
Venus menggeleng, "Jangan bercanda Steve. Aku tau kamu menyukai Lisa."
Venus segera membuka pintu dan keluar dari mobil Steve. Lelaki itu, dia selalu memporak porandakan hatinya. Dia tak mau kembali mencintai Steve dan kembali tersakiti.
Venus berlari masuk ke dalam kampus.
Steve ingin mengejarnya, namun dia takut Venus semakin kesal. Wanita itu tampak seperti sangat membencinya.
***
Pikiran Steve kacau, dia terus mengingat akan apa yang terjadi padanya, apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia perbuat untuk kembali mendekat pada Venus.
Pintu ruangan terbuka, Lisa masuk ke dalam ruangan Steve.
"Say-"
"Cukup." Kata Steve sambil mengangkat satu jarinya membuat Lisa diam.
"Aku tau aku salah sejak dari awal mengambil keputusan untuk berhubungan denganmu padahal di dalam hatiku bukan kamu." Kata Steve membuat Lisa terdiam.
"Aku mohon maaf atas kesalahanku. Tidak seharusnya aku membawamu lebih dalam mengenai hubungan pacaran, aku tidak mencintaimu Lisa." Kata Steve sambil menatap wajah itu yang kini menunduk.
Lisa tau, cepat atau lambat Steve akan sadar jika dia sebenarnya mencintai Venus. Tanpa di beritahu Lisa sudah tau maksud dari kata kata Steve itu terucap karena dia mencintai Venus.
Lisa sungguh tak terima. Tapi apa yang perlu di perbuatnya? Tidak ada yang bisa di perbuat nya.
Lisa mengangguk, "Tak apa jika kamu mau putus Steve, aku juga tak bisa paksakan. Perasaan tidak mungkin terpaksa." Jelas Lisa dengan berlinang air mata.
Dalam hati Lisa ingin membalas perbuatan Venus. Wanita itu tak bisa membuat dia hidup bahagia.
***
Venus pulang dengan cepat. Dia tak mau berjumpa dengan Steve, tidak dia tak ingin berjumpa dengannya.
Dia tak jadi pulang larut malam, jika dia pulang larut Steve akan menjemputnya.
"Venus pulang," salam Venus saat masuk ke dalam rumah.
"Hai Venus.." Ucap Mama Steve berjalan mendekati Venus yang membuat Venus kaget.
"Eh iya Tante," Venus bingung.
Kedua orang tuanya dan orang tua Steve ada di sini, dan yang membuat Venus makin kaget adalah Steve ada di sini!
"Kata Steve kamu pulang larut, ada tugas kampus katanya. Kenapa kamu pulang cepat?" Tanya Mama Venus menghampiri anaknya. Sedangkan kaum pria tetap duduk di ruangan tamu sambil memperhatikan ke Venus.
"Anu itu, gak jadi ma."
Mama Venus mengangguk, "Sudahlah tak perlu menunggu lama lagi. Kami sedang membahas pernikahan kalian. Semuanya sudah setuju, dan segala hal yang di perlukan sudah di persiapkan dengan matang. Bahkan Steve sudah menentukan tanggal terbaik kalian. Senin depan! Kamu senang kan sayang." Mama Venus memeluknya senang.
Venus melihat ke arah Steve tak percaya. Steve mengalihkan pandangannya, dia tau Venus takkan menyetujui tanggalnya dan bahkan pernikahannya. Maka dari itu Venus harus segera menjadi istrinya agar Venus seutuhnya menjadi miliknya bukan orang lain.
Dengan meyakinkan Orang tua Venus dan kedua orang tuanya Seven dapat membuat mereka pun menyetujui pendapatnya.
"T-tapi-"
"Stt... Sayang... Ikutin aja, semuanya akan berjalan lancar. Mama juga gak sabar lihat kalian beneran menjadi pasangan yang sah. Mama senang sekali sayang... Please jangan nolak ya, kalau mengenai kuliah kamu kan masih tetap kuliah, malahan bagus kan kalau Steve di dekat kamu selalu, Steve akan terus menjagamu." Jelas Mama Venus dengan mata berbinar.
"Iya sayang. Tante mohon, Tante juga ingin sekali ini semua terlaksana. Kamu jangan nolak ya.."
