My Different Wife

My Different Wife
Mengulang Dari Awal



Victor pulang ke rumahnya dan meminum banyak minuman keras. Dia tak perduli lagi seberapa banyak botol yang di minum, dia hanya ingin menenangkan pikiran dan perasaan geramnya akan jawaban Venus tadi.


Dia tak menyangka usahanya sungguh menjadi sia sia. Tak ada gunanya sama sekali dan rancangannya gagal total. Dan yang paling menjadi pemikirannya adalah ucapan Venus yang memiliki kesamaan dengan wanita sialan itu, Melodi!


"F*UCK!!" Umpat Victor sambil mencampakkan botol minumannya ke lantai hingga pecah berserakan.


Sungguh Victor sangat tak terima. Kenapa hal ini terjadi padanya?! Ke apa dunia memberikan ketidakadilan padanya?!


"Ohw... F*UCK YOU B*ITCH," Gumam Victor dengan suara pekikan.


Dia sungguh kegilaan sekarang.


Victor merasakan kepalanya sangat pusing. Ini efek dari minuman keras dan juga tekanan pada kepalanya sendiri. Sungguh sangat ironis.


Victor tak mengindahkan sakit kepalanya dan segera mengambil cerutu yang dia punya. Membakar puntungnya dan menghisapnya dalam dalam Victor terus saja menggerutu.


Setelah beberapa saat dia meluapkan semuanya Victor merasa lelah dan mulai bertindak lebih tenang. Mengingat segala yang telah terjadi padanya.


Semakin di ingat hari ini Melodi sama sekali tak menghubunginya, mungkin karena faktor sakit hati terhadap kata kata cetus Victor, "Dia takkan pernah melupakannya."


Sedikit menyesal mengatakan hal kasar itu pada Melodi, lama berfikir ternyata yang di katakan wanita itu terdapat suatu kebenaran. Dia tak pernah dapat memiliki hati yang sudah di tempati.


Suatu kenyataan namun sangat dia sukai.


Victor tersenyum miring hambar, "Dalam hal ini kau benar Mel, dia tak bisa ku miliki. Tapi dalam mendapatkan kebahagiaan... Sepertinya tak semua dapat merasakan kebahagiaan itu."


Kepala Victor yang masih sakit pun segera di telungkupkannya. Perutnya sangat sakit. Tanpa di sadarinya dia kehilangan kesadarannya. Tubuhnya terasa berat dan kaku.


Terjadi keheningan seketika.


***


Beberapa saat kemudian Victor tersadar. Cahaya lampu terang menusuk matanya. Tubuhnya sulit bergerak dan jantungnya berdebar debar.


Victor menggerakkan jarinya perlahan dan menoleh ke sebelahnya, dia ingin memanggil wanita itu tapi bibirnya masih sangat kaku dan terasa sangat kering.


Wanita yang tadinya membaca buku anatomy itu menghentikan bacaannya, dia menoleh dan menatap datar Victor, "Sadar? Kenapa tidak mati saja." Cetus wanita itu.


Melodi mengalihkan pandangannya. Dia tau sekarang Victor sangat dalam keadaan buruk, Venus pasti mengatakan sesuatu hingga membuat lelaki ini depresi dan memutuskan untuk melakukan hal konyol dengan menenggak miras 7 botol penuh. Melodi tak tega untuk mengatakan hal kasar sekarang, Victor butuh pemulihan dulu.


Infus yang terpasang dan tabung oksigen yang masih melekat pada tubuhnya membuat Victor tersadar kalau dia tengah berada di rumah sakit.


"Aku... Ke na pa... Di sini?" Tanya Victor dengan rintihan lemah.


Melodi melipat kedua tangannya, "Overdosis minuman keras di tambah tensiku tinggi. Kau hampir meninggal."


Melodi bangkit berdiri, "Kalau aku tak datang ke rumahmu kemarin mungkin kau sudah mati."


Victor mengerutkan keningnya, sepertinya akibat kejadian kemarin dia drop total.


Dia pikir Melodi sungguh tak mau perduli padanya lagi setelah kejadian di pusat perbelanjaan beberapa hari lalu. Tapi Melodi masih mau membantunya.


Saat Melodi hendak pergi Victor memegang ujung baju Melodi, "Temani aku." Ucapnya lemah.


Melodi melepaskan tangan Victor dan kembali duduk, "Tidurlah."


