
Catatan penulis:
3 part up! semoga bisa mengobati rasa rindu ya cinta cinta aku... 😆
Â
Venus melihat ke arah Steve yang tampaknya sangat bad mood sedari tadi. Lihatlah, dia mengendarai mobil dengan wajah masam hingga sampai di rumah.
Steve menoleh ke arah Venus dengan wajah kesal. Tidak bicara apapun hanya menatap. Venus yang di tatap juga bingung mau apa.
Steve memeluk Venus hingga terduduk di atas ranjang. Lelaki bertubuh tegap itu meraup tubuh mungil Venus,
"Steve?" Panggil Venus
Steve tidak menjawab hanya terdengar suara deru nafasnya yang berat dan kasar.
"Sayang?" Panggil Venus lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Begitulah Steve, kalau badmood malah diam.
Venus menaikkan wajah dan menatap wajah lelaki itu yang sedang cemberut. "Kenapa sayang?"
Tak menjawab Steve menciumi pipi Venus dan kemudian bibirnya beberapa kali, "Jangan tinggalin aku. Jangan lirik pria manapun. Hanya aku."
Venus terkekeh. Jadi dari tadi cemburu?
"Aku sayang sama kamu doang... Gak ada yang lain." Jelas Venus.
Steve mengangguk dan kembali mencium istrinya, "Hm."
Venus tersenyum, "Ya udah, kamu ngak mau tidur? Atau makan malam dulu. Tadi kamu belum makan sama sekali."
Steve menggeleng. "Aku gak lapar sayang." Steve mengeratkan pelukannya mesra dengan Venus.
"Ya udah. Mandi dulu sana kalau mau langsung tidur."
Steve mengangguk tanpa mengubah posisinya dan mengelus tubuh Venus. "Mandi bareng?"
"Ih apaan. Mandi sendiri gih. Nanti mandi bareng kamu jadi lama." Protes Venus membuat Steve terkekeh singkat.
"Iya.." Jawab Steve pasrah dan kemudian bangkit dari tempat tidur untuk beranjak ke kamar mandi,
Dalam kamar mandi pun Steve sebenarnya tak merasakan ketentraman. Kalimat Victor yang mengatakan TUA sangat menganggu telinganya.
Usia Steve memang sedikit jauh dari Venus jika di bandingkan dengan usia Si Victor.
Apa yang salah dengan umur?
Akh! Kenapa Steve jadi sensitif begini sih?! Dia takut kehilangan Venus.
Steve menggeleng, "Venus mencintai dan aku mencintainya. Apapun itu tak ada yang bisa memisahkan kami." Jelas Steve.
Steve menyudahi mandinya dan menggunakan pakaian lengkap kemudian keluar dari kamar mandi.
Steve mencari keberadaan Venus di kamar tapi tak di dapatkan. Baru di tinggal sebentar kenapa bisa hilang? Apa Venus masih mandi di kamar mandi yang lain? Batin Steve tak tenang.
Steve pergi ke luar kamar dan di dapati Pandangan yang sangat menusuk matanya. Tangan Steve mengenggam kuat dan darahnya mendidih. Steve segera melangkahkan kakinya geram ke arah Pandangan yang membuat dirinya emosi itu.
Sang orang yang di pandang itu tersenyum miring saat melihat Steve berjalan ke arahnya dan kemudian mulai menyapa, "Selamat malam Steve."
Steve menarik tangan Venus dan membawanya ke belakang tubuhnya, "Apa kau tak ada kerjaan mengganggu rumah tangga orang huh?! Pergi sebelum aku akan melaporkanmu!"
Victor terkekeh. "Biasa aja kali Steve. Santai. Aku ke sini cuma mau berikan beberapa laporan penting untuk besok, kalau tidak mana mungkin aku ke sini."
Steve mengeraskan rahangnya, "Besok bisa, kan?! Sekali lagi aku katakan padamu ini bukan jam kantor!"
"Besok kesempatan untuk mendapatkan profit yang besar. Kalau ngak sanggup berhenti saja sekarang! Kau sangat menyusahkanku!" Jelas Victor.
Steve menatap sinis Victor. "Sudah selesai kan keperluannya. Sekarang pergi."
Victor menggidikkan bahunya. "Terserah."
