
Catatan penulis:
Haiii... Lama tak jumpe guyssss
Author datang membawa part baru nih...
Mana suaranya!!!!
Hehe. Untuk mempersingkat waktu kalian karena udah pada ngak sabar baca ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak dulu ya bunda... Semakin banyak jejak yang kalian tinggalkan (Like, comment dan Vote/Beri Tips) akan semakin rajin juga author up ceritanya... Makanya buruan, jangan lupa yaa. Thanks! Happy reading! 🎉🎉🎉🎉
_______________________________________________
Venus tersentak saat melihat Victor melihatnya membuat Venus jadi gelagapan. Apa yang harus dia lakukan? Dan apa yang akan di katakannya nanti?
Victor bangkit berdiri dan berjalan ke arah Venus, "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya membuat suasana menjadi semakin seram.
"A-aku."
"Apa?!" Bentak Victor membuat Venus terlonjak kaget dan semakin ciut nyali.
Victor menarik tangan Venus dan membawanya ke luar rumah sakit dengan kasar.
"Aw aw aw." Venus kesakitan namun Victor tak memperdulikannya.
Victor melepaskan tangan Venus ke bawah sekali hentak, "Apa sekarang huh?! Kau akan menghinaku? Menghinaku sama seperti orang yang kau tolong itu?!" Victor mendorong bahu Venus dengan telunjuknya membuat Venus sedikit terdorong ke belakang.
Venus menggeleng, "Tidak. Aku takkan melakukan itu. Aku janji!- Eh tunggu lelaki yang tadi itu mengatakan apa padamu? Aku tau tau jika dia mengatakan hal buruk padamu sungguh!" Ungkap Venus bersungguh sungguh.
Venus menggeleng dan melihat ke arah lain, "Kalau tau tadi dia jahat gitu gak bakalan aku obatin dia!" Kesal Venus.
Victor menatapnya tajam. Dia masih saja tak menyukai gadis yang ada di hadapannya ini. Namun ada perasaan aneh yang muncul, dia masih ingin mendengarkan apa kalimat selanjutnya yang akan wanita ini katakan.
Venus tentu sangat geram. Begitu sialnya dia menolong orang jahat seperti lelaki tadi... Siapa namanya? Ah. Hans!
"Dasar brengsek!" Umpat Venus dengan mengenggam tangannya.
Victor menaikkan salah satu alisnya, 'wanita yang tampak lugu ini mengumpat?' batin Victor.
Venus kembali menatap Victor dengan yakin, "Kau tenang saja! Aku akan membalaskan perbuatannya padamu! Orang tua tak selayaknya di hina bukan?! Coba saja orang tuanya di hina. Pasti dia akan marah!" Kesal Venus dengan berjanji.
Venus menepuk bahu Victor, "Besok kau akan lihat dia akan menderita! Dan itu semua adalah ulahku! Kau tenang saja!"
Victor hanya menatap wanita itu tanpa ekspresi. "Bagaimana kau melakukannya. Kau terlihat lemah. Mana bisa apa apa." Victor meremehkan Venus. "Kau tak perlu ikut campur dengan masalahku, intinya kau-"
"Stt... Aku adalah orang yang adil! Aku akan lakukan apa yang ku bisa dan aku yakin hal ini bisa ku lakukan! Tunggu saja besok." Kata Venus yakin. Venus sudah cukup pernah merasakan ketidakadilan yang sangat pahit, Maka hari ini dan seterusnya aku akan mendukung keadilan!
Venus menganguk dan kemudian pamit, "Aku tak bisa berlama lama. Aku izin ya... Sampai besok." Ucap Venus kemudian berjalan pulang meninggalkan Victor.
Lelaki itu memandang gadis itu hingga kepergiannya, dia tak tau apa yang ada di pikiran gadis aneh itu. Apa yang akan di lakukan Venus besok?
***
Victor tengah mengunyah permen karet berjalan menyusuri koridor kampusnya. Dengan kemeja biru Dongker blus luar dengan sedikit bagian depannya yang masuk ke dalam celananya, celana ceper hitam dan rambut acak acakan menampakkan kesan brengsek pada setiap orang yang pasti melihatnya. Namun akan mencuri perhatian setiap wanita yang memandangnya, tentu saja, dia adalah lelaki yang sangat tampan. Bagaimana mungkin tak ada yang tak tertarik padanya?
Penampilannya sangat tak cocok dengan jurusan yang dia ambil.
Kedokteran...
Sangat berbanding terbalik dengan teman temannya yang berpakaian rapi dan elite.
"Eh Victor. Selamat pagi." Sapa seorang mahasiswa kedokteran yang setingkat dengannya.
Victor tak menggubris dan berjalan begitu saja.
