
*Beberapa Minggu kemudian...
Venus sangat nyenyak tertidur pulas, rasanya badannya remuk sekali mengerjakan tugas kampus dan juga rumahnya. Steve tersenyum melihat Venus yang terlihat seperti anak kecil yang tertidur pulas setelah banyak bermain.
Steve yang baru selesai mengerjakan tugas beranjak dari kursinya dan berbaring di sebelah Venus sambil memeluk wanita yang di merupakan jiwa dan raganya ini.
Venus menggeliat dan memiringkan tubuhnya membalas pelukan Steve seperti memeluk bantal guling.
Steve tersenyum kecil melihat. Wajah polos Venus dan kemudian mencium bibirnya singkat. Dia tak ingin Venus lepas darinya, sungguh tak menginginkannya.
Dia menatap Venus lekat untuk di jadikan ingatannya dalam alam mimpi dan memimpikan dirinya dan Venus nantinya.
Dan Steve pun ikut terlelap.
***
Pagi harinya setelah mandi dan menyiapkan makan rasanya perut Venus terasa tak enak. Membuat dia ingin muntah.
Venus segera ke kamar mandi dan mual mual di sana.
Steve yang barusan selesai merapikan dirinya segera menuju dapur, namun tak melihat Venus di sana. "Venus mana? Tadi bukannya dia bilang akan memasak sarapan?"
Steve melihat ikan yang di goreng Venus masih menyala namun Venus tak ada. Steve segera mematikan kompor dan mencari keberadaan Venus.
Steve panik mendapatkan Venus tengah muntah muntah di kamar mandi dan sekarang tampak lebih pucat.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Steve panik.
Venus mengedikkan bahunya, "Aku juga gak tau Steve. Rasanya aneh saja." Kata Venus.
Steve segera menggenggam tangan Venus, "Kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Steve dengan sungguh dengan tatapan dengan keyakinan tinggi.
Venus mengangguk, "Baiklah."
Steve dan Venus pun pergi ke rumah sakit.
Di sana di lakukan pemeriksaan fisik umum Venus dan pendataan lainnya. Stelah itu Venus di bawa ke suatu ruangan sedangkan Steve si suruh nunggu di luar ruangan.
Steve menunggu dengan panik. Kakinya tak berhenti bergerak dengan menepuk nepuk ke lantai dan tangannya di lipat. Sesekali bahkan mengusap wajahnya.
Steve takut terjadi apa apa dengan istrinya itu dan sangat panik tentunya.
Beberapa saat kemudian seorang suster keluar dan mempersilahkan Steve masuk ke dalam ruangan konsultasi. Di sana juga sudah ada Venus yang sedang duduk berhadapan dengan seorang dokter wanita.
Steve segera duduk di sebelah Venus dan memeluk sang istri, "Istri saya kenapa dok?" Tanya Steve.
Sang dokter tersebut tersenyum. Dasar pengantin baru. Ledek sang dokter dalam hari, karena dulu pun dia pernah merasakan hal seperti itu. Sama sama di perlakukan manja seperti itu oleh sang suami.
"Anda perlu merasa bahagia pak. Anda akan segera menjadi seorang ayah."
Deg!
Steve terdiam sejenak kemudian jantungnya terasa menggebu-gebu.
Steve melihat ke arah istrinya, "Aku hamil." Kata Venus dengan tersenyum.
Steve tanpa perduli apapun langsung saja mencium bibir sang istri dan melum*atnya.
Weh! Ada dokter tu!
Steve melepaskan pangutan bibir itu dan kembali memeluk erat Venus, Steve melihat ke arah sang dokter dengan haru dan di balas anggukan oleh sang dokter.
Steve bahkan menitikkan air mata dan mengelus perut Venus, "Aku mencintai kalian."
Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.
***
Steve dan Venus telah melakukan konsultasi dengan Dokter barusan dam sekarang mereka tengah berjalan ke luar rumah sakit,
"Kita langsung pulang aja ya. Hari ini kamu gak usah ke kampus, atau ambil cuti aja sekalian ya sayang." Usul Steve sambil memeluk Venus.
Venus menggeleng, "Gak usah deh." Ujar Venus dengan tatapan sedih.
Steve menggeleng, "Sayang, kamu gak boleh gitu. Ini semua demi kesehatan kamu sama anak kita." Jelas Steve dengan lembut sambil mengelus kepala Venus dengan sangat perhatian.
