
Catatan penulis:
Hey yow! senang banget ya guys dari sekian lama akhirnya up juga! 😄👍
Btw jangan lupa di like dan vote ya.... thanks!
(Makin banyak like dan vote aku bakalan makin rajin up!)
------------------------------------------------------------------------
Melodi dengan berbalut luka pasca setelah pengobatan di rumah sakit segera melajukan mobilnya dengan tergesa gesa ke suatu tempat yang amat dia hendaki untuk meluapkan emosinya.
Brakk!
Pintu ruangan sang CEO terbanting dengan keras dan menampakkan wajah kaget alami sang CEO.
"Kau siapa?!" Bentak lelaki itu.
"Dasar lelaki berengsek! Apa kau tak punya otak sepeserpun huh?!" Melodi menatap tajam Victor.
Victor menatap datar Melodi mencoba mengenali wanita yang di hadapannya itu. Kemudian senyuman terbit ketika Victor mengenali Melodi. "Merindukan ku hm?"
Melodi berdecih dan segera menghampiri Victor. Melemparkan sekantung tebal map, "Uangmu. Ku kembalikan!"
Melodi menunjuk dahinya yang berbalut. "Ini terluka karenamu! Kau ingin mencelakakan anak Steve bukan?! Aku sudah tau!"
Victor terkekeh, "Aku? Siapa? Aku tak mengerti maksudmu." Ucap Victor pura pura bodoh.
Victor bangkit dari duduknya dan berdiri di sebelah Melodi. "Jangan asal menuduhku jika tak ada bukti... Atau aku akan memenjarakan mu karena penodaan nama baikku." Victor tersenyum miring.
Melodi menahan geramnya. Kalau saja dia kemarin memfoto Victor yang tengah memantau anak kecil itu dan dan memfoto siapa orang bayaran yang menabraknya, kemungkinan dia akan menang melawan Victor.
Namun kembali di pikirkan Melodi. Lelaki ini tampaknya memiliki kuasa untuk membalikkan hukum bukan? Ck. Sungguh sangat menyusahkan.
"Ambil uangnya sana. Tak berguna juga bagiku, kau lebih membutuhkannya. Kau kan miskin." Ucap Victor merendahkan.
Melodi terdiam. Sombong sekali mulut lelaki brengsek ini padanya. Apa dia tak tau Melodi kini sudah menjadi dokter terkenal berpenghasilan tinggi sekarang
Melodi membuang wajahnya dan tersenyum. "Makasih tapi aku tak membutuhkan uang dari manusia kotor sepertimu. Najis juga." Hina Melodi balik.
Victor tertohok. "Najis kau bilang?"
"Hm." Melodi membalikkan badannya dan meninggalkan Victor.
"Heh tunggu! Dasar kurang ajar!"
Melodi berjalan terus tanpa memperdulikan omelan Victor. Emang benar bukan Victor itu menjijikan? Apa yang salah dari perkataan Melodi.
Victor mempercepat langkahnya dan menarik tangan Melodi, "Kau pikir kau siapa huh?"
Melodi melepaskan tangannya dan menatap tajam Victor. "Ish. Alergi dengan pembinor."
Victor menautkan kedua alisnya bingung, "Siapa? Pembinor? Maksudnya?"
Melodi memutar bola matanya malas. "Perebut istri orang. Itu singkatan bodoh."
Victor terdiam kemudian terkekeh singkat. "Oh. Memang."
"Aneh." Cibir Melodi. "Seharusnya tuh ya, kau sadar itu perbuatan salah. Kalau udah sadar itu langsung di perbaiki kesalahannya dan melakukan hal yang lebih baik lagi." Sindir Melodi dengan penuh penekanan.
Victor mengangguk, "Salut juga. Baru kali ini kau ngomong panjang lebar samaku. Tapi sayangnya aku tak perduli."
Melodi memutar bola matanya malas dan pergi meninggalkan Victor.
Victor melihat kepergian Melodi dengan seketika merubah ekspresinya menjadi datar. "Tampaknya ada satu hal lagi yang harus di musnahkan."
***
Venus keluar dari kamar Angkasa yang kini telah tertidur pulas karena di dongengkan.
Belum sampai melodi membuka pintu kamar suatu tangan besar menariknya keluar dan memeluknya manja, "Dari tadi ngurusin anak mulu. Urusin suaminya kapan?"
"Steve." Melodi menekan kalimatnya memperingatkan Steve. Pasalnya sulit untuk membuat Angkasa tidur, jika Angkasa terbangun sia sia dia menidurkannya tadi.
Steve terkekeh singkat tak perduli. Lelaki itu menutup pintu kamar Angkasa dan menggendong sang istri masuk ke dalam kamar mereka dan menguncinya.
Venus menutup mata, "Sayang aku capek. Mau tidur. Kamu tidur juga gih sana." Sengaja Venus.
