
Victor bangkit dari duduknya dan keluar kelas. Mencari keberadaan wanita yang akan menjadi kesempatannya untuk meraih kembali kebahagiaannya bersama Venus, "Hei!" Panggil Victor saat menemukan keberadaan wanita itu.
Melodi menoleh ke belakang dan melihat salah seorang yang paling dia najiskan di antara semua manusia di bumi ini. Malas menganggapi melodi melanjutkan langkahnya.
"Woy tuli!" Kesal Victor sambil terus berjalan mengejar Melodi.
Tep
Tangan Melodi di tahan oleh Victor. Melodi menghembuskan nafas berat dan hendak membanting lelaki ini ke lantai karena muak.
Brak
Bukan Melodi yang melakukannya melainkan Victor karena mengetahui apa yang ada di benak wanita itu terhadap dirinya.
"Akh! Lepaskan!" Pekik Melodi.
Victor terkekeh, "Aku sudah mengetahui taktikmu bodoh. Aku bahkan sudah menguasai lebih banyak cara bela diri lebih darimu." Ledek Victor dengan tangannya menahan tangan Melodi di belakang punggung wanita itu.
"Aku akan melepaskanmu. Asal kau-"
"Aku lebih baik mati dari pada berurusan dengan orang menjijikan sepertimu-akh!"
Victor kembali menekan tangan Melodi hingga terasa sangat sakit sekali.
"Diam. Dengarkan aku baik baik dulu ya idiot." Victor membalikkan badannya Melodi dan duduk di atas perutnya sambil menahan tangan Melodi di atas kepala Melodi.
Kenapa harus duduk di atasnya? Karena untuk mengunci pergerakan wanita ini. Victor sangat tau jika wanita seperti ini pasti sangat garang dan liar, jika tidak di lakukan seperti ini dia pasti akan kabur.
"Jika kau mengikuti apa yang ku suruh kau akan di untungkan karena mendapatkan sejumlah uang dariku. Ya... Itung itung aku sedekah."
Otak Melodi langsung traveling ke arah bayangan beberapa hari lalu saat lelaki itu ingin menjadikannya wanita pemuasannya.
"Tidak- emp"
"Sttt... Aku belum selesai." Victor menutup mulut Melodi dengan tangannya, "Tidak. Aku tidak menginginkan tubuhmu yang terlalu kecil dan kering ini. Cih. Menidurimu rasanya aku terlihat seperti pedofil." Ledek Victor yang menganggap wanita ini seperti anak SD saja.
Melodi memberontak namun sungguh lelaki ini lebih tau cara menaklukan lawannya. Sial!
"Diam bodoh! Aku memberikanmu pekerjaan dengan gaji 100 juta dalam satu misi. Yakin kau tak mau menerimanya?"
Melodi terdiam.
100 juta?
Nih orang sok kaya banget!
Melodi segera membalikkan posisi hingga kini Victor yang berada di bawahnya, "Cuih!" Melodi meludah ke sebelahnya, "Tanganmu menjijikan! Seenaknya saja menyentuh bibirku!" Melodi menlap mulutnya dan menahan tangan Victor.
Victor tersenyum miring, wanita ini sama sekali tak sekuat dirinya tapi malah berlagak kuat. "Dengar! Kau pikir aku bodoh?! Jangan menipuku!"
"Apa kampus ini meragukan untukmu?" Tanya Victor membuat Melodi mengerutkan keningnya.
"Aku pewaris tunggalnya. Dan iniĀ hanya sebagai kecil dari hartaku." Victor terkekeh singkat.
Melodi tersenyum miring dan kemudian bangkit berdiri. Dia sama sekali tak mempercayai lelaki ini bahkan setitik pun.
Melodi berjalan meninggalkan Victor malas.
"Cih." Victor memutar bola matanya gusar. Sungguh keras kepala.
Victor menarik tangan Melodi dan membawanya ke hadapan direktorat
Terlihat seseorang yang tengah duduk langsung berdiri menghadap Victor dengan menunduk, "Selamat siang Victor, ada keperluan apa?"
"Katakan siapa aku dan jelaskan padanya." Kata Victor menatap tajam sang direktorat.
"Kamu adalah Victor, anak dari Tuan Bastara. Pemilik sekaligus Pendiri kampus ini. Berkuliah di jurusan kedokteran dan salah satu mahasiswa berprestasi dalam setiap semester." Kata direktorat itu.
Deg!
Sungguh? Melodi melihat ke arah Victor dan kembali ke arah direktorat itu dengan wajah datar. Menurut Melodi tidak mungkin seorang bapak bapak berbohong bukan?
Melodi mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Victor.
Victor menggeleng tak percaya dia akan kembali mengejar wanita kecil ini.
Tep
"Kenapa malah pergi dasar idiot?" Tekan Victor sudah mulai habis kesabaran.
"Terus apa? Kau mau menyombongkan diri lagi? Aku tak perduli. Dan aku tak mau bekerja sama dengan orang sepertimu." Tekan Melodi dengan wajah malas.
