
"Vic," panggil seseorang membuat Victor kembali terkejut dan memegang dadanya.
"M-melodi," gagap Victor karena masih terngiang mimpi tadi.
Melodi duduk di sebelah Victor, "Steve, Steve adalah salah satu korban kecelakaan ini."
Victor tau apa yang akan di katakan Melodi, Melodi pasti ingin Victor berjumpa dengan Steve.
Victor bangkit berdiri, "Mel, aku harus segera pulang. Tidak ada waktu untuk berjumpa dengannya. Maafkan aku."
Melodi bangkit berdiri, "Vic kumohon, tolonglah berjumpa dengannya. Dia berpesan untuk memperjumpakan kau dengannya."
Victor menggeleng, dia punya firasat buruk tentang itu. Ini pasti ada hubungannya dengan mimpinya tadi. Tidak. Dia tak akan pernah kembali ke masa lalu dengan kembali menjalin hubungan dengan Venus.
Tidak.
Bukan Venus yang dia cintai, bukan dia. Tapi Melodi!
Melodi menggenggam tangan Victor, "Vic ku mohon. Dia sangat membutuhkan kehadiranmu sekarang. Dia ingin berbicara denganmu, ku mohon mengertilah."
Victor menutup matanya. Dia berusaha mengontrol ketakutannya untuk hal itu. Dia berharap semoga Steve akan baik baik saja dan tetap menjadi suatu keluarga yang utuh dengan Venus.
Victor membuka matanya dan mengangguk, "Baiklah."
Melodi menghembuskan nafas lega.
Melodi menggenggam tangan Victor dan membawanya ke dalam ruangan Steve.
***
Sungguh sangat memprihatinkan. Steve tampak sangat tak berdaya dengan banyaknya alat medis yang melekat padanya, perban dan juga infus terpasang seperti hampir tak mendapatkan tempat lagi untuk tambahan alat lainnya pada tubuh Steve sangking banyaknya perban.
Victor melangkahkan kakinya berat menuju Steve,
Victor menatap datar Steve, "Apa yang kau inginkan dariku."
Steve menghela nafas yang tersendat-sendat, "Me-ni-kah-lah de-ngan Ve-nus, Ha-nya k-au yang d-dapat men-cintai-nya dengan t-tu-lus."
Deg!
Mata Victor terbelalak dan segera Victor berbalik badan, "Tidak aku tidak bisa."
Steve menahan tangan Victor sekuat tenaga yang dia punya, "Vic maafkan aku. T-tapi V-venus membutuhkan-mu. Ku mohon am-billah dia s-sebagai istrimu. Aku tak dapat b-bertahan lebih lama lagi."
Victor menggeleng dan melepaskan tangan Steve, "Tidak. Sampai kapanpun aku takkan mau melakukan itu."
Victor pergi meninggalkan Steve dan pergi keluar ruangan Steve dengan geram.
Di luar ruangan Melodi dan Venus yang duduk di ruangan tunggu segera bangkit kala melihat Victor keluar ruangan.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Melodi melihat Victor dengan sungguh.
Victor mengepal tangannya kuat, "Dia memintaku hal yang tak masuk akal. Jangan paksa aku lagi berbicara dengannya."
Victor pergi meninggalkan mereka semua.
Melodi dan Venus segera masuk ke dalam ruangan Steve, "Apa yang terjadi?" Tanya Melodi membuat Steve menoleh ke arah mereka.
Mata Steve sudah sangat menahan air matanya agar tak terjatuh. Apakah Victor pikir dia senang dengan keputusannya ini, tentu tidak. Dia sangat menderita.
Dia tak ingin melepaskan Venus dan membiarkan Venus menjadi milik orang lain selain dirinya, tapi keadaan ini sangat memaksanya untuk melepaskan istrinya itu agar istrinya dapat menjalankan hidup nantinya kalau dia akan tiada nanti.
Steve memilih Victor karena hanya Victorlah yang dia ketahui sangat mencintai istrinya lebih dari pada apapun. Dia yakin Victor pun dapat membahagiakan Venus.
Steve menatap Venus dan tersenyum, "Sa-yang a-ku sa-ngat mencintai-mu. J-jaga an-ak kita dan menikah-lah dengan Vic-tor. Dia l-lelaki yang baik, d-dia akan merawat mu dengan ba-ik." Kata Steve.
Melodi terkejut dengan ucapan Steve. Sedangkan Venus semakin menangis, "Tidak Steve. Kamu tak mengerti, aku takkan menikahi siapapun. Aku hanya milikmu dan akan selamanya begitu. Kamu akan selamat! Bertahanlah!"
Ntah apa yang merasuki Melodi. Dadanya terasa sakit mendengar permohonan Steve yang menginginkan Victor menikahi Venus.
