My Different Wife

My Different Wife
Pembuktian



Venus bangun pagi pagi buta tepatnya jam 3 subuh. Dia segera mandi walaupun menggigil dan setelah itu segera menyiapkan perlengkapan kuliahnya dan berjalan mengendap endap ke dapur.


Tek


Venus memanggang roti di pemanggang elektrik sambil menyiapkan susu hangat untuk sarapannya. Tak ingin membangunkan kedua orang tuanya, yang dia yakini akan melarang dia jika berangkat pagi pagi seperti ini ke kampus.


Venus melihat ke arah jam dinding,


Pukul 4


Yosh. Sebentar lagi dia harus berangkat.


Alasan pertama dia ingin berangkat pagi adalah dia sungguh malas jika berjumpa dengan Steve lagi. Hal yang harus dia jauhi adalah Steve, lelaki yang akan merusak kehidupannya kelak jika dia tetap berada di dekatnya.


Ting!


Pemanggang rotinya telah selesai memanggang dan kini Venus mengangkatnya untuk segera melumurinya dengan coklat oles yang ada di toples.


Meletakkan sarapannya di piring dan kemudian duduk di meja makan sambil melahap rotinya itu.


Setelah menggigit satu suapan Venus mengetik ngetik sebuah pesan untuk seseorang,


Venus: Steve, aku berangkat ke kampus sendiri. Gak butuh kau menemaniku.


Venus: Tenang aja, aku akan bilang ke orang tuaku kalau kau yang mengantarkanku. Jangan datang ke rumah, itu akan merusak rencanaku dan akan membuatmu jadi kena marah.


Venus: Intinya gak usah ke rumah!!! Dan kalau di tanya bilang aja aku berangkat samamu, titik ngak pake koma!!! Ingat!!!"


Venus kembali mematikan ponselnya dan menyambung sarapannya. Dia sudah menghapal jalan ke kampus kemarin dan kali ini dia takkan tersesat jika berjalan kaki nantinya. Well, iya iya lah, mana ada angkutan umum jam segini beroperasi?!


Venus menyelesaikan makanannya dan meminum susu hingga habis. Setelahnya dia kembali berjalan mengendap endap keluar rumah.


"Aku siap!" Jerit Venus dengan suara pelan dan mulai beraksi dengan berjalan mengendap endap. Di bukannya pintu depan rumah,


Kreaak


Venus menutup matanya. Sial sekali, kenapa jika hening seperti ini pintu malah berdecit lebih kencang?! Ck. Semoga saja tidak ada yang terbangun. Venus membuka matanya perlahan dan kemudian menoleh ke belakang, tidak ada yang bangun.


Fiuh... Venus bisa bernafas lega sekarang.


Venus kembali membuka pintu lebih lebar. Venus mengeluarkan kepalanya dan celingak-celinguk melihat ke arah luar rumah, "Gak ada siapa siapa. Sepi banget." Ucap Venus sedikit ngeri. Tapi mengingat Steve yang jauh lebih mengerikan membuat dia kembali menguatkan tekadnya itu. "Harus bisa!"


Kemudian Venus berjalan perlahan ke luar rumah dan menutup kembali pintu rumahnya.


Venus hendak membuka pintu gerbang. Namun dia terlalu bodoh untuk lupa jika gerbang kan di gembok!


Venus memukul kepalanya sendiri.


Kemudian tak di sangka dia melihat ke arah post pak satpam yang sekarang tengah tertidur pulas.


Aha! Kuncinya ada di situ.


Venus mengambil kunci gerbang sambil memberikan secarik kertas dan meletakkannya di atas meja sang pak satpam yang sudah di persiapkan Venus jauh jauh hari.


"Pak, Venus berangkat ke kampus lebih awal, Steve yang jemput. Oke, byee"


Kita kira begitulah tulisan yang ada di kertas yang di berikan Venus itu.


Venus membuka pintu gerbang dan Yosh! Terbuka. Venus tersenyum riang!


Venus menggantung gemboknya di gagang pagar dan kemudian kembali mau menutup pintu. Venus membalikkan badan perlahan hendak meninggalkan rumah dan-


Bukk


Venus terantuk pada sesuatu yang ada di hadapannya, Venus mendongakkan kepalanya, "Steve?!" Venus kaget.


Venus kembali merapatkan dirinya dan berbisik, "Ngapain kau ke sini... Kan udah aku kirim pesan tadi..."


Ck. Lihatlah. Pagi pagi sudah membuat tensi Venus naik. Bisa bisa dia akan terkena stroke ringan!


