
Steve menulis segala pekerjaannya dengan cepat dan sigap. Segala hal di kerjakannya tak ada terdapat kesalahan dan semuanya tepat sasaran. Sungguh CEO muda yang cakap.
Sikap dewasa Steve lah yang membuat Lisa sangat mencintainya, lelaki itu mampu membuat pikirannya menjadi terbuka dan lebih berkembang. Steve mampu membuatnya menjadi seseorang yang paling beruntung karena bisa menjadi pacarnya.
Walaupun Lisa tau menjadi pacar Steve itu bukan dari hati terdalam Steve.
Ya benar. Lisa selalu mempelajari setiap orang yang berhubungan dekat dengannya, terutama Steve yaitu pacarnya.
Sejak pertama kali dia mengenal Steve, lelaki ini tampak selalu berusaha menahan sesuatu dalam dirinya. Lelaki ini sering tampak bersama Venus, wanita yang akrab terdengar sebagai calon pasangan hidupnya itu karena sudah memiliki hubungan erat dengan keluarganya satu sama lain.
Ada satu kebencian di mata Steve terhadap Venus, namun di situ ada pula rasa keegoisan. Lelaki itu tak tau cara membedakannya dan memilih untuk memutar haluan dan berlabuh padanya.
Ibarat sebuah dermaga sebagai tempat singgah dan akan di lalui lagi saat dirasa baik untuk kembali seperti itulah hati Lisa yang menjadi tempat tinggal sementara untuk Steve akan kembali pada Venus.
Lisa awalnya hendak menolak perasaannya ini untuk terus menjauhi Steve. Namun hati kecilnya berkata, Jangan! Dia sungguh mencintai Steve dari hari ke hari. Dia pun ingin memiliki Steve, cintanya sudah sangat besar.
Lisa tau Steve sengaja mengalihkan pandangannya dari Venus dan terus memperhatikan dirinya padahal hati Steve sendiri tak mau lepas dari Venus.
Dia tau itu semua. Lisa tau!
Tapi dia sungguh mencintai Steve... Apapun itu dia ingin bersama Steve seumur hidupnya.
Mulai hari itu Lisa selalu berusaha menjadi yang terbaik di mata Steve agar selalu menjadi pusat perhatian Steve saat memandang Venus.
Segala kekurangan Venus di jadikan kelebihan oleh dirinya. Dia selalu mencari celah agar tampak lebih baik untuk Steve. Segala hal yang dia lihat dan pelajari dari Steve dia kembangkan menjadi suatu senjata untuk menjatuhkan Venus.
Mulai dari sifat Venus yang kekanak kanakan dia jadikan bara api pada hati Steve untuk membenci Venus.
"Steve jangan lakukan itu. Dia masih kecil dan tak tau apa yang dia perbuat. Biarlah aku yang memberitahukannya dengan baik baik, jangan bentak dia Steve." Dalam suatu kejadian itu Lisa seperti membela Venus dan juga menjatuhkannya dengan membuat dirinya menjadi bandingan yang lebih tinggi dari Venus. Cara licik lain pun banyak dia lakukan untuk membuat Steve merasa dialah yang paling baik dan benar.
Dan ya, Steve pun kembali berlayar padanya dan menetap di sana.
Itulah sifat Lisa yang sesungguhnya. Bukan wanita yang baik dan juga bukan wanita yang jahat, hanya wanita yang ingin di cintai oleh seseorang yang bukan untuk di miliki.
Lisa masuk ke dalam ruangan Steve dan membawakan makanan untuknya, "Steve makanlah. Aku memasakkan ini khusus untukmu."
Steve mengangguk tanpa menoleh, "Makasih. Letakkan saja di sini dan kembalilah bekerja." Kata Steve terus mengetik pekerjaannya dalam laptop.
Lisa merasa sedih. Sering kali Steve lakukan ini padanya, Steve seperti tak perduli padanya setiap hari. Tapi perhatian Steve akan berubah jika ada Venus di sini, lelaki itu akan berusaha romantis padanya. Sangat kentara sekali jika Steve sengaja melakukannya agar Venus merasa muak dan meninggalkan Steve pada akhirnya Steve akan terbebas dari cengkraman Venus.
