
Catatan penulis:
Hai readers ✨... How are you? aku harap kalian sehat selalu yaa...
Btw guys, jangan lupa like, comment dan kalau bisa gift yaa... beri dukungan ke author biar makin semangat nulisnya guys... Kalau kalian semakin banyak tinggalkan jejak semakin aku akan rajin up ceritanya guyss...
soalnya aku lihat pembaca ceritanya banyak tapi dukungannya sedikit gitu🥺... jadi kan aku sedih ngak tau apa perasaan kalian guys...
Love you so much ya bagi yang selalu dukung dan bagi yang belum jangan lupa di dukung authornya yaaa... ngak ada kata terlambat kok, hehehe..
Jadi please banget, jangan lupa terus dukung cerita aku yaa... paling tidak like pun sangat berarti guyss...
Sekian saja info dari author.
Love You All... Happy Reading 🤗❤️🎉🎉
---------------------------------------------------------------------------
Steve masuk ke dalam kantornya dengan lesu. Dia belum sembuh seutuhnya, hatinya masih sakit dan rasanya ini takkan bisa terobati.
"Steve." Panggil seseorang membuat Steve menoleh dan melihat ke arah orang tersebut.
Steve membuang wajahnya malas, "Aku minta maaf jika aku kemarin tidak bisa datang. Namun aku sungguh tak bisa karena-"
"Ibuku meninggal Steve."
Deg!
Steve segera melihat ke arah Lisa spontan.
Lisa dengan menangis dan berlari ke arah Steve.
Dreb
Lisa memeluknya, "Steve aku tidak memiliki siapapun kecuali adikku Steve. Aku harus apa?" Kata Lisa sambil terisak.
Steve turut berdukacita akan hal yang terjadi. Namun dia bisa apa? Sedangkan dia sendiri memiliki banyak masalah.
Steve melepaskan pelukannya, "Aku turut berdukacita atas ibumu Lisa. Kau harus semangat. Namun perlu kau tau aku tidak bisa berbuat apapun, aku juga tidak memiliki apapun. Maafkan aku jika aku mengecewakanmu."
Steve pergi meninggalkan Lisa. Pikirannya sungguh kacau, banyak sekali pikiran yang sangat kacau sekarang.
***
Venus melamun karena tak ada Ana hari ini. Ntah kemana dia? Kenapa dia tidak masuk kampus. Dan lihatlah dia sekarang malah jadi belajar sendirian begini di kelas.
Jam berlalu dan kini adalah jam istirahat. Venus memutuskan ingin pergi ke taman dan menenangkan dirinya yang begitu kacau sekarang.
Cukup lelah telah melakukan banyak perubahan diri total sejak dia bangun dari kematiannya. Dan sekarang dia berada di titik sangat lelah dan hampa.
Dreb
Venus di peluk oleh seseorang dari belakang, Venus menoleh dan melihat wajah Victor yang tersenyum lebar padanya, "Senyum atau nanti aku cium." Peringatan Victor terdengar seperti bercanda namun terdengar serius.
"Apaan sih. Lagi pusing juga." Dengus Venus dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke depan dengan tak bersemangat.
Victor menghela nafas panjang. Kenapa selalu seperti ini saat Venus berdekatan dengan Steve. Lelaki itu selalu memberikan efek negatif pada Venus.
"Venus, aku bisa sangat mencintaimu lebih dari dia kamu tau. Aku mencintaimu lebih baik dari dia." Victor membalikan badan Venus dan menatap wajah Venus, "Aku sayang kamu. Sangat."
Venus menunduk. "Aku tak mau menyakiti siapapun lagi Victor. Cintaku itu menyakiti orang lain, jangan cintai aku jika kau tak mau tersakiti. Ku mohon tinggalkan saja aku." Venus melepas tangan Victor yang ada di bahunya dan berlari pergi.
Venus sangat trauma dengan kata kata cinta. Sungguh dia tak mau berurusan dengan cinta lagi, dia cuma ingin hidup normal saja. Berjalan seperti air tanpa gangguan apapun. Cukup dia sendiri, itu lebih baik.
Venus berlari tak tentu arah dan ntah kenapa air matanya mengalir.
Victor mengejar Venus yang berlari ke halaman belakang kampus. Tanpa di sadari Venus dia berlari ke arah suatu sumur dalam di sana, hanya sebatas betis penghalang sumur salam itu, dan akan di pastikan jika sekali tersandung akan jatuh!
Victor mempercepat langkahnya. "Venus! Perhatikan langkah mu!"
Venus sudah kalang kabut di tak mendengar apapun lagi. Dia kesal sekali pada semua hal. Tak ada yang semakin membaik dari dirinya. Kenapa ini terjadi padanya?
