My Different Wife

My Different Wife
Save Your Life



Victor keluar dari mobilnya dan berjalan menuju lift yang berada di dalam parkiran mengarah langsung ke dalam gedung kantornya.


Ting!


Lantai 20


Tepat di lantai ruangan kantor pribadinya. Setiap orang melihat ke arahnya dengan terpukau dan kagum. Bagiamana tidak? Muda, tampan, dan kaya raya.


Semua mata tertuju padanya tanpa berkedip terutama kaum hawa.


Dan Victor, dia sama sekali tak perduli.


Kali ini dia takkan mau melakukan kebiasaan biasanya yaitu bermain wanita. Dia sudah di Indonesia bukan? Dia akan berjumpa dengan Venus yang merupakan pujaan hatinya. Jadi untuk apa dia mencari wanita lain?


Victor memang sejak dulu tak pernah menyukai siapapun, dalam bercinta dengan wanita pun sama sekali tak membawa perasaan sedikit pun pada wanita itu. Yang di pikirkan dia hanya Venus Venus Venus.


Dalam gambarannya seperti seorang psiko yang mengenal cinta. Tidak akan melepaskan wanita dan akan selamanya begitu sampai dia dapat.


Victor masuk ke dalam ruangan kantor nya. Dan di sana ada seorang lelaki yang mengenakan pakaian kemeja coklat berbalut jas hitam dengan celana panjang hitam dan dasi silver melingkar di lehernya.


"Selamat pagi pak." Sapa orang itu dengan senyuman dan sedikit menundukkan kepalanya hormat.


"Pagi." Jawab Victor.


"Perkenalkan nama saya Randy pak. Sekretaris sekaligus asisten pribadi bapak yang di berikan tugas oleh Tuan Davin." Jelas lelaki itu.


Victor mengangguk, dia juga sudah mendengar banyak mengenai Randy dari sang ayah. Lulusan dari universitas ternama dengan nilai tertinggi. Tentu saja sang ayah menerimanya dengan mudah.


Tampak lebih muda darinya namun tampak berwibawa. Ayahnya memang pandai dalam memilih seorang pekerja.


"Hm."


Victor segera menuju mejanya dan duduk di kursi kebesarannya.


Seluruh ruangan di dominasi dengan kaca sehingga dapat melihat luar gedung dengan transparan. Cukup baik.


Tak menunggu lama Victor segera menatap sang Asisten dengan wajah datar. "Apa yang kau tunggu? Kerjakan pekerjaanmu." Perintah Victor membuat Randy segera mengangguk.


"Baik pak."


***


Sekarang tepat pukul 7 malam. Semua pekerjaan telah selesai bersamaan juga di adakan suatu penyambutan kehadiran Victor untuk pertama kali.


Victor keluar dari kantornya dan menuju parkiran bawah. Mengeluarkan mobilnya dan mengemudikan di jalan raya menuju apartemen pribadinya.


Perutnya terasa lapar. Dia belum makan malam bukan?


Victor memilih untuk singgah ke salah satu restoran yang tak jauh darinya lalu memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam resto itu.


Seorang pelayan datang menghampirinya sambil menunduk hormat, "Silahkan pesan Tuan." Sambut wanita itu dengan sopan sambil memberikan buku menunya.


Victor mengambil menu itu dan memesan sembari sang pelayan menganguk dan menulis pesannya.


"Baik pak, pesanan akan segera sampai." Sang pelayan pun pergi.


Di saat yang bersamaan dia melihat seseorang yang tak asing.


Wajahnya begitu sangat familiar namun tampilannya berubah, terutama postur tubuhnya.


"Melodi?" Gumam Victor.


Kemudian Victor menggeleng, "Dia terlalu Feminim. Perempuan preman itu tidak mungkin jadi wanita anggun sepertinya." Sambungnya.


Tentu saja. Mengingat Melodi yang selalu berambut pendek dengan setengah kuciran dan pakaian yang selalu menggenakan baju seperti lelaki di tambah lagi tingkahnya yang seperti preman. Tidak akan mungkin berubah menjadi wanita berambut panjang dengan kuciran ekor kuda sambil menggunakan gaun krem selutut dengan hils seperti yang di hadapannya bukan?


Itu tidak mungkin.


Victor mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah lain dengan tak minat.


Tapi matanya tetap saja kembali melihat gadis itu. Memastikan secara sebenar benarnya.


Tiba saatnya seorang lelaki datang menghampirinya dan di sambut oleh wanita yang di gadang gadang Melodi itu dengan pelukan dan senyuman.


