
Victor me****** bibir Melodi dengan penuh hasrat dan gairah. Melodi hendak melepaskan diri tapi dengan segera lelaki itu menahan kedua tangan Melodi ke atas dan terus mencium Melodi.
Lelaki ini selalu bisa menaklukan lawannya, apalagi Melodi.
Melodi meronta-ronta namun tetap saja tak bisa menandingi Victor. Ciuman Victor itu terlalu mendominasi hingga bibirnya terasa sakit sekarang.
Tes
Tes
Tes
Ciuman itu berhenti saat air mata Victor menetes pada pipi Melodi. Victor membuka matanya dan menatap wajah Melodi, "Dasar keras kepala! Kau sangat menyebalkan!"
Victor mengusap wajah Melodi dan kemudian medekatkan kembali wajahnya.
Lelaki itu mencium Melodi lagi lebih lembut dan memperdalam ciumannya. Ciuman itu sangat memabukkan hingga Melodi terbuai tanpa sadar.
Victor melepaskan tangannya yang mencengkram menahan tangan Melodi tadi dan memindahkan tangan itu ke lekuk tubuh Melodi dan membuat sentuhan lembut di sana, dia mengeratkan pelukannya seakan tak mau berhenti dengan posisi ini.
Melodi tersadar dan mendorong Victor membuat lelaki itu menatapnya kecewa.
"Vic lepas!"
Victor menggeleng.
"Vic!"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya tegas tak suka dengan penolakan wanita ini. Lelaki itu memeluk Melodi dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Melodi.
Melodi mendorong tapi tetap tak di indahkan Victor. Lelaki ini membuat jantungnya sedari tadi berdegup kencang sekali dan bahkan serasa ingin copot.
"Vic! Kau tak boleh seperti ini!"
Victor bergumam geram, "Kenapa tak boleh?! Hm... Aku mau seperti ini!"
"Tidak Vic! Aku bukan wanitamu! Aku bukan dia! Aku bukan... Venus. Steve akan kecewa jika melihatmu seperti ini. Kau harus menjadi penggantinya bukan? Kau-"
"Berhenti bicara!" Bentak Victor.
Punggung gadis itu terasa basah oleh buliran air mata.
"Tak ada yang akan di gantikan! Kau jangan keras kepala! Aku sudah melakukan semuanya! Dia akan tetap hidup!"
Melodi terdiam.
"Aku sudah berikan dokter terbaik yang ada. Dia akan hidup! Kamu akan lihat nanti! Lihat saja!!"
Apa maksudnya melakukan semuanya... Apakah dia di balik semuanya itu? Ahli medis terbaik itu semuanya dari Victor?
Melodi menghembuskan nafasnya dan "Vic... Keadaan Steve sangat tak memungkinkan. Kenapa kau melakukan semua ini?"
"Hm... Diem... Aku gak suka kamu bahas tentang Steve. Gak suka!"
Victor mengeratkan pelukannya, "Aku sayang kamu. Sayang banget."
Melodi menoleh ke arah Victor, lelaki itu pun menatapnya. "Aku cuma mau kamu. Gak ada yang lain."
Seketika pipi Melodi bersemu. Ada apa dengan dirinya?
Victor menyukai wajah merah Melodi. Jarang sekali dia melihat wajah dingin ini menjadi seperti tomat matang seperti ini.
Victor hendak mencium bibir Melodi lagi. Tapi kepalanya sangat berat dan memaksanya untuk menutup matanya tertidur.
Melodi hendak bangkit dari sini namun hal itu membuat Victor membuka lagi matanya, lelaki itu memeluk erat Melodi sampai wanita ini tak memiliki celah untuk bergerak.
***
Victor terbangun dan membuka matanya. Segera dia mendapati wajah Melodi di hadapannya.
Wajah polos itu masih tertidur pulas dengan wajah polosnya.
Pemandangan yang sangat indah.
Victor tersenyum melihat Melodi. Victor berhenti tersenyum saat terpikir sesuatu, kenapa Melodi ada di sini?
Victor kembali melihat ke arah Melodi, apakah kemari terjadi sesuatu?
Victor mencoba mengingat.
Ah, dalam ingatannya hanya saat Melodi menelponnya saja, setelah itu Victor menarik Melodi masuk ke dalam rumah. Setelah itu Victor tak mengingat apapun.
Victor menatap wajah Melodi, dari mata, pipi, hidung, dan kemudian bibir...
Victor tersenyum melihat bibir Melodi yang bengkak dan terlihat menggoda. Tampaknya terjadi hal lain kemarin.
Apakah ini karena ciuman? Victor mengusap bibirnya sendiri dan juga terasa ada lecet di sana. Victor tersenyum miring dan kembali mengeratkan pelukannya, "Aku terlalu bersemangat hm?" Tanya Victor pada Melodi yang masih tertidur.
Tapi walaupun hanya ciuman saja Victor udah sangat senang. Dia yakin dia yang pertama.
Victor melihat bahwa sofa ini pasti akan membuat Melodi tak nyaman tidur, jadi Victor memutuskan untuk memindahkan Melodi ke kamarnya.
Victor merebahkan kembali Melodi di atas ranjang kembali memeluk wanita itu erat. Seperti melilit Melodi agar tak terlepas darinya.
