My Different Wife

My Different Wife
Aku ada



Victor melajukan mobilnya. Nanti dulu bicaranya, setelah jauh dari tempat ini dan Melodi lebih tenang maka dia baru bertanya.


Victor mengantar Melodi ke rumahnya. Setelah sampai Victor mencoba membuka pagar, tapi terkunci.


Victor kembali masuk ke dalam mobil, "Mel kunci pagar di mana?"


Melodi tak menjawab. Dan nafasnya terasa teratur, dia sepertinya tertidur.


Victor mengusap wajah Melodi, matanya bengkak karena sedari tadi dia menangis, dia kelelahan.


Jelas tak mungkin Victor meninggalkan dia di luar pagar rumahnya bukan?


Victor memutuskan untuk membawanya ke rumah Victor sendiri. Setidaknya di sana lebih aman.


Sampai di rumah Victor dia membawa Melodi masuk ke kamar tamu dan meletakkan Melodi di sana.


Melodi mengeluh dan wajahnya mengekspresikan perasaan sangat marah namun juga sedih.


Victor yang tadinya ingin segera ke kamarnya jadi mengundurkan niatnya dan duduk di sebelah Melodi.


Victor mengelus kepala Melodi dan menghela nafas panjang, "Kau kenapa lagi sih? Kalau bertindak selalu di luar dugaan. Kalau saja aku tak datang pasti kau akan menjadi makan malam si b*rengsek tadi."


Melodi kembali menangis dan meracau, "Diam! Aku takkan membiarkanmu! Pergi!"


Victor merasa sangat sedih, baru kali ini dia melihat Melodi menangis dan sangat kacau, apa yang terjadi padanya masih menjadi misteri Victor.


Victor memutuskan membaringkan tubuhnya di sebelah Melodi dan memeluknya, "Mel, tenanglah. Aku ada di sini."


Melodi membuka matanya dan melihat Victor yang memeluknya, "Victor?"


Victor sedikit terkejut. Pasalnya dia takut Melodi jadi salah paham kalua saja dia kini sudah sadar.


Melodi kembali menangis. Victor merasa lega, sepertinya Melodi masih saja belum sadar.


Mata Victor terbelalak saat tangan Melodi membalas pelukannya hingga terasa begitu intim, "Mel?"


Melodi tak menjawab dan kembali tertidur.


Victor tersenyum kecil, dasar aneh.


Lelaki itu mengelus rambut Melodi dan semakin mengeratkan pelukannya. Tak di sangka pelukan Melodi mampu membuatnya merasa hangat dan nyaman.


Baru sana Victor mau menutup matanya, hp Melodi berdering.


Dari saku celananya, Victor mengambil hp itu dan melihat nama Andreas di sana,


Victor merasa sangat emosi, pasti ini semua ulah Andreas. Victor menutup hp Melodi dan kembali mengeratkan pelukannya senyaman mungkin untuk tertidur.


Hp itu kembali berdering membuat Victor geram. Apa yang mau di katakan Andreas?! Apa dia masih tak cukup membuat Melodi jadi seperti ini?!


Victor mengangkat telpon itu tanpa bersuara.


"Oh astaga Mel. Aku lega kamu angkat telpon aku."


Victor memutar bola matanya malas.


"Mel, tadi kamu salah paham Mel, percaya sama aku. Aku sama sekali gak ada hubungan apa apa dengan Raya. Yang kamu lihat itu bukan diriku yang sesungguhnya, aku hilaf Mel." Benarkan dugaan Victor, ini semua pasti salah Andreas.


Melodi mengeluh dan mempererat pelukannya. Victor tersenyum dan mengelus rambut Melodi, ntah ini sebuah keberuntungan atau tidak dia juga tak tau. Tapi hatinya rasanya begitu hangat di peluk Melodi seperti ini.


"Mel, aku melakukan itu bersama Raya itu semua karena dia yang menggodaku, aku sama sekali tak berniat apapun, aku pure karena hilaf. Maafkan aku kamu jadi melihat hal yang seharusnya tak kamu lihat."


Deg!


Victor terdiam dan kembali melihat Melodi,


Melodi?


Dia melihat Andreas sedang bercinta dengan wanita simpanannya di depan matanya sendiri?


Melodi pasti sangat terluka dan terpukul. Victor mengeraskan rahangnya dan sangat emosi tertahan.


"Mel, aku tak sampai ke intinya mel. Percayalah, yang aku cinta cuma kamu!"


Victor segera mematikan hp Melodi dan menonaktifkan hp Melodi.


Victor kembali menatap sedih Melodi, hatinya bahkan sangat terguncang dan perih membayangkan apa yang di rasakan Melodi.


"Apa ku katakan Mel. Andreas itu selingkuhin kamu, tapi kenapa kamu gak pernah percaya?" Tekan Victor pada Melodi.


Victor menghela nafas kasar dan mengeratkan pelukannya, "Percaya sama aku aja kenapa sih mel. Susah banget percayanya."


"Victor..." panggil Melodi dengan suara parau.