Seketika Steve merengek, "Ih kamu. Kan aku mau mesra mesraan. Udah di tunggui juga tadi."
Venus mengelus kepala Steve. "Mau apa hm?"
"Cium, peluk, elus, dan..." Steve menggantung kalimatnya di gantikan dengan senyuman kecil, "Terbang..."
"Ya ampun sayang. Kalau mau naik pesawat sekarang? Jangan aneh aneh sayang." Kekeh Venus.
Steve mendesis kesal, dia tau istrinya tengah mengerjainya. "Yang..."
Venus terkekeh dan mengangguk.
Steve tersenyum dan mencium bibir Venus dan memperdalam ciumannya. Terus begitu hingga mulai dengan permainan mereka. Malam yang dingin kini menjadi panas dan terasa begitu nikmat.
Steve tersenyum kecil sambil mengontrol nafasnya setelah menyudahi permainan. Memeluk wanitanya erat dan menutup tubuh mereka dengan selimut. "Makasih sayang." Ucap Steve dengan diakhiri dengan kecupan di dahi Venus.
"Sama sama sayang." Jawab Venus sambil tersenyum.
Venus terlebih dahulu terlelap sedangkan Steve belum. Steve mengelus rambut Venus dan kemudian wajah pipi leher hingga turun ke pinggul Venus, "Venusku."
Steve terkekeh dan mengeratkan pelukannya.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Cuma aku yang bisa mencintaimu Sayang. Tidak yang lain." Timpalnya dengan senyuman yang tak pernah luntur dari raut wajahnya.
Namun perlahan senyuman itu memudar, seperti ada hal yang mengganjal di hatinya. Seperti ada suatu hal buruk yang akan terjadi padanya dan juga keluarganya ntah itu apa. Terutama saat kejadian kecelakaan Angkasa. Sangat ganjal.
Dan wanita yang menolong anaknya terlihat familiar namun saat di tanya siapa wanita itu dia mengatakan sama sekali tak mengenal mereka.
Terus kenapa dia rela menolong anaknya? Hanya karena sifat sosial semata?
Sudahlah. Intinya dia harus lebih teliti lagi dengan keluarganya.
***
Setelah menyiapkan sarapan pagi Venus pun menyajikannya di meja makan dan segera di santap oleh Angkasa dan Steve begitu pun Venus juga memakan sarapannya.
Setelah sarapan pagi kedua orang tua itu mengantarkan anaknya ke sekolah dan setelahnya Steve mengantar Venus ke kampus. "Nanti pulang aku jemput ya sayang." Putus Steve tanpa ada penolakan.
Venus mengangguk, "Iya sayang..."
Steve tersenyum mendengar kalimat Venus dan memeluknya, "Jangan lirik sana sini, suamimu lebih ganteng. Paham?" Ucap Steve narsis membuat Venus mendelik.
"Apaan. Pede banget." Cibir Venus.
Steve terkekeh dan menciumi pipi istrinya, "Iya dong. Aku juga gak lihat sana sini, kan aku punya istri yang cantiknya pake banget. Ngapain liat sana sini lagi?"
Mereka berdua tertawa renyah terlihat sangat romantis.
"Ya udah aku masuk ke kampus ya. Kamu lanjut kerja gih."
"Iya sayang."
Venus mencium tangan suaminya untuk pamit dan kemudian keluar dari mobil untuk berkuliah sedangkan Steve berangkat menuju kantornya.
Saat masuk ke dalam kantor Steve melihat ada seseorang asing yang duduk di kursi tamu.
Steve berdecak malas. Lihatlah, bagaimana penjaga ruangan ini begitu teledor membiarkan orang asing masuk ke dalam ruangan kantornya. Dan bisa di pastikan sebentar lagi Andi -penjaga ruangan- akan di pecat hari ini juga.
"Kau siapa?! Lancang sekali!" Geram Steve.
Lelaki itu membalikkan badannya dan melihat Steve dengan senyuman miring. "Hai. Lama tidak berjumpa."
Melihat lelaki ini saja sudah membuat Steve seketika naik pitam. Sudah lama sekali dia menghilang kini kembali untuk menghancurkan sesuatu yang sudah di bangun dengan susah payah.
"Ah... Kau lupa dengan ku? Hahaha, tentu saja, kau kan sudah tua. Makanya sadar umurlah, udah tua malah nikah sama daun muda lagi. Ckckc. Menjijikan." Victor terkekeh menyindir Steve.
Tua katanya? Mereka hanya terpaut jarak beberapa tahun. Dan itu yang di katakan tua?
Steve hanya memilih diam dan memutar bola matanya malas. "Pergi dari sini." Tekan Steve.
Bukan malah pergi Victor malah semakin menantang, "Ya aku akan pergi dari sini. Bahkan dari negara ini. Tapi bersama dengan Venus. Dia milikku."