
Venus terbangun dari tidurnya dengan mata sembab. Semalaman dia menangis, merasa ketakutan dan amat sedih.
Venus melihat ke arah pintu kamarnya, masih sama seperti semalam tepat seperti saat di tinggalkan Steve.
Venus menghembuskan nafas panjang dan menenangkan diri. Apa yang akan di lakukannya? Dia bahkan tak memiliki keberanian untuk keluar kamar. Ya sudah jelas karena dia tak memiliki baju yang pantas dan layak.
Venus mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia melihat lipatan baju ada di sebelahnya, di atas meja.
Ada secarik kertas di sana,
'Venus, ini baju untuk kamu pakai. Aku akan menunggu mu di depan untuk mengantarkan mu ke kampus hari ini.'
Steve yang menuliskannya.
Venus menunduk. Dia sangat kaku untuk berjumpa dengan Steve sekarang.
Di sisi lain Venus bersyukur Steve memberikan dia sepasang baju kemeja dan celana, jika tidak bagaimana dia bisa keluar dari kamar ini?
Venus bangkit berdiri dan mengambil baju itu. Dia akan mempersiapkan diri untuk kuliah.
***
Steve di landa kebingungan, apakah Venus menerima bajunya itu? Atau wanita itu akan marah dan mencampakkan baju itu ke wajah Steve dengan emosional seperti yang ada di drama serial televisi Indonesia.
Ah semoga saja Venus menerimanya. Steve tak banyak menuntut, dia tak berharap akan segera memaafkannya dan berbaikan dengannya hari ini. Asalkan Venus menerima baju itu dan mau di antara ke kampus bersamanya dia sudah bersyukur.
Steve memakan sarapan yang di siapkan nya pagi ini. Ada roti panggang dengan selai coklat dan jus jeruk untuk Venus sedangkan dirinya kopi hitam pahit.
Steve memakan sarapannya dengan perlahan di runding kecemasan dalam benaknya.
Beberapa saat kemudian dia mendengar suatu langkah kaki membuat dia melihat ke arah depannya,
Itu Venus.
Venus menggunakan pakaian yang di sediakan nya dan kemudian duduk di hadapannya untuk sarapan.
Venus sedikit melirik ke arah Steve kemudian melihat sarapannya.
"Em. Itu untuk kamu. Aku menyiapkannya." Kata Steve singkat. Dia tak tau juga harus mengatakan apa lagi. Dia tau Venus masih tak mau berbicara padanya.
Venus melihat Steve dan kembali menunduk kemudian mengangguk.
Venus makan sarapannya tanpa berkomentar dan meminum jusnya setelah selesai sarapan.
Steve sedikit tersenyum di sela sela sarapannya. Venus yang biasanya cerewet dan memberontak malah menjadi penurut. Namun begitu dia merindukan Venus yang cerewet itu, dia lebih suka wanita itu banyak bicara padanya di bandingkan hanya diam seribu bahasa seperti sekarang.
Steve melihat ke arah Venus, "Kamu pulang nanti-"
"Tidak usah di jemput. Aku pulang sendiri saja." Kata Venus memotong kalimat yang akan di ucapkan Steve.
Steve sebenarnya tak mau menyetujui kalimat Venus itu. Namun Venus melihat Venus yang tampak sangat tidak nyaman karena keadaan kemarin terpaksa Steve harus menyetujuinya.
"Baiklah."
Sedikit tak percaya akan jawaban Steve itu. Bukankah biasanya dia sangat pemaksa?
Tapi syukurlah dia menyetujuinya. Venus sedari tadi juga merasa sangat kaku dan seperti sangat asing dengan keadaannya sekarang.
Setelah sarapan Venus di antar Steve ke kampus dan setelahnya dia berangkat menuju kantornya.
Steve merasa sedih tak mendapat respon apapun dari istrinya ini. Bahkan Venus sama sekali menatap matanya lebih dari dua detik.
Venus masuk ke dalam kampus dan kemudian berjalan melalui koridor, dia melangkahkan kakinya menuju kelas yang sekarang lumayan ramai karena sudah pukul setengah delapan.
***
Venus duduk di kelasnya dengan se-biasa mungkin seperti tidak terjadi apa apa. Namun ntah kenapa dia kembali berpikir mengenai dirinya. Venus kini sudah berkeluarga dan keluarganya sangat tidak harmonis saat pertama kali pernikahan, tidak seperti impiannya dulu yang mengharapkan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Tentu saja dia kembali berfikir mengenai perceraiannya kelak, dia harus bercerai dengan Steve sesegera mungkin sebelum akan terjadi masalah baru.
Kpak!
“Kenapa Ven?” Tanya seseorang setelah menepuk bahu Venus membuar Venus segera menoleh terkejut.
Ana terkekeh kemudian kembali menselonjorkan dirinya di bangku, “Tenang, Jantung Bebek banyak di jual di pasar, aku bisa belilin untukmu.”
Ktok!
Venus menoyor kepala Ana, “Enak aja sama samain aku sama Bebek.”
“Hehehe, sama sama cerewet.” Tawa Ana.
Venus menggeleng mlas meladeni Ana. Kegusarannya lebih penting di bandingkan dengan gurauan Ana sekarang. Dia terlalu banyak dilema hidup yang membuatnya tidak bisa tersenyum sekarang. Tidak ada yang bisa di bahagiakan dari dirinya kini. Sungguh mengecewakan.
“Kenapa sih? Lesu amat.” Tanya Ana lagi.
