My Different Wife

My Different Wife
Are you okay?



Andreas sampai di rumahnya dengan sangat teramat senang.


Andreas melihat ke arah foto Melodi yang di pasangnya dalam sebuah bingkai kecil di meja sebelah tempat tidurnya berdekatan dengan lampu tidur, "Kamu sungguh cinta padaku hm? Aku juga begitu. I love you...."


Andreas begitu senang bahkan memeluk gulingnya bahagia.


"Andai aku bisa mencium bibirmu, aku rasa aku takkan mengampunimu atas tindakanmu yang membuatku semakin gila seperti ini," Andreas memeluk bantalnya dan mencium bantalnya sambil terkekeh.


Andreas teringat sesuatu, besok adalah tanggal jadiannya dengan Melodi, "Besok aku akan memberikan hadiah spesial untukmu. Apa kau suka perhiasan? Mobil? Aku akan membelinya untukmu."


Kemudian Andreas teringat bahwa Melodi tak suka jika diberikan hadiah yang gelamor dan lebih memilih untuk sekedar jumpa dan berbincang bincang saja. Wanita itu terlalu baik dan polos.


"Tapi aku tetap akan memberikan mu mobil Mel, aku ingin kamu tau betapa bahagianya aku memiliki mu," ungkap Andreas dengan hati berbunga bunga.


Andreas bangkit duduk dan mencari hpnya dia menelpon Melodi, "Sayang."


"Iya sayang?"


"Besok aniv kita, pulang kerja aku akan menjemput kamu ya? Jangan langsung pulang," pinta Andreas.


Melodi mengangguk, "Baiklah."


"Okey... Love you."


"Love you too."


Melodi mematikan hpnya. Wajahnya menatap hpnya dengan datar.


Besok harinya Victor berangkat pagi pagi. Dia pun tak berminat untuk banyak berbicara yang tak penting mulai hari ini. Cukup, dia akan melatih dirinya untuk tidak memperdulikan apapun agar tak terbiasa dengan sikap empati.


Kau tau, sikap itu sangat merugikannya. Sudah dua kali dia merasakan hal yang menyusahkan dari sikap bodoh itu.


Pertama saat dia menginjak bangku kuliah, yaitu dengan Venus. Dia mencintai Venus memang awalnya bukan dari empati tapi memang sangat tertarik pada sikap Venus. Tapi yang perlu di ingat, ada pula rasa empati terhadap Venus untuk ingin terus menjaganya dari Steve yang dulu bersikap sangat acuh padanya.


Kedua dengan Melodi, dia berempati karena selama ini Melodi selalu baik padanya dan rasanya Victor ingin membalas kebaikannya dengan ingin sekali untuk terus menjaga Melodi dalam segala kondisi.


Tapi lihat, sikap baiknya itu malah di acuhkan.


Fine!


Dia kini mati rasa. Dia tak mau perduli apapun yang akan terjadi pada orang lain sekalipun orang itu sangat berpengaruh pada hidupnya.


Victor yang sudah sampai di kantor pun segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Melakukan pekerjaannya dengan propesional sampai waktu kerja pun habis.


Hari ini berlalu dengan baik dan sekarang waktunya pulang. Seperti ada yang mengganjal di hati Victor namun dia acuhkan, tidak ada yang lain selain dirinya sendiri yang terpenting. Itu intinya.


Victor mengendarai mobilnya menuju rumah. Namun rasanya dia tak mau makan makanan rumah, Victor melihat ke arah simpang jalanan yang dia lalui, ada penjual ayam bakar.


Dan sial. Kenapa dia malah teringat Melodi?!


Victor mengalihkan pandangannya dan memilih untuk tak jadi makan dari pada semakin merusak moodnya yang sudah dia coba pertahanan baik sampai saat ini.


Victor terdiam melihat Melodi yang berjalan sambil memegang kepalanya. Dia kenapa?


Victor kembali menggeleng, "Hilangkan rasa empati."


Tapi matanya terlalu penasaran apa yang terjadi sebenarnya.


Kali ini Victor melihat Melodi memegang tiang jalanan dan menunduk ke bawah. Dan di saat itu Andreas datang, tampak pembicaraan di sana dan Melodi menepis tangan Andreas, tersenyum miring dan segera masuk ke dalam taksi yang berhenti di depannya.


Apa yang terjadi?


Oh astaga!


Victor mengikuti taksi itu. Sangat kesal rasanya dia kembali menyimpang dari prinsipnya untuk berhenti perduli.


Karena taksi itu lebih dahulu berjalan, Victor jadi tertinggal lumayan jauh, dan sekarang malah kehilangan jejak.


Ini bukan jalanan untuk pulang ke rumah Melodi. Ini arahnya sangat berlawanan, Melodi mau ke mana?


