
Beberapa hari pun berlalu, dan hari ini saatnya dia pergi untuk menyalakan hubungan kerja samanya di luar negeri. Sekarang saatnya mereka berangkat.
"Daddy!!!" Panggil Angkasa sambil memeluk Steve.
Steve tersenyum kecil melihat Angkasa yang terlihat sangat lucu.
Anak kecil itu merasakan ketakutan jika sang Daddy akan pergi jauh darinya.
"Daddy harus cepat pulang," Angkasa mengerucutkan bibirnya. Walaupun dia sering kesal dengan sang Daddy, tapi dalam lubuk hatinya dia juga menyayangi Daddynya. Dia berharap agar sang Daddy ke rumah lebih cepat dan bermain lagi dengannya.
Steve mengangguk dan menggendong Angkasa, "Iya jagoan. Nanti Daddy pulang banyak bawa mainan. Kita akan main bareng."
Angkasa mengeratkan pelukan Steve. Matanya sudah panas sudah ingin menangis, tapi Angkasa terlalu jaim untuk menangis, dia seorang lelaki kan? Lelaki tak boleh menangis.
Venus mengusap wajah Angkasa, dia tau anaknya ini pasti berusaha tegar di hadapan sang Daddy. Terlihat kecil tapi pikirannya terlalu dewasa.
"Ya udah. Ayo antar Daddy ke bandara ya. Sebentar lagi pesawat Daddy mau terbang," Ucap Steve dengan senyuman yang merekah walaupun sangat bertolak belakang dengan hatinya.
Venus mengangguk dan mengambil alih untuk menggendong Angkasa. Tapi Angkasa, mengeratkan pelukannya pada Steve, "Mau sama Daddy."
Steve tersenyum kecil melihat putranya ini. Giliran mau pergi saja baru rindu, dari dulu kemana sana? Steve melihat ke arah Venus sang mengangguk, "Biar aku saja yang gendong."
Venus tersenyum, "Baiklah.
Mereka pun pergi bersama menggunakan mobil.
***
Steve yang masih setia menggendong Angkasa menatap anaknya dengan dalam, "Nak, Daddy titip Mommy ya. Jangain Mommy, jangan nakal nakal, belajar yang bener. Paham?" Jelas Steve.
Angkasa yang dari tadi menahan dirinya untuk tidak menangis pun tak kuasa menahan air matanya yang menetes, "Iya dad! Angkasa janji!"
Steve tersenyum bangga pada anaknya. Begitupun setelahnya Steve menurunkan Angkasa dan memeluk Venus, mencium pipi Venus dan kembali memeluknya erat, "Maafin aku harus pergi ninggalin kamu sendiri dengan Angkasa. Tapi aku tau kamu pasti bisa melakukan apapun tanpa aku," kata Steve dengan suara parau.
Venus merasa ada yang janggal dari kalimat Steve. Steve sendiri pun tak tau kenapa mengatakan hal ini. Tapi dia rasa ini harus di katakannya, "Dalam sebulan kamu pasti akan pulang sayang. Kenapa kamu harus minta maaf gitu," Venus mengingatkan Steve dan mengusap pipi Steve.
Steve mengangguk, "Tentu saja aku akan kembali." Steve tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya.
"Baiklah Daddy mau pergi dulu. Jaga diri kalian baik baik ya..." Pamit Steve sebelum dia berangkat.
Venus sambil menggendong Angkasa mengangguk dan melambaikan tangan, "Hati hati Daddy..." Ucap mereka serempak.
Steve pun pergi dengan membawa kopernya dan pergi meninggalkan mereka. Angkasa melihat kepergian Daddynya jadi merasa sangat sedih, baru saja beberapa menit rasanya dia sudah kesepian.
"Mom, Angkasa rindu Daddy." Adu Angkasa.
Venus terkekeh singkat, "Iya sayang, Mommy juga bakalan kangen sama Daddy. Tapi kamu tenang saja, Daddy pasti kembali. Dan kita... Kita akan berkumpul bersama lagi."
Angkasa mengangguk dan memeluk Mommynya.
Venus pun segera berjalan keluar bandara untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sebelum itu Venus hendak pergi berbelanja beberapa barang pokok dan juga persediaan makanan yang hampir habis di rumah. Jadi dia memutuskan untuk ke Mall sebelum pulang.
Venus mengendarai mobil Steve dan segera menuju tempat tujuannya.
Sesampainya di sana Venus memarkirkan mobilnya dan kemudian bersama Angkasa masuk ke dalam Mall. Di sana Angkasa yang biasanya antusias ntah kenapa jadi pendiam. Efek di tinggal Steve langsung terasa di hati Angkasa.
