My Different Wife

My Different Wife
Baperan



Victor tersenyum kecil mengingat kejadian tadi pagi di kampus.


Di peluk?


Victor tersenyum kecil mengingat kejadian itu.


Wanita itu terus membuatnya merasakan hal aneh ini.


"I love you."


***


Steve memperhatikan Venus dari atas sampai bawah. Penampilan wanita ini sangat berbeda.


Gaun biru laut yang elagan dan sedikit polesan make up tipis membuat Venus tampak cantik.


Venus melihat ke arah Steve membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya. 'Apa yang ku pikirkan. Ck.' batin Steve.


Venus duduk tepat di sebelah Steve sedangkan kedua orang tua mereka tengah berbincang di tempat yang tak jauh dari mereka.


Venus meneguk air putih dan memainkan ponselnya.


Steve melihat Venus chat dengan Victor. Apa yang di lakukan Venus? Steve tak menyukainya.


Steve menarik hp Venus, "Steve, kenapa?!"


"Ambilkan aku air." Steve mencari alasan.


"Ish. Punya kaki kan, ambil sendiri lah." Kesal Venus.


"Ck. Ambilkan. Aku tamumu. Paham?"


Venus menggerutu. Dan dengan kesal mengambilkan air minum Steve. Steve tersenyum kecil, puas juga mengerjainya.


Venus kembali menghampiri Steve dan memberikan minuman, "Ini."


Venus kembali duduk dan meminta hpnya, "Mana hpku."


Steve mengantongi hp Venus, "Kau harus sering memperhatikan sekeliling. Jangan jadi budak elektronik."


Venus mendengus. "Ish! Aku harus balas chat."


"Gak."


"Berikan!"


"Gak."


"Steve."


"Venus."


Ck. Kenapa tiba tiba Steve jadi sangat mengesalkan?


Venus mendengus dan kemudian melihat tangannya di dada, "Terserah. Ambil aja sekalian hpku."


Steve tak perduli dan memilih untuk meminum air putih. Steve tersenyum miring.


Venus terasa dingin. Udara malam ini sangat sejuk karena tiba tiba hujan,


Venus mengusap usap bahunya.


Steve membuka jasnya dan memasangnya pada Venus dengan tanpa di sengaja wajah Steve berdekatan dengan Venus.


Seakan waktu terhenti saat menatap Venus. Jantungnya berdegup kencang.


Seperti ada suatu yang membuat Steve semakin mendekatkan wajahnya.


Venus jantungan tak karuan matanya terbelalak dan kemudian segera Venus mengalihkan pandangannya, "K-kau mau ku ambilkan sesuatu yang lain hm? Akan ku ambilkan."


Steve terdiam kemudian tersenyum kecil, bisa bisanya Venus mengatakan itu.


"Aku kelelahan." Kata Steve dengan wajah datar.


"Oh, ya udah tidur aja." Venus menggeleng, "Maksudnya tidur, istirahat maksudnya. Istirahat di kamar mau?"


Steve menaikkan salah satu alisnya, "Kamar?"


"K-kamar tidur. Kamar tamu!" Venus sungguh gelagapan dan akhirnya memukul kepalanya beberapa kali. Kenapa dia sangat bodoh sekarang.


Pff


Lucu sekali.


Venus mendorong Steve, "Pergilah."


Venus bangkit berdiri dan meninggalkan Steve.


Steve memegang pipinya sambil tersenyum melihat kepergian Venus. "Ada saja."


Drett


Tiba tiba hp Venus bergetar di dalam kantong Steve.


Tertera nama Victor.


Apa lelaki ini sering menelpon Venus huh? Apakah dia masih tak sadar diri jika Venus sudah memiliki tunangan?


Steve mengangkat telponnya


"Jangan pernah hubungi Venus. Sudah ku katakan padamu-"


"Dia membencimu bukan? Dan kau juga membencinya. Jangan halangi aku mencintainya, paham?"


Deg!


Steve terdiam.


Dia sangat emosi dengan kalimat Victor.


"Kau-"


"Apa? Dia milikku. Kau harus tau itu." Kecam Victor lalu mematikan sambungannya.


Steve sangat geram.


Apa yang di katakan lelaki itu membuat kupingnya panas.


Steve menggeleng, dia takkan membiarkan lelaki ini mendekati Venus. Sedikit pun tidak.