Victor langsung dapat mengambil kesimpulan. "Bukan Melodi."


Jelas. Melodi adalah wanita superior of crazy woman! Tidak bisa tersentuh bahkan tersenyum apa lagi. Sangat tidak mungkin.


Itu pasti hanya seseorang yang mirip dengannya. Tentu saja, setiap orang pasti memiliki seseorang yang memiliki kemiripan wajah kan?


Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan membawa makanannya yang dia pesan. Di saat itulah Victor membelalakkan matanya,


"Venus." Ucapnya dengan mata mengikuti sosok itu.


Mata Victor menyipit. Jika Steve bersamanya itu mungkin hal biasa, tapi ini, ini ada anak kecil yang terlihat sangat otoriter memeluk wanitanya.


"Silahkan pesannya Tu-"


"Iya. Diamlah! Pergi sana!" Usir Victor kesal karena tak ingin di ganggu ketika berfikir seperti sekarang ini.


Sang pelayan menggerutu tanpa bicara dan kembali pada pekerjaannya.


Victor melihat gerak gerik mereka.


Apakah itu anak Venus? Buah cintanya dengan Steve?


Oh ya... Kita mendapatkan satu hal lagi untuk di basmi.


Batin Victor dengan tatapan tajam ke arah mereka.


Tapi sekarang Victor tengah malas untuk berkutat dengan emosinya terhadap anak dan Ayah yang memuakkan itu. Mata Victor beralih pada Venus.


Wanita itu tampak lebih cantik sekarang. Bahkan lekuk tubuhnya membuat Victor tersenyum, terlihat sangat menggoda.


Ingin sekali segera menarik wanita itu dan menjadikan Venus seketika menjadi istrinya. Dia yakin bisa membuat Venus serasa menjadi seorang ratu setiap harinya. Venus akan bahagia dengannya.


Pandangannya kembali memanas saat Steve mencium pipi Venus dengan senyuman yang memuakkan bagi Victor. Tangan Victor menggenggam kuat dan ingin sekali mencekik si brengsek Steve.


Victor menutup matanya dan menahan kegeramannya, "Tidak lama lagi." Batin Victor sambil kemudian tersenyum dan meminum minumannya.


Victor dengan lekas makan malam dan segera berjalan pulang. Tak ingin berlama-lama karena di pastikan akan terjadi kerusuhan terlalu lama memandangi kemesraan suami istri itu.


***


Victor mengemudikan mobilnya setelah pulang dari bekerja. Namun hari ini dia sengaja pulang lebih cepat, ada satu hal yang harus di bereskannya.


Victor tersenyum miring kala seorang anak kecil keluar dari taman kanak kanak berjalan perlahan menuju taman di seberang sana.


Angkasa.


Anak kecil itu hendak menyebrang sedikit karena di seberang sana ada penjual mainan. Ada mobil mobillan yang menarik perhatiannya.


Angkasa sedikit ragu, karena kata mommy nya tidak boleh menyeberang sendirian. Tapi dia sangat menginginkan mainan itu.


Victor melihat dari kejauhan memberikan aba aba pada seseorang untuk segera menggas mobilnya dan menabrak Angkasa.


Angkasa menggeleng. Dia harus mengikuti apa perintah Mommynya. Jika dia mau sesuatu lebih baik dia katakan pada mommynya saja dari pada malah melanggar aturan.


Anak yang penurut.


Angkasa membalikkan badannya hendak kembali.


"Tabrak saja!" Perintah Victor melihat Angkasa tak kunjung menyeberang.


Mobil melaju dengan kencang sedikit lagi menabrak Angkasa.


Settt


Seseorang menarik tubuh Angkasa hingga mereka berdua terpental ke arah berlawanan dari mobil melaju itu.


Wanita itu menyelamatkan Angkasa, "Kau baik baik saja?!" Tanya wanita itu panik.


Angkasa shock bukan main hingga tangannya bergetar. Angkasa mengangguk takut.


Sedangkan mobil itu melaju saja meninggalkan mereka.


"F*uck!" Umpat Victor dan kemudian pergi dari tempatnya dengan melajukan mobilnya.


Angkasa kembali ketakutan melihat wanita itu.


"K-kak.. kepala kakak berdarah!"


Wanita itu menggelengkan kepalanya untuk menenangkan Angkasa, "Tidak kakak tidak apa apa."


Dan beberapa saat kemudian pandangannya mengabur dan pingsan tepat memeluk Angkasa.


"Tolong!!!!!" Jerit Angkasa.