My Different Wife

My Different Wife
Akan Berubah!



Venus memasuki koridor kampus. Setiap mata memandang ke arahnya membuat Venus merasa risih. Apa yang salah?


Sett


Venus melihat ke arah seseorang yang memeluknya dari belakang, "Dini?"


Yang dipanggil itu hanya cengengesan, "Yoi."


Dini mensejajarkan dirinya dengan Venus berjalan. "Kau kemarin ngak datang juga ya. Aku dengar kau sakit."


"Hm." Venus mengangguk dan kemudian melihat ke arah Dini lagi. "Btw, kenapa mereka liatin aku sampai gitu sih."


Dini memperhatikan sekitar mereka, "Mungkin kaget." Dini terkekeh.


"Kaget?"


"He'em. Tumben soalnya kau pakai baju rapi gini. Biasanya... Pakai baju trendi yang terlihat mewah." Dini menunjuk Venus dari atas sampai bawah. "Pake gaya sombong lagi." Gumam Dini di akhir kalimatnya.


"Oh ya? Perasaan aku biasa aja deh." Venus mengedikkan bahu pura pura bego. Padahal Venus juga merasa gitu.


"Apaan asal kau tau ka-"


"Eh, kayaknya kita udah mau masuk tu. Mending langsung ke kelas aja." Potong Venus cepat mengalihkan pembicaraan sambil terkekeh.


"Hem.. Terserah." Dini pasrah.


***


Dini begitu terkagum kagum melihat Venus yang ntah kesambet apa tiba tiba rajin menjawab, rajin bertanya, serius banget lah pokoknya waktu belajar. Aneh bin Ajaib.


Bahkan bukan cuma Dini aja yang kaget, tapi seluruh kelas.


"Good.." Dini mengacungkan jempolnya pada Venus saat sudah sampai di akhir pembelajaran pertama.


Venus menyelipkan rambutnya besar kepala, "Iya dong. Keren kan?"


Dini kembali memutar badannya ke arah depan, "Dah lah. Naik dah tuh kuping ke awang awang." Balas Dini malas.


Venus terkekeh, "Gak loh ah. Bercanda kali."


"Hem. Iya." Dini kembali memutar kepalanya ke arah Venus, "Ven, kau mau ke kantin ngak?"


Venus menggeleng, "Gak deh. Aku mau ke perpus aja."


Dini membelalakkan matanya dan mengorek telinganya, "Perpus? Gak salah dengar aku huh?"


Venus mengangguk, "Iya ke perpus. Aku mau berubah Din. Mau jadi lebih baik dari kemarin kemarin." Venus melihat Dini dengan serius.


Dini terdiam untuk beberapa saat,


"Hahaha... Apaan sih Ven. Jangan ngelawak deh. Mending makan dulu yuk, kayaknya kau lagi gak konsen."


Dini menarik tangan Venus mengajaknya ke kantin.


Venus diam di tempat sambil menunduk. Ternyata bukan hanya Steve yang menganggapnya melakukan sebuah lelucon, Dini sahabatnya juga begitu. Dini yang merasa Venus diam kini merasa bersalah.


Dini duduk kembali di samping Venus, "Kau... Serius?" Tanya Dini pelan.


Venus tetap menunduk, "Apa aku tampak seperti bermain main Din? Seburuk itu ya aku sampai sulit untuk di percaya lagi?"


Dini diam sesaat dan kemudian menarik nafas dalam dalam, "Maaf karena tertawa tadi. Aku gak bermaksud untuk membuat mu jadi merasa tersindir."


"Hm. Iya gak apa."


Dini merangkul Venus, "Aku senang kau berubah Venus. Itu pasti sudah kau pikirkan matang matang. Dan... Ya aku yakin itu juga kemungkinan besar cukup sulit di terima banyak orang Ven, mengingat dulu perilakumu." Jelas Dini dengan tatapan sendu membuat Venus mengangguk lemah setuju dengan ucapan Dini.


"Tapi aku yakin kok semua orang pasti akan segera menerimanya juga kalau kau terus berusaha! Aku yakin kau bisa!" Dini menyemangati Venus dengan semangat 45.


Venus mendongakkan kepalanya dan tersenyum kecil, "Makasih udah mau dukung aku Din."


Dini mengangguk, "So pasti! Kau kan temanku yang paling ku tsayanggg, mana mungkin aku tak menyemangatimu."


