
Venus membuka mata perlahan dan merenggangkan badannya bangun dari tempat tidur, "Emm..." Venus mengerang ala bangun tidur.
Terdengar suara kekehan berat dari sebelahnya yang sedari tadi memeluknya tanpa dia sadari sama sekali, "Pagi sayang." Sapa Steve sambil mengeratkan pelukannya.
Cup
Venus terbelalak saat Steve mencium bibirnya.
Venus rasanya ingin mencekik dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan hal kemarin? Memancing singa yang lapar.
Astaga, sungguh gila.
Steve terus memperdalam ciumannya membuat Venus kalang kabut terutama saat tangan Steve semakin liar.
Venus manahan tangan Steve membuat Steve menghentikan aktivitasnya dan menatap Venus,
"A-aku. M-maksudnya tidakkah kita harus beraktivitas hari ini. K-kamu harus ke kantor kan pagi ini? Mandilah, kamu harus segera membersihkan diri."
Steve menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum miring, "Kenapa harus beraktivitas di luar kalau di kamar ini lebih menyenangkan?"
Lihatlah. Bagaimana Steve bisa menjadi seorang mesum secepat ini setelah malam pertama?
Aih.. sekarang bahkan pipi Venus sangat memerah sekarang.
Steve mengelus tubuh Venus, "Ya udah... Mandi bareng ya?" Tatapan Steve sungguh tampak sangat nakal.
Oh astaga!
Venus menutup wajahnya. "Steve... Jangan begitu. Aku malu."
Steve terkekeh sambil membuka tangan Venus yang menutup wajahnya, "Iya sayang. Aku bercanda. Maaf ya? Okey okey.. aku mandi deluan." Kata Steve.
Venus mengangguk.
Cup
Steve mencium bibir Venus singkat sebelum beralih menuju kamar mandi.
Venus menutup matanya dan wajahnya lagi.
Steve!!
***
Venus masak sarapan pagi untuknya dan Steve dan kemudian menyajikannya. Tidak terlalu ribet, hanya ayam goreng dan sayur bayam rebus. Setelahnya ada sambal terasi.
Steve terus melihat Venus selama aktivitasnya di dapur sampai sekarang. Venus duduk di hadapan Steve, "Sarapannya sudah selesai Steve."
Steve mengangguk. "Em, terimakasih istriku." Kata Steve dengan senyuman.
Venus tersenyum kecil mendengar ucapan dari bibir menggoda Steve, Istri katanya? Hehe
Steve melahap sarapannya dengan lahap dan Venus pun memakan sarapannya namun lebih tenang.
Setelah sarapan Steve bangkit berdiri, "Ayo berangkat sayang. Nanti terlambat." Ucap Steve.
Venus menganguk dan bangkit berdiri. Mereka pun pergi bersama.
***
Setelah sampai Venus segera membuka pintu mobil namun si tahan Steve, "Kita punya kebiasaan baru sekarang." Kata Steve tiba tiba.
Venus mengiringkan kepalanya, "Apa?"
Steve tersenyum jahil dan menarik tengkuk Venus.
Cup
Sebuah ciuman mendarat di bibir Venus dan sedikit melum*atnya. "Harus cium aku dulu sebelum memulai aktivitas."
Blush
Wajah Venus kembali memerah membuat Steve terkekeh dan mengusap pipi Venus, "Aku sungguh bahagia memiliki kamu. Dan selamanya kita akan selalu begini ya? Jangan pernah tinggalkan aku." Kata Steve dengan penuh penghayatan.
Venus mengangguk dan kemudian memeluk Steve, "Akan selamanya begini. Aku mencintaimu."
"I love you too.." Sambung Steve.
Venus melepaskan pelukannya, "Aku berangkat. Kamu hati hati."
Steve mengangguk, "Baiklah,"
Venus keluar dari mobil Steve dan tersenyum sambil melambai pada Steve.
