
Hari Minggu ini Steve, Venus dan Angkasa berjalan jalan di taman. Sesekali berolah raga tak salah bukan?
Steve melihat keluarga kecilnya. Seketika Steve tiba tiba berasa sedih, seperti ada suatu yang kosong dan menyakiti hatinya tapi dia tak tau apa. Setiap kali mengingat dia akan pergi dalam sebulan nanti membuat dirinya kacau.
Ini bukan kali pertama Steve pergi keluar negeri dalam waktu sebulan, tapi untuk kepergian sekarang rasanya begitu berat dan sedih. Ntah apa yang merasuki Steve, rasanya dia tak ingin pisah saja dengan mereka.
"Mom Dad. Angkasa mau main di situ," Angkasa menunjuk ke taman bermain yang tak jauh dari tempat mereka.
Venus mengelus kepala Angkasa, "Ya udah sama main. Tapi jangan jauh jauh," Venus memperbolehkan Angkasa.
Angkasa mengangguk antusias dan memeluk Mommynya, "Makasih Mom."
Tak lupa juga memeluk sang Daddy, "Makasih Dad." Segera Angkasa pergi bermain.
Steve dan Venus tersenyum melihat anak mereka. Sangat bahagia bisa melihat Angkasa tumbuh besar dan sehat seperti sekarang.
"Kita duduk di sana saja," Ajak Venus dan di angguki Steve.
Mereka pun duduk di sana, tak jauh dari taman bermain di mana anaknya sedang asik bereksplorasi.
Steve menggenggam tangan Venus dan menatap Venus, "Sayang."
Venus yang merasa terpanggil menoleh ke arah Steve, "Kenapa sayang?"
Steve tersenyum kecil, "Janji ya selalu bahagia."
Venus tersenyum sambil mengangguk sedikit bingung. Pasalnya jarang Steve mengatakan hal seperti itu. Terasa seperti sebuah perpisahan, "Iya sayang. Kita akan selalu bahagia. Aku, kamu, dan Angkasa," jawab Venus.
Venus kembali menatap Steve dengan tatapan sungguh, "Ada yang mau kamu bicarakan sayang? Seperti ada sesuatu yang menurutku kamu risaukan? Katakan saja, aku akan membantunya sebisa mungkin." Sambung Venus.
Steve mengembuskan napasnya, "Sulit untuk di jelaskan sayang, aku pun tak tau kenapa? Rasanya seperti hatiku sangat tertekan, tapi tak tau apa."
Venus menatap Steve sedih, Venus memeluk Steve dan mengusap punggungnya, "Tak ada yang perlu di kuatirkan Steve. Aku ada untukmu. Dan akan selalu begitu."
Steve kembali merasa lega mendengar kalimat Venus. "Iya sayang. Aku mempercayai kamu untuk semuanya. Aku yakin semua pun akan baik baik saja."
Venus mengangguk, "I love you."
"I love you too,"
Setelah puas bermain Angkasa kembali ke tempat kedua orang tuanya, "Mom Dad, ayo pulang. Angkasa sudah keringatan dan bau.." Adu Angkasa. Bagaimana pun dia tak suka dengan kotor bukan?
Steve tersenyum dan mengacak rambut Angkasa, "Anak Daddy satu ini memang sangat menggemaskan." Kata Steve kemudian mencubit pipi Angkasa.
Angkasa melepaskan cubitan sang Daddy karena dia tak suka di cubit, "Ah Daddy! Nanti pipi Angkasa jadi sakit!" Angkasa mengerucutkan bibirnya emosi.
"Iya iya. Ayo pulang. Lagian cuimlah, Angkasa bau ketek." Ledek Steve mencari gara gara dengan anaknya itu.
Angkasa membulatkan bibirnya dan membelalakkan matanya lalu melihat ke arah Venus, "Mommy! Daddy jahat! Huaaa..." Tangisnya.
Venus menggeleng melihat Steve dan mencubitnya, "Ayah sama anak ini selalu saja bertengkar. Ayo ayo pulang." Kata Venus membuat Steve terkekeh dan memeluk sang istri, "Maaf ya sayang. Ya udah ayo pulang."
Mereka pun pulang ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah, segera Angkasa masuk ke kamarnya dan mandi di kamar mandi miliknya yang ada di kamar, sedangkan Venus dan Steve pun membersihkan diri mereka untuk setelahnya makan siang.
