My Different Wife

My Different Wife
Ganggu Rumah Orang



Victor mengemudikan mobilnya ke rumah Steve. Apa lagi kalau tak ingin menganggu pasangan suami istri yang romantis itu.


Saat sampai di depan rumah dia tak menjumpai Venus ataupun musuh terbesarnya itu. Yang dia jumpai hanyalah satpam.


"Selamat malam pak, ada keperluan apa?" Tanya si satpam sopan.


"Menjumpai Steve." Jawab Victor tak minat.


"Maaf bapak dengan siapa?" Tanya sang satpam lagi.


"Rekan kerja. Mana dia? Cepatlah, aku banyak kerjaan." Desak Victor. Dia malas sekali jika berlama lama di sini jika tak berjumpa dengan orang yang di carinya.


"Bapak sedang pergi pak." Jelas sang satpam.


Victor memutar bola matanya malas, bisa bisanya dia datang tanpa mendapatkan yang dia mau. Ck. Menyusahkan saja.


Tak jauh dari Victor berada, seorang anak kecil tengah memanjat pohon. Dia sedang mencoba meraih layang layangnya yang tersangkut. Victor melihat anak itu seperti tidak asing. Ya, siapa lagi kalau bukan anak Steve yang menyusahkan itu. Angkasa.


Awalnya Victor hendak segera pergi dari tempat ini namun spontan tangannya terulur melihat Angkasa terpeleset tak dapat menyeimbangkan diri dan terjatuh.


"Aaa!!!" Jerit Angkasa membuat semua orang tersadar dan panik.


Victor menangkap Angkasa membuat semua orang bernafas lega kecuali  Victor. Dia merutuki dirinya yang menolong anak bedebah ini. Kenapa juga dia menolong bocah ini, seharusnya dia biarkan saja terjatuh dan patah tulang.


Victor menurunkan Angkasa dengan wajah datar sedangkan sang satpam langsung menarik tangan Victor dan menjabat tangannya, "T-terimakasih pak! Astaga pak, kalau tidak ada bapak saya tak tau apa yang akan terjadi! Terimakasih banyak pak!" Syukur sang satpam.


Segera Victor melepaskan tangannya dari satpam. "Itu juga karena reflek. Tidak usah berlebihan." Jelas Victor dingin.


Bersamaan dengan itu ternyata Steve berada di sana, lumayan jauh dari kejadian itu. Dia melihat semuanya dan bahkan hampir saja Steve terjatuh berlari ke arah Angkasa walaupun dia tau tidak akan sempat sekalipun berlari.


Steve menghembuskan nafas lega dari jantungnya yang sebelumnya berdegup kencang dan hampir saja lepas dari tempatnya.


Steve berjalan ke arah Angkasa yang sedikit syok dengan kejadian tadi. Angkasa segera berlari ke arah Steve dan memeluknya. "Daddy!!" Jerit Angkasa dan segera di sambut Steve dengan pelukan dan menggendong anaknya itu.


"Kamu gak apa kan? Sudah berapa kali Daddy bilang jangan suka coba hal yang aneh aneh, lihat, kamu hampir saja terjatuh. Kalau kakimu patah gimana? Mau?" Omel Steve dengan suara kuatir.


Angkasa menangis, "Maafin Angkasa Dad, tadi Angkasa cuma mau ambil layang layang Angkasa. Tapi malah jatuh."


"Jangan ulangi lagi. Paham?"


Angkasa mengangguk pasrah, "Iya dad."


Steve mengusap dadanya, untung saja Venus tak ada di sini, kalau saja ada Venus pasti wanita itu akan lebih histeris dan sangat panik.


Steve melihat ke arah Victor tajam. Apa kira kira yang ada di pikiran Victor? Apakah dia sengaja menolong anaknya? Apa maksud terselubung dari Victor?


Melihat tatapan mengintimidasi Victor mengembuskan napas panjang, "Oalah, anaknya di tolong malah bapaknya yang sinis. Heh, seharusnya tuh kau bersyukur aku menolong anakmu." Jelas Victor.


Steve memutar bola matanya malas, "Makasih." Ujar Steve singkat padat dan jelas.


Victor menganguk, "Santai."


"Venus mana?" Tanya Victor membuat suasana kembali mencekam.


Benar kan dugaan Steve, lelaki ini pasti ada maunya datang ke sini dan juga perbuatan baik itu tidak tulus!


"Bukan urusanmu bertanya mengenai istriku. Apa kau tak ada kerjaan lain huh? Apa aku harus memberikan pelajaran padamu?" Papar Steve dengan mata yang membulat marah.


