My Different Wife

My Different Wife
Mimpi



Victor kembali duduk dan menikmati wajah Steve yang tampak sangat jengkel padanya. "Tak perlu heran kawan. Aku selalu tau segala hal."


Victor mengambil kopinya dan menyeruput kopi itu sebelum dia kembali berbicara, "Tenang. Aku akan menjaga keluarga kecilmu. Terutama anakmu Steve," Victor tersenyum singkat.


"Dan..." Victor bangkit dari duduknya dan mendekati Steve, "Semoga selamat sampai tujuan." Sambung Victor dan meninggalkan Steve.


Steve menggenggam tangannya erat dan kemudian perlahan melemaskannya seraya menghembuskan nafasnya agar lebih tenang, "Steve perlu kau ingat. Venus itu lebih kuat dari pada yang kau pikirkan. Venus takkan tergoda dengan lelaki seperti itu seberapa besar pun dia mencoba mendekatinya." Steve menyemangati dirinya sambil berusaha untuk berfikir tenang. Mengingat bagaimana Venus yang selalu dapat menjauhi Victor dan selalu menolak berdekatan dengan lelaki itu, sudah tentu menjadi jawaban atas ketakutan Steve.


Venus dan dirinya saling mencintai satu sama lain seperti mencintai diri mereka sendiri. Mereka sama sama tak akan bisa tergoda, karena cinta mereka saling melengkapi. Ya, tak ada yang perlu di kuatirkan.


Steve kembali berjalan dan duduk di bangkunya, "Victor, dia takkan bisa melakukan apapun. Jangan harap dia bisa mendapatkan Venus. Tidak akan pernah," ucap Steve sambil kemudian melanjutkan tugasnya.


Sepulang bekerja Steve membereskan apa yang perlu dibawanya dan bergegas menuju halaman parkir. Saat sampai di sana dia kembali berjumpa dengan orang aneh yang membuatnya muak, "Hey," sapa Victor.


Steve memutar bola matanya malas. Dasar manusia bodoh.


Steve kembali melanjutkan langkahnya dan tetap diam. Dari pada menjawab ucapan Victor lebih baik dia simpan tenangnya untuk mengerjakan beberapa tugasnya di rumah nanti.


Victor tak terima di kacangi langsung mencegat Steve, Victor menatap tajam Steve dan menunjuknya, "Kau bukanlah tandingan ku Steve. Dalam beberapa hari akan ku buat Ven-"


"Lakukan saja. Kau takkan bisa merebut hatinya, kenapa? Karena hatinya sudah menjadi milikku dan hatiku sudah menjadi miliknya. Maka berusahalah dan kuatkan dirimu untuk gagal." Steve menepis tubuh Victor untuk menjauh dari pasangannya sontak membuat Steve membelalakkan matanya, "Apa kau bilang."


Steve tak menjawab dan segera masuk saja ke dalam mobilnya.


Victor berdecih. Dasar brengsek!


Steve melajukan mobilnya menuju kampus Venus, Venus menelpon Steve, "Yang aku sudah sampai di rumah. Mendingan kamu langsung ke rumah saja ya. Gak usah jemput aku ke kampus lagi." kata Venus.


Steve mengerti, "Baiklah, aku akan pulang."


Steve pun mengendarai mobil langsung ke rumah.


Setelah sampai, Steve dengan beberapa berbagai tugas kantornya masuk ke dalam rumah.


Steve membuka pintu kamar dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Venus yang baru saja menidurkan Angkasa pun masuk ke dalam kamar melihat sang suami yang masih sibuk. Venus mengusap wajah Steve dan kemudian rambutnya, "Aku buatin makan malam, ya?"


Steve menggeleng, "Aku tadi sudah makan malam sayang. Di kantor tadi." Jawab Steve.


"Kalau begitu, kamu mau aku buatin kopi apa teh?" Tanya Venus lagi.


Steve tersenyum, istrinya selalu perhatian padanya, "Teh saja, kalau kopi bisa bisa jadi bergadang. Sebentar lagi juga selesai kok ini,"


Venus mengangguk, "Sebentar ya."


