaki dirinya. Kenapa dia hanya diam? Kenapa dia seakan pasrah? Apa yang terjadi? Kenapa jiwanya yang lama masih melekat padanya? Kenapa dia masih berdebar dengan debaran yang sama saat dia mencintai Steve yang dulu?


Set!


Venus mendorong Steve dan bangkit berdiri. Tidak! Dia tak boleh berlama lama bersama Steve! Sungguh sangat bersyukur dirinya sekarang bisa bangkit berdiri dan menjauhi Steve, tidak tau jika nanti.


"Aku tidak perlu ada yang menemani. Kau pergilah keluar!" Bentak Venus.


"Tidak." Sargah Steve.


"Jika aku pergi kau akan mati ketakutan. Aku tau kau phobia gelap sejak kecil kan? Jangan sok sok-an."


Tangan Venus sudah semakin dingin. Cahaya hp Steve sudah padam dan ruangan ini hanya di sinari rembulan yang minim. Dia sungguh ketakutan. Tapi apapun itu dia harus bisa jauh dari Steve, apapun itu.


"Aku bilang pergi ya pergi!"


"Venus kau jangan keras kepala."


"Pergi!!"


"Venus!"


Venus menarik tangan Steve untuk segera bangkit dan pergi, tangan dingin dan penuh dengan keringat ini sangat terasa oleh Steve, dia yakin Venus sangat ketakutan. Tapi kenapa ego wanita ini sangat tinggi?


Venus mendorong Steve menjauhi kamarnya, "Pergi!!"


Steve tak punya pilihan lain, dia segera menarik tangan Venus dan memeluknya erat, "Jangan bodoh!"


Dan benar saja, tubuh Venus dari tadi sudah keringatan padahal baru sebentar tadi Steve di dorong melepaskan pelukannya, tapi bajunya sudah basah kuyup.


Venus merontah.


"Kamu sudah mandi keringat malah sok berani. Jangan mengada ada Venus!" Bentak Steve.


"Tidak! Lebih baik aku ketakutan setengah mati dari pada harus bersamamu. Kau akan membuat ku menderita. Kau akan menyiksaku! Kau akan membunuhku. Kau membenciku! Jangan berpura pura Steve!!" Ungkap Venus dari harinya yang terdalam dan dengan emosi yang tak terkendali. Apa yang di katakan Venus sesuai dengan kenyataan yang ada. Dia sudah merasakan kesakitan itu, dia tak mau mengulangi lagi kehidupan lamanya! Tidak akan pernah!


Steve terdiam, apa yang di katakan Venus sangat di luar akal. Wanita ini berkata seperti asal bicara menurutnya.


"Aku, membuat mu menderita?" Tanya Steve membuat Venus tersadar. Bagaimana Steve tau apa yang di rasakannya, kejadian pembunuhan Steve akan terjadi beberapa bulan kedepan tidak mungkin dia menyadarinya sekarang.


Venus mendorong Steve tapi masih tak dapat terlepas.


"Ulangi kalimatmu,"


Venus terus mendorong, "Lepas!!"


Cletak


Segera lampu kembali hidup.


Venus sangat bersyukur akhirnya penderitanya sudah selesai. Venus mendorong kuat Steve dan membuat pelukan Steve terlepas. Venus mendorong Steve dan langsung menutup pintunya dan menguncinya.


"Aku benci kau Steve. Sangat." Gumam Venus dan kemudian terduduk di lantai.


Dia harus bisa melawan semuanya. Dan yang perlu di ketahui Venus musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri, dirinya yang mencintai Steve ini harus segera musnah atau segalanya akan kembali ke jalur yang dulu dan menyulitkannya nanti.