Victor mengedikkan bahunya, "Biasa aja kali. Namanya juga kangen. Udah lama gak jumpa." Ungkap Victor dengan jujur sekali hingga ingin membuat  Steve melemparkan kepala Victor dengan batu.


"Keluar dari rumahku sekarang." Ancam Steve.


Victor tak perduli dan melipat kedua tangannya ingin membalas ucapan Steve namun tak di sangka seseorang yang di harapkannya datang membuat mimik wajahnya berubah senang, "Hai Venus." Sapa Victor.


Venus tak menyangka ada Victor di sini. Jelas saja Venus tak suka karena hal ini bisa memacu keributan nantinya, "Hai." Jawab Venus kaku, "Ah aku ada kerjaan lain yang harus di selesaikan, jika tak ada hal yang terlalu penting mendingan kamu pulang." Ucap Venus to the point. Dia gak mau menyakiti hati suaminya.


Venus langsung kaget. "Angkasa? Jatuh?" Segera Venus berjongkok menyamakan pandangannya dengan Angkasa, "Kamu tadi beneran mau jatuh?"


Angkasa mengangguk, "Iya Mommy."


Venus membolangkan matanya panik. Benar bukan dugaan Steve, Venus pasti akan sangat panik.


"Kamu ngak apa? Mana yang sakit? Ada yang luka? Berdarah? Bengkak?" Tanya Venus bertubi tubi.


Angkasa menggeleng, "Ngak mom.. Angkasa ngak apa apa. Tadi om ini yang selamatin Angkasa."


Venus melihat ke arah Victor yang sudah cemberut dari tadi.


Venus segera menjabat tangan Victor, "Makasih banyak. Maafin aku judes tadi sama kamu." Ucap Venus tulus membuat Steve menahan nafasnya, cukup cemburu tentu saja. Matanya sangat panas melihat istrinya menggenggam tangan lelaki selain dirinya.


Victor tak menjawab dan masih saja tak mau melihat Venus karena cukup kesal dengan usiran Venus.


"Maafin ya Victor." Pinta Venus.


Victor juga tak bisa melihat Venus memohon. Lelaki itu menoleh ke arah Venus dan mengangguk, "Iya gak apa."


Venus tersenyum, "Makasih banyak."


"Hm."


Segera Venus melepaskan genggaman tangannya dan hendak meninggalkan Victor dan menggandeng Angkasa, sudah selesai bukan urusannya.


"Heh mau kemana?" Tanya Victor.


"Mau masuk. Emangnya kenapa?" Tanya Venus balik.


Steve tersenyum miring melihat Venus, syukurlah Venus tetap bersikap dingin dengan Victor.


Victor mendengus, "Aku lapar. Mau makan, kamu masakin aku ya, hitung hitung ucapan terimakasih." Ucap Victor.


Steve melepaskan tangan Victor yang menahan tangan istrinya tadi, "Beli aja makanan di luar. Aku yang bayarin! Gak usah nyusahin istri orang!" Bentak Steve dengan tajam.


Victor menggeleng, "Eh! Aku ngomong sama Venus. Lagi pula gak tau berterimakasih banget kau, syukur syukur anakmu aku slametin. Coba aja ngak ada aku, pasti kaki nya udah patah!" Ucap Victor tak mau kalah.


"Ya udah iya iya aku masakin. Jangan ribut udah malam juga." Pungkas Venus dengan tegas.


Victor tersenyum sumringah dan mengangguk senang, sedangkan Steve memutar bola matanya malas. Sungguh jengkel sekali.


Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Victor melihat ke setiap penjuru ruangan. Begitu rapi dan bersih. Victor terkagum, ini pasti karena Venus, istri idaman sekali.


"Silahkan duduk, aku masak makanan dulu." Jelas Venus. Mereka mengangguk dan duduk, termaksud Angkasa.


"Mom, Angkasa mau ada nugetnya ya!" Pinta Angkasa yang di angguki Venus.


"Iya sayang.." Jawab Venus. Venus segera ke dapur meninggalkan mereka.


Victor melihat ke arah Angkasa, "Mama kamu selalu masak untukmu?"


"Iya! Mama selalu masakin walaupun mama sedang sibuk! Masakan malam juga enak banget! Om pasti bakalan ketagihan!" Bangga Angkasa.


Victor tersenyum kecil, membayangkan kalau Venus sungguh jadi istrinya, begitu sangat beruntung.


Plak


Steve mengeplak kepala Victor membuat lelaki itu meringis kesakitan, "Awas kau pikir macam macam tentang istriku."


Victor membuang wajahnya malas. Memangnya apa yang Victor pikirkan? Gak macam macam, hanya satu macam, cuma mikirin Venus. Batin Victor kesal