Lelaki itu meninggalkan rumah Steve dengan santai.
Steve menatap Venus tajam, "Kamu kenapa ngak panggil aku? Kenapa dia sampai hampir masuk ke dalam rumah? Kamu gimana sih?!"
"Tadi aku ngak tau kalau Victor yang datang. Waktu aku mau manggil kamu kamunya udah datang." Jawab Venus dengan sebenar-benarnya.
Steve mengembuskan napas berat. "Maafin aku ya sayang. Aku terbawa suasana emosional." Steve merasa bersalah karena memarahi Venus.
Venus mengangguk, "Iya gak apa."
"Kita balik ke kamar ya sayang." Ucap Steve dan menarik sambil menggenggam tangan Venus.
Venus mengangguk dan kemudian kembali ke kamar bersama istrinya.
***
Victor tertawa kuat hingga meneteskan air matanya, "Steve Steve. Kau tak ada apa apanya denganku bodoh."
Victor melipat kedua tangannya di dada sambil bersender di kursi kantor rumahnya, "Venus... Sangat di sayangkan kau tinggal bersama lelaki payah itu. Bagaimana pun kau pasti akan paling dan akan jatuh kembali padaku. Aku bisa pastikan itu." Victor tersenyum miring.
Victor membuka laptopnya dan melihat apa yang akan di kerjakannya untuk besok. Victor adalah lelaki yang dewasa, walaupun dia memiliki ego yang tinggi dia tetap dapat membaginya dengan sikap serius jika bekerja.
Karena sikapnya itu membuat dia menjadi sukses dan mampu untuk bersaing dalam segala hal yang hendak dia gapai.
***
Hari ini Steve harus lebih berhati hati dalam bertindak. Dia yakin Victor memiliki banyak tangan kanan untuk melakukan pemantauan terhadap keluarganya, jika Steve lengah maka hidupnya bisa di jatuhkan dalam sewaktu waktu.
Steve mengatur untuk melakukan pengawasan terhadap istrinya anaknya dan keluarganya. Siapa tau Victor akan melakukan hal buruk pada mereka.
Setelah mengantar istri dan anaknya Steve masuk ke dalam ruangan kerja. Mengatur segala perlengkapan dan kemudian melakukan pekerjaannya. Di sana pun ada Victor. Lelaki itu tampak serius dalam bekerja hingga semua dapat berjalan dengan lancar.
Tidak percaya juga ternyata Victor memiliki kedewasaan untuk tidak mencampur antara urusan pekerjaan dan juga pribadi.
Sedangkan Victor sedikit salut dengan kepemimpinan Steve dalam menangani segalanya dengan cepat dan tepat. Namun tetap saja Victor harus segera mengatur rencana apa yang terbaik untuk menghancurkan rumah tangga rekan barunya itu.
Beberapa saat kemudian hp Steve berdering. Tertera nama kontak Mine di sana membuat senyuman kecil terlukis di wajahnya, Steve mengangkat telponnya,
"Sayang kamu jangan lupa makan siang ya." Venus mengingatkan Steve. Dia sangat tau sikap suaminya ini, jika sudah kerja bisa lupa makan.
Steve tersenyum mendengar istrinya memberi perhatiannya. "Iya sayang.. kamu juga jangan lupa makan."
"Hm. Iya." Jawab Venus.
"Sayang, aku kangen." Goda Steve, tapi memang benar dia merindukan istrinya. Rasanya dia ingin Venus selalu dengannya.
Venus terkekeh, "Ih kamu. Baru juga beberapa jam pisah udah kangen."
Steve mengelus pipinya masih tetap tersenyum. "Biarin. Kan sayang."
Venus jadi tersipu malu di buatnya.
"Udah ah. Aku mau lanjutin ngampus dulu. Kamu semangat kerjanya ya." Kata Venus mengakhiri percakapan mereka.
"Iya sayang. Kamu juga." Sambung Steve.
Venus mematikan teleponnya dan menyisahkan Steve yang masih tersenyum.
Victor yang melihat itu tentu sangat kesal. Dadanya sangat panas melihat Venus begitu perduli dengan lelaki sialan ini. Tak tau dari segi mana Steve terlihat lebih baiknya. Ck. Sialan.