"Sayang, kamu mau beli mainan gak?" Tanya Venus membuat Angkasa tersadar dan kemudian menggeleng,
"Gak mom," jawab anak itu lemas.
Venus tersenyum kecut dan berlutut menyamakan tinggi tubuhnya dengan Angkasa, "Angkasa, kamu kenapa sayang? Jangan cemberut gitu. Mommy tau kamu pasti sedang merasa kosong karena Daddy lagi kerja ke luar kan? Gak apa sayang. Kan ada Mommy. Lagi pula... Daddy kan cuma sebulan di sana, setelah itu Daddy akan kembali. Jadi jangan sedih begitu." Venus menyemangati anaknya lagi.
Angkasa menarik nafas dalam dalam dan kemudian menghembuskannya, "Iya Mommy. Angkasa harus semangat!" Angkasa menaikkan kedua tangannya dengan berapi api.
Venus kembali berdiri dan menggenggam tangan Angkasa memasuki pusat perbelanjaan.
Tangan Venus mengambil troli dan menaikkan Angkasa di atas sana. "Angkasa yakin gak mau beli sesuatu?"
Angkasa menempelkan tangannya di dagu sambil berfikir, "Angkasa gak mau mainan, tapi Angkasa mau eskrim!" Kata Angkasa.
Venus mengangguk, "Baiklah. Sekarang kita akan membeli Eskrim yang banyak. Jadi bisa makan sepuasnya!"
Angkasa mengangguk antusias, "Mommy memang The Best!" Girang Angkasa.
Troli pun di dorong ke arah tempat rak es krim berada.
Saat menemukan es krim yang sesuai dengan kesenangan Angkasa, Venus mengambilnya. Namun tangan Venus terlambat mengambil ember es krim rasa vanilla yang tersisa satu di sana.
Venus menoleh ke orang yang mengambil es krim yang seharusnya jadi miliknya itu.
Deg!
"Venus?" Sapa orang itu seperti memastikan apa yang di lihatnya adalah sungguh orang yang di maksud.
Venus menjadi sangat kikuk, "Oh hai. Em, sepertinya aku harus-"
"Eh jangan pergi dulu," tahan orang itu dengan senyuman sangat manis.
"Hai Angkasa," sapanya pada Angkasa yang terlihat jutek karena es krimnya telah pindah tangan.
"Om siapa? Minta es krim aku Om!" Angkasa mengulurkan tangannya membuat lelaki itu terkekeh singkat.
Lucu melihat Angkasa? Tentu tidak, dua hanya senang akhirnya dapat bertemu Venus.
"Aku Victor. Teman Papa dan Mama kamu," Victor memperkenalkan dirinya pada Angkasa.
"Kalau kamu mau eskrimnya, ya udah ini untuk kamu. Om traktir." Ujar Victor segera membuat Angkasa senang.
Venus segera mengambil Es krim itu yang hendak di serahkan ke Angkasa. Venus mengembalikan es krim itu pada Victor, "Kami cari es krim yang lain saja. Lagi pula kami sedang terburu-buru. Maaf tak bisa lama."
Victor kembali menarik tangan Venus, "Jangan dong. Angkasa pingin banget makan eskrim kan? Jangan di larang gitu."
Victor kembali mengambil Es krim dan memberikannya pada Angkasa. "Om akan belikan semua ala yang kamu mau Angkasa, tapi janji sama Om, kita harus sering main juga."
Angkasa menatap datar Victor. Angkasa tak suka dengan orang yang sok kenal sok dekat, rasanya risih saja.
"Angkasa gak bisa. Angkasa harus sekolah dan itu lebih penting dari pada bermain." Jelas anak kecil itu bijak.
Victor mengangguk dan mendekatkan wajahnya pada Angkasa, "Kalau gitu aku punya cara lebih serius. Kita akan bermain dan juga belajar secara langsung. Dan itu akan menyenangkan dan membuat ku lebih mudah mengerjakan tugas dari gurumu tau."
Venus segera memutar trolinya, dia takut anaknya terpengaruh, "Maaf Vic, banyak yang harus kami kerjakan." Venus segera pergi meninggalkan Victor.
Victor tersenyum miring, "Ini akan jadi lebih mudah."
Kala Venus selesai berbelanja Venus pun segera menuju kak kasir dan sekarang mulai mengeluarkan barang itu dan melihat betapa pengeluarannya.
"Berapa Mbak?"
"Gratis Bu, tadi udah di bayar sama beliau, bahkan uang yang di berikannya sangat berlebihan." Kata wanita kasir itu.
Venus membelalakkan matanya, dia harus lebih menjauhi Victor.
"Gak mbak. uang lelaki itu buat mbak aja. Saya bayar sendiri barang saya."
"Tapi Bu-"
"Gak mbak. Pokoknya harus pakai uang saya!"