
Victor tersenyum sendiri di kamarnya sambil menatap langit langit. Dia sangat senang bisa membantu Melodi terlebih lagi saat Melodi memeluknya, seperti ada aliran listrik yang mengalir dalam pelukannya itu.
Ada rasa senang, berdebar dan nyaman bergabung menjadi satu, dia sangat menyukainya.
Victor menoleh ke samping melihat hpnya, rasanya dia ingin mendengar selamat malam dari Melodi. Victor terkekeh singkat membayang betapa konyolnya dia. Victor mengambil hpnya dan menelpon Melodi, menunggu Melodi mengangkat telpon saja membuat jantungnya berdebar apa lagi mendengar suaranya.
"Iya Vic?" Kata Melodi saat menjawab telepon Victor.
"Kamu lagi ngapain?" Tanyanya sambil mencari topik lainnnya untuk memperpanjang telepon.
"Mau tidur, kenapa?"
Victor tersenyum kecil mengelus tengkuknya, "Gak ada apa apa sih. Cuma mau telponan doang sama kamu."
"Hm gitu."
"Iya,"
Tiba tiba Victor jadi canggung sendiri, apa lagi coba yang mau di bicarakan, soalnya biasanya dia jarang menelpon seseorang deluan apa lagi wanita, biasanya wanita itu yang berusaha cari topik untuk memperpanjang waktu percakapan soalnya.
"Mel, mau denger lagu?" tanya Victor segera membuat dirinya menggeplak kepalanya sendiri. Pertanyaan macam apa itu?
"Lagu?"
"Ah, i-iya. Lagu pengantar tidur," aduh, padahal Victor juga tak tau mau nyanyi apa. Semoga saja Melodi tak mau mendengar lagu.
Tak terdengar suara dari Melodi dalam beberapa saat kemudian dia mulai berbicara, "Baiklah."
Tuh kan. Gimana coba? Victor menggaruk kepalanya dan kemudian mulai bernyanyi apa saja yang ada di pikirannya sekarang,
"Malam ini, ku sendiri,
Tak ada yang, menemani,
Seperti, malam malam,
Yang sudah sudah,
Tuhan kirim.. kan lah... Aku,
Kekasih yang... Baik hati...,
Yang mencinta..i a..ku,
Apa a..danya..,"
Terdengar suara tawa kecil dari Melodi di seberang sana, "Ini mau nyanyi apa curhat," ledek Melodi membuat Victor jadi ikutan terkekeh.
"Dua duanya."
"Iya deh kalau gitu aku doain semoga terkabul," kata Melodi.
"Apanya yang terkabul?"
"Ya doanya. Tadi kan di lagunya minta biar di kirimin kekasih yang baik hati. Ya aku aminin semoga terkabul," ucapan Melodi membuat Victor tersenyum.
"Amin," balas Victor.
"MELODI!!!" terdengar suara orang lain dari sambungan telepon Melodi.
Suara orang memanggil Melodi.
"Siapa Mel?" Sontak suara itu membuat Victor bertanya tanya.
"Aku juga gak tau. Dari luar, sebentar," Melodi menjeda kalimatnya dan bangkit dari tempat tidur untuk melihat ke arah jendela.
"Andreas," sambung Melodi segera membuat Victor mengubah posisinya menjadi duduk.
"Siapa? Andreas? Mau apa dia datang?" Tanya Victor dengan memburu.
Terdengar senyap dari seberang sana, kemudian, "MEL, AKU RINDU KAMU!!"
Suara itu membuat Victor terbelalak dan bangkit dari tempat tidurnya, "Aku kesana!" Timpal Victor geram. Kenapa lelaki itu selalu menganggu Melodinya!
"Tak perlu kesini. Aku saja yang mengurusnya," Melodi menolak kedatangan Victor, dia tau kalau ada Victor akan terjadi perkelahian nantinya.
"Tapi Mel-"
"Aku bisa mengatasinya. Tak perlu kuatir dan percaya sama ku," potong Melodi setelah itu segera mematikan sambungan teleponnya.
Victor semakin tak tenang. Buat apa lelaki itu datang ke rumah Melodi malam malam? Apa yang mau di lakukannya pada Melodi?
Tidak. Sekalipun Melodi melarangnya dia akan tetap datang.
Victor tanpa menunggu lama langsung keluar rumahnya dan tancap gas menggunakan motornya.
Sampai di rumah Melodi terlihat pagar sudah terbuka, Victor melajukan motornya ke dalam.
Mata Victor memanas kala melihat Andreas tengah memeluk Melodi. Melodi melihat ke arah Victor begitu pun Andreas. Andreas menatap tajam Victor dan lebih mengeratkan pelukannya pada Melodi.
Hati Victor terbakar melihat kejadian ini. Victor turun dari motornya dan berjalan ke arah Andreas dan
Brugh!
Satu tinju tepat mengenai pipi Andreas. Victor menarik kerah Andreas dan kembali meninjunya,
Brugh!
