My Different Wife

My Different Wife
Hanya sebatas Kakak



catatan penulis:


Yuk yuk yuk di like dan beri tips. Terus dukung author ya biar makin semangat mengupdate ceritanya 🥰🥰🥰... love you all


---------------------------------------------------------------------------


Venus berlari tak tentu arah dengan kencang. Dia tak perduli apapun. Hatinya sungguh sakit dan sangat pedih.


Steve, bagaimana bisa satu orang lelaki itu bisa membuatnya merasa hancur seperti ini? Kenapa dia jadi seperti ini karena lelaki itu? Kenapa dia sangat mencintai lelaki itu hingga tak menyadari bahwa pandangan buruk lelaki itu yang selalu menyakitinya?!


Dasar Venus bodoh!


Bib!!!


Terdengar suara klakson yang sangat kencang. Venus menoleh dan melihat truk tangki bermuatan besar melaju kencang ke arahnya yang ternyata menyebrangi jalanan dengan lampu lalu lintas yang berwarna hijau.


Venus menutup matanya.


Set... Bukk


Venus merasakan sakit di bagian bahunya. Namun hanya bagian itu saja.


Venus perlahan membuka mataku dan melihat tangan seseorang tengah berada di sebelahnya menahan badannya dari aspal.


Venus menoleh dan melihat ke belakang, Venus menutup mulutnya takut. Steve pingsan karena menyelamatkannya.


"Tolong!!!!"


***


Venus berdiri di depan pintu kamar Steve yang sedari tadi di rawat di ruangan.


Dokter keluar dan segera Venus menghadap sang dokter, "B-bagaimana dok? Apakah dia baik baik saja?"


Sang dokter mengangguk, "Dia tak apa. Hanya saja tangannya terluka."


Venus menghembuskan nafas lega.


"Apakah saya bisa masuk dok?" Tanya Venus.


Sang dokter mengangguk mengijinkan, "Silahkan."


Venus segera masuk.


Venus melihat Steve yang menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.


Venus merasa bersalah dan berjalan ke arah Steve dengan menunduk. "Maaf menyusahkanmu." Ucap Venus tulus.


Steve sedikit bersyukur Venus baik baik saja, jika tidak apa yang akan di katakannya pada ayahnya nanti. Namun kemudian dia kembali memasang wajah datar dan membuang wajahnya malas.


Venus duduk di sebelah Steve.


Srek


Seketika terdengar suara pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Lisa yang panik dan berlari ke arah Steve. "Steve! Kenapa kamu jadi begini?! Kamu membuatku ketakutan Steve.." ucap wanita itu sambil menangis.


Steve tersenyum dan mengusap wajahnya lembut. "Sayang aku tak apa. Jangan mengkuatirkanku. Aku baik baik saja."


Venus melihat Steve dan Lisa hanya diam. Seperti layaknya seorang pemeran tambahan Venus hanya menonton keromantisan mereka saja.


Lisa memeluk Steve erat dan kekasih itu tampak saling menguatkan satu sama lain.


Venus kembali merundukkan kepalanya dan menyusap hidungnya. Kejadian ini sangat menyilaukan matanya dan menusuk hati kecilnya.


Tidak. Venus kau takkan cemburu lagi. Steve bukan milikmu dan kau bukan milik Steve.


Venus bangkit berdiri.


"Kau mau kemana?" Tanya Steve datar.


Lisa baru menyadari kehadiran Venus. Sedari tadi dia begitu panik akan Steve yang membuatnya tak melihat siapapun kecuali Steve.


"V-Venus.."


"Hm. Aku akan menunggu di luar." Jelas Venus.


Steve menahan Venus, "Jika aku membiarkanmu pergi kau akan melakukan hal yang sama dan siapa yang akan menolongmu nanti. Dasar bodoh."


Venus geram namun dia menahannya, "Aku tidak akan pergi. Aku berjanji."


Steve melihat Venus dengan tajam. Tampaknya Venus berkata sungguh sehingga dia melepaskan tangannya.