Ya, Victor Bastara merupakan konglomerat dari Davin Bastara dan Yunda Bastara. Davin adalah lelaki yang mudah bosan dengan wanita bahkan ketika dia sudah menikah sekali pun dia masih saja mencari wanita lain yang setara dengan dirinya yang memiliki pemikiran yang sangat jauh dan bijaksana. Oleh sebab itu dia tak jarang melakukan perselingkuhan bahkan di depan istrinya. Yunda yang memiliki hati yang baik dan penurut selalu tersakiti membuat makin lama dia memiliki psikologis yang semakin memburuk dan berakhir pada kerusakan jiwanya.
Davin menikah lagi namun tak melepaskan tanggung jawabnya pada Yunda dan Victor sebagai kepala keluarga. Dia tetap menafkahi dan bahkan tetap memberikan hampir semua perusahaannya menjadi warisan terhadap Victor. Davin percaya pada Victor yang memiliki kemampuan untuk mengambil alih perusahaannya kelak, dia tau anaknya itu sangat bijaksana dan pintar, oleh sebab itu dia memberikan kepercayaan sebesar itu.
Tapi percayalah, Victor tak ingin mendapatkan itu. Dia ingin menjadi seorang dokter sebagai pelampiasannya dari harapan sang Ayah. Dia tak ingin menjadi pemilik perusahaan! Dia benci segala hal yang bersangkutan dengan perusahaan! Sangat benci!
Victor bahkan membenci ayahnya. Namun, dia Victor lebih memilih untuk diam. Dia tak ingin semakin membuat ibunya menderita jika dia melakukan kericuhan lagi dalam keluarganya.
Victor sangat menyayangi ibunya. Jadi dia ingin menjadi seorang dokter agar dapat menyembuhkan segala orang yang menderita. Kalau saja dia lebih cepat mengetahui tekanan saraf otak yang di derita sang ibu, kemungkinan besar ibunya takkan pernah berakhir di Rumah Sakit Jiwa sekarang. Dia ingin membalas dendam dengan menjadi dokter dan kemudian mengambil spesialis saraf dan neurologi.
Victor terus berjalan sampai dia berjumpa dengan lelaki kemarin. Dia yang ternyata menceritakan mengenai ibunya dengan unsur penghinaan pada teman temannya diam diam, Victor mengetahui hal itu saat tak sengaja mendengar pembicaraan teman teman kelasnya. Membuat Victor kembali geram memandangnya.
Saat Victor hendak mendekati lelaki itu,
Bukk
Venus datang dan memukul kepala lelaki itu dengan buku. Lelaki itu membalikkan badannya sambil menahan hendak memukul. Tangannya tergantung saat melihat Venus di belakangnya. Bukannya ini wanita yang menolongnya kemarin?
"Venus?"
Venus memutar bola matanya, "Gak usah sok ramah. Kamu itu jahat! Aku udah tau semua!"
Victor menaikkan salah satu alisnya, masih mempertahankan apa yang akan di lakukan Venus.
"Maksud kamu?" Hans masih pura pura bodoh.
Venus melihat sekitar, jika dia mengatakan mengenai hinaan Hans terhadap ibu Victor yang sakit jiwa akan membuat Victor semakin terhina dan tersudut jadi dia memilih kembali memukul Hans dengan buku. "Intinya kamu jahat! Suka hina orang! Asal kamu tau kamu itu belum tentu lebih baik dan beruntung seperti orang yang kamu hina! Dunia ini berputar! Kamu harus tau itu!"
Venus mengakhiri pukulannya dan kemudian pergi meninggalkan Hans yang tampak terkejut. Kata kata wanita ini menusuk dirinya. Membuat rasa suka padanya timbul menjadi kesal.
Victor yang tadinya hanya diam kini tersenyum miring, sungguh luar biasa. Wanita ini memaki Hans membuat perutnya terasa tergelitik.
Venus yang pergi menjauh di kejar oleh Victor.
***
Victor melihat Venus tengah bersender di pohon. Venus merutuki dirinya, "Bego! Seharusnya tadi aku pake taktik. Masih kurang puas aku hina dia! Arh... Gimana sih Venus, bego banget." Kesal Venus.
Victor tersenyum.
Dan tunggu, ini kali pertama dia bisa tersenyum melihat tingkah laku seorang wanita.
Venus membuat dia penasaran.
Victor menarik tangan Venus, "Bego. Kenapa jadi kau yang marah marah gak jelas huh? Kau sangat memalukan." Ucapnya dengan wajah datar.
Venus mengerucut bibirnya dan menunduk seperti anak kecil yang di marahi ibunya. "Maaf."
Victor tersenyum miring, demi apapun wanita ini kenapa terlihat sangat imut.
Venus mendongakkan kepalanya dan segera Victor memasang wajah dingin. "Em, aku traktir ya makan bakso. Mau? Tapi... Setelah itu maafin aku ya?"
Victor mencubit pipi Venus, "Kau pikir kau bisa menyogokku dengan semangkuk bakso gitu? Gak."
Venus meringis dan kemudian melepas cubitan itu, "Sakit!" Venus mendengus, "Ya udah kalau gak mau. Aku gak maksa."
Victor mendekatkan wajahnya pada Venus, "Jadi pacarku baru aku maafin. Deal?"
Deg!
"APA?!"