Victor menatap wajah Melodi dengan sangat dekat, "Jangan bicara lagi, kau sangat cerewet." Keluh Melodi dengan pelan.


Victor menggeleng kepala tak habis pikir, wanita ini sudah mabuk masih saja mengesalkan, "Aku? Cerewet?"


Melodi mengangguk, "Sangat."


Victor jadi makin kesal saja, mengingat betapa bodohnya Melodi yang ambruk hanya karena cinta seperti ini, "Dan kau? Kau itu lemah. Cuma gini aja langsung mabuk mabukan. Bego!"


"Apa bedanya denganmu? Kau kan juga suka mabuk?" Jawab Melodi masih dengan aura mabuk.


"Diem deh. Atau gak aku cium," tekan Victor tak terbantahkan.


Melodi menatap Victor dengan kesal dan mengerucutkan bibirnya. Dia tak suka di bentak. Tapi ini malah terlihat imut, sangat imut malahan. Sangat menggoda untuk di cium sungguhan.


Victor mengusap pipi Melodi yang merah karena kesal, "Makanya jangan ngeselin."


Melodi mengalihkan pandangannya dan tidur terlentang. Karena cukup lelah Melodi malah tertidur lagi.


Victor terkekeh singkat dan mendekatkan wajahnya melihat Melodi yang tertidur pulas, "Bukan kamu yang bego, tapi Andreas mel."


Victor kembali menyentuh rambut Melodi dan kemudian turun ke pipinya. Melodi terlalu mahal untuk di sakiti, "Mel, aku akan buat kamu merasakan kebahagiaan juga. Sama seperti yang kamu lakukan ke aku." Victor tersenyum kecil dan kemudian bangkit berdiri dan keluar dari kamarĀ  Melodi lalu menutupnya.


Wajah Victor kembali mengetat, dia harus membalaskan dendam Melodi pada Andreas, cepat atau lambat Andreas akan menyesal meninggalkan Melodi.


***


Victor terbangun karena mendengar suara bising di dapur. Seperti orang masak. Tapi, jam berapa ini?


Victor melihat jam wekernya, terlihat menunjukkan pukul 4 pagi. Victor menyerngitkan dahinya, "Bibi masak sepagi ini?" Batinnya.


Kantuk Victor hilang seketika setelah mencium aroma masakan yang sangat kental masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya masakan untuk sarapan pagi ini akan sangat lezat.


Victor bangkit dari tidurnya dan keluar kamar menuju dapur, dia penasaran sang bibi masak apa sekaligus untuk minum air putih karena tenggorokannya sangat kering.


Saat Victor keluar kamar dan jalan beberapa langkah Victor terkejut melihat sang bibi juga baru keluar kamar, "Bibi baru bangun?"


"I-iya Tuan, Tuan juga?"


Victor mengangguk dengan ekspresi bingung, kalau bukan bibi jadi siapa?


Victor melanjutkan langkahnya ke dapur begitu pun sang Bibi. Dan terlihatlah seorang wanita tengah memasak di sana, Victor tersenyum kecil dan menoleh ke arah Bibi yang di belakangnya, "Bibi kembali' saja ke kamar, saya masih ada keperluan di sini," jelas Victor.


Sang bibi mengangguk dan kembali ke kamarnya, dia tak tau siapa wanita itu, tapi baru kali ini Tuan Rumah ini mengundang wanita tapi tak sekamar dengannya.


Ya, tentu saja sang bibi tau kalau Victor adalah lelaki yang suka bermain dengan banyak wanita, dan setelah wanita yang di bawa ke sini pasti takkan pernah kembali. Ntah apa yang terjadi dengan wanita wanita sebelumnya itu, yang pasti sepertinya hubungan Tuan Victor dan wanita asing itu pasti sudah berakhir.


Kalau kalian berfikir wanita yang ke rumah Victor hanyalah wanita bayaran biasa. Tentu itu anggapan yang salah, wanita yang datang bukan sembarang wanita. Mereka wanita kelas atas yang berpendidikan tinggi yang cinta mati pada Victor. Sedangkan Victor, Victor bahkan tak pernah menganggap mereka ada, hanya sebagai hiburan saja.


Tapi ingat, Melodi berbeda, dia takkan melakukan itu pada Melodi. Dan sudah cukup rasanya dia bermain dengan wanita untuk sekarang.


"Pagi," sapa Victor dan berdiri di sebelah Melodi.


Melodi menoleh ke arah Victor, dan kembali fokus pada masakannya. Melodi tadi terbangun jam 2 pagi, dia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Melodi mengingat beberapa hal dan juga mengecek apakah ada yang aneh dari dirinya, apakah Victor melakukan sesuatu padanya. Dan syukurnya tidak ada.


"Makasih banyak," ucap Melodi tak menjawab sapaan Victor.


Dia mengingat bagaimana Victor menyelamatkannya dari lelaki tua yang ingin menjamahnya di bar kemarin.


Victor mengusap kepala Melodi, "It's okey."


Melodi tersenyum singkat dan tetap melanjutkan masaknya.