
Venus dan Steve kini berada di ruang tamu,
"Aku akan tidur di kamar tamu saja Steve, aku takkan menganggu istirahatmu." Kata Venus sambil membawa kopernya. Itulah yang terjadi saat Venus dulu menikah dengan Steve, Steve tak memperbolehkan dia untuk tidur sekamar dengannya.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sana? Kamu tidur bersamaku."
Deg!
"H-hu?" Venus bingung.
"Tidur denganku." Ulang Steve kembali membuat wajah Venus memerah.
Astaga. Ada apa dengan Steve?
Venus menggeleng, "Gak, kamu pasti sedang cape makanya bilang gitu. Kamu kan gak mau ada pengganggu."
"Kenapa? Aku ingin bersamamu. Siapa bilang kamu pengganggu?" Steve mengangkat koper Venus dan membawanya masuk ke dalam kamarnya,
Venus mengejar Steve dan menyamakan langkahnya, "Steve ak-"
"Kamu mandi saja deluan, di kamar ada kamar mandi. Aku mandi di kamar mandi yang lain. Paham?" Kata Steve memotong kalimat Venus
"Tapi-"
"Kenapa hm? Kamu mau mandi bareng?" Steve tersenyum miring nakal.
Venus segera menggeleng, "Kamu mandi di tempat lain saja." Kata Venus membuat Steve ingin tertawa melihat wajah Venus yang malu.
Steve melanjutkan langkahnya dan meletakkan baju Venus di dekat lemari Steve, "Bajunya tidak usah di susun dalam lemari. Ambil saja pakaian kamu untuk ganti baju kamu malam ini. Besok saja di susun, kamu nanti kelelahan."
Venus terdiam, memori dulu nya yang mengatakan bahwa Steve akan bertindak dingin padanya, tidak perduli terhadap kondisinya. Dan kenapa.. Steve sepeduli ini?
Steve mengambil bajunya dan segera keluar kamar untuk mandi di tempat lain.
Venus menggeleng, "Tidak, aku salah dengar. Dia pasti sedang kelelahan makanya dia bilang seperti itu."
Venus membuka kopernya,
Mata Venus terbelalak sambil mengeluarkan lingerie berbahan transparan.
Matanya berkedut dengan mulut ternganga. Venus mencampakkan baju itu, "Apa itu! A-aku tak pernah membelinya!
Venus kembali merogoh kopernya, dan ini sungguh gila. Semua pakaiannya berupa lingerie kurang bahan.
Teringat kembali kata kata Steve,
"Sudah di sediakan Mama di bagasi tadi. Semua peralatan dan keperluan kamu sudah di bawa"
"Mama..." Venus memegang memukul kepalanya, dia menyesalkan mempercayai mamanya menyusun bajunya. Seharusnya dia curiga karena sedari kemarin setelah menyusun keperluan, Mamanya masuk masuk ke kamar dan mengatakan akan membantu menyusun sisanya dan menyuruh Venus istirahat saja.
Dan lihatlah, apa yang di perbuat mamanya ini?!
Astaga...
Venus tak mau memakainya. Tidak!
Tapi ini sungguh sudah sangat panas dan gerah, seharian di acara tadi dan banyak menyapa para tamu sudah membuat keringatan terus. Tidak mungkin dia tidak mandi.
Astaga!
***
Steve masuk ke dalam kamar dan melihat Venus terkejut melihat dirinya. Wanita itu tampak gelisah dan panik dengan selimut menutupi tubuhnya hingga lehernya.
Steve tersenyum kecil sambil berjalan ke arah Venus, "Kenapa?"
Venus segera menggeleng, "K-kamu
Tidurnya agak jauhan ya. Dan aku pakai selimut ini semuanya, k-kalau kamu kedinginan juga ambil aja selimut yang baru. Jadi dia selimut di sini."
Steve bingung namun lucu melihat Venus. Hm, apa Venus ingin menundanya?
"Tidak aku tidak kedinginan. Tidak apa kamu yang pakai selimutnya." Kata Steve kemudian berbaring di sebelah Venus.
Venus menghembuskan nafas lega.
Sial sekali rasanya dia terpaksa menggunakan lingerie ini. Mau tidak mau dia harus memakai selimut untuk menutupi tubuhnya yang terpampang jelas ini bukan?