Dan melihat pelukan ini terasa begitu bersensasi. Lihatlah tubuh Victor yang sangat melekat pada Melodi, bahkan membuat Victor tiba-tiba berfantasi liar, "Aku berharap menyentuhmu lebih dari pada ciuman kemarin."
Melodi terbangun dan tatapannya terkunci pada manik mata Victor. Pipinya kembali merona malu, Melodi segera menunduk dan hendak bangkit, Victor menarik tangan Melodi dan membuat Melodi kembali di pelukannya.
Victor membalikkan tubuhnya kembali menindih Melodi. Victor tersenyum miring tanpa mengatakan apapun, menatap wanita ini seakan meminta sesuatu dari posisi tidur ini.
Cup
Lelaki itu mencium Melodi dengan penuh rasa keinginan yang meluap-luap.
Melodi mendorong tubuh Victor, "Kau!"
"Mel aku sangat mencintaimu.." ucap lelaki itu dengan tatapan sendu.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku bisa gila tanpamu..." Sambung Victor lagi dan mencium singkat bibir Melodi dan setelahnya memeluk Melodi erat kembali.
Melodi kembali terdiam dengan deru jantung kembali tak karuan. Lelaki ini gila. Kenapa selalu membuatnya menjadi kacau?
Victor menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Melodi.
Melodi kembali teringat akan Venus. Dia tak mau jadi penghalang untuk kebahagiaan Victor dan Venus. Tidak. Dia tak mau itu terjadi.
Melodi mendorong tubuh Victor, "Lepas Vic. Tidak aku-"
"Aku akan buktikan! Dia akan sembuh! Sudah ku katakan bukan?!"
"Vic-"
Cup
Victor mencium Melodi dan memperdalam ciumannya. Dia tak suka mendengar apapun dari bibir manis itu sekarang.
Melodi merontah namun tenaga Victor bahkan lebih kuat di bandingkan saat dia mabuk kemarin. Tangan lelaki itu mulai menaikkan baju Melodi ke atas, tangan besar itu menyentuh permukaan kulit Melodi hingga membuat si pemilik tubuh semakin merasa panas tak menentu.
Ciuman bergairah dihentikan Victor saat melihat Melodi mulai kehabisan nafas. Victor menatap lekat wajah Melodi, "Mel... jika aku dapat membuktikannya kamu harus menuruti segala kemauanku." kata Victor dengan suara deep voice.
Victor mengeratkan pelukannya, merasakan suatu hal ternyaman yang rasakannya selama hidupnya. Menyentuh wanita ini sungguh membuatnya melupakan keluh kesahnya.
Lihat saja. Dia akan membuktikannya.
***
Flashback
Victor di rudung masalah yang membuatnya tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Ini semua karena permintaan gila Steve!
Victor mengusap wajahnya jengah saat keluar rumah sakit. Di saat itu dia melihat ada Venus tengah menangis sejadi-jadinya. Victor melihat cinta pertamanya itu dengan pilu, walaupun kini dia tak mencintai Venus lagi tapi dia merasa iba pada Venus. Lelaki itu berjalan ke arah Venus dan duduk di sebelahnya.
Venus terkejut saat baru menyadari Victor dan segera mengusap air matanya.
Venus menunduk sebelum dia memulai pembicaraan, "M-mengenai ucapan Steve," Venus menghentikan ucapannya, rasanya dia ingin menangis lagi.
Victor menghela nafas, "Aku juga tak akan melakukan itu."
Venus mengangkat wajahnya dan melihat Victor.
"Aku akan melakukan sesuatu untuk kesembuhan Steve. Dia akan kembali padamu, kau jangan cemas." Jelas Victor tanpa melihat Venus.
Venus kembali menangis. Bagaimana bisa lelaki ini mengatakan Steve akan sembuh sedangkan para dokter yang menangani suaminya saja sudah hampir menyerah.
Air mata Victor semakin membendung, dia sebenarnya juga meragukan ini, tapi dia tak mau menyerah! Dia tak mau melepaskan Melodi hanya karena permintaan bodoh Steve!
"Aku akan berusaha! Jangan menangis karena aku akan melakukan semua hal yang ku bisa lakukan untuk kehidupan suamimu itu!" Kesal Victor segera mengusap air matanya yang sempat tumpah. "Aku akan mengambil Dokter terbaik dari luar negeri dan memfasilitasi semua peralatan canggih yang akan di gunakan mereka untuk kesembuhan Steve. Kau tak perlu kuatir!"
Venus melihat Victor dengan penuh rasa berterimakasih. Venus kembali menangis, dan segera berlutut di hadapan Victor, "Terimakasih terimakasih Victor."
Victor segera menarik tubuh Venus untuk kembali duduk di tempatnya, "Hentikan. Jangan lakukan hal itu."
"Bagaimana aku dapat mengucapkan terimakasih padamu... Kau sangat baik padaku, padahal aku pernah sangat menyakitimu," Venus merasa sangat bersalah dengan air mata terus deras menetes.
"Kau hanya perlu diam. Jangan memberitahukan apapun mengenai ini kepada siapapun di rumah sakit ini. Paham?"
Venus mengangguk mengerti dengan raut wajah yang merasa sangat lega, "Baik aku mengerti, Terimakasih banyak Victor! Terimakasih!"
Victor mengangguk, "Baiklah, aku akan pergi."
Victor pergi meninggalkan Venus.