
"Girang bener perasaan. Makan apaan kau sampai kuat senyum gitu dari pagi." Kata Dini meledek sambil tetap berjalan mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka tempati kala mereka makan siang.
Venus yang tersenyum lebar sambil sedikit tertawa, "Ah masa. Perasaan biasa aja."
Dini bergidik ngeri sambil mengambil kentang goreng yang ada di nampan Venus dan menyosornya langsung ke mulut Venus membuat Venus segera menutup mulutnya menahan kentang goreng itu.
"Em, lumayan," Venus mengunyah kentang membuat Dini semakin keheranan.
"Butuh obat kayaknya." Ujar Dini pada dirinya sendiri bermaksud menyindir Venus.
Venus merangkul Dini membuat Dini mengeratkan pegangannya pada nampan makanannya agar tidak terjatuh, "Kamu tuh ya. Suka banget ngeledek temen sendiri. Ini nih ciri ciri orang iri dengki." Venus tersenyum miring.
Dini menggerakkan bahunya yang di rangkul Venus ke belakang, "Geser, barat tu tangan, merasa bopong kaki gajah aku." Dini memutar bola matanya malas.
Venus terkekeh dan mencubit pipi Dini, "Udah... Gitu aja ngambek. Dasar cewek,"
"Idih. Kaya gak cewe aja."
Venus tersenyum, "Iya... Becanda bestiii,"
Venus tertawa sendiri sedangkan Dini menggeleng tak mengerti. Apa yang terjadi pada otak sahabatnya ini? Well, memang dia tau Venus itu otaknya cuma setengah, tapi ini terlihat lebih aneh.
Kemudian Dini tersenyum miring, "Ah... Aku tau nih..."
Venus melihat ke arah Dini, "Apa memangnya?"
Dini mengangguk dan mengalihkan wajahnya, "Pasti gara gara jalan bareng Victor yaa..." Wajah Venus seketika berhenti tersenyum.
"Apaan. Gak tuh."
Brukk
Venus menabrak seseorang membuat jus jeruk yang ada di nampannya jatuh ke depan dan mengenai baju orang yang ada di hadapannya itu.
Venus segera meletakkan nampannya di meja terdekat dan menghapus jejak jus itu pada baju orang yang di hadapannya, "Aduh... Maaf maaf. Aku gak- Victor?" Venus terkejut melihat Victor yang ada di hadapannya.
Victor tersenyum dan mengambil tissue yang ada di tangan Venus, "Tak apa. Hanya kena sedikit. Santai saja." Kata Victor dengan tenang.
Venus memicingkan matanya. Bukankah seharusnya Victor marah padanya? Maksudnya, Victor kemarin terlihat tidak menyukai hubungan Venus dan Steve membuat dia jadi terlihat marah dan kesal pada dirinya. Bagaimana bisa esok harinya dia malah bisa tersenyum melihat Venus?
"Venus? Ada apa?" Tanya Victor membuat lamunan Venus membuyar.
"T-tidak ada." Jawab Venus. "Kalau begitu aku deluan," Sambung Venus tak mau memperpanjang pembicaraan.
Tep
Tangan Venus di tahan Victor, "Hm, bisa minta waktunya sebentar. Ada yang mau aku bicarakan."
"Maaf aku-"
Segera Dini menepuk nepuk Venus membuat Venus melihat ke arahnya, "Santai Besti. Aku ngerti kok, kalian ngomong berdua aja. Aku luan ya... Byee," Dini langsung meluncur pergi dengan senyuman aneh.
Venus mendengus melihat sahabatnya itu malah meninggalkannya di saat seperti ini. Ck. Dasar Dini menyebalkan!
"Sebentar saja." Victor memohon.
Venus mengangguk dan kemudian mereka pun pergi ke sana.
Victor duduk di bangku taman dan menepuk kursi yang ada di sebelahnya, "Duduklah di sini."
Venus pun duduk di sebelahnya, "Ada apa? Aku tidak bisa lama lama." kata Venus to the point.
Victor mengangguk dan kemudian menekan sesuatu di ponselnya lalu mematikannya dan kembali melihat ke arah Venus, "Venus. Ada satu hal yang mau ku katakan."
"Apa kamu sungguh mencintai Steve dan sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku?" Tanya Victor dengan tatapan penuh arti.
