My Different Wife

My Different Wife
Mama?!



Venus berjalan menuju pintu keluar perpustakaan,


Malas juga kembali ke ruangan belajar. Sifat malas Venus kembali lagi. Venus kembali menggeleng, "Gak Ven. Kau harus bisa rajin! Titik gak pake koma."


Venus meyakinkan dirinya dan kemudian berjalan menuju kelas. Venus melihat Dini tengah duduk dengan wajah murung tengah melihat ke arah pena yang di putar putarnya di tangan.


Venus berjalan ke arah Dini dan duduk di sebelahnya, "Kenapa?"


Dini baru tersadar menoleh spontan melihat Venus dan kemudian menghela nafas, "Gak ada."


Venus memperhatikan wajah Dini, "Gak yakin aku."


Dini menghela nafas lagi sebelum dia kembali melihat Venus dengan tersenyum, "Gak ada Venus... I'm oke.."


Venus mengangguk, "Hm. Baiklah, tapi kalau kau butuh teman curhat aku ada. Oke?" Venus menawarkan diri.


Dini tersenyum dan mengangguk.


Dosen kelas pun masuk, dan kini mata pelajaran di mulai kembali.


Di pertengahan pelajaran Venus tersadar kalau dari tadi dia masih kelaparan. Mana mungkin dia sekarang tengah konsentrasi bukan?


Setelah di rasa sang dosen sudah selesai menerangkan dan istirahat sebentar untuk duduk beberapa saat Venus mengangkat tangannya,


"Iya Venus," sahut sang dosen melihat Venus.


"Izin ke kamar mandi pak." Izin Venus.


Sang dosen mengangguk, "Silahkan."


Venus mengangguk, "Terimakasih pak."


Venus berjalan keluar kelas dan segera berjalan menuju kantin.


Venus melongo, betapa sialnya kantin ternyata sudah tutup total karena sudah habis jualan.


Aih... Ngeselin!


Venus memegang perutnya yang keroncongan dan berniat kembali ke kelasnya,


Akh!!


Terdengar suara ringisan seseorang membuat Venus pemasaran di tengah kelaparannya.


Venus diam diam mengendap ke arah sumber suaranya.


Venus mengintip di balik tembok dan melihat tengah ada perkelahian antara dua orang di sana.


Dan yang membuat Venus terkaget ternyata di sana ada lelaki yang mengesalkan tadi siang.


Venus menyerngitkan ngilu saat melihat lelaki lawannya itu di tendang dan di hajar habis habisan oleh lelaki freak itu.


Kemudian mata Venus dan lelaki itu tak sengaja bertatap. Di saat yang bersamaan suatu tinju menghantam wajah rupawan Victor dan Venus meringis.


Darah keluar dari sudut bibirnya dan kemudian di lap Victor dengan tatapan datar.


Bukk


Victor kembali melayangkan tinju membalas pukulan lelaki lawannya yang membuat bibirnya berdarah. Dengan sekali tinjuan tadi membuat lawannya oleh dan tersungkur. Dengan sisa tenaga lelaki yang ada di bawahnya dia mencoba melawan.


Bukk bak Bukk


Victor memukuli lelaki itu tanpa jeda hingga benar benar membuat lelaki itu tersungkur dan tak berdaya.


"Berhenti! Gila ya! Mati tu anak orang!" Jerit Venus dengan emosi.


Dia tak tahan melihat orang menderita seperti itu.


Victor menatap Venus kesal. "Kenapa wanita ini menganggu hiburannya saja?" Batin Victor.


Lelaki lawannya benar benar tak berdaya membuat Venus menjadi pilu.


Venus berjalan ke arah yang terkapar itu dan mendongak melihat Victor, "Gak punya ahlak huh?" Kesal Venus.


Victor memutar bola matanya malas.


"Kompres pake air hangat. Kau gak akan mati." Saran Victor sangat tak manusiawi.


Venus membelalakkan matanya, "Kau... Bener bener ya!"


Victor memutar bola matanya malas dan berjalan meninggalkan Venus.


Damn?!


Venus bangkit dari duduknya dan menarik Victor dengan marah, "Heh! Obati dia!"


Victor melepaskan tangan Venus dan mendorongnya. Memang Victor tak suka dengan kehadiran Venus dari awal, dan lihatlah sekarang Venus malah ikut campur urusannya.


Venus memegang bahunya yang sakit karena dorongan Victor.