Lisa mengangguk dan kemudian tersenyum, "Baiklah. Semoga kau suka Steve, aku memasaknya dengan penuh rasa sayang." Lisa mengungkapkan rasa yang ada di hatinya.
Steve mengangguk, "Makasih."
Dan lelaki itu masih saja tak melihat ke arahnya.
Sungguh menyakitkan hati Lisa.
Lisa pun keluar ruangan, walaupun seperti itu dia masih memiliki kesempatan terhadap Steve karena Steve membenci Venus bukan?
Setidaknya dia bukanlah wanita yang di benci Steve, dia. Dia yakin dia pasti bisa merebut hati Steve kelak.
Langkah kaki Lisa terhenti tepat di depan pintu masuk ruangan Steve.
Venus datang.
Lisa sangat senang, dia yakin Steve pasti akan memanjakannya.
Wanita ini pasti akan marah marah gak jelas karena cemburu dia tengah berada di ruangan Steve bukan, yes!
Dengan wajah yang di buat senatural mungkin Lisa menoleh ke arah Steve, "Steve, Venus datang."
Deg!
Seketika Steve menghentikan tulisannya, dia senang akhirnya wanita ini mengikuti perintahnya untuk datang ke kantornya segera di jam makan siang. Namun dia kembali mengatur raut wajahnya menjadi datar kembali.
"Lisa kamu tak perlu memanggilnya, antarkan saja makanan ini padanya. Dia pesan tadi." Jelas Venus.
Lisa terkejut bukan main. Venus kembali terlihat aneh untuk kedua kalinya di hadapan Lisa, yang pertama adalah saat di rumah sakit waktu Steve kecelakaan dan yang kedua adalah hari ini.
"Bilang sama pacarmu itu kalau aku bukan tukang antar barang. Jadi jangan nyusahin." Sambung Venus kemudian segera menarik tangan Lisa untuk mengambil barangnya. "Udah aku mau balik."
Steve tak percaya apa yang dia dengarnya. Apa Venus menelantarkannya? Apa apaan!
Venus segera meninggalkan tempat Steve.
Steve bangkit berdiri, kenapa dia sangat kesal. Biasa juga dia tak pernah merasakan kesal sampai sebegininya.
Steve berjalan cepat untuk mengejar Venus.
Tep
Tangan Venus di cengkram Steve dan menariknya membuat Venus berbalik karena tenaga Steve.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Venus memutar bola matanya, "Aku sibuk. Dan sebentar lagi masuk kelas. Apa lagi? Jangan terlalu banyak permintaan." Jelas Venus.
Ingin rasanya memarahi Venus, tapi apa yang salah? Steve juga tak tau apa yang harus di katakannya sebagai alasan dia marah.
"Diam. Kamu harus tetap di sini sampai aku selesai makan." Steve menarik tangan Venus.
Venus menahan tangannya, "Gak. Makan aja sendiri, atau berduaan tu sama si Lisa. Dan juga sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan kamu, biasanya juga kau." Kata Venus.
Steve yang tadinya kesal tersenyum miring dan menoleh ke arah Venus, "Kenapa bawa bawa nama Lisa, hm? Cemburu?"
"Huh? Ngak perduli aku. Dasar gak jelas." Venus menghentakan tangannya melepaskan tangan Steve dan kembali pergi.
Tep
Steve kembali menahan tangan Venus, "Keras kepala ya."
"Lah kenapa? Emang iya. Kalau lembek baru namanya sumsum. Bego." Kata Venus tak mau kalah.
Dari mana Venus belajar suka meledek seperti ini. Venus yang dia kenal itu sangat lugu dalam berbahasa dan polos, kenapa jadi berbeda.
"Siapa yang mengajarkanmu bahasa pasaran seperti ini?"
"Victor, kenapa? Ada masalah? Ya deritamu sendiri lah. Blee.." Venus meledek Steve dan berlari meninggalkan Steve.
Victor. Lelaki itu selalu saja membuat dia sangat geram. Sungguh membuat muak!