"Okey! Baiklah! Aku akan memberikan mu satu kesempatan lagi. Jika kau mau mengikuti pekerjaan yang ku berikan padamu aku akan memberikan apapun yang kau mau asal itu masih masuk dalam logikaku." Jelas Victor kehabisan bahasa apa lagi yang akan di ucapkannya.
Melodi tersenyum miring, inilah yang dia maksud. Sengaja menaikkan harga diri untuk mendapatkan lebih banyak. Hanya taktik kecil untuknya bukan?
"Aku ingin gaji yang kau tawarkan. 100 juta. Namun di tambah dengan berkuliah di jurusan kedokteran juga." Jelas Melodi.
Jelas saja dia sangat tertarik untuk berkuliah, kapan lagi dia punya kesempatan emas seperti ini?
"Kuliah?" Tanya Victor.
"Hm. Berkuliah sampai tamat."
Victor tersenyum miring, "Deal." Victor menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan sebagai tanda persetujuan.
Melodi mengangguk dan membalas uluran tangan Victor menandakan persetujuan mereka.
***
Victor menatap datar Melodi dimana Melodi pun melakukan hal demikian. Sama sama dalam pikiran masing masing, sama sama ingin mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Victor menyedot jus jeruk dari pipet yang ada di gelasnya sekarang, menelannya dan kemudian mulai berbicara, "Kau hanya perlu mendekati seseorang. Buat dia menjadi dekat denganmu dan hancurkan hubungan percintaannya."
Melodi membulatkan matanya dan menatap tajam Victor. Lagi lagi lelaki ini membuatnya semakin jijik, segera Melodi bangkit berdiri, "Perjanjian batal."
Victor menahan tangan Melodi, "Santai. Belum siap cerita. Duduk!" Kesal Victor.
Melodi melepaskan tangannya, "Ku bilang batal ya batal."
Victor segera berjalan ke sebelah Melodi dan memegang bahunya dan kembali mendudukkannya bersama dengan dia duduk di sebelahnya, "Dengar. Kau harus mendengarkanku. Aku sama sekali tak bersalah mengenai ini. Lelaki itu merebut wanitaku. Karena dia cinta pertama dan terakhirku melupakanku dengan sekejap. Kau tak tau betapa besar penderitaan yang ku alami selama ini. Ku mohon bantulah aku." Jelas Victor.
Melodi melihat Victor. "Kau mencintai wanita itu tapi bermalam dengan wanita lain? Cih. Aku yang bodoh atau kau huh?" Hina Melodi menusuk hati Victor.
Victor mengeraskan rahangnya, dia di sini untuk membalaskan dendam pada Steve, bukan malah menceramahinya. Dasar kurang ajar.
"Itu karena aku kesal dan emosional. Ah sudahlah. Lupakan saja mengenai hal kemarin kemarin. Aku hanya ingin wanitaku kembali, aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Dia satu satunya yang dapat membuatku merasa hidup. Bantulah aku.." Ucap Victor dengan tulus.
Melodi menatap datar Victor.
Tatapan itu lagi. Sungguh mengesalkan bagi Victor.
"Hei. Katakan sesuatu kek, apa kek. Jangan diam saja. Kau tau kau sangat menyebalkan." Kesal Victor dan hanya di balas wajah malas Melodi terhadapnya.
Ntahlah, dia merasa lelaki ini terlalu banyak kemunafikan dalam hatinya. Jadi malas sekali membatunya.
Victor memberikan foto Steve, "Ini lelaki yang perlu kau dekati. Aku tak menuntut sampai berapa lama kau mendekatinya dan juga tak menuntut lelaki itu harus mencintaimu atau tidak, asalkan kau bisa dekat saja aku akan merencanakan hal lainnya seperti membuat lelaki ini terlihat sedang berselingkuh denganmu dan membuat wanitaku kembali padaku nanti. Semua akan kembali seperti semula, dimana Venus akan menjadi milikku seutuhnya."
Melodi terdiam melihat gambar yang di tunjukkan Victor. Lelaki itu yang menyelamatkannya bukan?
Bagaimana lelaki itu bisa merebut kekasih seseorang? Padahal dia tau lelaki itu adalah lelaki yang baik.
Namun kemudian terbesit dalam benak Melodi. Dia juga ingin dekat juga dengan lelaki itu. Lelaki itu membuatnya penasaran hingga sekarang. Itu akan menjadikan kesepatan baik juga bukan untuk dirinya merebut hati lelaki itu.
"Hubungan seperti apa antara dia dan wanita mu itu? Apa mereka sudah menikah? Atau... Apa?" Tanya Melodi.
Victor segera menggeleng, "Tidak, mereka belum menikah. Hanya hubungan biasa." Jelas Victor berbohong. Dia tak mau mengatakan hal yang sesungguhnya, jika tidak pasti wanita ini akan menolak bukan?
Melodi menelisik. Memangnya apa yang salah? Kan lagi pula Lelaki itu dengan wanitanya hanya sekedar hubungan biasa, tidak ada ikatan yang sah.
Melodi mengangguk, "Baiklah. Aku setuju."
Victor tersenyum kemenangan. "Thanks. Akan segera ku urus semua keinginanmu."
"Hm."