My Different Wife

My Different Wife
bab 28



Venus dan Victor berjalan jalan di dalam mall. Venus tampak riang dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Hari ini dia merasa cukup terhibur dengan film yang mereka tonton beberapa jam yang lalu dan sekarang mereka tengah berjalan mengelilingi toko buku.


Victor tersenyum kecil. Pandangan Victor mengarah ke arah tangan Venus, dia hendak menggandeng Venus.


Tep


Venus menggandeng tangan Venus. Venus terkejut dan melihat Victor, Victor tersenyum.


Venus tak masalah dengan gandengan tangan Victor, toh juga cuma menggandeng tangan bukan?


“Kamu kenapa ajak aku ke sini hm? di kampus udah ke perpus dan sekarang ke toko buku,” Tanya Victor pada Venus.


Venus terkekeh, “Sebenarnya kau ngak mau ke sini tau. Aku ke sini karena kamu itu suka sama buku, makanya aku ke sini.” Venus mengambil salah satu buku yang ada di hadapannya. Membukannya dan kemudian menempelnya pada wajah Victor. “Penyuka buku,” Venus terkekeh.


Victor tersenyum kemudian memegang tangan Venus tang memegang buku itu, Victor meletakkan buku itu di atas rak buku kembali dan menggandeng tangan Venus lagi, “Aku suka kamu, bukan buku.”


Venus terkekeh dan menjewer hidung Victor, “Iya kakak aku yang tersayang. Tentu saja kakak kan selalu sayang sama adiknya.” Kata Venus.


Victor tak menyukai istilah kakak adik yang di katakan Venus ini. jujur dia ingin lebih dari pada itu, dia ingin di anggab sebagai pria di mata Venus. ‘Kalau aku ngak mau di anggab sebagai kakak gimana Venus? Apa susahnya menganggabku sebagai seorang yang bisa mengisi hati kamu sekarang, kenapa tidak anggab aku sebagai lelakimu saja? kenapa harus menjadi kaka adik?’ Batin Victor tak terima. Namun seperti itu Victoh hanya diam dan tersenyum. Jika dia mengatakan itu Venus akan merasa tidak nyaman bukan? Dan itu akan mempengaruhi kedekatannya nanti dengan Venus.


Venus meliht ada novel yang bagus dan mengambil novel itu seraya melepaskan tangannya dari Victor, “Ini kayaknya seru,” Kata Venus bersemangat.


Victor melihat ke arah buku itu dan kemudian mengangguk, “Memang bagus. Cerita pembunuhan dan teka teki.”


Venus bergidig ngeri, “Wih, serem juga.” Ungkap Venus.


Victor tersenyum miring melihat Venus, “Kenapa? Seru tau,”


“Seru,tapi serem. Kalau aku bacanya siang siang nanti malam aku pasti teringat ceritanya, jadi parnoan gitu. Dan kalau malam malam bacanya akan lebih serem karena feelnya langsung ngenak gitu.” Venus menggeleng dan kembali meletakkan bukunya itu, “Gak ah. Gak mu baca, ntar jadi ketakutan sendiri.”


Victor terkekeh kemudian mencubit pipi Venus, “Dasar penakut.”


“Biarin.”


Setelah berjalan jalan dan makan Victor mengajak Venus ke taman. Suasana malam ini lumayan ramai dengan pengunjung. Cahaya lampu malam menghiasi taman begitu indah dan sangat cantik membuat rasanya Venus tak mau pulang.


Victor melihat ke arah Venus. Lelaki itu tertular tersenyum melihat venus. Victor memeluk Venus dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher venus, “Selalu begini, kamu jangan pernah jauh atauun pergi dari aku.” Bisik Victor dengan suara huskynya.


Venus bergidik. Kenapa Victor selalu saja mengatakan kata kata seperti ini dan tingkahnya selalu seromantis ini? seperti pacaran saja.


Saat venus hendak melepaskan pelukan Vicor lelaki itu megeratkan pelukannya, “Jangan di lepas. Aku mau peluk kamu bentar aja.”


Venus jadi sangat kaku.