Venus ingin bercerita. Tapi dia merasa hal inii tak perlu di bahas olehnya karena akan membuat dia jadi bahan ledekkan Ana jika mengetahui dia sudah menikah.
Venus menggeleng, “Gak ada.”
“Terus kenapa lesu? Belum lihat cogan hm?” Ucap Ana ngawur.
“Gak loh, gak ad apa apa. Cuman kemarin baca noveltoon yang pemeran utamanya ngeselin.” Elak Venus.
Ana terkekeh, “Dasar.”
Beberapa saat setelah mereka mengobrol mata Venus melihat ke arah pintu kelas yang terbuka lebar. Victor melalui kelasnya dan mata mereka bertemu sesaat sambil Victor melewati kelas Venus. Banyak mahasiswi wanita yang mengerumuninya sedangkan Vicrot tetap berjalan saja tak perduli mereka.
Ana melihat kejadian itu tersenyum geli dan kemudian menyenggol bahu Venus, “Cie pacarnya baru lewat tadi.”
Venus menatap Ana kesal, “Apaan sih na? Kita Cuma berteman.”
“Hem, teman apa teman?” Kata Ana dengan sorot mata keraguan.
“Ya temenlah. Apaan sih.” Venus segera mengambil buku Ana dan menempelkannya pada wajah gadis itu, “Baca nih buku. Biar makin pinter dan gak rajin bolos lagi.”
Ana tersenyum, “Hei.. Anda jangan selepe, Diriku ini rajin banget loh belajar, tapi malas ngampus aja, wkwk.”
Ana menggeleng dan tersenyum. Dasar Ana, bisa bisanya membuang badan biar tidak kalah adu mulut.
Kemudian dosen masuk ke kelas mereka dan memulai pembelajaran.
***
Venus masuk ke dalam perpustakaan. Tempat ini adalah tempat ternyaman harena sangat hening dn juga sejuk, membuat perpustakaan jadi tempat menghilangkan penat jika suntuk di kelas.
Venus berjalan ke kisi kisi dua rak buku yang berdiri tegak dan duduk di lantai itu ambil menselonjorkan dirinya di dinding pembatasnya. Venus tidak duduk kursi yang ada di temoat yang sudah di sediakan, rasanya duduk di lantai lebih dingin dan lebih enak saja.
Bagian buku ini sangat jarang pengunjungnya karena berisikan berbagai buku buku kisah penemu dan juga berbagai buku magis yang di luar nalar. So pasti ngak ada yang mau mengambil buku di sini karena tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran.
Venus mengambil salah satu buku yang terletak di paling bawah yang berada di sebelahnya. Tulisan bahasa latin. Aneh sekali.
Venus mengambil hpnya dan menyetel alarm pengingat agar dia terbangun nanti sebelum kelas di mulai. Memasang headset agar yang mendengar suaranya hanya dia seorang dan tidak menganggu orang lain. Venus membuka buku itu dan menutup wajahnya dengan buku itu dan mulai tertidur.
Saat mulai masuk ke dalam alam mimpi seseorang mengambil buku yang ada di wajah Venus itu dn dudk di sebelah Venus dengan menyenggol bahu Venus, “Kamu sungguh sunguh menikah dengannya?” Tanya orang itu dengan nada kesal.
Venus menoleh dan mendapati Victor tengah berada di sebelahnya.
Venus mengela nafas panjang kemudian mengangguk, “Hm.”
Rasanya sangat sakit mendengar kata kata yang keluar dari mulut Venus itu.
“Aku akan segera mencari cara untuk bercerai dari Steve. Aku tau aku bukanlah di takdirkan untuknya jadi aku harus segera berpisah dengannya.” Sambung Venus sambil menunduk.
Ada kebahagiaan melintas di benak Victor. Dia juga mengharapkan seperti itu. Dia tak perduli apaka Venus seorang gadis atau janda dia tetap mencintainya.
Namun begitu dia sedikit memiliki pertanyaan besar dalam benaknya. Venus pernah cerita padanya jika dia dulu sangat mencintai Steve dan kemudian mencoba menghilangkan rasa cinta itu karena dia merasa Steve bukanlah seseorang yang bisa di jadikan partner hidup yang akan membuatnya bahagia. Tapi dari pandangannya dia melihat Steve semakin lama semakin menginginkan Venus dan tak mau jika wanita itu menjadi milik siapapun kecuali dirinya. Jika mereka menikah bukankah ada kemungkinan besar mereka akan mulai saling menegerti dan semakin mencintai satu sama lain? “Kenapa kau sangat yakin?” Tanya Victor.
Venus melihat ke arah Victor. “Aku tak mau lagi menjadi orang tang bodoh Victor. Aku tak mau kembali menyakiti diriku pada luka yang sama yang dia berikan padaku. Cukup sekali aku merasakannya, tidak akan terulang untuk kedepannya.” Jelas Venus. Tapi rasanya kalimatnya itu membuat dadanya tertekan dan merasakan sedih yang teramat dalam. Ntah dirinya yang sekarang ataupun mungkin dirinya yang dulu membuat perasaan ini menjadi goyah. Dia seperti sangat berat jika melupakan Steve, cintanya yang begitu lama tumbuh di hatinya itu sangat susah di singkirkan, ck, sial!
Victor memeluk Venus dengan sangat bahagia dan mengusap rambutnya, “Berusahalah dan aku akan selalu ada untukmu.”
Venus mengangguk, “Terimakasih,”