Venus menuju dapur dan menyiapkan masakan untuk anak dan suaminya tercinta. Saat Venus baru saja memulai masak Steve datang menghampiri Venus, "Sayang. Aku bantu masak ya?" Steve memeluk Venus dari belakang.
Venus menggeleng, "Gak usah. Kalau kamu bukan malah bantuin, jadi ngerusuhin. Kamu duduk aja di sana, aku mau masak dengan tenang." Kata Venus membuat Steve berdecak kesal,
"Tapi aku mau bantu yang," Steve memainkan celemek Venus.
Venus berbalik dan segera di sambut Steve dengan pelukan, merangkul pinggang sang istri dan menenggelamkan wajahnya di cermin lehernya.
Venus yang tadinya berbalik mau menyuruh Steve pergi malah jadi ketar ketir sendiri, "Yang, gimana dong. Aku gak mau lepas dari kamu selama seminggu ini. Senin depan aku udah mau pergi dan gak akan bisa meluk kamu gini lagi."
Belakangan ini Steve jadi semakin manja, "Iya sayang. Peluknya nanti aja ya, ini aku mau masak dulu. Ntar kita jadi gak makan siang loh." Venus coba untuk memberi pengertian.
Astaga, Steve ini semakin mengada ada saja, "Nanti kalau Angkasa datang gimana? Kamu ih."
Steve menoleh ke kanan kiri, "Gak ada sayang. Sebentar doang kok."
Oh astaga, beneran seperti anak kecil. "Cepetan sayang..." Pinta Steve.
"Saya-"
Steve mencium bibir Venus. Jika tidak seperti ini Venus takkan mau menciumnya sekarang.
Seperti terbawa suasana Steve terus saja mencium Venus dan memperdalam ciumannya dan menyudutkan Venus.
Inilah yang Venus takuti, Steve jika di beri sedikit malah minta lebih. Tangan lelaki itu bahkan sudah tak tahan bergerak menyusuri tubuh Venus.
Venus melepaskan ciumannya, "Nanti kita sambung yah," kata Venus sedikit ngos-ngosan.
Steve menggeleng.
"Janji. Aku milikmu malam ini." Venus berjanji.
Steve menatap Venus, "Janji? Janji gak ngerjai tugas kampus setelah Angkasa tidur? Janji ya?"
Venus mengangguk, "Iya sayang iya."
Steve tersenyum lebar, "Okey.."
Venus menepuk dahinya setelah Steve pergi. Dia yakin malam ini pasti jadi malam yang sangat melelahkan nantinya.
***
Steve tersenyum kecil kala melihat istrinya masih tertidur pulas pagi ini. Malam yang sangat indah dan juga panas terjadi begitu nikmat kemarin.
Oh ayolah, Steve selalu saja tak tahan jika melihat tubuh Venus. Begitu legit dan seksi menurutnya.
Walaupun begitu banyak wanita yang bahkan bertubuh sensasional, tetap saja Steve takkan tergoda. Hanya Venus yang di pandangnya dan hanya dia wanita satu satunya dalam hidupnya, tiada yang lain.
Steve sungguh berbahagia memiliki Venus sebagai pendamping hidupnya.
Percayalah.
"Emh.." Venus mengeluh sambil merenggangkan kedua tangannya menandakan dia baru bangun tidur.
Steve tersenyum dan memeluk Venus manja, "Kamu nikmat sekali." Bisik Steve sambil mengelus tubuh Venus.
Venus mencubit perut Steve, "Kamu ih. Udah ah, aku mau mandi,"
Steve terkekeh, "Ya udah sayang, mandi sama aja biar lebih cepat. Aku mandiin bahkan."
Venus menggeleng, "Gak. Yang iyanya mandi bareng kamu makin lama."
Gerutu Venus lagi lagi membuat Steve terkekeh.
Venus bangkit berdiri dan segera menuju kamar mandi meninggalkan Steve seorang, "Yah di tinggal" batin Steve.
***
Setelah makan sarapan dan juga sudah mengantarkan Angkasa dan Venus, kini Steve memasuki kantornya. Dan satu lagi yang tiba tiba merusak moodnya pagi hari.
"Hai Steve, lama tak berjumpa. Ku dengar kau akan pergi ke Washington DC bukan?" Victor menaikkan salah satu alisnya pada akhir kalimatnya.
Deg!
Steve ingin rasanya mengumpat. Bagiamana dia tau secepat itu?