Terdengar suara langkah kaki ke arah Steve, "Hp aku mana?" Minta Venus. Dia lupa memintanya tadi.


Steve bangkit berdiri dan menatap Venus tajam, "Dengar. Jangan pernah hubungi si siapa namanya... Vic-"


"Victor."


Venus menatap Steve bingung, "Kenapa?"


"Kenapa? Kau masih bertanya? Kau sepertinya lupa dengan bahuku yang luka ini, hm?"


Venus menggeleng, "Gak perduli. Victor itu baik. Bahkan lebih baik dari pada-"


"Venus! Jangan membuatku marah!" Bentak Steve membuat Venus tersentak.


Steve menunjuk Venus dengan tatapan datar dan menusuk, "Jangan pernah deketin dia."


Venus melihat ke arah kedua orang tuanya yang kini berjalan ke arah mereka. "Ada apa ribut ribut?"


Steve menatap Venus tajam, Venus melihat ke arah kedua orang tuanya, "Tidak ada pa ma."


Venus segera mengambil Hpnya dari tangan Steve.


"Venus mau istirahat, kuliah tadi melelahkan." Venus segera meninggalkan kerumunan dan pergi ke kamarnya.


Venus sangat kesal dengan Steve. Sebenarnya dia ingin kembali melanjutkan pertengkarannya, namun dia lebih baik diam dari pada semakin membuat kericuhan dan akan menimbulkan kejadian yang tak di harapkan.


Venus masuk ke dalam kamarnya.


Venus kembali menelpon Victor.


Langsung di jawab,


"Victor."


Victor tadinya mau memaki mendengar suara Venus menghembuskan nafasnya, "Venus."


"Lagi apa?" Tanya Venus.


"Vc aja ya?"


"Hm."


Panggilan suara pun berganti jadi menampakan wajah Venus.


Victor seketika tersenyum, wajah Venus begitu menyejukkan.


"Aku lagi masak." Kata Victor sambil menunjukkan makanannya.


Venus tersenyum, "Mau..."


"Kamu mau?"


Venus mengangguk.


"Cium dulu." Goda Victor membuat Venus merenggut.


"Hm.. Ngeselin."


Victor terkekeh singkat, "Kamu cantik banget malam ini. Ada acara hm?"


Venus mengangguk.


"Sama Doggy?" Tanya Victor sambil membereskan alat alat masaknya.


"Doggy? Gak ada anjing di sini Victor."


Victor menoleh setelah membereskan semuanya, "Ada dong. Tunangan kamu."


"Heh!"


Victor terkekeh, "Namanya mirip nama doggy tetangga aku, Steve." Ledek Victor kemudian membawa ponselnya berjalan menuju kamarnya.


Pff. Hampir saja Venus tertawa, namun dia tak boleh juga menghina Steve bukan.


"Gak boleh gitu."


Victor merebahkan dirinya sambil meletakkan hpnya di sebelahnya dengan posisi miring, "Kamu masih suka sama dia?"


Venus menggeleng, "Ya enggak. Gak akan mau lagi suka sama dia."


"Terus kenapa belain?"


"Bukan belain, ngak boleh tau ngejek orang gitu. Dia kan manusia. Kalau kamu di ejek juga aku akan marah." Jelas Venus.


"Oh ya?"


Venus mengangguk.


Karena mengantuk Venus menguap.


"Ngantuk?" Tanya Victor melihat Venus yang mengantuk


"He'em. Tapi aku mau mandi dulu."


"Bawa hpnya juga?" Victor tersenyum miring.


"Gak! Apaan."


Victor terkekeh, "Mana tau kan mau di temeni, biar aku temenin."


"Kamu mau aku jitak."


"Gak sayang, bercanda."


Venus mengerucutkan bibirnya, "Ngeselin."


"Tapi ngangenin."


Venus menggeleng. "Prett."


Victor terkekeh. "Ya udah gih sana. Bau."


"Iya bawel."


Venus melambaikan tangannya, "Byee.."


"Byee.." kata Victor mengakhiri sambungannya.


Victor tersenyum sambil memeluk bantalnya dan mencium bantalnya, "Love You...."


Kemudian Victor sadar akan tingkah bodohnya, "Apaan sih aku. Gak jelas." Victor menyingkirkan bantalnya namun kemudian memeluknya lagi.


Ntahlah apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ini menyenangkan.


Cih. Bodoh.