Ntah berapa lama Victor tidur dan sekarang dia pun terbangun karena rasa lapar. Namun di saat itu dia melihat Melodi yang masih tertidur pulas di sisi tempat tidurnya. Victor menatap wajah Melodi, wanita ini sangat baik padanya.


Melodi membuka matanya perlahan dan melihat Victor yang tengah menatapnya, Victor segera mengalihkan pandangannya.


Melodi bangkit berdiri meninggalkan Victor, Victor mengangguk, "Dia pasti sangat membenciku."


Tak lama berselang, Melodi kembali datang dengan membawa nampan berikan makanan. Melodi memberikan nampan itu pada Victor, "Makan."


Victor bangkit duduk perlahan dan menatap wajah Melodi yang kini sudah duduk di kursi sebelahnya,


"Makan. Gak suka? Ya udah buang aja sana." Cetus Melodi lagi. Namun dia berusaha kembali menahan kekesalannya dan mengalihkan diri untuk kembali membaca bukunya.


Victor tak dapat menahan gejolak hatinya lagi. Lelaki itu meneteskan air mata dan membasahi pipinya, "Mel... Sakit," keluh Victor.


Melodi menoleh kearah Victor datar dan menghela nafasnya, percayalah Melodi jadi merasakan iba pada Victor. Dia tau keluhan itu bukan karena dia merasa sakit karena tubuhnya yang sedang tak baik, tapi hatinya yang merasakan pilu.


Melodi mendekatkan kursinya pada Victor dan memindahkan makanan yang ada di atas paha Victor ke meja. "Buka mulutmu, biar aku sulang." Ucap Melodi.


Victor mengangguk dan membuka mulutnya menerima suap demi suap nasi yang di berikan padanya.


Setelah makanan habis di makan, Melodi bangkit berdiri, "Istirahat, aku mau kerja."


Victor sebenarnya tak ingin di tinggal, namun dia tak mau menyusahkan Melodi lagi sehingga dia hanya mengangguk.


Victor kembali menangis, kenapa dia dulu sangat jahat pada Melodi? Seharusnya dia tidak melakukan itu dulu, dia seharusnya bersyukur bisa mengenal orang sebaik Melodi.


Victor kembali mengusap air matanya, kenapa dia jadi mellow seperti ini? Okey Victor, hentikan sikap anehmu ini.


Victor kembali membaringkan tubuhnya dan kembali beristirahat.


Setelah terbangun rasanya tubuh Victor sudah lumayan sehat, berbagai obat telah di suntikkan padanya dan selang waktu beberapa hari lelaki itu sudah pulih total. Melodi merawatnya dengan baik tanpa melihat apakah Victor itu lawan atau kawan.


Victor memasuki ruangan Melodi. Dia hendak berterimakasih dan memberikan bucket bunga indah pada Melodi sebagai ucapan terimakasih,


Victor masuk ke dalam ruangan dan mendapati Melodi yang berkutat dengan tulisannya.


Victor duduk di hadapan Melodi dan menyerahkan bunga padanya, "Makasih udah merawat-"


"Aku benci bunga dan kau tak perlu berterimakasih, itu sudah tugasku jadi Dokter."


Victor terdiam sejenak sambil kemudian menghela nafas, wanita ini masih saja mengesalkan. Kemudian Victor mengangguk, "Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau kita menonton malam ini? Hitung hitung ucapan terimakasihku,"


"Tidak perlu berterimakasih. Kau boleh segera pulang. Rawat dirimu baik baik." Kata Melodi tanpa melihat Victor.


Victor kesal, "Kalau bicara itu lihat orangnya. Jangan asal gitu." Batin Victor menggerutu.


Melodi mengembuskan napas melihat ekspresi Victor, "Maafkan aku. Kau sungguh sedang sibuk, lain kali kita akan nonton bareng. Tak perlu merasa bersalah karena aku sudah melupakan kejadian waktu itu." Sambung Melodi menatap Victor dengan senyum tipis.


Ayolah, Melodi juga tak mau mempermasalahkan apa yang sudah terjadi, intinya Victor sudah mengetahui kebenaran dan sadar. Itu sudah cukup. Mengenai kebahagiaan Victor, Melodi yakin Victor ska. Segera menemukannya.


Victor merasa lega mendengar kalimat Melodi, "Terimakasih."


"Sama sama."