Brugh!
Tak mau kalah Andreas menendang Victor dan balas meninju lelaki itu tak kalah kuat. Baku hantam tak terelakkan.
"Berhenti!!" Jerit Melodi tapi tetap saja tak di dengar mereka semua.
Melodi menarik tangan Victor dan tak sengaja Victor menyikut Melodi hingga terjatuh.
Victor dan Andreas yang bertengkar pun berhenti dan begitu panik melihat Melodi.
"Mel, maaf-"
"Diam," Melodi bangkit berdiri dan menatap tajam mereka, Melodi menatap ke arah Andreas, "Sudah ku katakan kita tak memiliki hubungan apapun-"
"Mel tapi aku masih mencintaimu," Andreas segera menyela kalimat Melodi membuat Melodi semakin geram.
"Jangan paksa aku dan pergilah." Tekan Melodi memantikan kalimat Andreas.
Tatapan Melodi semakin dingin dan menusuk, "Kau yang membuat aku membencimu. Paham."
Andreas mengepal erat tangannya, dia tertusuk dengan kalimat Melodi, Andreas pergi dan meninggalkan Melodi dengan geram. Ada rasa emosi karena merasa dirinya telah di campakkan oleh seorang wanita yang selama ini tak pernah dia rasakan.
Dan tinggallah Victor dan Melodi. Melodi melihat Victor dengan kesal, "Siapa yang menyuruhmu datang? Sudah ku katakan aku dapat mengurusnya sendiri."
Victor menundukkan kepalanya, "Aku hanya kuatir."
"Dan membuat keributan? Kau sangat dewasa." Cetus Melodi membuat Victor semakin tersudut.
Victor diam seperti anak kecil yang di marahi guru killer, sama sekali tak berkutik.
Melodi menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Melodi mendekati Victor, dia melihat sudut bibir Victor yang berdarah juga beberapa lebam di wajahnya.
Victor menatap Melodi sendu, dia sangat merasa bersalah, "Maaf."
Melodi menutup pagar dan menatap menoleh ke arah Victor, "Ikuti aku."
Victor mengikuti Melodi masuk ke dalam rumah. Melodi menunjuk ke arah kursi tamu, "Duduk di sana."
Victor pun mengikuti arahan Melodi. Victor duduk dan menunggu Melodi yang datang beberapa saat setelah mengambil sesuatu.
Kotak P3K dan juga baskom air hangat beserta kain di bawa Melodi.
Melodi meletakkan semuanya di meja dan duduk di sebelah Victor. Victor mengarahkan tubuhnya pada Melodi dan segera Melodi mengkompres wajah Victor.
Victor menatap Melodi yang begitu serius mengobatinya terasa sangat menghangatkan,
"Ss Aw," pekik Victor saat Melodi menekan bengkaknya.
"Lain kali bacok bacokan aja sekalian, biar lebih terasa," omel Melodi.
"Lihat bibirmu luka begini, pelipis mu lecet, pipimu bengkak. Gak ada faedahnya sama sekali tau gak." Melodi memarahi Victor sambil memberikan obat merah pada bagian lukanya.
Victor sedikit meringis namun kemudian tersenyum kecil. Omelan Melodi malah terdengar seperti kalimat sayang di telinga Victor.
"Malah senyum, memang ada yang lucu," Melodi jadi makin kesal.
Victor tak dapat menampik Melodi sangat imut jika marah marah seperti ini, candu sekali. Victor mengambil obat merah dan kapas dari tangan Melodi dan meletakkannya di atas meja. Victor memeluk Melodi erat sambil meletakkan kepalanya di atas bahu Melodi, "Tumben cerewet, biasanya kaya es." Ledek Victor.
Melodi menoleh melihat Victor, "Itu karena kau terlalu keras kepala." Mencubit perut Victor.
Victor terkekeh singkat,
Victor mengeratkan pelukannya dan berhenti tertawa, suasana menjadi lebih serius, "Aku tau kamu pasti benci banget sama Andreas. Aku tau rasanya itu Mel, mencintai tanpa di cinta."
"Tapi aku mohon sama kamu, kamu jangan terlarut dalam kesedihan itu, jangan sampai malah merusak diri kamu karena Andreas, aku yakin kamu bisa dapat yang lebih baik dari-"
"Tunggu sebentar," Melodi mendorong tubuh Victor dan mengerutkan keningnya, "Kau pikir aku selama ini depresi karena di selingkuhi Andreas?"
Victor balik menjadi bingung dengan pertanyaan Melodi, "Memang iya kan? Kamu sampai malam malam pergi ke Bar kemarin karena ingin meluapkan emosi kamu ke Andreas."
Melodi memutar bola matanya, "Kau tau, bahkan aku sama sekali tak memperdulikan perselingkuhan Andreas."
"Huh? K-kok bisa?" Victor semakin bingung.
Melodi menghembuskan nafas malas, "Karena aku tak pernah mencintainya."