Steve membalas lambaian Venus dan kemudian melaju pergi.
Victor melihat Venus tampak tersenyum senang membuat dia semakin bingung. Apa yang terjadi? Kenapa malah tersenyum? Apa dia tidak merasakan kesedihan kemarin?
Beberapa saat kemudian hp Steve berdering. Kali ini dia memicingkan matanya melihat Steve menelpon hpnya itu. Victor mengangkat tanpa bersuara.
"Hm. Aku tidak tau siapapun kau tapi aku sangat bersyukur. Karena kau kemarin aku mengetahui bahwa istriku sangat mencintaiku. Dia memberikan dirinya seutuhnya padaku dan bukan padamu. Jadi jangan heran melihatnya bahagia hari ini." Steve terkekeh.
Sebenarnya Steve tau itu adalah Victor dan bahkan sempat melihat Victor yang menatap Venus dengan tidak suka barusan.
Lihatlah betapa terkejutnya wajah Victor hingga Steve ingin memotretnya dan memasukkannya ke dalam album gambar orang orang yang memalukan yang pernah ada di dunia. Haha! Jangan pernah ganggu hubungan ku. Batin Steve dengan sekarang tersenyum miring.
Victor membalikkan badannya dan mengambil jalan lainnya. Dia tak sanggup melihat Venus bahagia dengan senyuman indah untuk Steve. Brengsek!
***
Dari awal sampai sepulang kampus ini Venus sungguh muak dalam satu pikiran. Apa lagi kalau bukan memikirkan Venus.
Kepalanya serasa ingin meledak saja memikirkan mereka.
Arh!
Victor memilih untuk singgah di salah cafe dan memesan minuman kopi melepaskan kejenuhannya itu.
Victor melihat ke arah daftar menu cafe yang ada dan kemudian sesegera mungkin ada pelayanan yang datang padanya.
Victor melihat ke arah pelayan itu untuk menyebutkan pesanannya, namun mereka berdua sama sama terkejut, namun sang pelayan wanita segera mengatur ekspresinya sedatar mungkin.
"Kau- aku seperti mengenalmu." Kata Victor.
Wanita itu mengedikkan bahunya acuh, "Kita sama sekali belum pernah bertemu. Anda ingin pesan apa?" Wanita itu langsung kembali fokus pada pekerjaannya.
Victor menggeleng, "Tidak aku mengenalmu-"
"Katakan dengan jelas apa peranan mu, banyak pelanggan di sini yang hendak di layani. Jangan membuatku membuang waktu untuk mu saja." Tekan wanita itu malas.
Victor menatap tajam wanita itu. Bagaimana bisa seorang pelayan memiliki sifat sombong sepertinya? Sudah babu sombong pula.
"Apa kau tak punya etitud berbicara dengan rajamu huh? Pelayan." Sinis Victor.
Wanita itu tersenyum di paksakan, "Maafkan atas pelayanan kami yang kurang memuaskan tuan.. jika kau tak senang kau bisa pergi." Wanita itu menghilangkan ekspresi senyumnya dengan kembali berwajah datar dan kemudian pergi begitu saja.
"Hei!" Jerit Victor tapi tak di ladeni wanita itu. Dia sebenarnya sangat malas melayani lelaki ini. Ntahlah, wajah lelaki ini sungguh menyebalkan. Kenapa kemarin saat ada beberapa orang melakukan curamor padanya tidak di tusuk aja sekalian, biar gak tanggung tanggung, toh juga lumayan jadi tontonan gratis.
Ya, melodi bukan salah satu dari curamor itu, dia hanya tak sengaja saja lewat dan hampir tertabrak. Dan tiba tiba saja ada curamor alias pencurian motor yang menimpa Victor.
Victor yang merasa di kacangi mendesis emosi. Dan segera bangkit berdiri berjalan ke arah wanita itu lalu menarik lengannya kasar. "Tidak sadar dirikah kau? Sudah pelayan malah belagu. Makan apa kau sampai bisa sesombong ini huh? Nasi dengan garam? Cih!" Hina Victor.
