
Venus dan Victor berada sedang menikmati suasana malam taman kota.
Victor melihat Venus yang tampak sangat menikmati malam. Membuat Victor menarik ujung bibirnya tersenyum.
"Seger ya ada di luar gini." Kata Venus.
Victor menganguk,
Venus menoleh ke arah Victor, "Mau denger aku nyanyi gak?" Tawar Venus.
Victor terkekeh, "Memang bisa nyanyi? Ntar cempreng lagi." Ledek Victor.
Venus mengerucutkan bibirnya, "Ish..." Kemudian Venus tersenyum dengan menampilkan deretan giginya, "Iya sih memang ngak bisa. Hehe. Sok keren aja tadi."
"Eh tapi kamu ngejek ngejek, emang bisa nyanyi. Pasti cempreng juga suara kamu mah." Ledek Venus.
"Bisa, dengerin,"
Victor menggenggam tangan Venus dan menatapnya dalam.
Victor mulai bernyanyi, "I maybe not yours and you're not mine...
But I'll be there for you when you need me,
It is only me,
Believe me,
girl it's only me,
Yeah it's only me.
I will always be the one who pull you up..
When everybody push you down,
And it's only me,
Believe me,
girl it's only me,
Yeah it's only me.." Victor menyajikan lagu itu dengan sangat lembut. Lagu dengan penghayatan dan dari hatinya yang paling terdalam untuk Venus.
Suara berat namun sangat merdu itu membuat Venus terbuai.
Venus mengangguk, "Hm, bagus.."
Victor mendekatkan wajahnya dan mengenggam tangan Venus, "I love you," bisiknya seraya memeluk Venus.
Sett
Victor tertarik kuat oleh seseorang hingga membuat pelukannya terlepas,
Mata Victor spontan bertemu dengan mata orang tersebut.
Steve!
Brengsek!
"Sudah berapa kali ku katakan dia milikku. Apa kau tuli?!" Kecam Steve pada Victor.
Victor mengenggam tangannya emosi. Dia bangkit berdiri,
Bukk
Suatu tinju tepat menghantam pipi Steve oleh Victor. Victor tersenyum miring, "Jangan mencari masalah denganku. Dia bukan milikmu tapi milikku."
Steve mengusap ujung bibirnya yang berdarah kemudian terkekeh singkat sebelum kemudian,
Buak
Tak kalah bengis,
Bak buk bak buk
Memukul Victor dengan membabi buta saat Victor lengah tadi.
Victor muak dengan lelaki ini. Sungguh menyusahkannya!
Victor sudah terlatih karate sejak kecil dan,
Set, kdebuak!
Victor membanting Steve hingga ke tanah.
Bak buk bak buk bak buk
Menghantam lelaki itu dengan bringas.
Tak kalah dengan kekuatan Victor, Steve memutar kakinya membuat Victor terjatuh dan tersungkur di sebelahnya, dengan cekatan Steve bangkit berdiri dan,
Bak buk brak bak
Tendangan kaki Steve menendang perut dan dada Victor.
Venus ketakutan dan ingin menangis, Venus menarik tangan Steve, "Cukup!! Jangan lakukan ini lagi!! Aku yang salah Steve!! Aku yang ingin keluar bersamanya!! Aku tertekan dengan perjodohan ini!!"
Steve tertegun dengan nafas yang memburu karena emosi sempat melandanya.
Steve sangat marah. Venus berselingkuh di belakangnya?!
Dia takkan membiarkan itu terjadi.
Dia akan membalas Steve cepat atau lambat!
Lihat saja!
Steve mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan semakin membuat Venus ketakutan, "Steve! Aku takut! Ja-"
"Diam!"
Venus menangis sejadi jadinya membuat Steve semakin emosi. Lelaki itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, "Kenapa kamu lakukan itu?!"
Venus menunduk takut, Steve sangat menyeramkan.
"Tatap aku dan jawab!" Bentak Steve.
Venus menangis kencang, "Hua... Hiks hiks hiks..."
Ck, dia yang salah dia yang nangis. Kesal Steve.
Steve menghembuskan nafasnya dan kembali menghadap depan. Dia sungguh mencintai Venus sekarang dan dia tak mau wanita ini bersama lelaki lain kecuali dirinya. Siapapun itu dia takkan biarkan mendekati Venus,
Satu hal yang terbesit pada pikiran Steve. Setelah pernikahan nanti dia dan Venus akan pergi ke tempat yang jauh dari kota ini. Karena dia yakin Victor adalah orang yang akan merusak hubungannya saja.
Dia akan akan merapikan semuanya. Steve akan memindahkan Venus kuliah, menjadikan wanita ini tetap di rumahnya, tidak boleh keluar sama sekali jika tanpa dirinya, menjadi istri yang selalu untuk ada untuknya.