Tak lama berselang dia sungguh kehilangan jejak. Dan berakhir Victor memberhentikan mobilnya di tepi jalan, "Melodi mau kemana sih?"


Hati Victor sangat tak tenang. Seperti ada yang salah dengan kejadian tadi dan sikap Melodi yang memutuskan untuk pergi ke sini.


Victor segera mengejar taksi itu dan memblok jalan taksi dengan berhenti di hadapannya membuat si supir mengerem mendadak.


Victor keluar mobil dan mengetuk pintu. Sang supir membuka sedikit jendelanya, "Ada apa Tuan?"


"Kemana kau antar wanita yang barusan ada di mobilmu tadi?"


Sang supir menunjuk ke belakang, "Ke  Bar yang tak jauh dari sini Tuan. Saya lupa namanya, tapi Tuan akan langsung mendapatkannya setelah berjalan lurus dan belok ke kanan setelah itu ke kiri."


Victor mengangguk, "Terimakasih."


Victor segera masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Bar itu.


Untuk apa juga Melodi ke sana? Sejak kapan Melodi terbiasa ke Bar huh?


Ini pasti ada yang tak beres.


***


Melodi membuat keributan di dalam Bar. Meninju beberapa pria usia lanjut di sana dan dalam pengaruh minuman keras dia terlihat sangat menakutkan.


Rasanya dia lelah sekali hidup. Tak dapat merasakan apapun lagi. Bernafas pun rasanya sulit.


Dia rasanya ingin mati saja. Kenapa dia harus hidup di dunia? Dia selalu saja tak dapat hidup dengan tentram.


Seorang lelaki 50 tahunan yang melihat Melodi terasa sangat tertantang. Lelaki tua namun tetap gagah dan berbadan tegap ini menipu banyak pasang mata setiap wanita yang melihatnya, perawakannya seperti menolak usia.


Dia pemilik Bar ini. Sedari tadi bisa saja dia menghentikan Melodi dan menyuruh satpam mengeluarkannya. Namun ntah apa yang di pikirkan buaya nakal ini, ada rasa ingin melihat sebrutal apa Melodi.


Melodi sekarang tengah berdiri di hadapan lelaki ini dan menatapnya dengan penuh kebencian. Rasanya dia mengingat seseorang yang paling memuakkan di dunia setiap kali melihat lelaki tua yang suka bermain wanita seperti yang di hadapannya ini.


Melodi mencengkram erat kerah lelaki itu membuat Yudha tersenyum miring. Dia menatap wajah Melodi yang tampak begitu dendam padanya, padahal dia baru bertemu hari ini.


Wajah Melodi yang cantik membuat adrenalinnya semakin menggelora.


Saat Melodi ingin meninju Yudha segera lelaki itu menariknya dan membuat Melodi terduduk di atas pahanya mengangkang.


Melodi merasakan sesuatu aneh di bawah sana tepat saat dia terduduk membuat lelaki itu mengerang dengan nada rendah.


Melodi sungguh pusing dalam pengaruh alkohol.


Lelaki itu mengambil kesempatan dengan menarik pinggang Melodi dan merapatkannya padanya, lelaki itu menghirup aroma tubuh Melodi dan semakin mengeratkan rangkulannya.


Melodi semakin merasa sesuatu semakin menekannya di bawah sana di balik celana Melodi. Tak tau apa tapi itu membuat lelaki itu semakin meracau, "Kau sangat menggoda." Bisiknya.


Melodi menatap wajah lelaki itu.


Lelaki itu segera ingin menerkam Melodi lapar dan..


Brukk


Suatu tinju tepat mengenai rahangnya dengan keras.


Melodi di tarik oleh seseorang ke belakangnya dan lagi lagi lelaki itu meninju lelaki itu sampai babak belur.


Victor. Dia tak terima ada yang menyentuh Melodi secara tak hormat seperti itu.


Victor menggendong Melodi dan membawanya keluar. Namun lagi dia di hadang oleh 5 orang berbadan besar.


"Dia wanita pilihan bos kami. Jika kau ingin selamat, lepaskan dia dan pergi."


Victor berdecih dan tersenyum miring. Victor meletakkan Melodi tak jauh darinya, memasang kuda kuda dan bergerak mematikan lawannya dalam beberapa menit saja.


Victor tersenyum miring, apa mereka tak tau jika Victor sudah mendapatkan banyak piala Kung Fu sejak kecil?


Victor kembali menggendong Melodi dan membawanya masuk ke dalam mobilnya tanpa banyak berbicara.


Victor menatap tajam Melodi. Dia sangat marah, "Apa yang kau lakukan?! Apa kau-"


Melodi menangis. Membuat lelaki itu terdiam.