Victor mendusel dan menghirup aroma tubuh Venus yang begitu candu baginya. Wanita yang akan menemaninya hingga tua nanti, tidak ada yang lain selain Venus dan akan selamanya begitu.


Jantung Venus berdetak kencang dan kini dia merasa semakin gerogi.


Victor tersenyum merasakan detak jantung Venus yang begitu kentara. “Aaku sayang kamu, sayang banget.” Ucap victor semakin membuat Venus semakin berdebar.


“Aku ingin kita berdua gini terus. Dan aku akan buat kamu bahagia selalu.” Sambung Victor.


Victor melihat wajah Venus dan menatap manik matanya dalam dalam, “You are mine.”


“K-kita pulang sekarang saja. banyak tugas kampus yang belum selesai.” Alasan Venus.


Victor mengangguk, “Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang.”


Venus mengangguk masih tidak melihat victor,


Victor terkekeh, “Kenapa sayang?”


Venus mendorong dada Victor, "Sayang apanya. Udah ah ayuk balik."


Victor merasa gemas melihat Venus, imut sekali.


"Ya udah ayo."


Victor menggenggam tangan Venus dan mereka pun pulang.


***


Victor mengantarkan Venus sampai di persimpangan yang tak jauh dari rumah Venus. Kata Venus dia tak mau di antar sampai di depan rumah karena takutnya Steve akan marah dan akan terjadi hal buruk lainnya.


Victor terpaksa menyetujui karena keinginan Venus. Kalau tidak bisa saja dia tetap nekad, kalian tau lah sifat Victor bukan?


Venus masuk ke dalam rumah dan di saat yang bersamaan Steve pulang. Steve tersenyum singkat melihat Venus dengan tatapan yang sulit di artikan, tampak kecewa namun bahagia.


"Aku membawakanmu pakaian. Jadi kamu bisa pakai baju lainnya." Jelas Steve sambil memberikan Venus beberapa tas baju dari toko.


Venus enggan menerimanya.


Steve tersenyum dan menarik tangan Venus untuk mengambil kantung tas baju, "Ambillah, dan tetap bahagia."


Steve tersenyum lebar pada akhir katanya, namun matanya tampak sangat sedih. Steve masuk ke dalam rumah dan langsung memasuki kamar tamu yang menjadi kamarnya kini.


Venus memandang kantong berisikan beberapa baju. Rasanya Venus jadi merasa bersalah, berjalan bersama Victor di belakang Steve sama saja berselingkuh, terutama karena Steve adalah suami sahnya.


Tapi Venus tidak pernah mau mengulang kesalahannya dulu yang terlalu mencintai Steve. Dia cukup trauma dengan kejadian percintaan. Hatinya sudah tertutup oleh bekas luka yang begitu dalam. Bagaimana dia bisa membuka hatinya lagi pada orang lain, rasanya sangat sulit.


***


Steve duduk dan mengusap wajahnya.  Dia kemudian memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Begitu banyak kejadian buang di lihatnya hari ini begitu tersiksa rasanya hatinya ini.


Steve yang awalnya hendak menjemput Venus dari kampus melihat istrinya itu pergi bersama pria lain. Bahkan wajah senyuman yang bahagia dari wajah Venus terpancar saat bersama dengan lelaki itu. Senyuman yang sudah lama sekali di pernah terpancar saat melihat Steve kini beralih pada orang lain selain dirinya.


Sungguh menyesal dengan apa yang dulu pernah dia perbuat pada Venus. Perkataan Venus yang mengatakan ingin mengubah dirinya malah membuat Venus pergi selama lamanya untuk melabuhkan cintanya pada orang lain.


Cinta Venus yang di sia siakannya dulu kini sudah habis.


Sekarang, mendapatkan Venus sepertinya sangat sulit untuk dapat tercapai. Wanita itu sudah tampak bahagia tanpa dirinya,


Steve menghela nafasnya, "Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu, walaupun kau tidak mencintaiku. Aku akan tetap diam saat melihatmu bahagia bersama dia, walaupun aku merasa tersakiti oleh itu. Aku tetap mencintaimu."


Air mata Steve mengalir dan hatinya terasa remuk seluruhnya.