Ya mau bagaimana lagi. Hari ini dia sudah emosi dengan perilaku Steve dan Venus kini malah si suguhkan dengan tingkah seorang pelayan yang sok hebat.
"Terserah." Wanita itu melepaskan tangan Victor darinya dan kembali membalikkan badannya meninggalkan Victor.
Set
Tubuh wanita itu kembali di tarik Victor, "Siapa atasanmu?! Aku ingin Berbicara padanya!"
Wanita itu menunjuk wajah Victor malas, "Punya mata kan?" Kemudian beralih menunjuk kaki, "Juga punya kaki. Ya cari sendiri, bocil ya sampai aku yang harus mencarinya untukmu?" Wanita itu terkekeh kecil merendahkan.
Sungguh tak tau diri!
Yang benar saja, wanita ini juga sudah bosan bekerja di sini, penghasilan sedikit tapi di tuntut pekerjaan ekstra, terutama harus menghadapi lelaki yang songong salah satunya seperti yang ada di hadapannya ini.
Victor melewati wanita itu sambil mendorong bahu wanita itu dengan bahunya kasar. Victor sungguh mencari pimpinan wanita ngeselin ini.
"Siapa bos kalian?" Tanya Victor dengan tatapan sinis pada salah satu pelayan lelaki.
"D-di sana pak." Katanya ketakutan melihat aura Victor yang mengintimidasi.
Victor segera menjumpai atasan mereka yang tengah mengerjakan laporan saat di jumpai oleh-nya.
"Pelayanan kalian sangat buruk. Apa ini di sebut pelayanan?" Kesal Victor.
Lelaki tambun itu segera bangkit berdiri dan menghadap Victor. "Maaf pak. Kami selalu memberikan pelayanan terbaik kami."
Terbaik katanya?
Victor mengorek telinganya malas, "Pelayan seperti menghina pelanggan itu maksudnya yang terbaik?"
Lelaki tambun itu terkaget, "Siapa yang melakukan itu pak. Maafkan saya kurang teliti melihat karyawan saya."
Victor berjalan sedikit ke luar kantor sang bos dan menunjuk wanita sombong itu. "Dia memaki dan menghina saya. Pecat dia atau akan saya buat tempat ini hancur seketika." Tekan Victor dengan tatapan bengis.
Lelaki tambun itu emosi, "Melodi!" Jerit lelaki itu memanggil wanita songong yang merupakan pelayan tadi.
Wanita itu dengan santainya jalan menghadap pria itu dengan tatapan datar.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu. Bertindaklah sopan terhadap pelayan!"
Melodi memutar bola matanya malas, "Ya usaha sih pecat aja. Aku juga malas kerja di sini."
Kalimat itu membuat semua pelayan terdiam.
"Intinya aku minta setengah gajiku bulan ini karena sudah bekerja sampai pertengahan bulan, bahkan lebih ya. Dan... Aku cuma mau bilang. Kurusin tu badan, banyak nampung dosa tu," hina Melodi.
F*ck! Wanita ini sungguh tak punya etika.
Lelaki tambun itu segera menarik tangan Melodi dan memberikan dia uang yang di maunya, "Pergi sekarang! Kau mempermalukan tempat ini dan akan mempermalukan setiap tempat yang kau tempati nantinya. Pergi! Dasar anak yatim tak tau diri!" Hina lelaki itu.
Sudah biasa menerima makian wanita itu mengedikkan bahunya acuh. Toh juga setiap orang bakalan mati kan? Dan juga orang tuanya pantas mati. Mereka selalu saja memperlihatkan Melodi seperti sampah dan menyiksanya, lebih baik mereka mati bukan?
Melodi dengan santai meninggalkan mereka. Malas menanggapi orang yang tak jelas seperti mereka.
Hm. Bodo amat.