"Ck. Keras kepala banget. Udah di bilang aku ngak mau satu kendaraan samamu. Udah pulang aja sana!" Kesal Venus masih dengan berbisik namun dengan penekanan menggertak sang lawan bicara.


Steve menarik tangan Venus masuk ke dalam mobilnya dengan paksa. Membuat Venus masuk dengan sedikit dorongan karena terus melawan.


Duk


Venus terduduk dan kemudian Steve langsung menutup pintu mobilnya dan segera berjalan memutar dari depan mobil untuk masuk dan duduk di kursi pengemudi.


"Bangun sepagi ini untuk mencari gara gara. Sikapmu terlalu kekanak kanakan." Steve memulai peperangan adu mulut.


Venus memutar bola matanya jengah. "Bisa ngak ikuti kalimatku kali ini. Cape tau ngak berdebat mulu."


"Cape? Apakah kau tak sadar kau lah yang memulai kesusahan ini. Ini semua gara gara kau yang selalu memaksakan segalanya. Dan sekarang kau malah bilang cape? Hebat." Steve menepuk nepuk tangannya salut dengan sandiwara yang di lakukan Venus.


Venus mendengus, "Sumpah ini bukan lelucon! Aku bersungguh-sungguh!"


Steve menatap datar Venus, "Sampai kapanpun aku takkan pernah bisa percaya padamu. Apa kau lupa dengan kalimatku ini? Sudah lebih dari 1 kali aku mengatakannya."


Venus mengeraskan rahangnya, "Jika aku dapat berubah kau mau apa?!"


"Itu tidak akan pernah terjadi."


"Itu akan terjadi! Aku yakini itu terjadi dan akan membungkam mulutmu yang sangat mengesalkan itu! Aku akan berubah!"


Steve tersenyum miring meremehkan. Wanita ini ingin berubah? Apa kiamat sudah tiba huh?


Venus mengangguk pasti dan tak ragu. "Jangan ragukan aku!"


Steve menaikkan salah satu alisnya, tampaknya wanita bodoh ini ingin bermain satu permainan. Dan lihatlah dia takkan bisa memenangkan permainan ini.


Steve menatap Venus dingin, "Aku perlu pembuktian."


Venus mengangguk cepat, "Ya. Apa dia?!"


Steve dengan sorot mata mematikan memandang mata Venus yang tepat di hadapannya ini, "Biarkan aku menikahi Lisa dan aku akan mempercayaimu seutuhnya."


Deg!


Perkataan itu mampu membuatnya membeku. Lisa? Kenapa harus wanita itu yang menjadi bukti untuk membuat Steve percaya padanya?


Apakah sungguh secinta itu Steve pada Lisa hingga itu hal pertama yang terbesit pada pikiran Steve hingga kini.


Hati Venus merasakan suatu kesesakan mengingat dia pernah begitu membenci Lisa karena merebut Steve darinya. Walaupun Steve tak pernah mencintai Venus tapi Venuslah yang lebih dahulu kenal dengan Steve, itu sama saja merebut Steve darinya bukan?


Dada Venus terus bergemuruh. Padahal dia sudah berjuang untuk melupakan perasaannya pada Steve, tapi kenapa perasaan lamanya masih melekat pada diri barunya ini. ****!


Venus kembali mengingat dimana hari terakhir dia sebelum meninggal dia. Steve membunuhnya dengan kejam, tanpa bekas kasih. Sungguh tidak memiliki hati sama sekali!


Tidak Venus, kau sudah berjalan sejauh ini. Kau bisa mengahadapi semuanya. Kau bukan wanita bucin Steve yang akan mengemis cinta padanya hingga menyakiti hatimu sendiri. Kau dapat menghadapinya!


Venus mengangguk dan mendongakkan kepalanya dehgan berani, "Aku terima tantanganmu!"


Steve terdiam. Belum pernah dia melihat ekspresi wanita ini yang begitu sungguh.


Kemudian Steve tersenyum miring, sekali lagi dia menggagab ini takkan berjalan lama, dia yakin bahkan antara besok atau lusa Venus akan kembali seperti dulu, manja, bodoh, tak dapat di andalkan, egois dan licik. Venus bukanlah seseorang yang patut untuk di percayai.


Steve mengangguk, "Hm. Baiklah. Kalau begitu bersiap siaplah untuk hari kedepan, kau akan menangis dengan keputusanmu." kata Steve dengan sombongnya.


Steve kembali melajukan mobilnya dan menembus jalan raya yang masih terkesan sepi ini.


Venus kembali berpikir sekarang. Apapun yang terjadi dia tak boleh selemah itu.


Venus! You Can Do It!!!