My Different Wife

My Different Wife
Susahmu adalah Kebahagiaanku



Melodi hendak berangkat keluar dari ruangan Victor, namun lelaki itu berdehem membuat Melodi kembali menoleh, "Kenapa?"


"Gak ada kata kata perpisahan gitu? Eh denger ya, kau itu harus pandai pandai caper." Cakap Victor sombong.


Melodi menghembuskan nafas berat, "Jadi harus gimana?"


"Ya pikir sendiri lah. Mesti aku lagi yang pikirin? Ya enggak lah." Sargah Victor.


Melodi memutar bola matanya gusar, "Ya udah lah gak usah ribet. Aku mau pergi, bye." Ucap Melodi dan meninggalkan Victor.


Victor berdecih, "Tchih. Udah dia yang buat perjanjian dia pula yang keras kepala. Bodo amat. Toh juga kalau aku menang aku yang di untungkan."


Victor kembali pada pekerjaannya dan mengalihkan pemikirannya dari Melodi.


Melodi sekarang tengah berfikir, apa yang harus dia lakukan, jika dia tidak segera membuktikan bahwa kalimatnya adalah sebuah kebenaran dia akan terkena masalah. "Hm, mungkin nanti aku ajak dia nonton." Pikir Melodi.


Aish... Sebenarnya dia merasa kesal. Baru kali ini dia yang mengajak seorang lelaki jalan. Dia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, ini sangat menjatuhkan harga diri. Tapi ini demi kebaikan bukan? Melodi harus bisa.


Melodi menelpon Victor karena tidak mungkin dia akan kembali ke kantor Victor lagi, males.


"Halo, Vic-"


"Kalau mau ngomong panggil sayang, dan aku gak suka dengar suara judes, sukanya lembut sama manja. Kalau gak ikuti aturan aku bakalan batalkan perjanjian." Sosor Victor tersenyum miring licik.


Melodi mengeraskan rahangnya, belum juga sehari lelaki ini sudah sangat mengesalkan. "Kita bukan sungguh pacaran! Kau-"


"Ya udah perjanjian batal dan kau kal-"


"Iya iya! Aku salah! Puas?!" Kesal Melodi.


Victor menahan tawanya, "Aku gak suka di bentak."


Melodi menutup mata dan mengenggam tangannya geram. Sabar Melodi sabar...


Melodi menghembuskan nafasnya panjang dan tersenyum di paksakan, "Maaf ya sayang... Aku yang salah hm. Jangan marah lagi."


Victor memegang perutnya merasa tergelitik. Baru kali ini mendengar orang dingin jadi penurut. "Hm, iya sayang... Kamu mau ngomong apa tadi?"


Melodi menghembuskan nafas lagi, "Nanti malam kita nonton. Aku tunggu di depan kantormu." Ucap Melodi datar.


"Mana suara manjanya? Sayangnya mana?" Omel Victor. Senang sekali rasanya mengerjai Melodi.


Melodi mengentak hentakan kakinya kesal dan kembali mengontrol nafasnya agar tetap tenang. "Sayang... Mau ya nanti malam kita nonton? Nanti aku tunggu di depan kantor."


Victor kali ini tertawa, sungguh lucu mendengar Melodi memohon. Sangat kaku dan terdengar seperti bodoh.


Melodi mengusap dadanya bersabar. Ini hanya cobaan sementara. Harus tetap bersabar.


"Em, gimana ya sayang? Gak deh. Lagi ngak mood nonton, besok besok aja."


Ucap Victor santai.


Ingin sekali mencekik lelaki kurang ajar ini, "Kalau dari tadi ngak bisa ya langsung bilang! Ngak usah nyuruh aku sampai memohon!" Melodi mematikan ponselnya dan segera berangkat dari tempat ini. Rasanya sial sekali, dia ingin menolong orang kenapa jadi sudah begini.


Arh!!


***


Melodi telah selesai bekerja, semua barangnya sudah rapi dan sekarang dia mau langsung pulang. Persetan dengan Victor, toh juga dia gak mau di ajak jalan.


Melodi mengendarai kendaraannya sampai di depan rumahnya dan kini dia hendak membersihkan dirinya.


Setelah mandi, makan malam dan kini dia ingin tidur. Hari ini cukup banyak pasien yang di tangani. Membuat badannya ingin remuk.


Dalam pikirannya bersyukur juga tadi Victor menolak ajakannya, kalau tidak pasti akan sangat melelahkan jika harus berjalan malam ini juga, bisa bisa besok dia bisa tepar.