"Apa maksudmu?" Tanya Venus dengan tatapan tidak suka.
"Apa kamu tidak ingat bagaimana kita menghabiskan waktu bersama? Apa kamu melupakan itu semua? Apa kamu yakin cinta kamu ke Steve adalah cinta sejati bukan hanya sekedar rasa ingin memiliki dan membuangnya saja?"
Victor menggenggam tangan Venus, "Aku, aku tau Venus. Steve telah membuatmu merasakan cinta pertama. Aku tau kamu kini bahagia karena sesuatu yang kamu anggap itu rasa cinta kini terbalaskan. Namun,... apa kamu yakin yang terbalaskan itu cinta bukan ambisi?"
Deg!
Kata kata itu sangat menohok dirinya. Seperti terkena suatu tamparan mengenai batinnya.
Ambisi? Dia memang mencintai Steve dulu karena ambisi. Venus sangat menginginkan Steve dulu hingga membuat dia menjadi monster di mata setiap orang yang mengenalnya, Venus sangat posesif, pemarah, dan bahkan tak membiarkan Steve bebas dan bernapas dengan baik jika berada di dekatnya.
"Kamu tidak bisa menjawabnya bukan? Karena yang ku katakan ini fakta Venus." Victor menjeda kalimatnya sebelum kembali berucap, "Kamu tidak mencintainya. Kamu bukan mencintainya dari dalam hatimu Venus." Kata Victor dengan tatapan mendalam.
"Katakan padaku. Bukankah aku yang selalu membuatku bahagia? Bukankah kamu selalu merasa nyaman denganku? Bukankah kamu mencariku di saat kamu merasa tidak ada lagi seseorang yang bisa memberi mu perhatian? Itu aku Venus... Itu aku." Victor menggenggam tangan Venus.
Venus melepaskan tangan Victor menyadari lelaki ini mulai mencoba mencuci otaknya dengan perkataan gila, "Apa ini maksudmu memanggilku ke sini? Untuk membuatku semakin berfikir buruk dengan segala omong kosong mu Victor?"
Venus menggeleng dan menatap tajam lelaki itu dengan tatapan menusuk, "Lupakan aku dan tinggalkan aku. Jangan pernah menggangguku lagi dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku."
Deg!
Victor terdiam. Kini Venus terlihat bukan seperti Venus yang dia kenal, "Apa yang dia lakukan padamu Venus? Apa yang dilakukannya hingga pikiranmu menjadi berubah dan kacau seperti sekarang?"
Venus bangkit berdiri namun tangan Victor menahannya, "Jangan bermain main denganku Venus. Kamu sudah masuk ke dalam hidupku dan aku takkan membiarkanmu pergi seenaknya." Tekan Victor dengan begitu bengis sambil menggenggam lengan Venus yang membuat dia merasakan sakit yang luar biasa pada pergelangan tangannya.
"Lepaskan! Sakit.." Tangan Venus menjadi sangat sakit.
Deg!
Victor seketika Victor ingin melepaskan tangan Venus merasa bersalah, namun tidak. Dia tidak mau Venus lepas darinya.
"Tidakkah kamu mengerti Venus? Tidakkah kamu tau bagaimana perasaanku? Aku merasakan kesakitan yang lebih dari pada apapun." Victor menarik tangan Venus dan memeluknya. "Aku sangat menyayangimu, bagaimana lagi aku mengatakannya padamu huh? Bagaimana aku bisa membuatmu tau bagaimana cintaku lebih besar dari padanya? Apakah perhatianku ini menurutmu kurang sayang.. apa yang kurang katakan saja. Akan aku berikan semuanya. Seluruhnya dari padaku akan ku berikan padamu."
Victor merasakan sesak dalam dadanya, sulit sekali membuat Venus mengerti bagaimana dia sungguh mencintainya bahkan melebihi nyawanya sendiri.
"Lepaskan Victor. Kita tidak bisa terus seperti ini. Ku mohon mengertilah." Ujar Victor dengan suara parau.
Venus menggeleng, "Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku mencintai Steve, aku mencintainya." Venus melepaskan pelukan dari pada Victor dan pergi meninggalkan Victor.
Victor menggenggam tangannya erat karena tersulut emosi dan perasaan kecewa.
Kemudian beberapa saat kemudian dia tersenyum miring, "Aku akan memilikimu bagaimanapun caranya."