Venus bisa tenang sekarang.
Drett tit tit tit tit
Nada dering hp Venus berbunyi. Venus mencari cari keberadaan namun selimut ini menyusahkannya,
"Cari hp kamu ya?"
Venus mengangguk,
Steve membantu mencarikannya. Hp tersebut terus berbunyi menandakan sang penelepon ada hal yang penting ingin di sampaikan hingga terus menelponnya.
Tanpa di sadari selimut Venus lambat laun terpisah dari tubuhnya dan Venus mulai bangkit duduk mencari hpnya.
Steve terdiam sejenak melihat kemolekan tubuh Venus. Seketika dia langsung menegang.
'Apa sungguh Venus tak ingin melakukannya? Tapi kenapa dia memancingku?'
Kacau sekali pikiran Steve, fantasinya mulai bekerja. Padahal dia tak pernah merasakan hal ini pada wanita manapun sekali pun ada di hadapannya. Terbukti saat seorang klien pernah mengajaknya ke Club malam untuk membahas tentang kerja sekaligus have fun. But Steve sama sekali tak terangsang dengan satupun wanita di sana. Malahan muak.
Dan sekarang, apa? Kenapa dia bergairah?
Steve terus mendekat.
Venus mendapatkan hpnya dan dia tersenyum, saat di lihatnya nama yang ada di sana Venus jadi kesal. Itu mamanya! Karena Mamanya dia jadi pakai lingerie-
Wait lingerie?
Venus segera melihat tubuhnya yang sudah duduk dan melepas balutan selimut tadi.
Sial!
Steve memeluk Venus dengan bergairah, menyentuh tubuh Venus dan menyudutkannya di bagian atas ranjang yang menempel pada dinding hingga Venus tak dapat bergerak.
"I-ini bukan aku yang ingin memakainya. Ini ulah Mama yang mengeluarkan semua bajuku dan menggantinya dengan Lingerie. Bukan keren- Steve..." kalimat Venus terhenti dan beralih meremas rambut Steve merasakan tangan Steve dengan sensual masuk ke dalam lingerienya.
Steve mencium leher Venus dan berbisik, "Aku menyukainya."
Steve menatap Venus dan segera mencium bibirnya dan memperlahan melepas baju Venus untuk dapat menyentuhnya lebih menyeluruh.
Pikiran Venus seketika beralih pada saat Steve dulu membunuhnya, tersenyum miring dan puas melihat Venus menderita dengan keji.
Venus mendorong Steve membuat ciuman mereka terlepas. Venus menggeleng kemudian menangis, bayangan kelam itu terus menghantuinya. Dia takut sekali.
Venus menutup dirinya dan juga melipat kakinya di depan dada ketakutan, "J-jangan sentuh a-aku. J-jangan s-sakiti aku. K-Ku mohon.."Venus menangis dengan terisak dan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya dan sekujur tubuhnya.
Steve terdiam. Apa dia terlalu kasar padanya?
Apa sentuhannya tadi menyakitkan?
"Venus maafkan aku. Aku hanya-"
"Pergi Steve! Hiks hiks hiks. Jangan... Jangan..." Venus begitu sangat trauma.
Steve menatap Venus sendu. Dia sangat sedih melihat Venus seperti ini, ini salahnya yang tak mengerti situasi dan keadaan Venus. Seharusnya dia tak melakukannya malam ini dan menundanya.
Steve menjauhkan dirinya dari Venus dan turun dari ranjangnya. Steve menatap Venus dengan rasa sesal, "Maaf, aku akan tidur di tempat lain. Sekali lagi aku minta maaf Venus."
Steve keluar dari kamarnya dan pergi menuju kamar tamu. Lelaki itu membaringkan tubuhnya di sana dengan tatapan sangat sedih, "Aku sungguh terlalu menyakiti Venus. Sejak kecil aku menganggapnya musuh dan selalu menjauhinya. Padahal dia pun tak memiliki teman selain aku. Dan sekarang, aku sudah membuat dia menjadi sangat kecewa."
Steve membanting ke belakang kepalanya di atas bantal, "Dasar bodoh. Apa yang telah ku lakukan."