Brak,
Tep!
Tangan Victor meraih tubuh Venus tepat Venus jatuh dan akan terperosok.
Venus tercekat dan terdiam saat dia hampir saja menuju ajal.
Victor menarik tubuh Venus dan membawanya sedikit menjauh dari sumur dalam itu. Tangan Venus spontan memeluk bahu Victor.
Victor terduduk di atas rerumputan bersama dengan Venus di atasnya.
"Apa kamu gila?!! Kamu hampir saja mati!!! Bagaimana jika itu terjadi?!! Bagaimana aku hidup tanpamu?!!!" Rasa ketakutan Victor merajai dirinya hingga dia malah menangis.
Cup!
Victor mencium Venus dan mengeratkan pelukannya, bibirnya bergetar sungguh terasa pada bibir Venus sekarang.
Venus terkejut dan tangannya terlepas dari bahu Victor, "Cukup aku dan hanya aku. Cintamu takkan menyakitiku, aku mencintaimu Venus sayang... Aku mencintaimu." Kata Victor dengan tatapan dalam dan sungguh membungkam Venus dalam segalanya. Bibirnya kelu mendengarkan kalimat Victor.
Victor menarik tengkuk Venus dan kembali mencium bibirnya. Semakin lama semakin dalam dan panas. Jujur saja ini adalah kali pertama dia mencium wanita seperti ini dan bahkan terasa semakin bergairah.
Venus menahan tubuh Victor menjauh darinya yang bahkan semakin mendorongnya hingga kini membuat dia hampir menindih Venus.
Bit!
Venus mengigit bibir Victor dan membuat ciuman itu terlepas bersamaan Venus mendorong tubuh Victor.
Victor merasa kecewa saat Venus melepaskan ciumannya itu. Tapi memang benar dia tak boleh melakukan hal gila itu. Astaga Victor, apa yang kau lakukan! Batin Victor prustasi.
"M-maafkan aku. Aku terbawa suasana." Jelas Victor. Victor dalam hatinya sangat menggerutu, dia hanya ingin menunjukkan rasa cintanya pada Venus, tapi Venus malah menolaknya.
Venus tak menjawab apapun dan segera bangkit dari posisi.
Dia tak tau harus berterimakasih atau marah karena Victor malah bertindak kelewatan batas.
Victor segera bangkit berdiri dan menghadap Venus. Victor mengenggam tangan Venus namun segera di tepis Venus, "Terimakasih untuk menyelamatkanku. Namun tindakanmu setelahnya aku membencinya."
Venus pergi meninggalkan Victor dan kembali ke kelasnya meninggalkan Victor.
Venus terduduk di kursinya dan menutup wajahnya.
'Apa lagi ini? Apakah ini masalah baru lagi? Kenapa aku malah semakin melibatkan orang lain dalam masalahku dengan Steve?
Dan Victor, lelaki itu semakin banyak berada di pikiranku dengan berbagai hal. Terutama bahasanya mengenai cinta padaku. Apa... Apa yang terjadi?
Kenapa samakin runyam?!' batin Venus dengan pikiran sangat kacau.
***
Victor merundukkan kepalanya pada tangannya yang terlipat di atas meja. Dosen yang terus berbicara di depan kelas tak di gubrisnya karena dia sendiri sudah tau apa di ajarkan lelaki tua itu setiap mahasiswa sekarang.
Victor adalah mahasiswa yang sangat pintar membuat dia bahkan jadi bidan dengan omong kosong dosennya. Kaya, tampan, pintar dan berkuasa.
Apa yang kurang darinya?
Kenapa Venus masih saja tak dapat menerima dirinya sebagai seseorang yang bisa mengisi hatinya?
Steve. Apa yang bagus dari lelaki itu?!
Kenapa Venus bahkan bisa menangisi lelaki itu?
Arh!
Victor sungguh membenci hal ini. Dia tak bisa menguasai Venus. Dia hanya ingin memiliki Venus dan cintanya, dia ingin Venus! Kenapa itu sulit sekali terjadi?!
Semua telah di lakukannya. Berbuat perlahan dan bersabar, namun sampai kapan?
Dia pun menjadi kelewat batas seperti yang tadi siang di lakukannya. Tapi apa yang salah? Dia hanya ingin menunjukkan rasa cintanya, dia ingin lebih di cintai Venus.
Venus... Kamu sungguh membuatku gila. Apa yang harus ku lakukan lagi untukmu sayang? Apa yang kamu inginkan dariku akan ku berikan.
Cintailah aku, ku mohon cintailah aku...