Steve senang Venus mau menurutinya.
Cup
Steve mencium pucuk kepala Venus dan memeluknya,
Mereka pun kembali berjalan menuju parkiran mobil.
***
Steve mengelus perut Venus dan tersenyum, "Cepet banget jadinya ya sayang." Kata Steve tak percaya.
Venus tersenyum dan tertawa kecil, "Abisnya bapaknya tempur mamanya mulu."
Steve terkekeh dan kembali beralih pada Venus. Mencium dan memperdalam ciumannya. Tangannya gencar masuk ke dalam baju Venus menyusuri seluruh tubuhnya membuat Venus menahan tangan Steve, "Baru dua Minggu sayang janin kita. Dokter bilang gak di anjurkan hubungan intim." Menyadari keinginan Steve.
Steve mendengus dan kemudian memeluk Venus. Baru saja dia bahagia kini malah menjadi muram harus puasa dulu.
Venus terkekeh dan memeluk Steve dan mencium pipinya, "Demi Steve kecil yang mau tumbuh." Bisik Venus.
Steve tersenyum dan membalas pelukan Venus, "Baiklah."
Steve kembali melihat perut Venus dan mengelusnya. Dia tak bisa jamin bisa bertahan untuk beberapa bulan berpuasa. Ntahlah, tubuh Venus sangat menggoda baginya.
Oh ayolah Steve, jangan gila.
Steve menggeleng dan mencoba menenangkan pikiran kotornya. Dasar lelaki.
Steve mencium pipi Venus singkat, "Kamu beristirahatlah. Mulai hari ini aku akan mempekerjakan orang lebih banyak di rumah. Dan sampai seterusnya begitu."
"Tidak perlu sampai selamanya mempekerjakan orang lain, aku juga akan pulih setelah melahirkan nanti, jadi-"
"Stt," Steve menutup mulut Venus dengan telunjuknya, "Pokoknya mulai hari ini dan selanjutnya akan begitu. Aku ngak tega lihat kamu selalu kelelahan mengurus semuanya sayang. Aku gak mau kamu jadi menghadapi banyak tugas berat dan membuat kamu jadi sakit nantinya. Aku sering lihat kamu bergadang belakangan ini, kamu sangat kesusahan sayang. Aku ingin kamu merasakan kenyamanan dan aku akan merasa lebih tenang. Please dengerin aku ya..." Pinta Steve.
Venus terharu mendengarkan kalimat Steve, Steve sangat memperhatikannya ternyata.
"Baiklah sayang." Jawab Venus sambil mengangguk.
Steve tersenyum, "Begitu dong. Aku jadi merasa tenang sekarang."
Steve mengeratkan pelukannya dan di balas oleh Venus dengan kebahagiaan.
***
Victor membanting bukunya di atas meja membuat setiap orang di dalam kelas memperhatikannya namun segera menunduk takut saat kembali di tatap tajam Victor,
Cih!
Victor berdecih dan membuang pandangannya muak. Susah sekali hidupnya tanpa kehadiran Venus.
Dia bahkan tak bersemangat untuk melakukan apapun bahkan bermalam dengan seorang wanita manapun. Itu sangat membosankan! Sangat berbeda dengan Venus!
Victor melipat kedua tangannya malas dan menutup matanya. Bagaimana cara memisahkan Venus dengan Steve huh?
Bagaimana cara membuat mereka bercerai?
Ck. F*UCK!
Siang yang panas ini terasa semakin panas saja bagi Victor.
Kemudian terdengar suara pintu terketuk dan membuat semua orang melihat ke arah pintu,
Membuat mata Victor spontan menatap wajahnya tajam.
"Permisi, tadi ada yang memesan nasi Padang? Atas nama Rayu." Ucap Melodi memperhatikan sekitar.
"A-ah iya itu saya." Kata salah satu mahasiswi dengan segera berdiri dan menghampiri Melodi, "Maaf menyusahkan kamu masuk ke kelas ya. Tadi saya males banget keluar."
Melodi mengangguk sambil menerima uang dari Rayu. "Terimakasih." Singkat Melodi dan kemudian meninggalkan ruangan.
Melodi merasa kucil dalam kampus mewah ini. Terutama rasanya dia pun ingin berkuliah. Namun apa daya, dia adalah orang miskin, tidak ada biaya sebesar itu untuk melanjutkan studinya.
Seketika Victor mendapatkan suatu ide. Ide yang sangat cemerlang.