Venus keluar dan kemudian duduk di kursi tunggu di depan. Dia menghembuskan nafasnya berat dan kemudian mendongakkan kepalanya. Sungguh berat rasanya melihat hal ini. Sangat menyayat hati.


Venus melihat ke arah depan. "Aku akan melupakanmu Steve. Selama lamanya."


Steve keluar ruangan bersama Lisa, "Aku akan mengantar Lisa pulang. Baru akan mengantarmu pulang."


"Tidak Steve, tanganmu masih sakit. Lebih baik-"


"Ehem." Venus langsung memotong kalimat Lisa, "Aku pulang sendiri. Kau antarlah Steve sesuai keinginanmu." Jelas Venus.


Lisa terdiam. Apakah ini sungguh Venus? Wanita ini membiarkan Steve bersamanya?


"Ven-"


"Stt, aku sudah pesan ojek online. Kau tak perlu kuatir." Jelas Venus kemudian meninggalkan mereka.


Steve memperhatikan Venus yang meninggalkan mereka dalam diam. Apa ini benar dia?


***


Venus duduk di bangku belajarnya. Dia memperhatikan fotonya dan Steve sewaktu kecil. Di sini Steve tersenyum bahagia bersamanya. Membuat Venus tersenyum, ini foto pertama dirinya dengan Steve.


Kemudian foto berikut berikutnya wajah Steve yang riang tak nampak lagi. Wajahnya diam dan dingin, bahkan tak sekalipun dia melihat ke arah kamera.


Venus menutup album foto dan menyenderkan kepalanya di bahu kursi belajarnya. "Kini sudah berubah. Dan seterusnya akan berubah."


Dia tak boleh menyukai lelaki ini.


Venus bangkit dari duduknya dan melihat ke arah ranjang. Dia merebahkan dirinya di sana dan menutup matanya. Dia sungguh mengantuk dan lelah.


***


Venus masuk ke perpustakaan dengan tak bersemangat. Dia membaca buku nove yang kisahnya bahkan sangat menyedihkan, pemeran utamanya merelakan cintanya demi kebahagiaan sang cintanya dengan orang lain.


Apakah Venus harus lakukan itu juga?


Venus bangkit berdiri dan hendak mengembalikan buku ke dalam rak buku perpustakaan.


Set


Victor.


Kini mereka saling tatap. Victor melihat keadaan Venus dari atas sampai bawah kemudian membuang wajahnya dan kemudian pergi.


Venus melihat Victor dengan tatapan bingung, kenapa lelaki itu berjalan sedikit pincang?


Venus ingin bertanya. Namun, ah sudahlah, itu tak perlu di bahas.


***


Venus berjalan melewati halaman belakang menuju kelasnya, sekedar menenangkan pikiran melihat tanaman yang rindang dan udara yang lebih sejuk di bandingkan jika lewat depan.


Venus melihat Victor lagi di sini membuat dia terkejut.


Victor seperti tengah mengganti perban di kakinya. Apa yang terjadi pada nya?


Venus berjalan mendekati Victor dengan berhati hati.


Victor yang baru menyadari keberadaan Venus sedikit terkejut hingga Betadine yang ada di tangannya tadi terjatuh. "Ck." Victor berdecak kesal.


Venus mengambil Betadine itu dan memberikan Victor sambil memberikan Betadine sambil sedikit menunduk, "Ini."


Victor menepis tangan Venus, "Tak perlu."


Venus menyerngitkan dahinya saat melihat kaki Victor yang terdapat luka tersayat dan sedikit jahitan. "A-apa yang terjadi?" Venus yakin kemarin luka itu belum ada.


"Bukan urusanmu."


Victor bangkit berdiri dan meninggalkan Venus yang segera menegakkan diri.


"Akh!" Ringis Victor karena menggerakkan kakinya spontan.


Venus menegang bahu Victor, "Kau tak ap-"


"Sudah ku katakan ini bukan urusanmu. Jangan mempedulikanku dan urus saja tunanganmu itu." Kata Victor dengan tatapan tajam.


Victor kembali hendak berjalan lebih cepat, "Akh!" Lelaki itu kembali meringis.