Mereka pun saling tertawa renyah, "Ah udahlah ngak usah alay bilang bilang sayang gitu. Takutnya di kira orang kita pasangan lesbi pula. Euh... Sorry lah ya, aku masih normal." Dini melepas tangannya dari Venus dan mengebas ngebaskan bahunya geli.


"Idih. Memang kau aja yang normal. Aku juga masih normal kali."


"Hmm... Iya lah tu... Ya udah, kita mau kemana nih? Ke perpus hm?" Tanya Dini.


Venus mengangguk, "Iya."


"Hm.. Tapi kayaknya aku kelaperan deh Ven, tadi pagi belum makan. Kalau kau sendiri ke perpus bisa ngak?" Izin Dini. Dia memang sedang benar benar lapar, takutnya jika dia tak makan bisa bisa sakit maagnya kambuh.


Venus yang tau penyakit temannya itu terpaksa mengangguk menyetujui untuk di tinggal sendiri, "Ya udah deh ngak apa. Nanti kalau kau pingsan aku juga yang repot."


"Nah itu, makannya aku mau makan biar ngak nyusahin orang nanti." Kata Dini dengan cengiran.


"Iyaaa."


"Ya udah aku ke kantin ya. Byee." Pamit Dini segera di balas anggukan oleh Venus.


Dini pun pergi meninggalkan Venus sendirian.


Venus menghela nafas panjang dan segera bangkit berdiri berjalan menuju perpustakaan.


Beberapa langkah menuju perpustakaan yang berasa di luar kampus dan melewati taman, Venus melihat seseorang yang sangat mengusik matanya. Lelaki itu berbadan tinggi dan rambutnya acak acakan. Walaupun tampan dia tampak seperti lelaki berengsek.


Dia berjalan melewati Venus dengan angkuh dan dengan sengaja menyenggol bahunya hingga Venus sedikit terdorong mundur ke belakang,


"Woy, jalan pakai mata." Kesal Venus.


Lelaki itu bahkan tak memperdulikan Venus dan masih melanjutkan langkahnya.


Venus berdecak kesal. Tapi jika di lawan sepertinya tubuh Venus tidak seimbang dengan tubuh lelaki jangkung itu.


Ah sudahlah biarkan saja.


Venus kembali berjalan.


Kreek


Venus menginjak sesuatu di bawah kakinya. Venus menjauhkan sedikit lainya untuk melihat apa yang ada di bawahnya, "Apa ini?"


Venus mengambil alat kecil yang tampak seperti gunting kuku, tapi bukan gunting kuku. Seperti pisau lipat tapi bukan juga.


Set..


Barang itu segera di tarik oleh seseorang membuat Venus terkaget dan mendongakkan kepalanya.


"Kalau kau ngak sanggup beli jangan mencuri." Ucap lelaki itu tajam. Dan ya, itu lelaki yang menabraknya tadi.


"Idih. Barang begituan mah aku mampu beli! 10 yang begituan juga bisa aku beli!" Kesal Venus.


Lelaki itu menatap Venus datar dan seketika seakan akan atmosfer bumi menjadi sangat menipis dan sesak. Wajahnya menakutkan.


Venus segera meninggalkan lelaki itu. Wajahnya yang pucat tampak seperti Vampir yang ingin membunuh siapa saja manusia yang melawannya. Sungguh seram.


Venus melangkah cepat m dan kemudian menggelengkan kepalanya, lebih baik Venus cepat cepat melupakan lelaki itu. Jika dia masih mengingat lelaki itu akan membuat dia akan bermimpi buruk nantinya.


***


Venus mencari buku buku yang di perlukan dan kemudian membawa buku buku itu ke meja kosong untuk dia segera membacanya sekarang.


Dia sedikit lapar. Dan syukurnya dia membawa 5 bungkus kue krekers coklat. Venus tersenyum miring, tidak mungkin akan ketauan jika makan diam diam bukan? Hehe.


Venus membuka perlahan salah satu bungkus kuenya dan memakannya perlahan dengan sedikit membungkukkan badannya.


Venus menutup matanya dan tersenyum, dia suka rasa coklat!


Setelah habis memakan satu bungkus kuenya dia kembali membaca buku.


Rasanya Venus merasa sangat nyaman dengan keadaannya sekarang. Perpustakaan tak seburuk yang dia pikirkan.