Melodi mematikan lampu tidurnya dan mulai menutup mata dan terlelap.


Belum satu menit dia menutup matanya hp Melodi berdering.


"Ck. Siapa sih!" Racau Melodi enggan untuk bangun.


Melodi tak memperdulikan panggilan itu dan berniat untuk kembali melanjutkan tidurnya.


Hp itu kembali berdering dan itu sangat mengusik telinga Melodi. Melodi mencampakkan bantalnya dan mengambil telepon, "Sudah malam. Jika tak penting jangan menganggu." Tekan Melodi.


Melodi hendak menutup telponnya, "Ayo nonton. Aku berubah pikiran." Ucap orang yang di seberang sana.


"Telat. Aku mau tidur. Diamlah!"  Cetus Melodi.


"Baiklah berarti kau kalah!" Kata Victor tak terima.


"Kalah apanya. Kan ak-"


"Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang keras kepala dan juga keras hati! Kau tak bisa mengubah pikiranku mengenai wanita dan kebahagiaan. Dan Venus tetaplah satu satunya untuk ku sekalipun dia sudah menikah. Maka jangan ganggu aku lagi mendekati dia!"


Melodi mengacak rambutnya, "Ya udah maaf! Kamu di mana?! Aku kesana sekarang!"


Victor tersenyum miring, dia sengaja membuat Melodi jengah dengannya dan kalah dari tantangan. Dia ingin tetap memiliki Venus dalam hidupnya, dan selamanya.


"Telat! Aku sudah sakit hati!" Tutur Victor berlebihan.


"Ck. Dasar!"


"Memohon lah! Baru aku akan memaafkan mu!" Suruh Victor.


Oh astaga, lelaki ini sungguh membuat darahnya mendidih malam malam begini. "Maafkan aku ya Victor... Em, maksudnya sayangg.... Plissssssss...." Mohon Melodi.


"Kurang ikhlas." Protes lelaki itu.


Melodi memukul mukul bantalnya emosi dan kembali mengontrol diri, "Maafin ya sayanggg... Maafffff.... Plissss"


Victor terkekeh, "Baiklah aku Maafkan."


Melodi pun bisa bernafas lega, "Ya udah, aku matiin telponnya, aku istirahat dulu,"


"Eh! Siapa yang suruh tidur?! Kita harus tetap nonton malam ini. Enak aja!" Tutur Victor.


Melodi mengusap wajahnya, "Tapi sayang aku ngantuk. Besok aja ya?"


"Gak! Sekarang! Cepat! Aku tunggu 5 menit kalau tidak kau akan ku hukum."


Aih... Apa lagi ini?!


Melodi dengan segera mengganti pakaiannya dan membawa semua hal yang dia butuhkan. "Kau di mana?" Tanya Melodi tanpa mematikan telpon dari tadi.


"Depan rumahmu. Cepat. 2 menit lagi."


Melodi pun segera keluar kamarnya dan menuju depan rumah.


Dia mendapati Victor tengah di depan rumahnya bersender pada mobilnya,


"Cepat!" Suruh Victor.


Melodi pun segera menghadap Victor.


"Ya udah ayo. Setelah ini udah ya, aku ngantuk banget."


Victor tersenyum miring, "Kalau capek ya ngaku kalah aja sih. Apa susahnya."


Melodi menggeleng, "Aku akan tetap buktikan kalau aku benar."


Victor mengedikkan bahunya acuh, "Palingan cuma sementara aja. Sebentar lagi kau akan menyerah."


"Tidak akan."


Melodi pun masuk ke dalam mobil Victor setelah Victor membuka pintu mobil dan mempersilahkan dia masuk.


Setelah itu Victor masuk dan mulai melajukan mobilnya menuju bioskop.


Melodi yang susah sangat lelah memilih tidur selama perjalanan. Victor yang mendapatkan Melodi tertidur merasa tak senang.


Victor mengerem mobilnya curam membuat tubuh Melodi terdorong ke depan dan hampir saja menabarak bagian depan mobil kalau tidak ada sarung pengaman. Melodi yang susah terbangun menatap tajam Victor, "Kenapa tiba tiba mengerem? Kau mau kita mati huh?!"


"Sengaja. Siapa suruh kau tidur? Kita nonton bukan tidur. Sekali lagi aku lihat kau tidur aku takkan segan segan menjewermu."


Melodi mengusap wajahnya, susah sekali!


"Iya maaf, lanjutkan saja mobilnya." Pinta Melodi.


Victor tersenyum miring, "Hm, baiklah."