Venus berjalan ke dalam dapur dan membuat teh dan juga menyediakan kue kering untuk Steve. Dia salut melihat sang suami, Steve selalu menjadi panutannya.


Dalam segala hal Steve selalu fokus dan mengenakan segalanya dengan serius hingga tuntas, hal itu semakin membuat Venus mencintai suaminya yang selalu melakukan hal sebaik mungkin untuk hasil yang terbaik pula.


Oleh sebab itu Venus pun harus menjadi wanita yang cekatan. Selalu ada buat suami dalam keadaan apapun hingga Steve akan merasa selalu di hargai dan di cintai.


Venus kembali ke kamar dan menghidangkan semuanya pada Steve, "Ini di minum dulu." Kata Venus sambil menyodorkan gelas ke Steve.


Steve mengambilnya dan menyeruput teh itu dengan nikmat, "Makasih sayang."


Venus tersenyum dan mengangguk, "Iya sayang."


Steve menggeleng dan mengusap wajah Venus lembut, "Gak udah sayang. Kamu tidur aja deluan, kamu pasti udah lelah seharian. Sebentar lagi aku selesai dan juga segera langsung tidur kok." Steve meyakinkan Venus.


Venus tak yakin pekerjaan itu akan selesai cepat. Begitu banyak berkas yang ada di sana, "Kamu yakin? Gak apa loh aku nunggu."


"Iya sayang aku yakin. Kamu tidur sana gih."


Venus pun menyerah, dia juga tak mungkin berdebat karena hal ini bukan? Steve pasti pun sudah lelah jika terus menerus berdialog dengannya.


Venus mengangguk dan memeluk Steve singkat, "Aku tidur luan ya. Kamu juga harus segera tidur. Jangan terlalu di porsir hari ini kalau tidak terlalu mendesak. Kasihan tubuh kamu." Sampaikan Venus pada Steve.


Steve mengangguk, "Tentu sayang."


Venus pun beranjak ke atas ranjang dan merebahkan diri di sana, Venus hanya dapat melihat punggung Steve yang tengah bekerja di meja yang tak jauh darinya. "Semangat suamiku," gumam Venus seraya menutup matanya.


Beberapa jam berlalu dan akhirnya semuanya selesai. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua pagi dan rasanya badan Steve sangat letih.


Steve membuka kemejanya dan merebahkan dirinya di sebelah Venus. Memeluk Venus dan mulai masuk kedalam mimpi.


Yang tadinya tak terjadi apapun kini terasa dia seperti terbangun, tapi tak tampak seperti dia berada dirumahnya. Ini kelihatan berbeda.


Dia melalui keramaian dan dan sedikit bergeser kala orang ramai hendak menyenggolnya karena memiliki urusan masing masing


Di saat itu Steve mencoba mencubit dirinya, dan tak terasa. Fiks ini adalah mimpi. Batin Steve.


Kemudian saat ada anak kecil berlari dan hendak menabraknya Steve tak sempat menghindar.


Bruk,


Anak itu terjatuh tepat saat menembus Steve. Steve membelalakkan matanya, bagaimana anak itu bisa menembusnya?


Sang ibu dari anak itu pun panik dan segera memeluk anak itu, dan lagi lagi Steve di tembus begitu saja.


Steve terdiam.


Steve kembali melihat ke arah orang orang sekitar. Mereka terlihat seperti biasa dan tak ada dari mereka yang tertembus satu sama lain.


Hanya dirinya sajalah yang seperti itu.


Steve hendak kembali melihat ke seseorang yang menembusnya tadi tapi mereka sudah menghilang.


Steve bingung, dan sangking bingungnya lelaki itu tiba tiba terbangun dari alam mimpinya.


Kepalanya terasa berat sesaat. Kemudian Steve kembali melihat Venus yang masih tertidur lelap.


Steve melihat ke arah jam, jam 3 pagi. Dia baru saja tertidur tetapi sudah mimpi hal aneh seperti itu.


Apa maksudnya?


Steve menggeleng, "Ah, itu hanyalah mimpi. Tak perlu di pikirkan."


Steve tak mau ambil pusing. Dia itu kembali menutup mata dan tertidur.