My Different Wife

My Different Wife
Hanya sebulan



Steve melihat ke arah Venus yang tengah memasangkan dasinya. Lelaki itu merangkul pinggang sang istri agar tetap di hadapannya, "Sayang."


Venus melingkarkan tangannya di leher Steve, "Kenapa, hm?"


Steve tersenyum nakal dan mendekatkan wajahnya ke arah Venus dan mencium bibirnya lembut dan kemudian mulai memperdalam ciumannya.


Clek


Pintu kamar terbuka membuat Venus segera mendorong Steve kala anaknya masuk ke dalam kamar, "Daddy! Angkasa sudah hampir terlambat! Daddy lama sekali!" Kesal Angkasa mengomeli sang Daddy yang menurutnya terlalu lama berberes beres.


Steve terkekeh singkat dan kembali melihat ke arah Venus, "Kita lanjutkan nanti."


Steve segera berjalan ke arah Angkasa dan menggendong anaknya yang mengacaukan paginya. Namun apa dayanya, dia pun sangat menyayangi anaknya itu.


"Ayo kita berangkat."


Angkasa mengangguk,


Steve mengacak rambut anaknya dan mencium pipinya, "Dasar kau iblis kecil," ledek Steve.


Angkasa menggerutu, "Daddy!"


Steve terkekeh mendengar jeritan tak terima Angkasa. Anak dan ayah sama saja seperti devil.


Setelah mengantarkan anaknya dan juga Venus, Steve pun menuju kantornya. Steve memarkir mobil dan segera memasuki ruangan.


Steve mulai mengerjakan tugasnya. Namun beberapa saat kemudian seorang asistennya masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk.


"Izin pak sebelumnya, ada yang mau saya sampaikan," kata sang asisten.


Steve melihat ke arahnya beberapa detik kemudian kembali menulis lembar pekerjaannya, "Katakan apa?"


"Pak, dalam sebulan ini kita ada deligasi kerja sama dengan perusahaan O'Blivie untuk mengadakan rapat dan menyusun rencana perusahaan. Dan itu di adakan di Washington DC, begitu pak," jelas Asisten Steve.


Steve menghentikan kerjanya dan menghembuskan nafas, "Apakah harus sebulan? Itu waktu yang sangat lama bagiku. Kau tau bukan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di sini," sambung Steve.


Asisten Steve mengangguk, "Memang benar yang bapak katakan. Tapi saya sudah membicarakan hal itu pada pihak terkait tapi mereka mengatakan itu waktunya sudah sistematis mereka rancang, begitu pun banyak akan mereka bicarakan nanti. Jadi waktu sebulan itu sudah sangat cukup dan bahkan pas-pasan," katanya berdialog pada atasannya.


Steve menghembuskan nafas dan panjang, "Tanggal berapa kita berangkat?"


"15 Agustus pak. Saya akan mengatur semua perlengkapan dan juga berkas berkas yang berguna nantinya,"


"Hm. Kerjakanlah."


"Baik pak."


Steve menghela nafas setelah asistennya keluar ruangannya. Steve tak yakin akan meninggalkan Venus selama itu. Dia takut jika terjadi apa apa dengan istri dan anaknya, terutama mengingat Victor.


Apakah dia harus membawa keluarganya ikut bersamanya?


Ah, tidak. Itu terlalu berlebihan, belum lagi Angkasa masih sekolah bukan? Dan toh ini pun hanya sebulan. Tapi tetap saja sulit sekali meninggalkan mereka.


Jiwa Steve tak karuan. Tapi bagaimana jika terjadi apa apa dengan keluarga kecilnya? Steve takkan bisa memaafkan dirinya jika sesuatu buruk terjadi pada mereka.


Steve kembali mengerjakan tugasnya.


***


Kini telah selesai waktu bekerja Steve dan sekarang dia ingin menjemput anaknya. Setelah itu Steve menjemput Venus dari kampus dan keluarga kecilnya itu pun kembali pulang.


Setelah membersihkan diri dan juga sudah makan Steve masuk ke dalam kamar sedangkan Venus menuju kamar sang anak memastikan dia belajar atau tidak.