Mobil Steve pun sampai di depan pintu rumah. Di saat bersama keluarga Steve dan Venus datang.
"Steve Venus, kalian dari mana?"
Tanya Mama Venus.
Deg!
Venus menatap Steve takut. Jika Steve memberitahukan maka orang tuanya akan sangat kecewa dan bahkan sakit hati.
Steve memalingkan wajahnya dari Venus, "Jalan jalan sebentar keluar Tante."
Kedua pasangan orang tua itu tersenyum, "Wah makin gak sabar ya.." ungkap Mama Steve.
Venus menghembuskan nafas lega.
"Lusa hari pernikahan. Sebaiknya Venus tidak keluar rumah dan tetap di dalam rumah Tante, takutnya kalau melakukan aktivitas lain bisa membuat Venus kelelahan." Jelas Steve pada Mama Venus.
Mama dan Papa Venus saling tatap kemudian tersenyum mengangguk, "Ya benar. Venus akan tetap di rumah. Kamu akan Mama izinin besok." Jelas Mama Venus.
"G-gak bisa gitu dong ma. Kan cuma kuliah, gak akan kecapekan." Venus tak terima.
"Bener kata calon suami kamu nak, agar menghindari sesuatu yang buruk di hari pernikahan nanti kamu lebih baik di rumah saja. Mama akan menemanimu, kamu tidak akan merasakan kesepian."
Venus menatap kesal Steve, sungguh saran lelaki ini membuatnya semakin tercekat saja.
Mama Venus mengusap pucuk kepala anaknya itu dengan sayang, Venus melihat sang Mama dengan senyuman singkat.
Sungguh menyebalkan.
***
Hari telah menjadi gelap, malam kini sudah menyapa. Tiap acara berlangsung dengan lancar dan tanpa gangguan sampai di penghujung acara. Pernikahan telah selesai dan para tamu undangan sudah meninggalkan acara.
"Pa Ma, Tante Om. Terimakasih atas bantuannya hingga acara bisa berjalan sangat lancar." Kata Steve.
Kedua pasangan orang tua itu tersenyum dan mengangguk, "Semoga pernikahan kalian selalu berbahagia ya. Sekarang kamu panggil Tante dengan sebutan Mama ya, Tante sekarang Mama kamu juga."
Steve tersenyum dan mengangguk. "Baik Ma."
Venus hanya menunduk. Dia juga bingung mau bilang apa.
Bersyukur? Apa yang perlu di syukuri dari kejadian ini? Yang dia ingat setelah pernikahannya dia akan mati di tangan Steve.
"Baiklah, kamu bisa membawa istri kamu Steve dan perlakuan dia dengan kasih sayang." Amanah sang Mama.
Steve mengangguk. "Baik ma,"
Bahkan sekarang Venus tak mendengar lagi apa yang mereka katakan. Venus terlalu banyak berfikir.
Kedua orang tua mereka mengantar anaknya ke luar gedung acara pernikahan dan sampai di depan pintu mobil yang mewah, "Selamat menempuh hidup baru." Kata sang Ayah dengan lega dan tersenyum senang sambil menepuk pundak sang anak.
Steve tersenyum dan mengangguk, "Terimakasih pa."
Steve menuntun Venus masuk begitu pun dia masuk. Sang supir pun segera melajukan mobilnya mengemudikannya rumah pribadi Steve.
Venus tersadar saat di perjalanan, "K-kita mau ke mana? Ini kenapa arahnya berbeda dari rumahku?"
"Ke rumahku Venus, kamu istriku."
Venus terdiam dan jantungnya berdegup kencang,
Sekarang dia jadi panik dan takut. Astaga,
"Baju baju aku gimana? Aku tidak membawa koper apapun."
"Sudah di sediakan Mama di bagasi tadi. Semua peralatan dan keperluan kamu sudah di bawa." Jelas Steve.
Venus mengangguk kikuk.
Kemudian dia teringat sesuatu. Ini malam pertamanya bukan?
Mata Venus terbelalak. Apakah Steve akan melakukan itu?
Venus menoleh ke arah Steve yang tengah fokus pada ponselnya. Venus mengembuskan napas panjang, 'Ah itu takkan mungkin terjadi Venus, dia bahkan sedikit pun tak bernafsu padamu. Kamu hanyalah wanita biasa, wanita yang takkan pernah di cintai nya.' batin Venus.
Venus harus mencari cara untuk bercerai dengan Steve tanpa membangkitkan amarahnya, karena Venus tak ingin masa lalunya yang mari di tangan Steve terulang. Jangan sampai.