Mereka sudah bertindak jauh, dan jika Venus menolak mamanya bisa sangat kecewa, Venus tak bisa melihat Mamanya akan kecewa nanti.
Venus mengangguk.
"Sungguh?! Wah makasih sayang kamu setuju!" Mama Venus memeluk Venus erat sekali.
Dan malam ini di liputi kebahagiaan yang paling bahagia bagi setiap orang kecuali Venus.
***
Hari ini adalah Venus dan Steve akan hunting baju pernikahan bersamaan dengan itu akan melakukan sesi pemotretan.
Venus sedang mengganti pakaian di ruangan baju ganti.
Venus melihat dirinya, dia melihat baju yang sama dengan pernikahannya dulu. Baju ini sangat indah namun akhir pernikahannya sangat menderita.
Dia akan segera cerai dari Steve sebelum semua hal buruk akan terjadi. Venus meyakinkan dirinya untuk lebih sering untuk tidak berkomentar dan itu akan memperlama hidupnya bukan?
Venus keluar dari kamar ganti. Dia mengingat dulu bagaimana Steve sangat tak menyukai sesi ini dulu. Laki laki ini bahkan tak Sudi untuk memeluknya mesra dulu. Venuslah yang dulu memeluknya.
Dia yakin ini akan terjadi pula sekarang.
Venus berjalan ke arah Steve dan berdiri di sebelahnya, "Aku sudah selesai."
Steve berbalik dan melihat Venus,
Steve terdiam. Dia sangat terpesona dengan apa yang dia lihat.
"Aku tau aku bukanlah wanita yang kau harapkan ada di sebelahmu sekarang. Tapi percayalah ini takkan lama, kita akan segera bercerai nantinya, dan kau akan bebas." Venus menunduk. Rasanya sangat sedih, tapi Venus bingung kenapa dia harus bersedih, dia benci dirinya yang masih saja mencintai Steve padahal sudah tau akan bertepuk sebelah tangan.
Badan Venus tertarik kedepan. Steve yang melakukannya, lelaki itu memegang pinggang Venus membuat Venus kaget dan melihat ke atas menatap Steve.
"Cantik. Aku suka."
Deg!
Apa telinga Venus sedang rusak?
Dia tak salah dengar?
Venus mendorong Steve dan melepaskan pelukannya. Pasti wajahnya kini sudah sangat merah mendapatkan pujian dari mulut lelaki dingin ini.
Steve tersenyum dan kembali menarik pinggang Venus, Steve mendekatkan bibirnya di telinga Venus, "Kamu yang paling ku harapkan bersamaku sekarang. Tidak ada yang lain."
Jantung Venus berdegup kencang bahkan Steve dapat merasakannya. Tentu saja Steve sangat berbunga bunga merasakan detak kencang itu untuk dirinya.
"Tuan dan Nyo- Ah maafkan saya mengganggu kalian." Kata sang pekerja kaget saat memasuki ruangan Steve dan Venus yang tengah berpelukan.
Venus segera mendorong Steve lagi dan segera berjalan menjauhi Steve dan kemudian melihat ke arah pekerja itu, "Di mana tempat pemotretannya. Aku tak bisa lama lama dan akan pulang." Venus gelagapan.
"M-mari ikuti saya." Kata pekerja itu.
Venus langsung mengikuti. Steve tersenyum kecil dan mengikuti langkah Venus.
***
"Mbak lebih dekat lagi, lebih romantis mbak." Kata sang fotografer mengarahkan Venus yang dari tadi berdirinya berjarak sekali dengan Steve.
Steve tersenyum kecil dan kemudian menarik tangan Venus mengarahkan kedua tangan Venus melingkari lehernya sedang tangannya merangkup kedua pinggang Venus.
Steve sedikit menjatuhkan tubuh Venus agar sungguh bertumpu pada tangannya.
Menatap Venus dekat.
Venus menutup matanya takut membuat Steve gemas untuk ingin segera mencium bibirnya ini.
Sang Fotografer pun segera mengabadikan momen ini. Sangat cocok dan indah pada lensa kameranya. Sangat terharu terutama nyesek karena dia sendiri jomblo. Ckck, kasian banget fotografernya. Yang sabar ya..