Sudah 30 menit Steve berbaring dan tak kunjung dia dapat tidur. Dia merasa hatinya tak tenang, lelaki itu kembali duduk dan menegakkan dirinya kembali, "Kalau ku katakan ini pada Venus apa reaksinya?"


Steve mendengus, "Tentu saja dia tak keberatan dan selalu mendukungku. Tapi aku yang tak tenang dia di sini sendirian dengan Angkasa," Steve menjawab pertanyaan sendiri.


Terdengar pintu kamar terbuka menandakan Venus telah selesai mengecek keadaan sang anak, "Kamu belum tidur?" Tanya Venus seraya menutup pintu dan membaringkan diri di sebelah Steve.


Steve mengangguk, "Iya nih. Tapi tumben cepat?"


"Iya, Angkasa tidak ada PR katanya, dan dia sangat letih hari ini. Jadi lebih baik dia beristirahat lebih awal."


Steve mengangguk paham dan kembali pada pikiran yang mengganggunya tadi. Venus menepuk pundak Steve lembut, "Kenapa sayang? Ada masalah kantor ya?"


Steve menoleh ke arah Venus dan memeluknya, "Minggu depan aku ada kerjaan ke luar negeri sampai sebulan. Ada rapat besar di sana. Aku sudah meminta persingkatan waktu agar lebih cepat dari sebulan, tapi mereka bilang itu sudah waktu uang sistematis."


Venus mengelus wajah Steve, "Tak apa sayang, selagi itu untuk kemajuan perusahaan aku tak masalah. Itu juga untuk kebaikan bersama kan?"


Steve mengeratkan pelukannya, "Tapi aku yang tak tenang meninggalkan kamu dan Angkasa. Kalau terjadi sesuatu gimana? Aku paling tak suka kalau meninggalkan kalian selama berhari-hari hari, bahkan dua hari saja sulit sekali rasanya, gimana lagi satu bulan?"


Steve menatap Venus dan mengecup pipinya, "Kamu sama Angkasa ikut aku aja gimana?"


Venus menggeleng, "Gak bisa gitu sayang. Kamu lupa kalau Angkasa masih sekolah? Sekolah juga punya aturan, kita tak bisa seenaknya meminta izin sebulan."


Steve menghembuskan nafasnya berat. Itu iga yang dia pikirkan, tapi tetap saja dia sangat sulit meninggalkan mereka.


Venus membalas pelukan Steve dengan erat, "Sayang, percaya deh sama aku. Aku bisa jaga diri dan juga anak kita, kamu tak perlu kuatir. Dan yang pasti aku akan selalu hubungin kamu juga, jadi kaku akan selalu tau gimana keadaan kami, kalau ada apa apa juga aku bakalan kasih tau kok. Kamu tenang saja, semua akan baik baik saja," jelas Venus membuat Steve luluh. Steve mengangguk pasrah dan mengecup pipi Venus manja.


"Iya sayang. Tapi aku bakal rindu banget sama kamu," gumam Steve dengan suara parau.


Venus terkekeh singkat, "Kan sebulan doang sayang."


Steve malah semakin mendekap Venus dan selalu saja menciumi pipi Venus.


Venus lucu melihat Steve. Lelaki yang tampak sangar dan garang, malahan terlihat seperti anak lima tahun jika berdua bersamanya. Kemana sikap dingin Steve? Hilang ntah kemana.


Venus mengelus pipi Steve, "Sayang gak mau tidur? Aku udah ngantuk," ajak Venus.


Steve menganguk, "Iya, aku juga ngantuk. Di sini aja, aku mah tidur sambil meluk kamu, harus puas puasin berduaan sama kamu," Pinta Victor dengan mata terpejam mengantuk.


Venus mengangguk dan mengelus rambut Steve. Posisi terbaik yang Steve lakukan adalah menenggelamkan wajahnya di leher Venus, tepatnya hampir ke arah dada Venus. Merasakan sentuhan lembut Venus membuat Steve merasa sangat aman dan nyaman.


Rasanya sangat manis melihat Steve seperti ini. Venus pun lama kelamaan mulai mengantuk dan akhirnya mereka berdua tertidur pulas.