Segera Venus menghadap Melodi yang masih termangu. Venus berlutut di hadapan Melodi, "Dokter, katakan suami saya baik-baik. Beri dia kesembuhan Dok! Jangan biarkan dia meninggalkan ku."
Mata Melodi yang sedari tadi membendung air mata kini mengalir deras, Melodi menlap air matanya sembari mengangkat Venus yang te duduk tak berdaya, "Kamu harus kuat," Melodi merangkul Venus.
Venus menggeleng, kalimat itu seakan mengatakan memang tak ada harapan lagi, "Dokter ku mohon. Ku mohon selamatkan suamiku, selamatkan suamiku... Hu hu hu hu..."
Venus menangis tak henti.
***
Melodi terus merawat Steve bersama beberapa ahli medis lainnya. Kondisi Steve semakin menurun dan keadaannya semakin memburuk.
Kini Steve bahkan tak dapat sadarkan diri lagi.
"Dokter Melodi, ini sangat tidak baik. Keadaan pasien ini memang sudah sangat buruk saat sampai di rumah sakit, lukanya terlalu fatal dan kita tak dapat berbuat banyak lagi."
"Yang di katakan dokter Ryan benar. Harapan untuk hidup sungguh tak dapat di pastikan."
Melodi melihat ke arah Steve. Lelaki ini semakin buruk keadaannya dan sepertinya memang kemarin adalah permintaan terakhir Steve.
Melodi kembali melihat ke arah rekan kerjanya, "Beritahukan keadaan pasien kepada keluarganya. Aku harus mengurus yang lain," jelas Melodi.
Mereka setuju dan segera memberitahukan Venus sedangkan dia sendiri pergi menjumpai seseorang yang harus dia jumpai sekarang juga.
***
Tok
Tok
Tok
Melodi mengetuk pintu rumah Victor. Sejak dari tadi pagi lelaki ini tak menghubunginya. Lelaki ini tampaknya masih tak percaya akan apa yang terjadi kemarin.
Victor membuka pintu dan melihat ke arah Melodi dingin, "Aku tak mau mendengar apapun tentang Steve okey, cukup. Jika kamu ingin bicarakan itu lebih baik kamu pulang dan lanjutkan lagi pekerjaanmu. Paham?"
Melodi segera menahan pintu Victor saat lelaki itu hendak menutup pintu, "Vic tolong dengarkan aku. Sekali saja."
"Mel aku ngak mau dengar apa apa."
"Steve tak sadarkan diri lagi, waktunya tak lama lagi. Itu adalah pesan terakhirnya Vic, kau harus pahami itu."
Seperti di sambar petir perasaan Victor tentang keadaan Steve.
Melodi kembali membuka pintu Victor dan memegang bahu lelaki itu, "Maafkan selama ini aku selalu menghalangi mu mendekati Venus. Aku yang salah, kau benar Vic. Kau benar tentang apa yang di maksud dengan kebahagiaan, kau memang tercipta untuk kebahagiaan Venus dan itu semua memang benar nyatanya. Sekali lagi aku minta maaf." Melodi menjeda kalimatnya, dia merasakan dadanya sangat sesak tapi dia tetap mengontrol dirinya, ini tidak mungkin cinta. Dia tidak mungkin mencintai Victor.
Melodi menatap Victor dengan dalam. "Steve membutuhkanmu dan hanya kau yang bisa menolongnya."
Victor mengeraskan rahangnya. Apakah Melodi tak menyadari bahwa dirinya sungguh sudah berperang dengan keadaan sekarang?
"Aku akan menyelamatkannya tapi bukan dengan menikahi istrinya! Itu yang harus kamu tau!" Geram Victor.
Victor segera menelpon seseorang, "Kita bertemu sekarang juga."
Setelah mendapat jawaban dari telpon itu Victor menatap Melodi kesal dan pergi meninggalkan Melodi.
Melodi mendengus berat dan mengusap wajahnya ketika Victor pergi meninggalkannya. Ini terasa sangat berat untuk di lalui.
Melodi pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Melodi mengendarai mobilnya dan di perjalanan pikirannya sangat bercabang.
Hp Melodi bergetar, "Dokter Ryan?"
Melodi mengangkat teleponnya, "Iya dok?"
"Dokter Melodi. Kau harus cepat ke sini. Ada yang harus kau lihat," kata lelaki itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Melodi lagi penasaran.
"Intinya kau harus ke sini. Susah untuk di jelaskan, kau harus melihatnya dengan matamu sendiri," jelas lelaki itu.
"Katakan saja."
"Ini berhubungan dengan pasien kita. Steve."
Deg!
Melodi melotot, Steve?
Melodi mencampakkan hpnya ke kursi dan segera melajukan mobilnya lebih kencang.
Apa yang terjadi?