Venus segera menahan tangannya, "Aku akan mengantarmu ke UKS sekarang. Setelah itu aku pastikan aku akan pergi."


Victor diam. Dia tak mau menolak lagi. Kakinya sungguh sakit sekarang.


***


"Aw, aw, pelan pelan." Victor kesakitan saat di obati Venus.


"Iya sabar. Sebentar lagi."


Venus segera membelit kaki Victor dengan kasa gulung dan kemudian merekatkannya di ujungnya. "Selesai."


Victor hanya diam.


"Itu luka kenapa?" Tanya Venus.


"Jatuh."


"Kok bisa?"


"Itu karena melihat mu hampir ketabrak kemarin dan-" Ucapan Victor terhenti karena barusan Victor mengatakannya tanpa sengaja.


"Pergilah." Sambungnya cepat sebelum Venus akan menghujamnya dengan banyak pertanyaan.


"Kecelakaan? Kau melihat itu? Dan bagaimana ini bisa terjadi?"


Victor mengumpat dalam hati. Kenapa dia bisa keceplosan seperti ini, kan jadi ketauan dari kemarin dia terus membuntuti Venus karena kuatir. Ck. Bodoh sekali.


"Tidak, kau salah dengar." Victor memalingkan wajahnya.


"Victor." Venus menuntut jawaban.


Ck. Lihatlah. Sekarang dia tak bisa berbohong lagi.


"Kakiku tersayat ujung besi tajam kemarin karena mengejarmu. Dan saat itu tunanganmu menolongmu." Victor menekan kata tunanganmu dengan kesal.


Venus terdiam. Padahal kemarin dia sangat kasar pada Victor, dan lelaki ini malah ingin menyelamatkannya.


"Kenapa hm? Kamu pasti berfikir aku pecundang bukan? Iya memang. Terserah mau bilang apa." Kesal Victor.


Venus menggeleng, "Tidak. Aku bahkan sangat meminta maaf padamu. Aku sudah menyakitimu. Maafkan aku. Ini semua karenaku." Venus menundukkan kepalanya.


Victor tersenyum kecil, kenapa wanita ini selalu membuatnya luluh. Kemudian Victor mengalihkan pandangannya acuh, "Hm."


Venus mendongak kepalanya, dia tak sangka Victor sangat baik. Sangat berbeda dari persepsinya di awal yang berfikir Viktor adalah lelaki yang buaya ternyata dia orang yang tulus.


Venus memeluk Victor seperti adik kecil memeluk kakaknya, "Makasih..."


Bluss


Seketika wajah Victor memerah melihat wajah manis Venus di hadapannya sambil memeluk dadanya dan memposisikan dirinya di antara kedua kakinya. Ingin sekali dia menerkam Venus.


"Kakak." Akhir kalimat Venus membuat fantasinya seketika jatuh.


"Kakak?" Kesal Victor tak terima.


Venus mengangguk,


"Gak. Aku gak mau jadi kakak." Kesal Victor.


"Ish. Ya udah." Venus melepaskan pelukannya dengan mencibirkan bibirnya malas.


Victor kembali menarik tangan Venus untuk kembali memeluknya. Ah biarlah di pikir sebagai kakak, sebentar lagi Victor akan membuat Venus menganggapnya sebagai seorang lelaki.


"Terus kamu kenapa menangis kemarin? Apa tunanganmu itu menyakitimu?" Tanya Victor.


Venus mengangguk, "Aku membencinya. Aku tak mau menikah dengannya. Dia itu jahat. Aku gak suka sama laki laki!" Kesal Venus membuat Victor terkekeh. Victor merasa dia memiliki peluang yang besar bukan?


"Apa kamu bodoh? Jika tidak dengan laki laki jadi sama siapa? Bencong?" Ledek Victor.


"Gak! Apaan! Lebih baik jomblo seumur hidup!" Venus merengek.


Victor mengusap rambut Venus, "Dasar idiot." Ledek Victor sambil tertawa.


Mereka jadi akrab seketika. Dan ini takkan di sia siakan oleh Victor. Dia akan mencari cara untuk dapat menempati hati Venus dan menjadi satu satunya di sana.