Victor menatap tajam Venus hingga membuat sang lawan tatapan kicep takut, "Dengar. Aku tak punya urusan apapun denganmu. Jangan pernah mencampuri urusanku atau kau akan tau akibatnya."


Venus melihat ke arah lawan Victor yang memperhatikan Venus tanpa bicara.


Victor sudah pergi begitu saja meninggalkan Venus dan lawannya tanpa minat.


Venus kembali berjalan ke arah lawan Venus dan memperhatikannya sungguh, "Kau... Tak apa?"


Lelaki itu tersenyum kecil, "I'm oke."


Melihat seorang wanita yang membelanya padahal dia tau wanita itu sangat takut membuat dia jadi tergelitik.


Venus memperhatikan wajah lelaki itu yang babak belur. "Mari ku antar ke klinik kampus."


Lelaki itu mengangguk.


Venus membantu lelaki itu berdiri dan sedikit membopongnya di bahunya.


***


Venus mendudukkan lelaki itu di atas tempat tidur klinik dan mengambil obat p3k.


Venus bingung harus di mulai apa menyembuhkan lelaki ini.


Lelaki itu menggenggam tangan Venus, "Kompres dulu." Ucapnya dengan suara beratnya.


Venus mengangguk dan mengambil handuk dan air di baskom.


"Pakai air dingin." Tambah lelaki itu sedikit kencang agar membuat Venus yang ada sedikit jauh darinya mengerti dan mengikuti sarannya.


Venus mengerjakan apa yang di katakan lelaki itu dan kemudian membawa kompresnya ke arah lelaki itu.


Venus mulai memeras kain yang terendam di air itu dan kemudian menempelkan perlahan handuk basah itu di wajah lelaki itu.


"Hans, nama aku Hans." Lelaki itu memperkenalkan diri tanpa di minta.


"Oh. Nama aku Venus." Sahut Venus menanggapinya.


Lelaki itu tersenyum, "Makasih."


Venus mengangguk, "Tak masalah."


Venus tersenyum hangat membuat lelaki itu tersenyum kembali, sungguh manis pikirnya.


Satu pikiran yang ada di benak Hans,


Wanita ini tampaknya bisa untuk hiburanku hm?


Venus tak sengaja melihat ke jam dinding yang ada di belakang lelaki itu, "Astaga! Udah jam segini!" Venus segera bangkit berdiri, "Maaf maaf. Aku harus balik ke kelas."


Pamit Venus tanpa menunggu jawaban lelaki itu dan segera berlari ke luar klinik dan berlari ke arah kelas.


Matanya terbelalak saat semua murid sudah bersiap-siap untuk pulang langsung memperhatikan Venus yang baru masuk ke dalam kelas.


Damn!


Venus melihat ke arah dosen yang menatapnya dengan tatapan tajam. "Apakah sangat jauh antara kelas dengan kamar mandi Venus?" Sang dosen kini yang bersuara di tengah keheningan.


Deg!


Venus menunduk malu. Sungguh dia tak tau apa yang harus di ucapakannya lagi.


Dan paling penting. Bagaimana kelak nilainya nanti?


***


Venus mengendus lelah. "Cape.." keluh Venus. Sungguh cape rasanya hari ini, sungguh banyak masalah yang menimpanya.


Venus melihat ke arah jam tangan dan kemudian kembali melihat ke aspal jalan malas, sungguh tak berminat untuk melanjutkan hidup.


"Sepertinya kalau kemarin itu aku beneran mati hidupku ngak akan susah kaya gini lagi ya? Ck." Venus menendang nedang kerikil yang ada di hadapannya ke depan dan kemudian menendang lagi kerikil itu mengikuti jalannya.


Venus mendongak melihat sekitarnya dan terkejut mendapati Victor yang tengah membawa karangan bunga merah.


Sejenak Venus berfikir, jangan jangan itu untuk cewenya kali ya? Hehe. Tapi emang ada yang betah sama cowo sangar gitu?


Venus mengedikkan bahunya acuh. "Mungkin." Gumam Venus.


Karena penasaran tingkat dewa Venus mengikuti arah ke mana lelaki ini berjalan kaki.


Tak jauh dari perjalanan mereka Victor berhenti di depan rumah sakit jiwa.


Venus langsung nge-lag. "Ni orang ngapain ke sini?"


Venus tetap mengikuti lelaki itu.


Victor berhenti pada seseorang yang tengah duduk merenung dengan pandangan kosong. Victor berlutut dan mencium tangan wanita paruh baya itu. "Ma, Victor datang."


Deg!


"M-mama?" Venus tak percaya apa yang di lihatnya.